
Ayra seorang gadis cantik yang keras kepala dan pemberontak tapi meski begitu dia anak yang baik hati, ketika usianya 12 tahun dia ditinggalkan oleh kakak laki-laki satu satunya di Asrama.
Dia wajib menerima, meskipun usianya yang masih kecil dia mengerti kakaknya melakukan itu agar dia bisa hidup menjadi orang yang lebih baik.
"Rani disini dulu ya dek. Kakak akan mencari uang yang banyak biar kita bisa hidup enak, nggak susah terus, kakak ingin Rani merasa nggak kekurangan lagi. Kamu yang kuat ya dek, Besok kalau udah tiba waktunya kakak akan jemput Rani" kata Hendra.
Hanya itulah yang terus terngiang ngiang ditelinga ayra. yang membuatnya mengeraskan hati untuk dapat tegar dan bersabar menjalani hidup di asrama.
Melihat teman teman pulang ketika liburan sekolah, dan terkadang ada keluarga temannya sekali kali datang berkunjung walau hanya sekedar membawa kebutuhan di Asrama, Ayra hanya sendiri, dia bertahan di asrama karena dia tidak punya orang tua lagi, hanya kakaknya lah satu satunya saudara yang dia punya.
Dia memendam semua kerinduan kepada kakak nya dengan ber harab setelah sekolahnya selesai kakaknya akan menjemputnya dan bisa hidup bersama sama lagi.
......................
Ayra semakin gusar. sekarang Acara kelulusan nya sedang berlangsung, Ayra tidak mengikuti acara kelulusan tersebut, Dia justru diluar menantikan kakaknya, Akan tetapi orang yang dinanti nanti belum juga hadir
"Apa dia lupa, apa maksudnya ini, aku harus bagaimana? " Mulut kecilnya selalu komat kamit nggak jelas sambil berjalan mondar mandir di pintu masuk gerbang sekolahnya
"Ayra... Ayra" Gita berlari ke Ayra dengan nafas yang terengah-engah.
"Kamu di cariin ibu Salmah, disuruh ke kantor KEPSEK. Cepetan masuk...ngapain kamu disinih...." Gita menarik tangan Ayra agar bisa berjalan cepat mengikuti langkah nya.
"Assalamu'alaikum buk..." Ucap Gita Sembari mengetuk pintu Kepsek yang memang sedang terbuka.
"Ini Ayra nya, Saya pamit dulu ya bu...Udah ditungguin sama orang tua. " Kata Gita sambil mengambil tangan salmah dan diciumnya
"Ayra aku pamit dulu, kalau ada waktu kamu singgah ke rumah ku ya, Alamatnya yang ku kasih kemaren, jangan sampai hilang...aku duluan ya udah ditungguin sama Mama" Gita memeluk Ayra sahabatnya dengan erat, Karena setelah ini dia akan kembali pulang kekeluargaannya dan meninggalkan Asrama.
"Iya Git...Kalau sempat aku ke sana, kamu yang hati hati ya dijalan. Nanti setelah sampai di sana jangan lupa hubungi aku" Kata Ayra sembari membalas pelukan Gita.
Setelah melepaskan pelukannya Ayra berjalan mendekati Ibu Kepala Sekolah.
"Ayr....Semalam ibu mendapat surat, ada orang yang nganterin nya kesini, tapi bukan tukang pos.....nih Suratnya Nak. " bu Salmah menyodorkan suratnya ke tangan Ayra yang berdiri dibalik meja kantornya sembari tersenyum.
" Iya makasih bu, kalau gitu saya ke kamar dulu istirahat, sambil menunggu Kakak Saya jemput. " Ayra mengambil surat yang di sodorkan oleh Ibu KEPSEK sambil mencium tangan Beliau.
Sesampainya di dalam kamar Ayra langsung membuka amplop surat tersebut, Ayra sangat penasaran karena selama ini, tidak ada yang mengirimkan dia surat.
Karena tidak ada yang dia kenal selain kakaknya. Adapun keluarga dari bapak dan ibunya dia tidak pernah kenal, dan keluarga orang tuanya pun tidak pernah mencarinya.
