AYRANI

AYRANI
Merry



Sudah tiga tahun Ayra tinggal di Jakarta, dia tidak bisa mencari kakaknya dikota sebesar ini, karena tampa alamat yang jelas sama saja mencari jarum ditumpukkan jerami, alhasil dia hanya bisa berdoa dan pasrah semoga Tuhan mempertemukan mereka.


Selama dikota ini Ayra melanjutkan kuliahnya dengan bekerja paruh waktu di Cafe untuk mengisi kekosongan harinya. Karena dia merasa semakin sering dia diluar rumah, besar kesempatan nya untuk bisa bertemu dengan kakaknya.


ciiiiiiiiiiiit.......... bruuuuuuuuuk "awwwwww...." Ayra terjatuh bersama sepeda motornya, dia tertabrak oleh mobil yang ada dibelakangnya, karena Ayra merem mendadak.


"woy.... mau cari mati ya!!" hardik seseorang yang mobilnya telah menabrak Motor Ayra.


"Dasar brengsek.. kamu tuh ya. kalau bawak mobil mata tu dipakek, nggak lihat apa ada anak kecil nyebrang. emang jalan punya nenek moyang kamu apa, ini jalanan umum pengendara bukan satu kamu aja" balas ayra dengan suara lantang.


Ayra berdiri sambil mengibas ngibas kan tangan nya kebelakang guna membersihkan celananya yang kotor karena terjatuh tadi.


Ayra melotot seolah-olah memberi tatapan permusuhan kepada laki-laki yang telah menabraknya


"Perempuan sinting.. " sarkas laki-laki itu, hendak menaikan kaca mobilnya.


Dia tak ingin berlama-lama, dibelakangnya ada bos yang harus cepat di antarkan nya kekantor, karena 15 menit lagi bosnya akan segera menghadiri meeting, oleh sebab itu dia sangat terburu buru.


"Eeehh.. mau kemana kamu" Tidak tanggung tanggung, Ayra meraih kerah baju sang supir tersebut yang hampir menutupkan jendela kaca nya supaya berhenti.


"Mau nya apa sih. cepat jangan bertele-tele saya mau cepat." ucap Sang supir menarik bajunya yang digenggaman oleh Ayra hingga terlepas


" Berapa yang kamu mau!! " kata sang supir langsung to the point'


"Heeh... kamu pikir dengan uang mu semua urusan bisa selesai." jawab ayra dengan menyilang kan tangan nya di dada.


"Jangan songong kamu.. kamu tidak lihat ini Mobil, kalau dibandingkan dengan Motor butut mu itu tidak ada apa-apa nya. Biaya perbaikan karena cat nya baret saja, Uang nya bisa untuk membeli motor keluaran terbaru, Asal kamu tau saja ini adalah mobilnya tuan Arkhan Mahendra" sang supir menyebut kan nama tuan muda nya dengan sombongnya.


Karena dia merasa tidak ada yang tidak mengenal Arkhan, Karena Arkhan adalah pengusaha yang terkenal dan masih muda, yang banyak digandrungi kaum hawa selain kaya raya, wajah yang tampan ditambah postur tinggi dengan bentuk tubuh Atletik membuat wanita akan secara sukarela melempar tubuhnya keranjang Arkhan


"Aku nggak peduli.. Emang dia yang kasih makan ku, enggak kan!! Mau Arkhan kek mau Sultan kek apa hebatnya, dia makan aku juga makan, Kalau dia nggak pernah makan itu baru hebat." Kata Ayra Emosi.


"Udah udah capek ngomong sama orang kaya nggak ada akhlak kayak kalian., udah nabrak, bukannya minta maaf malah marah marah, cepat pergi sana, mood Aku hancur lihat kalian pagi ini. " kata Ayra memutar tubuhnya dan berlalu menghampiri motornya yang masih tergeletak di tepi jalan


Tanpa menunggu lama sang supir langsung melaju kan mobilnya menuju kantor tuan mudanya.


"Gadis yang aneh" gumam Arkhan. Dia masih mengingat melihat perempuan itu masih mengomel ngomel nggak jelas sambil menaiki motornya


"Huuuh.. mudah mudahan aku nggak telat" Ayra berlari lari kecil menyusuri lorong di kampusnya.


