
Ayra duduk di samping Merry yang sedang terbaring, karena masih belum sadarkan diri.
"Apa yang kamu pikirkan. " tanya Arkhan melihat Ayra termenung dan hanya menatap Merry.
"Mana kunci mobil mu?" timpa Arkhan lagi, karena melihat Ayra masih diam.
"Mau apa kamu? " tanya Ayra sambil menoleh kearah Arkhan, tanpa berniat menjawab pertanyaannya.
"Aku rasa dia baik baik saja, kamu bisa pulang. Biar mereka yang membawa nya kemobil. " Jawab Arkhan sambil melirik para Pengawal nya yang masih berdiri.
"Mm... " Gumam Ayra masih dengan mode bingung.
"Aku.. Mm.. nggak bisa pulang.. " Kata Ayra ragu ragu menjawab Arkhan.
"Kenapa....? Dia itu belum sadar karena efek obat saja, aku rasa nanti pasti sadar sendiri. " Kata Arkhan memberi penjelasan kepada Ayra.
"Bukan karena itu... Mm... aku nggak bisa mengendarai Mobil. " Kata Ayra sambil nyengir kuda menatap Arkhan. Seolah tanpa sadar dia telah membuka sisi kelemahan nya.
"Puffffb...... " Arkhan hampir terlepas ketawa.
"Kenapa... ?" Ucap Ayra menatap tajam Arkhan.
"Kamu pikir ada yang lucu... ?" tambah Ayra, karena melihat Arkhan seperti menahan senyum.
"Aah... Tidak. Tidak apa apa. " Kata Arkhan sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Arkhan merasa sangat lucu melihat Ayra. Gadis yang memiliki banyak keahlian, ternyata tidak bisa menyetir Mobil.
"Kalian...tolong antar kan Nona itu. " Perintah Arkhan kepada Pengawal nya dengan menunjuk ke arah Merry yang masih terbaring.
"Baik, Kalau begitu Terima Kasih. " Ayra langsung berdiri dan bersiap siap untuk pulang.
"Kamu mau kemana?" tanya Arkhan dan ikut berdiri didepan Ayra.
"Pulang.. " Jawab Ayra polos.
"Dengan tangan terluka begitu?" kata Arkhan sengaja melihat ke tangan Ayra yang luka.
"Kamu bisa menakuti Mereka, pasti Mereka khawatir kalau melihat tangan kamu seperti itu" lanjut Arkhan meyakinkan Ayra.
Arkhan berjalan dan mengambil kotak P3K yang tersedia didalam kamar Hotel tersebut.
Lalu Arkhan duduk di tepi ranjang, dia menarik tangan kiri Ayra untuk ikut duduk di samping nya.
"Ulur kan tangan mu, " pinta Arkhan ke Ayra
"A.. aku bisa mengobati nya sendiri. " jawab Ayra gugup, Entah mengapa tiba-tiba dia merasa suasana di dalam ruangan itu jadi berbeda.
"Udah jangan cerewet.. Sini. " Arkhan langsung meraih tangan kanan Ayra yang terluka akibat memukul Dewa tadi.
Dengan telaten Arkhan membersihkan luka-luka di Punggung tangan Ayra, tepatnya di Jari-jari yang terkepal ketika meninju Dewa tadi.
Sesekali Ayra melirik wajah Arkhan yang terlihat serius membersihkan luka nya "Tampan" Kata Ayra di dalam hati.
"Ihhsss...... " Ayra sedikit meringis ketika kapas basah itu menyentuh bagian lukanya yang cukup dalam.
"Tahaaan.. Ku rasa Ini tidak seberapa, Memukul orang itu saja kamu kuat. Masak menahan ini sedikit saja tidak... " Ledek Arkhan kepada Ayra.
Meskipun begitu, Karena melihat Ayra merintih tadi, Arkhan lebih memelankan lagi gerakan tangannya.
Dengan lembut dan Hati-hati dia terus mengobati, Arkhan mengangkat tangan Ayra dan Meniup-niupnya.
"Apa yang kau lakukan?" Ayra tiba-tiba kaget merasakan hembusan nafas Arkhan di tangannya.
Ayra menarik tangannya, dia malu wajah nya langsung merah mengingat gerakan Arkhan tadi seolah-olah hendak mencium tangan nya.
"Kamu kenapa ?, Aku hanya mencoba mengeringkan nya sebelum aku membalut luka tangan mu. " jawab Arkhan menjelaskan.
"Atau kamu pikir aku akan mencium tangan mu ya..." Kata Arkhan menggoda Ayra, karena melihat muka Ayra yang tiba-tiba merah.
"Jangan sembarangan ngomong.....siapa juga yang berpikir begitu. " Jawab Ayra jutek.
Ayra memalingkan wajahnya yang bertambah merah karena Arkhan berhasil menebak apa yang dia pikirkan.
