
'Apa dia benar-benar klon Shin?'
Pertanyaan itu muncul di benak Duchness Olivia ketika melihat penampilan Lux untuk pertama kalinya.
Dia sudah menyaksikannya dari awal. Mulai dari bagaimana Lux berdiri sampai menggunakan tubuhnya untuk melindungi sepasang nenek dan cucu itu tanpa ragu-ragu.
Duchness Olivia mengernyit. Bahkan jika DNA putranya bisa melahirkan kekuatan yang kuat, tapi apakah DNA putranya juga akan mempengaruhi penampilan dan kepribadian?
Jelas tidak. Baik itu penampilan dan kepribadian, Frost Assassin ... Memiliki sesuatu yang tidak memiliki putranya.
Meski Duchness Olivia percaya pada kepribadian Shin, tapi dia yakin putranya tidak begitu berani untuk berkorban untuk orang lain, apalagi dalam keadaan terluka parah seperti Frost Assassin.
Jadi dari mana asal kepribadian dan penampilan Frost Assassin?
Apakah dia benar-benar hanya sebuah klon?
Oleh sebab itulah, Duchness Olivia dengan tenang mendekatinya. Dia ingin mengumpulkan beberapa informasi yang mungkin akan berguna baginya sebelum membunuhnya.
Akan tetapi ...
"Aku merindukanmu ... Ibu."
Kalimat itu membuat pikiran Duchness Olivia menjadi kosong. Mendengar suara bocah penuh kerinduan dan melankolis itu, dia tampak linglung dan tidak bisa berpikir jernih.
Perasaan akrab yang sangat dia rindukan menghantam dirinya. Dia tertegun dan berdiri membeku pada tempatnya, tidak tahu harus berkata berbuat apa sesaat.
"Kamu ..." Duchness Olivia hendak mengatakan sesuatu sebelum menyadari bahwa Lux telah kehilangan kesadaran.
Tapi ketika dia merasakan kondisi tubuh Lux, ekspresinya langsung berubah dan dia tidak yakin kenapa, dia merasa ... Panik.
Kepanikan ini jauh lebih besar dibanding ketika Shin menghilang!
Meski begitu, Duchness Olivia memaksa dirinya untuk tetap tenang.
"Jangan mati, jangan mati ..." Suara tangisan Alice menarik perhatian Duchness Olivia.
Wanita itu menatap Alice sambil mengernyit. Melihat gadis itu memeluk Lux, dia tiba-tiba merasa ... Tidak senang.
"Minggir." Suara dingin Duchness Olivia terdengar.
"S-siapa...?"
"Apa kamu tidak mendengar ucapannya tadi?" Duchness Olivia semakin tidak senang. "Aku adalah ibunya." Tanpa sadar, dia mengatakan ini.
"B-bisakah kamu menyelamatkannya?"
"Pertanyaan bodoh. Kamu pikir siapa aku?" Mendengar keraguan gadis kecil yang bisa dia hancurkan sesuka hati, dia mengerutkan kening. "Serahkan dia."
"T-tapi–"
Tanpa meminta persetujuan gadis kecil itu, Duchness Olivia langsung mengangkat tubuh Lux, tapi tubuh wanita itu gemetar. Matanya melebar ketika mencium aroma kuat dan memabukkan dari tubuh Lux.
Memaksa dirinya untuk tidak terpengaruh, Duchness Olivia hendak pergi karena Lux butuh perawatan tepat waktu.
"Tung–"
Alice ingin mengatakan sesuatu, tapi tubuh Duchness sudah menghilang.
...***...
"Duchness Olivia, mohon maaf, kam–" assassin perempuan itu hendak mengatakan sesuatu.
Tapi begitu dia menatap bocah yang berada di pelukan Duchness Olivia, dia tercekat dan tercengang.
Anak itu begitu sempurna. Setiap inci tubuhnya memancarkan aroma yang kuat dan memabukkan itu sampai membuatnya linglung, tidak bisa berpikir jernih.
