
Pagi ini Semua Anggota keluarga Gunawan berkumpul di Meja makan untuk sarapan, tak terkecuali Ayra sebagai anggota keluarga tambahan. Mereka sama-sama menikmati sarapan nya.
"Kemana aja semalam Ay, Kok tumben pulang malam. " Tanya Merry, memulai pembicaraan setelah selesai makan.
Semalam Ayra sangat Menikmati ke bersamaannya dengan Arkhan di Pantai kemarin, sampai tak kenal waktu Hingga Malam baru Dia pulang diantarkan oleh Arkhan ke rumah.
"Jalan jalan sama Teman... " Jawab Ayra kikuk.
Dia merasa segan kepada Keluarga barunya ini. Tak biasanya Ayra keluar dari Rumah tanpa Pamit, Dan Ayra lupa menghubungi Merry Kemarin.
"Ooh.. Baguslah. "Kata Merry yang ikut merasa senang, Karena selama ini Ayra kalau bukan Bersama Merry Dia suka menyendiri, dan jarang bergaul dengan Dunia luar.
"Mmm... Papa, Boleh kan Aku ikut kerja sama Papa?" Tanya merry ke Gunawan yang masih duduk di meja makan bersamanya.
"Kan sudah Papa bilang... Papa ingin Kamu fokus sama kuliah dulu Mer.. " Jawab Gunawan akan pertanyaan Putri nya dari semalam.
"Ayolah Papa.... Merry janji, Merry takkan ketinggalan Pelajaran. " Ucap Merry Manja mencoba meyakinkan Papa nya.
"Baik.....Papa izinkan. Akan Tetapi sedikit saja nilai mu turun, Papa tak kan segan-segan meng PHK mu. " Kata Gunawan dengan sengaja menekankan kata PHK.
"Yaa... Papa.......belum diterima udah ngomong PHK. " Balas Merry pura-pura Merajuk.
"Ciee..Ciee... Segitunya Perjuangan mengejar Cowok impian. " Ledek Susan Kepada Merry.
"Ya.. Mama.. Namanya juga usaha... Tapi Mama dukung kan... ?" Tanya Merry sambil bergelayut Manja ke tangan Susan yang sedang duduk di Samping nya.
"Ya... yaaa.. Pasti Mama dukung, Mama do'a kan Kamu bisa bersama Arkhan. " Jawab Susan mengelus elus rambut Merry dengan sayang.
Ayra yang mendengar nama Arkhan langsung mematung. Hatinya perih ternyata Merry juga menyukai Arkhan.
Ayra tidak dapat Memungkiri sebenarnya Dia sudah mulai menyukai Arkhan, Bukan karena harta maupun Kedudukan. Namun perhatian Yang di berikan Arkhan, dan membuat Cinta Ayra mulai tumbuh dengan sendirinya.
"Aku tidak Mungkin bersaing dengan Mu, Aku menyayangimu Mer..." Ayra berkata dalam hatinya. " Dan di lihat dari segi mana pun kamu lebih Pantas bersama nya ketimbang Aku. " Tambah Ayra berusaha meyakinkan hatinya.
"Kalau Kamu Ay...... Kamu dukung nggak Aku dengan Arkhan.. ? Tanya Merry membuyarkan lamunan Ayra.
"Apa sih.... yang nggak buat mu Mer..., Apapun itu asal Kamu bahagia. " Jawab Ayra berusaha tegar sembari tersenyum.
Semalam Merry telah mengutarakan semua Kepada kedua Orang tua nya, Merry ingin mendekati Arkhan dan dengan Bekerja di Perusahaan Papanya, Merry merasa bisa bertemu dengan Arkhan lagi.
"Mer... Nanti kamu pergi ke AM Grup ya, Untuk minta Tanda Tangan Arkhan, Ada berkas tambahan yang belum di Tanda tangani nya. " Kata Gunawan kepada Merry.
"Yee.. Terima kasih Papa... " Ucap Merry senang, karena merasa jalannya untuk bertemu Arkhan di permudah.
Ayra Memaksa kan senyum nya, mencoba menguatkan hati. "Kamu pasti bisa Ayra. " Kata Ayra dalam hati.
......................
Pekerjaan Ayra Memang di lapangan saja, Dia datang ke Kantor hanya untuk memberikan laporan nya.
Pekerjaan di lapangan Justru membuat nya bebas, Karena tidak terikat dengan waktu. jadi Kapan pun Pekerjaannya selesai, maka berakhir juga jam Kerja nya.
Berbeda dengan Merry yang Memilih bekerja di Kantor, Dia harus mengikuti Jam kerja Kantor pada umumnya.
Jadi hanya saat malam saja Merry dan Ayra bisa bertemu.
"Ayra... Kamu dimana... ?" Tanya Gunawan, melalui pesawat telpon nya.
"Lagi di luar Pa... Kenapa? " Kata Ayra balik bertanya.
"Ke Kantor sebentar Penting!!" Gunawan langsung memutuskan panggilannya, tanpa menunggu jawaban Ayra.
Tanpa pikir panjang, dengan pakaian seadanya Ayra segera menuju Kantor Gunawan.
"Ada apa Pa.. ? Tanya Ayra begitu tiba di depan Gunawan.
"Tolong antar kan Ini. " Jawab Gunawan sambil menyodorkan File berwarna Merah di atas meja.
Ayra mengambil dan mengamati isi File tersebut.