"Hai Ayra. tumben datang pagi-pagi. kamu udah nggak ada kelas kan? " tanya merry adik kelas Ayra. memang dia adik kelas Ayra tapi secara usia mereka sebaya, sama sama berumur 22 tahun.


"Nggak sih Mer, ini mau anterin tugas Akhir aja. Mudah mudahan dosen killers nggak marah. Pasalnya aku dah telat 15 menit. Mer...Aku duluan dulu ya, takut pak dosennya keburu masuk kelas" Ayra melambaikan tangannya sambil berlari cepat meninggalkan Merry.


"Ayra.. kutunggu disini ya..!! " teriak Merry, dia mendudukkan bokongnya dikursi taman kampus, Sembari menunngu Ayra yang sudah menghilang dilorong kampus masuk ke dalam kantor.


Merry adalah sahabat baik Ayra. Ayra adalah orang yang sudah menolong nya dari pencopetan waktu hari pertama dia masuk kampus. Pada saat itu Merry tahu kalau Ayra bisa beladiri, dan mulai dari saat itu hubungan mereka bertambah dekat, Merry yang merupakan anak tunggal, yang selalu dimanjakan dengan materi sementara kedua orang tuanya terlalu sibuk dengan Bisnisnya masing-masing, oleh sebab itu Merry sangat kesepian, untung ada Ayra yang selalu ada di sampingnya, dengan segala bujuk rayu nya Ayra tinggal bersama dirumahnya, meskipun begitu Ayra tetap kekeh untuk bekerja, karena Merry tau alasan Ayra bekerja bukan hanya sekedar uang, tapi untuk mencari kakak laki-laki nya. kedua orang tua Merry juga menyukai Ayra berteman dengan anaknya. Mereka merasa sejak Merry berteman dengan Ayra, Ayra membawa dampak positif terhadap Merry. Merry sekarang menjadi anak yang mandiri, penurut, dan lebih pengertian terhadap mereka, biasanya Merry selalu banyak permintaan dan tuntutan terhadap mereka yang kalau tidak dituruti bisa berbuntut mogok makan seharian. kalau sudah begitu Merry pasti sakit, karena dari kecil Merry memang sering sakit sakitan disebabkan oleh daya tahan tubuh nya yang kurang. oleh sebab itu sedikit saja kelelahan atau kurang asupan bisa menyebabkan Merry sakit. Dan semenjak adanya Ayra mereka bisa tenang. Mereka tidak takut Merry salah pergaulan, karena Ayra anak yang baik.


"Haaaa selesai juga akhirnya... " ayra menyandarkan punggungnya disamping Merry dengan kaki yang di selonjorkan nya ke depan


"Perasaan kamu pergi dari pagi deh. kupikir ke cafe. eeeeh.... ternyata kesini. kok lama nyampek nya" tanya Merry menoleh ke Ayra yang ada disamping nya


"Panjang ceritanya. udah ah.. males aku membahas nya, lain kali aja. tumben nungguin, ada apa? " Ayra membenarkan posisi duduknya


"kamu mau ke cafe habis ini? " tanya Merry yang dijawab dengan angguk kan Ayra antusias


"kamu temenin aku dulu ya.. kekantor papi. Nih ada berkasnya yang ketinggal dirumah, aku males pergi sendirian ya.. ya.. " Merry memeluk arsip didadanya dengan memasang wajah yang memelas agar Ayra mau ikut dengan nya.


"huh.. dasar" Ayra mengusap kasar mukanya dengan frustasi, karena dia tau bahwa susah untuk menolak kemauan Merry.


"Ya udah..tapi cepet ya, dan habis itu kamu antarin aku ke cafe, ok. " jawab Ayra sambil berdiri


"Emangnya motor mu kemana? Merry bertanya heran mengikuti Ayra yang sudah berdiri


" Motor ku masuk bengkel, ayoook didalam mobil aja ku ceritakan" Ayra langsung melangkah dengan merangkul bahu Merry


"Yaaaa.. padahal aku mau nebeng sama motor mu biar cepet, kalau pakai mobil macet Ayra" keluh Merry dengan wajah cemberut


"Mangkanya itu ayo cepetan. Mau buru buru kan. jalan kok lelet amat sihh. " sarkas Ayra menarik lengan Merry dengan mempercepat langkahnya