Untungnya, sebagai assassin, pengendalian dirinya sangat bagus hingga dia pulih dengan cepat.
Meskipun ... Wajahnya sangat merah saat ini dan masih menatap anak itu dengan tidak wajar.
"Maaf, Duchness Olivia, tapi ... Siapa anak ini?"
"Aku akan menjelaskan nanti. Rawat anak ini dulu, dia terluka parah."
"B-baik."
"Tunggu dulu." Duchness Olivia tiba-tiba menghentikannya sambil mengerutkan kening.
"Y-ya?" Assassin perempuan bertanya dengan bingung.
"Setelah dipikir-pikir, biarkan aku yang merawatnya. Serahkan padaku potion dan alat-alat medis yang dibutuhkan."
"T-tapi–"
"Apa kamu melawan perintahku?" tanya Duchness Olivia dengan dingin.
"S-saya tidak berani Duchness!" Assassin itu menggigil ketika niat membunuh Duchness Olivia dilepaskan.
Tidak peduli dengan assassin itu, Duchness Olivia langsung memasuki kereta kudanya kembali, mengabaikan tatspan terkejut para kesatria.
"Kita lanjutkan perjalanan. Jangan menginap," dengan acuh tak acuh, Duchness Olivia mengeluarkan perintah.
Meski banyak pertanyaan muncul di benak mereka semua, tapi mereka tidak berani bertanya dan hanya menurut.
"Baik!"
Dalam kereta kuda itu, Duchness Olivia menghela napas tenang. Alasan kenapa dia berubah pikiran karena tatapan para assassin perempuan itu yang agak salah dan tidak normal.
Duchness Olivia tidak tahu mengapa, tapi dia merasa tidak nyaman saat tubuh Lux dirawat oleh para assassisn itu ...
...
...
...
'Aku ... Apa yang terjadi padaku?'
Duchness Olivia tertegun. Barulah pada saat ini, dia menyadari perilakunya sangat tidak wajar, berlawanan dari perilakunya sebelumnya.
Tubuh Duchness Olivia gemetar dan dia menatap sosok kecil di pelukannya. Wanita itu mendapati dirinya linglung sekali lagi begitu melihat wajah Frost Assassin yang tampak seperti sesuatu yang seharusnya tidak ada di dunia ini.
Karena usianya yang muda, dia tampak sangat imut, tapi saat dewasa tidak diragukan lagi ... Dia akan menjadi lady killer.
'Apa aku benar-benar tersentuh padanya?'
Duchness Olivia berpikir dengan ragu. Sebelumnya, dia sangat membenci keberadaan Lux sampai ingin menghancurkannya tanpa sisa.
Tapi melihat sosoknya yang rapuh dan lemah, terutama panggilan 'Ibu' yang penuh kerinduan darinya, membuatnya hatinya bergetar.
"Aku ... Merindukanmu ... Ibu."
Hanya mengingat satu kalimat itu sudah melenyapkan keinginan Duchness Olivia untuk membunuh Lux.
Ya ... Dia benci mengakuinya, tapi dia akan katakan dengan jelas-jelas ...
"Aku menginginkanmu ... Aku tidak ingin membunuhmu."
Dengan pandangan rumit dan nada lembut, Duchness Olivia membelai wajah Lux saat tatapannya tidak bisa lepas dari melihatnya.
Duchness Olivia tidak sanggup membunuhnya. Mustahil dia melakukan itu setelah mengetahui kepribadiannya.
Adapun klon Shin? Rasanya ... Itu bukan hal yang buruk jika keduanya menjadi kakak dan adik laki-laki nanti.
Dengan kata lain, Duchness Olivia tidak menolak kelahiran Lux lagi.
"Lux Silverfrost ... Itu nama yang bagus ..."
Memeluk sosok Lux yang rapuh, Duchness Olivia diam-diam menghirup aroma tubuh bocah itu yang memabukkan.
...***...
"Jadi ... Apakah aku sudah mati?"
Membuka matanya, Lux menatap sekelilingnya dengan tenang.