Seumur hidupnya baru kali ini ada laki-laki yang posisi nya sedekat ini dan memegang tangannya.
Padahal Arkhan hanya mengobati, tapi detak jantung Ayra berdetak cepat. "Ada apa ini, apa aku terkena serangan jantung?" batin Ayra sambil memegang dadanya.
Dirasanya sudah selesai, Ayra menarik tangannya dan menggeser duduk nya, memberi jarak agar tak terlalu dekat dengan Arkhan.
Ayra merasa canggung, Mereka saling diam dan bergelut dengan pikiran mereka masing-masing. Arkhan menatap Ayra dalam, entah mengapa seharian ini tak bosan-bosan nya dia melihat sosok cantik di depannya ini.
"Aku pulang...dan Terima kasih. " Ayra bangkit, suaranya memecah keheningan diantara mereka berdua.
"Biar Aku antar.. " kata Arkhan yang juga ikut berdiri.
"Tidak usah... Kamu sudah banyak menolong ku, aku tak mau merepotkan kamu terus. " Ayra mulai berjalan kearah pintu, dia tidak ingin berlama-lama dalam satu ruangan dengan Arkhan.
"Aku tidak merasa direpotkan, dan lagian kan kamu nggak bisa nyetir, biar ku antar. " jawab Arkhan dan berjalan cepat mendahului Ayra, seolah tak ingin di bantah.
Karena Merry sudah diantar duluan sama Pengawal Arkhan tadi, dan meninggal kan mobil diparkiran Hotel, Arkhan menganggap Ayra pasti bingung bagaimana caranya untuk pulang.
"Hey... Pak Bos.. aku emang nggak bisa nyetir. tapi aku ada uang untuk bayar Taksi. " Kata Ayra dengan suara keras.
Arkhan tak menghiraukan perkataan Ayra yang seperti berteriak, dia tetap berjalan duluan dan masuk ke dalam lift, yang tak lama disusul oleh Ayra.
"Sudah jangan banyak protes, Kamu mau Jas itu aku ambil sekarang" Kata Arkhan sengaja melirik Jas yang dipakai Ayra dari tadi.
"cckk..Jangan kamu pikir aku ingin mengambil nya, nanti setelah ku cuci akan ku kembalikan, kamu tenang aja. " Ucap Ayra sewot melototi Arkhan yang berdiri disamping nya.
"Tidak Perlu.. Jas aku itu tidak bisa masuk Laundry sembarangan. "Jawab Arkhan sombong.
Karena memang Jas yang dimiliki Arkhan itu harganya sangat Mahal, Apa lagi saat ini dia di acara Peresmian Hotel miliknya. Otomatis semua pakaian yang dikenakan nya lebih Mewah dari yang biasa dia gunakan.
"Wah.. wah, Katakan dimana kamu beli. Akan ku Beli Dua sekaligus, untuk mengganti Jas mu yang ku pakai ini. " Sarkas Ayra dengan gaya yang lebih sombong lagi dari Arkhan.
Arkhan tersenyum, Merasa tak habis pikir dengan sikap Ayra.
"Tidak tau kah dia sedang berhadapan dengan siapa.. ?" Arkhan berkata dalam hati.
Arkhan semakin tertarik dengan Ayra, dimana begitu banyak wanita yang sembunyi sembunyi atau terang terangan mendekati nya.
Ayra berbeda, Ayra seperti tak terpengaruh dengan kekuasaan yang dimiliki Arkhan. Ayra berbeda dari wanita-wanita yang pernah di temui Arkhan.
Ayra bersikap santai dan terkesan cuek setelah mengatakan hal tadi, dia tak mempedulikan Arkhan yang sedari menatap nya.
Mereka jalan beriringan tanpa bicara. Ayra masih setia memegang ujung Jas Arkhan yang dia kenakan di tubuh nya.
Mobil Lamborghini Hitam nya sudah terparkir didepan mereka.
"Ayo... Masuk. " Perintah Arkhan setiba di depan Lobby Hotel, sambil membuka pintu depan samping mobil sebelah kemudi.
"Tidak Terimakasih.. " Tolak Ayra tegas.
"Mau masuk baik-baik atau aku gendong, sepertinya kamu ingin jadi pusat perhatian. " Ancam Arkhan karena selalu ditolak Ayra.
Ayra memutar mata malas, dia merasa bosan dengan sikap Arkhan yang selalu menuntut nya.
"Aku akan membayar Ongkos nya, Asal kamu tau, Aku tidak mau berutang budi. " kata Ayra memperingati sembari masuk ke dalam mobil.
Sudut bibir Arkhan tertarik ke Atas mendengar kata Ayra. Tanpa ingin menanggapi nya setelah menutup pintu Ayra, dia kemudian langsung jalan memutar dan masuk duduk dibelakang kemudi.