"Bukannya kemarin udah diantarkan sama Merry Pa?" Tanya Ayra heran, Karena File yang dipegangnya adalah File yang seharusnya diantar Merry Dua hari yang lalu.
" Papa baru tahu, itu pun karena di Hubungi Arkhan, Anak itu ceroboh sekali, Seharusnya Dia yang mengatakan. " Sesal Gunawan terhadap sikap Merry yang tidak Profesional dalam bekerja.
"Kenapa harus Ayra sih Pa... ? kan yang lain banyak. " Kata Ayra cemberut, Karena memang ingin menjauh dari Arkhan.
" Karena kamu yang mengerti.... Udah lah Ay.. tolong antarkan sekarang, Udah di tunggu... !!"
"Tapi Pa... Pakaian Ayra Begini.... " Sambar Ayra frustasi sambil memegang baju yang dia kenakan.
"Udah nggak apa-apa cepat buruan, Papa harus Meeting sekarang. "Gunawan mendorong pelan tubuh Ayra keluar dari Kantor nya.
Ayra sedang Memakai Baju kaosnya yang sedikit longgar, Celana Jeans panjang di tambah dengan tas selempang nya, rambut yang di ikat keatas sekedar nya, jauh dari kata formal untuk memasuki perkantoran.
"Maaf Mbak Bapak Arkhan nya ada?" Tanya Ayra ke Sekretaris Arkhan di depan ruangan nya.
"Sudah buat janji?" Ucap Anggi yang malah bertanya, karena Melihat sosok di depannya yang terlihat seperti anak kuliahan.
"Belum, Tapi saya kesini Mau mengantar kan ini." Kata Ayra sambil mengangkat File yang dipegangnya sedari tadi.
"Maaf Pak ada yang mengantarkan berkas... "
Anggi berbicara melalui telepon internalnya.
"Nama Mbak Ayra.. ?"Tanya Anggi yang di jawab anggukan oleh Ayra.
"Iya Pak.. Nona Ayra.. ya....ya... Baiklah" ucap Anggi yang masih menggunakan Telepon dan menutupnya.
"Silakan Mbak, sudah ditunggu bapak di Ruangannya. " Kata Anggi beralih melihat sosok gadis manis di depan nya.
Ayra melangkah ragu ke Ruangan itu, seolah-olah ada hal menakutkan yang menantinya di dalam.
" Permisi Pak.. " ucap Ayra melihat Laki-laki yang sedang duduk dikursi Kebesaran nya.
Ayra melihat Arkhan menatap nya dengan tatapan dingin, wajahnya datar dan Ayra tak bisa membaca raut wajahnya.
"Apalagi ini, mengapa dia melihat Ku seperti itu.. "Ayra membatin.
Arkhan memperhatikan penampilan Ayra saat ini, Cantik, manis, dan imut. Itulah penilaian Arkhan terhadap Ayra.
"Maaf ini berkas yang perlu Bapak Tanda tangani, Kalau ada yang tidak Jelas, bisa Bapak tanyakan langsung ke Saya." Kata Ayra dan menaruh File nya di Atas meja.
Ayra berusaha menutupi kegugupan nya karena Arkhan masih menatapnya.
Arkhan belum juga membuka mulut. Hal itu semakin menambah Kegugupan Ayra, Ayra menggigit sedikit bibir bawahnya dan selalu menunduk seolah olah mencari sesuatu di bawah kakinya.
Semua hal itu tak luput dari perhatian Arkhan. Arkhan tiba-tiba berdiri dan berjalan mendekati Ayra.
"Mau apa Bapak.. ?" Kata Ayra kembali bersuara karena kaget melihat kaki Arkhan yang tiba-tiba sudah ada di depannya ketika dia menunduk tadi.
Ayra mengangkat wajahnya sembari melangkah mundur Karena melihat Arkhan yang semakin dekat.
" Kamu harus ku Hukum. " ucap Arkhan ambigu dan semakin mengikis jarak nya dengan Ayra.
Ayra berusaha melawan, Tapi karena jarak yang terlalu dekat, Dia tidak bisa menggunakan kakinya untuk menyerang, alhasil hanya Tangannya saja yang memberi perlawanan.
Dengan santai Arkhan dapat menangkis serangan Ayra. Ayra terdesak tangannya terkunci kebelakang oleh Arkhan.
Posisi nya sangat intim, Arkhan sengaja menyudutkan Ayra ke dinding dengan tubuhnya.
Perlahan Arkhan mengecup bibir yang sedari tadi menggodanya. Dia sangat rindu dengan sosok gadis yang sudah Dua hari menghilang dari pandangan nya.
Ciuman tanpa nafsu, cukup lama tapi hanya sekedar mengecap, untuk sekedar melepas rasa rindu.
"Apa yang telah kau lakukan?" Tanya Ayra pelan, dengan Air mata yang sudah jatuh satu persatu.
"Jangan kamu kira Aku tak tahu Apa apa.." Kata Arkhan tanpa ingin melepaskan tubuh Ayra.
"Aku bukan laki-laki bodoh, yang mudah Kamu berikan kepada Sahabat Mu, Apa hak mu.. ?" Tanya Arkhan dengan tatapan dinginnya.
Ayra yang tersudut tidak bisa menjelaskan apa apa. Semua di luar perkiraan nya. Dia tidak menyangka Arkhan dapat cepat membaca maksud Ayra.