Berbeda dari sebelumnya, tubuhnya saat ini tidak memiliki rasa sakit sakit. Sebaliknya, tubuhnya terasa sangat ringan dan tidak memiliki berat badan sampai-sampai ... Tubuhnya melayang di udara.
Bukan hanya itu, pemandangan di sekitarnya tampak unik dan indah. Ada berbagai macam bola cahaya berwarna melesat kesana-kemari dengan kecepatan luar biasa.
Tentu saja, yang menarik perhatian Lux adalah sebuah istana di depannya yang kini dikelilingi bola cahaya paling banyak.
Lux mencoba menyentuh bola cahaya itu, hanya untuk menemukan bahwa bola cahaya itu menjauh darinya.
Hal ini membuatnya terdiam lalu menatap tangannya. Apakah bola itu tidak menyukainya?
"Aneh ..."
Menggeleng untuk menghapus pemikiran tidak berguna itu, Lux kembali menatap ke arah istana itu dengan rasa ingin tahu.
"Istana itu ..."
Tiba-tiba, suara yang tenang tapi lembut terdengar jelas di telinga Lux. Bocah itu kemudian merasakan sepasang tangan perlahan merangkul tubuhnya dengan erat.
Mengetahui ini, Lux menyipitkan mata, tapi dia tidak melawan. Sebaliknya, dia bertanya dengan dingin.
"Kamu ...." Lux hendak mengatakan sesuatu, tapi apa yang terjadi selanjutnya membuat ekspresi bocah itu berubah. Tanpa peringatan, pemandangan di sekitarnya berubah. Begitu pula dengan posisinya berdiri.
'Tempat ini ...'
Kini dia berdiri di sebuah aula yang megah dan mewah di mana terlihat sebuah kursi indah dan besar yang terbuat dari perak mengkilap.
Hanya dalam sekilas, bahkan orang bodoh pun bisa menebak tempat ini.
"Ruang ... Takhta raja?"
"Kurang tepat. Kamu harus menyebutnya takhta ratu."
Tidak jauh dari tahta indah berwarna perak itu, entah sejak kapan, sudah ada sosok wanita yang sangat cantik sedang duduk di atasnya.
Dia memiliki rambut perak dan mengenakan semacam pakaian yang mirip pakaian militer dengan rok perempuan.
Tapi yang paling menarik perhatian Lux adalah mata wanita itu.
Mata wanita itu ... Kurang lebih mirip dengan matanya. Ya, wanita itu juga memiliki sepasang mata heterochromia.
Jika hanya itu, ekspresi Lux tetap tenang. Apa yang tak terduga adalah mata kiri wanita itu ...
Sementara mata kanan dari wanita itu berwarna merah darah kristal, mata kiri wanita itu berwarna biru safir dengan pola angka romawi dari angka mata yang benar.
Ya ... Wanita itu juga memiliki 'Mystic Eyes of Time World', salah satu magic terkuat yang ada di dunia.
Salah satu mutasi yang disebabkan oleh Mystic Eyes of Time World adalah salah satu diantara mata penggunanya akan berubah.
Dan perubahan yang dibawa oleh magic unik itu tidak bisa disamarkan atau dinonaktifkan bagaimanapun caranya. Karena itulah, Lux langsung bisa mengidentifikasinya.
Dalam plot, ada dua orang yang sudah diketahui memiliki magic 'Mystic Eyes of Time Emperor', tapi salah satu diantaranya masih terlalu muda saat ini dan jelas ... Dia belum membangkitkannya.
Bagaimanapun juga, kondisi untuk membuka salah satu magic terkuat di dunia terlalu sulit untuk dipenuhi.
Berarti ... Hanya ada satu orang yang tersisa.
Dan mengingat pernampilan serba putih dengan pakaian militer, sebuah nama terlintas di benak Lux.
"White ... Queen."
Lux menyebut nama itu dalam hening. Salah satu boss dalam Spirit World ... Kini berada tepat di hadapannya, yang cukup untuk membuatnya waspada tingkat penuh.
