AYRANI

AYRANI
Gaun



"Pagi Ma, pagi Pa, pagi cerewet.. " Sapa Ayra sambil mencubit pipi Merry yang sudah duduk dimeja untuk sarapan.


" Enak aja bilang aku cerewet . " Balas Merry sambil mengusap usap pipinya.


"Kalau nggak cerewet apa namanya coba, masa bangunin aku sambil ngomel ngomel, udah bangun masiiih.. jugak diomelin" ucap Ayra sewot melirik Merry.


"Eeh kamu tuh ya, nggak bisa dibangunin dengan cara baik baik. orang lain biasanya sekali senggol sudah langsung melek, nih udah di colek, digoyang goyang, nggaaak....juga bangun, emang ya bangunin kamu itu selalu bikin emosi. " Timpa Merry yang nggak kalah sewot.


"Mama lihat nih, perawatan wajah aku rusak, nih gara gara bangunin putri kodok, garis garis halus di wajahku timbul lagi......" Ucap Merry manja ke Susan sambil menunjukkan sudut matanya.


"Yeeee.. kalau udah tua ngaku aja, jangan pakek nyalah nyalahin orang. kamu tuh emang udah berumur, kalau dikampung aku ya sebaya kamu itu udah punya anak dua. " kata Ayra mengompori Merry, dengan tertawa yang dibuat buat.


"Mama... Ayra... " kadu Merry dengan manja.


Susan dan Gunawan hanya menanggapi drama didepan nya dengan tersenyum.


"Udah udah....Merry Ayra besok malam tolong kalian wakili Papa untuk menghadiri peresmian Hotel teman Papa ya." kata Gunawan mengalihkan topik pembicaraan.


"Emangnya Papa mau kemana, kok nggak Papa aja yang datang? " Tanya Merry menanggapi.


"Om Roni sama tante mu mau datang, nggak mungkin kan di tinggalin. Dari minggu kemaren memang Papa udah janjian sama dia, jadi tolong kalian saja yang gantiin Papa ya. " kata Gunawan dengan serius.


" Ya... Papa, Ayra bukan nya nggak mau, itu acaranya pasti resmi, Ayra nggak ada kostum pa, males ah nanti malu maluin aja, nggak...Ayra nggak mau. " ucap Ayra sambil menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menolak.


"Kamu tenang aja, nih.. untuk sehari ini kalian boleh puas puasin memakainya" Gunawan meletakkan kartu Debit unlimited nya diatas meja.


"Anggap sebagai bonus kemarin. " lanjut Gunawan sambil tersenyum menatap Ayra.


"Yeyy... kalau begini mah kami mauu..asiiiik..


Papa the best deh, ayok Ay kita perawatan ke salon sekalian make over, habis tu kita shoping beli baju sepatu, pokoknya semua sampai puaaaaas.. " ucap Merry semangat sambil mengibas ngibaskan kartu di wajahnya dan merentangkan kedua tangannya ke atas dengan girang.


"Enak aja ini bonus ku!! " Ayra langsung menyambar kartu yang ada ditangan Merry dan merebutnya sembari berlari kearah ruang tamu.


"Ayra.... bagiiii, awas kamu ya kalau pelit pelit sama aku" ucap Merry sambil berlari menyusul Ayra yang hampir tiba di pintu depan.


"Papa makasih yaaa... " teriak Ayra sebelum menghilang di pintu depan.


"Dasar mereka berdua udah gede tapi sifat nya masih kayak bocah. " ucap Susan geleng-geleng kepala melihat tingkah laku anaknya dan Ayra.


Dia senang dengan kedekatan Merry dan Ayra, karena kalau ada mereka di rumah, pasti rumah selalu rame, ada ada saja yang akan diributkan, tertawa saling ejek yang tak pernah lepas dari mereka, meskipun begitu mereka saling menyayangi dan saling melindungi satu sama lain, layaknya saudara sendiri.


"Mau kemana kita Mer? " tanya Ayra melihat Merry yang sudah duduk di bangku belakang kemudi.


"Shoping dong, kita habis kan hari ini berbelanja sampai puasss" Seru Merry senang dan menjalan kan mobil nya meninggal kan halaman rumah nya.


