
'Aku sudah ketahuan ...'
Sebagai sosok yang sangat posesif terhadap putranya, Duchness Olivia tentu tahu rencana manusia buatan dengan menggunakan DNA protagonis Shin.
Bagaimanapun saat itu, Shin Frost diculik oleh ilmuwan-ilmuwan gila dari Nyx Laboratory (laboratorium yang melahirkan Lux) dan mengambil DNA-nya.
Duchness Olivia, yang mengetahui hal tersebut, menjadi gila tidak ragu-ragu mengirimkan pasukan dan membunuh ilmuwan yang telah menculik putranya.
Jika bukan karena kekaisaran yang melindungi Nyx Laboratory karena masih ingin memanfaatkannya, Lux yakin Duchness Olivia akan menghancurkan laboratorium tempat dia dilahirkan itu.
Akan tetapi, sangat disayangkan entah kenapa Shin Frost hilang dari Nyx Laboratory. Diperkirakan Shin Frost sepertinya menemukan jalan keluar dari tempat itu dan berhasil melarikan diri.
Jadi, kecuali Lux yang merupakan seorang player Spirit World, tidak ada yang tahu tentang keberadaan Shin Frost sampai sekarang.
Tapi lupakan tentang hal, sekarang ada hal yang penting karena Lux harus menghadapi salah satu wanita posesif seperti yandere secara langsung!
Dia tidak yakin bisa keluar hidup-hidup dari tempat ini. Meski Lux tidak pernah melakukan kesalahan, tapi kelahirannya adalah kesalahan bagi Duchness Olivia.
Ingat ... Duchness Olivia tidak akan menolerir keberadaan yang mencemari putranya.
"Aku terkejut ... Tidak kusangka alih-alih putraku yang lahir dari Frost Family, justru kamu yang merupakan klon berhasil membangkitkan Ice Magic, terlebih lagi ... Itu adalah Ice Magic yang unik."
Duchness Olivia menyipitkan mata. Dia juga heran karena tidak menyangka hasil kloning putranya itu memiliki bakat yang mengerikan. Di usia 10 tahun, klon itu sudah mencapai level 5 (tinggi)!
Apa konsep ini?
Itu berarti bakat yang melampaui bakat monster!
Bahkan melampaui bakat para jenius yang sangat dicintai surga itu!
Mungkin hanya butuh ratusan atau bahkan puluhan tahun untuk mencapai level Transcendent, puncak kekuatan yang hampir mustahil dicapai di dunia ini.
Bahkan Duchness Olivia harus mengakui, meskipun ilmuwan dari Nyx Laboratory itu gila, tapi mereka sangat jenius.
Tidak heran ilmuwan-ilmuwan itu dengan keras kepala dan liar mencari di sana sini keberadaan Lux.
Bagaimanapun, Lux Silverfrost hanyalah mahakarya dan ciptaan mereka paling sempurna. Pencapaian terbesar dalam hidup mereka.
"Tapi saat ini kamu terluka bukan? Aku dengar kamu baru saja melarikan diri dari Second Commander. Meski aku tidak tahu trik apa yang kamu gunakan, jangan harap trik itu berguna untukku," ucap Duchness Olivia dengan dingin.
Ya ... Seperti yang dijelaskan sebelumnya. Duchness Olivia benar-benar tidak menerima kelahiran Lux.
Dia tidak bisa menghentikan kelahiran Lux di Nyx Laboratory karena campur tangan kekaisaran, tapi bukan berarti dia tidak bisa membunuhnya.
Dan peluang ini sudah muncul di depan mata, tidak mungkin Duchness Olivia akan melepaskan kesempatan emas ini untuk menghancurkannya.
Walaupun Nyx Laboratory mungkin akan marah dan balas dendam, tapi siapa dia?
Kekuatan Nyx Laboratory mungkin sangat kuat, namun Duchness Olivia sama sekali tidak takut untuk menghadapi mereka!
'Sepertinya aku benar-benar harus menggunakannya ...'
Lux memejamkan mata. Tidak mungkin untuk melarikan diri dari tempat ini tanpa mengorbankan sesuatu.