"Kamu mengenaliku ... Itu sedikit tak terduga." Seolah-olah untuk menunjukkan keterkejutannya, White Queen mengangkat alisnya.
Tapi tatapan wanita itu yang tidak bisa dijelaskan itu membuat Lux entah kenapa ... Agak terganggu.
Tidak mau terlalu memikirkannya, Lux segera mengeluarkan pertanyaan. Hanya saja, kali ini dia tidak menggunakan suaranya ...
Sebuah tulisan yang terbuat dari serpihan-serpihan es terbentuk di udara. "Kenapa kamu ada di sini?"
White Queen terdiam dan mengangkat alisnya lalu jarinya mengetuk gagang kursi kanannya.
Pada saat itu, Lux hanya merasakan tubuhnya tak terkendali kemudian terdistorsi. Sebelum dia bisa beraksi ...
Tubuhnya berkedip dan muncul tepat pada pelukan White Queen. Saat berkedip, bocah itu hanya merasakan tubuhnya dipeluk erat dan aromanya dicium beberapa kali oleh wanita itu.
Setelah beberapa saat, suara White Queen terdengar kembali.
"Apakah kamu khawatir jika 'Champions Charm' milikmu akan mempengaruhiku? Jangan khawatir ... Kekuatan mentalku tidak lemah, jadi jiwaku akan baik-baik saja."
" ... "
Jika White Queen tidak menghirup aroma tubuhnya dengan rakus saat ini, Lux mungkin akan percaya pada ucapannya, tapi ...
"Katakan padaku ... Kenapa kamu ada di sini?"
"Karena tempat ini adalah milikku."
"Kalau begitu kuganti pertanyaanku ... Kenapa aku muncul di sini?"
"Akulah yang menginginkan itu."
" ... Jelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami."
"Baiklah jika itu yang kamu inginkan. Kamu harusnya tahu bahwa aku sudah mati, kan?"
" ... Ya."
"Lalu katakan bahwa aku terlalu kuat sehingga aku bisa bertahan dengan meski fisikku dihancurkan, namun untuk bertahan lebih lanjut ... Aku harus mencari 'inang' untuk dijadikan tempat tinggal dan tumbuh. Kemudian setelah aku cari-cari ... Aku menemukanmu."
"Aku mengerti ... Tapi kenapa aku?" Inilah pertanyaan yang cukup membingungkan Lux.
Dalam plot, memang ada kejadian di mana White Queen membutuhkan inang untuk bertahan hidup dan berhasil menemukannya.
Hanya saja, orang itu bukanlah Lux Silverfrost ... Melainkan orang kedua yang berhasil membangkitkan 'Mystic Eyes of Time World' setelah White Queen.
"Apa aku masih harus menjawabnya?" Suara White Queen terdengar tenang. "Baik itu penampilan, bakat, kekuatan, dan kepribadian ... Kamu sempurna dalam semua itu dan telah melampaui semua manusia di dunia. Bahkan para Spirit (roh) akan menjadi gila dan berebutan untuk mengontrakmu."
"Bukankah itu justru disebabkan oleh Champions Charm–"
"Tidak, kamu salah." White Queen langsung memotong ucapan Lux. "Meskipun tanpa magic pesona dan cuci otak itu, para Spirit, bahkan salah satu dari Spirit tingkat Queen pun akan memiliki keinginan untuk melakukan kontrak denganmu. Itu bukan masalah 'penampilan', tapi ini lebih ke arah masalah 'kepribadian'."
White Queen menatap Lux dengan tenang, tapi jauh di balik tatapan mata heterochromia sejernih laut itu, ada kegilaan yang tak terbatas yang bisa dideteksi oleh Lux ...
"Dan aku tidak sebodoh itu untuk membiarkan 'harta karun' sepertimu pergi," lanjut White Queen. "Ditambah kamu juga memiliki Mystic Eyes of Time World, bukankah kita berdua sangat cocok?"
"Kenapa menurutmu aku harus menerimanu?"