Merry mengendarai mobilnya dengan santai, diiringi suara musik keras mereka menikmati perjalanan nya, Merry sesekali menggoyang kan kepala mengikuti irama musik dan Ayra tersenyum geli melihat tingkah Merry.


Ayra melihat keluar jendela mobil nya melewati taman yang biasanya sering dikunjunginya dulu.


Ketika tiba di perempatan jalan, mobil berhenti karena lampu merah, pandangan Ayra tetap saja tak lepas dari taman.


Sampai tiba-tiba sebuah mobil sport Lamborghini mewah berwarna hitam berhenti tepat di samping mobilnya.


Mobil sport Mewah yang ditatap Ayra perlahan menurun kan jendela kaca nya, sehingga Ayra bisa dengan jelas melihat si pengemudi.


Selama beberapa detik tatapan mata mereka saling bertemu, keduanya tidak ada ekspresi. Tapi di detik selanjutnya tatapan mata mereka terputus karena Ayra menoleh kearah lain diiringi jendela kaca mobil Ayra yang naik dan menutup keatas sepenuhnya.


Arkhan Masih dengan mode patung, menatap mobil yang sudah berlalu jalan didepannya, sampai suara klakson mobil dibelakang menyadarkannya agar cepat maju karena lampunya sudah hijau.


Arkhan tidak habis pikir, tidak pernah dalam sejarah nya ada gadis yang bisa menolak pesona seorang Arkhan.


Biasanya Walau Arkhan hanya berjalan kaki, Arkhan akan selalu seperti magnet yang menarik perhatian kaum hawa.


Apalagi dia sekarang sedang menggunakan mobil sport mewah miliknya dan dikemudikan oleh nya sendiri, pasti akan menambah pesonanya beratus kali lipat dimata setiap perempuan.


"Tuh Perempuan nggak lihat atau **** ya. " Umpat Arkhan tidak percaya dengan apa yang telah terjadi. Dan membuat nya semakin penasaran akan sosok Ayra.


..................


Mereka bersenang senang hari ini, jalan jalan nonton dan berbelanja di Mall ternama dikota tersebut, layaknya seperti gadis gadis zaman sekarang yang sedang menikmati hidup.


"Ay habis ini kita ke butik langganan ku ya. "


"Memang mau ngapain Ay, kita kan udah beli baju?" tanya Ayra bingung.


"Yaaa.. Ay, kamu pikir acara besok malam kita pakai baju ini" ucap Merry sambil mengangkat banyak Paper Bag yang memenuhi kedua tangannya.


"iya..." jawab Ayra acuh.


"nggak modis mu Ay. " celetuk Merry.


"Salah nya dimana Mer, bagus bagus kok bajunya tadi. " timpa Ayra bingung.


"Bagus sih, tapi semua ini nggak bisa dibawa ke Pesta" lanjut Merry menjelaskan.


"Kamu tenang aja, nanti aku pilihin kamu yang paling bagus, yang membuat orang terkagum kagum melihat pesona Ayra. AYRANI" kata Merry sengaja menekankan nama Ayra


"ayoook...... " Merry merangkul Ayra yang masih dalam keadaan bingung.


"Tapi Mer.... !!!"


"Aah... tenang aja, kamu percayakan saja samua sama ku. " potong Merry yang tidak mau dibantah.


............


Perjalanan mereka tidak terlalu lama, cuma menempuh 20 menit mereka sudah tiba di butik langganan Keluarga Merry.


"Yuk Ay. " ajak Merry setelah memberhentikan mobilnya di parkiran butik.


"Pokoknya didalam sana kamu harus nurut sama aku, tidak boleh membantah. " Ancam Merry


"Aku mau kamu harus tampil perfect, karena kita ke sana mewakili Nama Papa, jadi nggak boleh malu maluin. " tambah Merry, karena dia tau gaya berpakaian Ayra yang sehari-hari terkesan tomboi, dan pasti akan keberatan dengan pilihan Merry nanti.


Merry memasuki butik dengan semangat, tapi kebalikan sama Ayra, dia tampak tertunduk lesu dengan langkah kaki gontai, dalam pikirannya yang masih mengira ngira gaun apa yang akan dipilih kan oleh Merry untuk nya nanti.