
Hujan
Kau mendatangkan kilat dan petir
Apakah kau juga bisa mendatangkan jodohku?
Siang ini, aku memiliki jadwal bertemu pelanggan yang akan membooking cafe untuk acara ulang tahunnya. Langkah kaki terdengar jelas di telingaku, dan disanalah si mata abu-abu.
"Selamat siang. Sialahlan duduk" aku mempersilahkannya duduk setelah kami berjabat tangan"
"Kamu? Ini cafe kamu?" tanyanya heran.
"Ya. Bisa dikatakan seperti itu. Jadi untuk acara di hari minggu, jumlah tamu 50 orang dengan menggunakan tema hitam putih" ucapku untuk memastikan informasi yang ku dapat.
"Ya. Saya ingin acara tidak terlalu formal, jadi saya menantikan konsep sempurna dari kamu" ucapnya dengan penuh ekspektasi besar.
"Ahh saya punya satu masalah disini" ucapnya dengan wajah datarnya dan aku hanya menaikkan alisku menantikan kelanjutan ucapannya.
"Saya membutuhkan pacar bayaran untuk acara ulang tahun saya"
"Maaf pak Hedi. Tapi kami tidak bisa memfasilitasi anda dengan pacar bayaran" ucapku dengan nada yang kaku.
"Saya membutuhkan itu dan saya akan membayar 3 kali lipat. Bagaimana? dan cukup panggil saya Hedi"
"Akan saya usahakan" ucapku tegas namun aku sangat ragu.
Aku mencatat kriteria wanita yang disebutkannya satu per satu dan aku tidak dapat memikirkan siapa yang akan mau menjadi pacar bayarannya. Kriteria yang diinginkannya sangat sulit.
...Wajah manis...
...Mata agak besar...
...Tinggi 165 cm...
...Rambut lurus...
...Memiliki poni rambut...
...Bwrat badan normal...
...Tidak memakai kacamata...
...berkulit sehat...
...Makeup tidak berlebihan...
...Pandai membawa diri...
...Sopan...
...Tidak nyinyir...
"Maaf. Setelah dipikir-pikir kriteria yang anda sebutkan terlalu berlebihan. Anda mencari pacar bayaran atau istri bayaran?" tanyaku heran.
"Dan kriteria terakhir. Kamu" ucapnya dengan muka serius.
"Aku? aku kenapa?" tanyaku bingung.
"Kamu akan mendampingiku di acara ulang tahunku" aku hanya terdiam memikirkan dampak negatif jika menerima ini.
"Maaf dengan berat hati, saya tidak bisa menjadi pacar bayaran anda"
"Apa maksud anda?"
"Pemilik sebelumnya, dia belum membayar cicilan berliannya. Jadi apa yang akan kamu perbuat?"
SIAL!
Ini lah bukti kalau penyesalan selalu datang terlambat. Bagaimana aku harus menghadapi situasi ini? Jika dipikir-pikir Hedi bukan pria buruk rupa, jika dilihat-lihat wajahnya sangat rupawan. Tapi bagaimanapun bukankah ini termasuk pemaksaan dari orang yang tidak dikenal? Eh.... tidak dikenal sepertinya bukan kata yang pas untuk seorang client.
Hari-H
"Baiklah Lisa, tersenyumlah manis dan buang muka jutekmu itu" bisik Hedi kepadaku dan menyambut tamu yang datang.
Ya. Seperti yang dipikirkankan, disinilah aku berdiri disamping Hedi dengan dress yang sangat pink dan merangkul lengannya.
"Aku akan meminta bayaran lebih" bisikku marah padanya.
"Apapun itu aku akan menerimanya" ucapnya dengan tenang.
Dia menarikku untuk berjalan disampingnya menuju kue ulang tahunnnya. Proses yang dilakukan seperti kebanyakan orang, menyanyi, membuat permohonan, menghembus lilin, dan mengucapkan terimakasih. Tapi ada yang berbeda disini.
"...... dan terakhir, saya ingin mengucapakan terimakasih kepada calon istri saya yang telah menyiapkan pesta ini dengan meriah. Terimakasih sayang" dia mengecup keningku seketika dan aku tidak dapat merespon apapun. Otak kecilku masih bekerja dengan keras mengenai apa yang terjadi.
Semua orang bersorak bahagia dan memberikan ucapan selamat kepadanya dan menikmati pesta di cafe ini.
"Berhentilah membeku karena tindakanku tadi" ucapnya dengan tenang.
"Kau tidak membahas tentang itu denganku, seenaknya aja kau menyebutku calon istrimu. Amit-amit" ucapku kesal dan menepuk-nepuk kepalaku.
"Amit-amit katamu? Kau menghinaku?!" tanyanya marah namun berusaha tetap tenang.
"Kau akan menerima akibatnya nanyi Lisa" ucaonya lagi dan meninggalkanku di tengah ruangan cafe.
Acara berjalan dengan sempurna, tidak ada masalah, yang ada adalah aku memasuki neraka yang kubuat. Hedi menarikku ke kantorku dan mengunci pintunya. Aku berusaha tenang, namun itu adalah hal yang sia-sia.
"Apa maumu?!!" teriakku padanya.
"Hanya ingin membuktikan apakah aku bisa kau kategorikan sebagai amit-amit" dia berjalan mendekatiku dan menyudutkanku. Aku bisa merasakan nafasnya dan melihat muka marahnya dari jarak yang sangat dekat.
"Kalau begitu aku minta maaf" ucapku pelan dan menghindari tatapannya. Namun, dia mencengkram tanganku dengan kuat dan terasa menyakitkan. Hanya satu kata yang terlintas dibenakku 'Habislah' aku.
"Aku meminta maaf, apakah itu tidak cukup buatmu? Bisakah kau melepaskan cengkramanmu? Karna ini menyakitkan" ucapku pelan dengan mata yang berkaca-kaca menahan sakit.
"Kau merasa sakit? Aku akan melepaskan cengkramanku. Tapi biar kau tau kalau rasa sakitmu itu tidak sebanding dengan kata-kata yang kau ucapkan" ucapnya tepat disamping telingaku dan dia berjalan keluar dari kantorku.
Aku terduduk dilantai dan merasa lega karena tidak berakhir dengan cara yang mengenaskan. Pergelangan tanganku masih memerah karena cengkramannya dan ucapannya masih terngiang-ngiang diotakku. Dia tidak normal.
...****************...
TERIMAKASIH SUDAH MAMPIR
LIKE DAN KOMENNYA KAKA ❤
KRITIK DAN SARANNYA JUGA DEH ❤
SEHAT TERUS YA KAMU ❤
LOVE YOU~