"Aku bisa membantumu," ucap White Queen tenang tapi dingin. "Meski saat ini aku hanya merupakan serpihan jiwa, tapi bukan berarti aku lemah. Kekuatanku saat ini bisa menahan serangan Level Transcendent maksimal tiga kali.
Selain itu, aku memiliki banyak pengetahuan yang bisa kuberikan padamu termasuk penggunaan 'Mystic Eyes of Time World'. Untukmu, ini bukan kesepakatan yang buruk, kan?"
" .... "
Ya ... Itu bukan kesepakatan buruk. Meski Lux memiliki banyak pengetahuan berkat plot game, tapi itu tidak terlalu rinci dan hanya samar-samar.
Juga ... Kekuatan White Queen adalah sesuatu yang sangat dibutuhkan Lux saat ini.
Walau Lux tidak tahu kenapa dirinya tidak dibunuh oleh Duchness Olivia, tapi dia yakin dirinya masih hidup.
Dan jika Lux masih hidup, berarti kejaran Nyx Laboratory terhadap dirinya tidak akan berhenti.
Kita harus tahu bahwa kekuatan tempur Nyx Laboratory pada dasarnya adalah sesuatu yang tidak bisa dilawan oleh Lux sekarang. Karena itulah dia butuh kekuatan dari luar untuk berlindung dan orang itu adalah White Queen ...
Hanya saja ...
"Tidak cukup." Lux menatap Mystic Eyes of Time World milik White Queen dengan mata Mystic Eyesnya juga yang tampak acuh tak acuh.
White Queen mengangkat alisnya. Sedikit terkejut dengan perubahan Lux yang tiba-tiba kemudian dia mendengar ucapan selanjutnya dari bocah itu.
"Begitu kamu menciptakan fisikmu kembali ... Kamu harus tetap membantuku. Setidaknya sampai aku mencapai level Transcendent."
" ... " White Queen berkedip lalu entah kenapa terkekeh. Membelai rambut putih Lux yang bisa membuat gadis mana pun iri keena kelembutannya, wanita itu berbisik tenang.
"Tentu saja ... Sesuai keinginanmu."
Mendengar kepastian itu, Lux mengangguk. Meski kepribadian White Queen agak 'kacau', tapi dia tidak meragukan ucapan wanita ini.
Begitu White Queen berkata demikian, dia tidak akan mengingkari ucapannya. Setidaknya, itulah yang Lux yakini dari plot ...
"Lalu ..." Lux hendak mengatakan hal lain, tapi bocah itu merasakan rasa sakit berdenyut denyut di kepalanya, yang menghentikan kalimatnya.
Lux mengerutkan kening dan tidak terlalu peduli dengan rasa sakit ini berkat efek 'Divine Ice Prince'. Adapun White Queen, dia mulai menyadari sesuatu ...
"Kamu harus bangun. Waktumu di tempat ini habis."
"Begitu ...."
Mendengar itu, Lux tidak memaksa untuk tinggal di tempat ini lebih lama. Dia masih punya banyak pertanyaan, tapi dia bisa menanyakan semua itu nanti.
Lagipula, bukan berarti mereka tidak akan bertemu lagi. Mereka masih bisa berkomunikasi secara mental.
"Sebelum itu, apakah kamu tahu di mana aku berada saat ini?"
White Queen terdiam sejenak. Merasa sedikit jengkel dalam hatinya, dia pun berkata. "Wilayah Frost Family, tepatnya di mansion utama Duchness Olivia."
" ... Apa?" Lux tertegun. Sayangnya, saat dia akan bertanya lagi, kesadarannya segera terlelap dan berpindah ke dunia nyata.
Melihat tubuh Lux yang perlahan-lahan hancur menjadi serpihan cahaya seolah akan menghilang selamanya, entah kenapa ... Jiwa White Queen bergetar.
Mencoba tenang, White Queen bergumam pada dirinya sendiri. "Tenang ... Bukan berarti dia meninggalkanku ... Dia hanya kembali ke dunia nyata."
Tapi meski berkata demikian ... Dia merasa kesepian di tempat ini.
"Lux ..."