Dia sudah dikepung. Dengan persepsinya, dia merasakan pasukan elit Frost Family berada di berbagai sisi dan menghalangi rute pelarian.
Serius ... Apakah ada begitu banyak pasukan yang diam-diam mengikuti Duchness Olivia?
Sekali lagi, Lux harus mengakui kengerian kekuatan keluarga bangsawan tingkat duke.
Jadi ...
'<>' Lux berbisik.
Pada saat itu ... waktu berhenti.
Secara harfiah, ya ... Waktu benar-benar berhenti saat ini.
Tetesan air hujan terlihat jelas berhenti di pertengahan, tidak menyentuh permukaan daratan.
Pergerakan Duchness Olivia dan pasukan elit dari Frost Family juga berhenti, tidak ada satupun yang bergerak.
Kemudian secara perlahan, tubuh Lux perlahan ditelan oleh bayangannya dengan tenang.
Tepat saat itu pula, waktu kembali normal. Hujan kembali membasahi permukaan tanah.
Barusan waktu berhenti selama sepuluh detik, tapi untuk Duchness Olivia dan lainnya ... Itu hanya berlangsung tiba-tiba tanpa adanya peringatan.
Mereka hanya melihat, di detik berikutnya ... Sosok Lux telah menghilang entah kemana.
Semua orang yang melihat ini kecuali Duchness Olivia tercengang.
"Apa? Dia hilang? Keman–"
Lalu kesatria itu menggigil ketika suara yang sangat dingin dan suram terdengar di benak mereka masing-masing.
"Berpencar. Cari dia sampai ketemu. Jangan kembali sampai kalian menemukannya ..."
"D-dimengerti!"
Dengan kecepatan yang tidak bisa dilihat oleh mata, pasukan elit dari Frost Family itu langsung berpencar.
Adapun Duchness Olivia, dia berdiri tepat pada posisi Lux sebelumnya. Di balik cadar transpar itu, wanita itu mengernyit ketika melihat cairan merah menggenang di tanah.
'Darah?'
...***...
"Uhuk ... Uhuk ..."
Di sebuah tempat yang gelap dan kotor, tempat yang jauh lebih buruk dari gang yang didatangi Lux sebelumnya, sosok Lux berjalan dengan gemetar sambil terbatuk-batuk.
Di pinggiran bagian bawah topeng itu, terdapat darah merah yang mengalir dan menetes.
Merasakan tubuhnya yang lemah dan sakit, Lux hampir roboh.
' ... Aku harus meninggalkan tempat ini.'
Dengan pemikiran itu, Lux memaksa tubuhnya untuk bergerak. Walaupun dia saat ini sudah berada di kota lain, tapi untuk menghindari kejaran Duchness Olivia tidak semudah itu.
Persepsi Duchness Olivia sangat gila dan kecepatannya melebihi kecepatan suara. Dia mungkin akan menemukan lokasinya, apalagi aura protagonis Shin pada tubuhnya yang tidak bisa disamarkan.
Tetap saja, Lux tidak menyangka efek samping dari menggunakan magicnya begitu parah.
'Mystic Eyes of Time Emperor'. Itu adalah magic kedua Lux yang sangat unik. Sesuai namanya, Mystic Eyes of Time Emperor membuatnya menggunakan berbagai macam kekuatan yang berhubungan waktu.
Dalam plot, Lux Silverfrost yang asli tidak punya magic ini. Mungkin sebagai cheatnya di dunia ini, Lux berhasil membangkitkan magic ini.
Sekilas terdengar sangat kuat, tapi faktanya magic ini sangat berbahaya karena konsumsinya tidak main-main.
[Mana] Lux langsung kering begitu menggunakannya dan bukan hanya itu, 'masa hidup' Lux juga akan dikonsumsi jika [mana]-nya tidak mendukung.
Karena terlalu kuat dan berbahaya, Lux tidak akan menggunakannya kecuali benar-benar terdesak dan bahaya.
'Dengan magic ini juga, aku selamat berkali-kali dari kematian.'