Rasa tersambar petir Ayra membaca surat tersebut, air matanya pun jatuh mengalir deras di pipi nya yang tak bisa dia bendung
Ayra meremas surat yang ada ditangannya. Hatinya hancur berkeping-keping, orang yang paling disayangi dan yang dirindukan nya selama ini hanya memberikan nya surat, surat yang tampa alamat.
"Apa maksudnya ini. Kau pikir aku hanya butuh Materi, kau jahat Hendra, aku benci....Aku sangat membencimu. Mulai sekarang aku akan tentukan jalanku, tak perlu kau merisaukan ku" Ayra mengahapus air mata nya dengan kasar sambil tersenyum miris.
Kerinduannya yang membuncah membuat kebencian di hati yang teramat sangat, karena apapun yang telah dilakukannya selama ini percuma.
Ternyata tidak ada lagi yang memikirkannya, Selama ini dia sendiri, Dia merasa ditanggalkan begitu saja oleh kakaknya.
Ayra duduk termenung memeluk lututnya sendiri di atas kasur, kamar Asrama yang biasanya ditempati 4 orang kini sepi, karena setelah kelulusan sekolah, teman temannya sudah dijemput oleh keluarga masing-masing.
Ayra berfikir, Merenung apa yang harus dilakukan nya, Kuliah atau pergi mencari kakaknya.
Ayra sangat ingin mencari kakaknya, tapi dia tidak tau alamat, yang dia tahu hanya kakaknya ke Jakarta. Dan Ibu kota itu luas, pasti sulit mencarinya, karena dia belum pernah hidup di luar selain di Asrama.
Akan tetapi kalau dia meneruskan untuk terus tinggal di Kota ini, itu tidak mungkin, Ayra ingin bertemu dengan Kakaknya, Sudah cukup sabar Ayra menunggu kakaknya yang tak kunjung kembali.
"Ya. Aku akan menyusulnya, terserah dia dimana yang penting aku sudah satu kota dengannya. Dari pada disini, entah sampai kapan dia kembali. Toh...dia tidak peduli juga dengan apa yang akan ku lakukan." kata ayra pada dirinya sendiri.
Dengan semangat Ayra mempersiapkan Barang barangnya untuk berangkat ke Jakarta.
Ayra bertekat tidak akan memberi tahu kan masalah ini ke Ibu Salmah, karena Ayra yakin kalau Ibu Salmah tahu dia tidak akan di perbolehkan keluar dari Asrama tampa tujuan yang jelas.
Ayra berfikir pasti bisa menjaga dirinya sendiri, karena selama di Asrama dia sudah mandiri.
6 tahun di Asrama sudah membentuk Ayra menjadi anak yang kuat, meskipun tidak ada Orang tua atau Saudara yang mendampingi nya.
Uang yang selama ini dikirimkan oleh kakaknya sangat banyak, karena selama di Asrama, Ayra menggunakan uang itu dengan hemat, Ayra hanya belanja untuk kebutuhan hidup sehari hari, dia tidak pernah menggunakan uang itu kalau merasa tidak terlalu penting.
Sementara kakaknya setiap bulan mengiriminya uang dengan angka yang fantastis menurut ayra, yang kalau dibelanjakan secara foya-foya saja, tidak akan habis setiap bulan.
Tapi Ayra gadis yang sederhana, dia diajari sedari kecil dengan cara hidup berhemat. karena waktu kecil ketika kedua orang tuanya masih hidup mereka juga hidup pas pasan.
Tapi meskipun begitu mereka bahagia. Sampai kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan, dan sekarang kakaknya lah yang menggantikan sosok kedua orang tuannya, yang bertanggung jawab sepenuhnya akan semua kebutuhan hidup Ayra.
Jadi selama 6 tahun kakaknya mengirimkan uang, dan Cuma sedikit yang telah dia gunakan. Ayra merasa itu bisa menjadi modal untuk nya memulai hidup di Jakarta, Ayra merasa tidak akan kekurangan meskipun dia tidak bekerja selama di sana.
Dengan semangat, Ayra melangkahkan kaki menempuh jalan hidup yang baru. Ayra berdoa didalam hati semoga dia bertemu dengan kakak yang selama ini dia rindukan.