Itulah alasan mengapa bahkan jika Lux dibunuh, dia tidak akan mati, yang membuat orang-orang takut padanya karena tidak bisa dibunuh.
Tapi sekarang ... Bahkan dengan efek adaptasi dari Divine Ice Prince, Lux tidak bisa menahan rasa sakit dan rasa lemah pada tubuhnya.
Tanpa memperhatikan tatapan ketakutan para pengemis di pinggiran, Lux terus melanjutkan jalannya.
Saat itu, suara tangisan seorang gadis kecil dan suara memohon nenek tua terdengar di benaknya.
"Tolong, berikan kami waktu lebih banyak lagi! Saya berjanji akan membayar tepat waktu!"
"Cukup! Aku tidak mau mendengar ucapanmu lagi, dasar nenak tua bangka! Serahkan cucumu!"
"Tidak, nenek! Hiks, tolong aku! Aku tidak mau pergi!"
Itu bukanlah pemandangan yang asing lagi untuk Lux. Pemaksaan, utang, penipuan, dan penjualan budak ilegal ... Lux sudah melihat semua itu.
Sejak hidup sebagai pembunuh dan memasuki pasar gelap, Lux mulai terbiasa dengan gelapnya dunia ini. Sungguh aneh, memikirkan bahwa game eroge ternyata memiliki sisi gelap.
Dan Lux tidak seperti protagonis Shin yang memiliki rasa keadilan yang tinggi, Lux hanyalah manusia egois. Dia berbeda jauh dari protagonis.
"Mohon, saya mohon ... Siapapun ..."
"Hahaha! Mulai sekarang, dia akan menjadi milikku!"
"Hiks ... Tolong ..."
...
...
...
Slash!
"Hah?"
Seorang pria yang tampak seperti preman itu mengeluarkan suara bingung. Dia melihat ke arah tangannya dan itu ... Hilang.
Pyur!!
Air darah yang hangat dan kental langsung menymbur deras.
"Aaaahhhh!! Tanganku! Tanganku!"
Pria itu berguling-guling di tanah sambil berteriak kesakitan dan menangis karena tidak tahan rasa sakit.
Dan tidak jauh dari seorang nenek tua, terlihat sosok Lux memeluk seorang gadis imut berambut merah muda dan sepasang mata warna warni.
"T-terima kasih ..." ucap nenek tua itu dengan nada gemetar dan ngeri karena tidak menyangka Lux akan memotong tangan manusia tanpa ragu-ragu.
Dia juga terkejut anak di depannya sudah bisa menggunakan magic di usia yang begitu muda!
Tapi dia tidak terlalu memikirkan itu karena merasa penuh terimakasih kepada anak di depannya. Lagipula, hanya anak itu satu-satunya yang menolongnya.
Dia buru-buru mengambil gadis di pelukan Lux dan dengan lembut bertanya. "A-apakah kamu terluka Alice?"
"Hiks ... T-tidak ... Hiks ..."
Gadis itu, Alice, mulai menahan rasa tangisnya. Selain itu, dia menatap sosok Lux dengan gemetar dan penuh ingin tahu.
"T-terima kasih ..."
Untuk ucapan mereka, Lux tidak menanggapi. Sebaliknya, dia hanya diam dan hendak menyuruh mereka pergi, tapi ...
"Ahh! Sialan! Aku akan membunuhmu! Aku benar-benar akan membunuhmu!"
Lux mengangkat alis dan ingin memotong bibir pria itu, tapi ketika dia menemukan alat yang dipegang pria itu, ekspresinya langsung berubah.
'Bahaya–'
"MATIIII!!" Alat yang dipegang pria itu berkedip lalu kumpulan [mana] menyebar.
Lux hendak bereaksi, tapi tubuhnya terlambat merespon.
BOOOMM...!!
Suara ledakan yang kuat terdengar keras. Gelombangnya sampai memusnahkan tiga bangunan di sekitarnya.
Tapi meski begitu, terlihat sebuah dinding es yang perlahan-lahan tampak retak seperti kaca di pusat ledakan tersebut.
Tik ... Tik ... Tik ...
Pada saat ini, air darah yang dingin menetes tepat pada wajah Alice dan nenek itu.
Keduanya tampak tertegun ketika seorang bocah bertopeng itu menggunakan tubuhnya untuk melindungi mereka.
Krak!
Topeng yang menutupi wajah Lux retak sebelum akhirnya Ppecah sepenuhnya dan untuk pertama kalinya ... Wajah Frost Assassin itu diperlihatkan ke dunia.
Rupawan yang sangat menarik dan begitu sempurna, rambut seputih salju mengkilap, dan sepasang mata heterochromia.
Mata kanannya berwarna biru safir indah yang berkilau dari waktu ke waktu. Adapun mata kirinya lebih unik karena berwarna emas dengan pola angka romawi di mana jarum jam dari angka satu ke angka yang lain.
Dengan penampilannya yang unik dan mempesona, tidak diragukan lagi dia akan memukau banyak perempuan.
Tidak berhenti di sana, aroma harum seperti mawar terpancar dari tubuhnya dan seolah sangat memabukkan, bahkan Alice dan nenek itu linglung sesaat.
Tapi itu hanya sedetik ketika mereka menyadari keadaannya yang parah!
"Uhuk ..." Lux batuk darah dan tubuhnya langsung roboh.
"Ah...! Ah! Tidak! Tidak! Kakak, jangan mati!"
Gadis dengan sepasang pupil mata pelangi itu menangis dan memeluk tubuh Lux dengan panik. Bahkan nenek itu pun panik dan tidak tahu berbuat apa!
Lagipula, kejadian ini diluar batas kemampuan mereka!
Adapun Lux, dia tidak bisa menyadari semua itu karena telinganya mendengung sehingga kesulitan mendengar, setiap kali dia mengambil napas membuatnya menderita, dan kedua matanya juga tampak kabur sampai tidak bisa melihat dengan jelas.
Bahkan dengan Divine Ice Prince sekalipun, sangat sulit baginya untuk beradaptasi dengan kerusakan parah di tubuhnya.
'Ceroboh ...'
Karena tubuh Lux terluka sebelumnya dan telah kehabisan [mana] membuatnya lelah sampai setengah mati, dia benar-benar tidak bisa menahan ledakan itu dengan sempurna.
Alhasil, lukanya bertambah parah dan dia bahkan tidak bisa menggerakkan jari-jarinya.
Dia hanya mendengar suara tangisan samar-samar dari gadis yang dia selamatkan. Dengan susah payah, dia pun mulai berbicara.
"Jangan ... Menangis ..."
Mendengar suara Lux yang pertama kali, Alice tertegun. Tidak, bukannya itu buruk ... Sebaliknya itu sangat bagus dan enak untuk didengar.
Hanya saja, suara Lux seperti bukan suara yang seharusnya dimiliki manusia. Seolah memiliki efek hipnotis, Alice tidak terlalu menangis lagi meskipun masih terisak.
"A-aku tidak akan menangis ... T-tapi jangan mati ... Tolong ... Kakak ..."
" ... "
Lux tidak membalas karena kesadarannya perlahan-lahan mulai menghilang, tapi saat itu detak jantungnya menjadi lebih cepat dan perasaan familiar menghantam dirinya.
'Ah ...'
Meski tidak jelas karena penglihatannya terganggu, Lux bisa melihat sosok yang akrab tapi asing sedang berdiri di depannya.
Sosok dewasa yang menawan. Rambut perak panjang mengkilap, gaun berwarna biru putih dengan hiasan es dan salju.
Mengetahui bahwa dia telah tertangkap, Lux tiba-tiba ingin menertawakan dirinya yang menyedihkan.
'Benar-benar ... Aku mulai membenci dunia ini ...'
Tetap saja ...
Lux berusaha keras menatap wanita itu dan dengan tenaga terakhirnya yang tersisa, dia pun mulai mengucapkan sebuah kalimat dengan gemetar dan tenang.
"Aku ... Merindukanmu ... Ibu ..."
Setelah mengucapkan kalimat itu, pandangan Lux menjadi gelap.