
"Ay.. ayo duduk sini ada yang mau aku omongin. " ucap Merry sambil menepuk sisi ranjangnya yang kosong.
"Ada apa Mer, serius amat kayaknya. " Jawab Ayra sambil mendekat, yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Gini... tadi Papa telpon, katanya di Perusahaan lagi butuh karyawan. Dan Papa fikir karena kamu udah selesai kuliahnya, jadi papa mau kamu kerja sama dia. Kamu tenang aja Ay, Papa tempatin kamu di lapangan kok tepatnya Marketing lapangan, jadi kamu tetap diluar dan bertemu orang banyak" Kata Merry menjelaskan panjang lebar sambil memegang tangan Ayra yang duduk di depannya.
"Tapi aku kan masih bekerja di Cafe Mer... " Jawab Ayra bingung. karena memang Ayra belum ada kepikiran habis kuliah mau ngapain.
"Kamu kan bisa Resign Ay, lagian udah 2 tahun lebih Kamu kerja di sana, kamu belum ketemu juga kan sama kakak mu. Mana tau di tempat lain kamu bisa bertemu....suana baru Ay, semakin luas area pencarian mu semakin besar juga peluang kamu menemukannya" Kata Merry memberi semangat, sembari mengelus tangan Ayra sahabat nya dengan lembut.
"Dan lagian gajinya lebih besar dari pada kamu kerja di Cafe" Timpa Merry karena melihat wajah Ayra yang masih dalam mode berpikir.
"Bener juga kata mu Mer, mana tau di sana nanti aku bisa menemukan kakak ku. " Jawab Ayra dengan mata yang berbinar, karena dia merasa mendapat solusi dari semua permasalahan nya. yaitu suasana baru.
"Ya udah aku tulis surat resign ku dulu, besok pagi pagi aku antarin ke Cafe habis itu aku kekantor Papa" Kata Ayra dengan semangat sembari tersenyum lebar ke Merry.
Di pagi hari Ayra sudah berdiri didepan cermin dengan pakaian kerja yang stylish sopan, formal namun menampilkan keanggunan dari Ayra, Ayra adalah gadis yang cantik, dia memiliki tinggi 162 cm badannya langsing tapi padat berisi ditambah kulit putih bersihnya membuat laki-laki pasti akan terpesona jika melihat setiap lekuk tubuhnya. Tapi dia menutupi semua itu dia tidak pernah menggunakan baju ketat yang bisa membentuk setiap lekukan tubuhnya, setiap hari Ayra selalu berpakaian sopan dan dia jarang sekali menggunakan rok, jadi terkesan sedikit tomboi.
"Wah.... cantik sekali anak gadis Mama hari ini, pangling Mama melihatnya" Ucap Susan melihat Ayra yang baru turun tangga keluar dari kamarnya, Susan adalah Mama Merry.
"Aah.. Mama bisa aja. Jangan gitu dong Ma Ayra kan malu. " Ayra menundukkan wajahnya sambil tersenyum.
"Udah dong Ma jangan digodain terus anaknya." Tegur Gunawan kepada Susan
"Nanti Ayra berangkat nya sekalian sama Papa aja ya, Papa mau kenalin Ayra sama pak Danu, dia yang posisinya kamu gantiin, jadi sebulan ini kamu harus bisa belajar sama dia sebelum dia berhenti akhir bulan ini" ucap Gunawan menjelaskan sembari membersihkan tepi bibirnya dengan tisu karena telah selesai sarapan.
"Iya Pa " Jawab Ayra singkat dan ikut gabung di meja makan untuk sarapan bersama dengan kedua orang tua Merry.
"Merry mana ma kok dari aku bangun tadi nggak keliatan" Tanya Ayra sambil menyendok kan nasi goreng ke piringnya.
"udah dari pagi tadi berangkat, katanya sih ada ujian, takut telat sampai sampai nggak sempat sarapan di rumah" Keluh Susan kepada Ayra.
"Udah Ma, Merry itu udah besar, Toh kalau lapar nanti makan sendiri, kan di kampusnya juga ada kantin" jawab Gunawan menenangkan Susan.
Gunawan dan Susan bercengkrama dimeja makan bersama Ayra.
mereka sudah menganggap Ayra anak mereka sendiri dan juga menyayagi Ayra. Ayra sangat senang berada dikeluarga itu, Merry saudari yang perhatian kepadanya ditambah Susan dan Gunawan yang juga menyayanginya, tak dapat dipungkiri bersama mereka Ayra merasakan keluarga yang selama ini dia rindukan.
...****************...
"Ay kamu dimana? " tanya Gunawan menelpon Ayra.
"Lagi dilokasi Pa. " Jawab Ayra singkat dengan tetap mendengar suara Gunawan disebrang sana.
"Ay, udah kamu siap kan semua, sebentar lagi kita sampai, Papa dalam perjalanan, Papa membawa rombongan klien kita ke sana. " Tanya Gunawan kepada Ayra didalam mobilnya.
"Papa hati hati dijalan ya, kalau gitu Ayra tutup dulu, da..da.... Papa. " ucap Ayra sembari menutup panggilan telepon Papa nya.
Ayra merasa tidak perlu terlalu canggung didepan para klien Papanya untuk presentasi nanti, karena dia telah pernah melakukan nya.
Sudah dua bulan dia bekerja di Perusahaan Gunawan dan dia telah banyak mendapatkan Ilmu dan kiat untuk melakukan presentasi lapangan. Walaupun kali ini dia akan presentasi didepan Pimpinan Perusahaan yang kata Papa Merry termasuk Perusahaan terbesar di Indonesia, dia masih terkesan santai, dari segi penampilan Ayra hanya menggunakan baju kemeja berwarna peach, dua kancing atasnya sengaja di buka yang dipadu padankan celana cotton berwarna hitam, rambutnya di kuncir satu keatas yang memperlihatkan jenjang lehernya, penggunaan make up yang tipis dan polesan lipstik merah di bibirnya justru menambah kesan elegan pada Ayra.
"Selamat siang Pa.. " Ayra mengambil tangan Gunawan dan dicium nya ketika baru tiba, sebagai tanda hormat kepada orang tua. Gunawan beserta rombongan mulai berkumpul didepan lokasi proyek, mereka memang tidak terlalu mendekat ke lokasi hanya didepannya saja, karena pengerjaannya yang masih 50℅ jadi cukup berbahaya jika berada dibawah pembangunan itu.
"Itu cowok kemaren kan. Waduhh... Jadi Merinding lagi nih. santai Ayra.. santai... anggap aja nggak ada. " gumam Ayra dalam hati ketika melihat sosok laki-laki yang telah berdiri di samping Papa Merry.
"Selamat siang Bapak Bapak semua, perkenalkan nama saya Ayra. " Ayra memulai membuka acaranya dengan menyalami satu persatu klien yang ada di sana tak terkecuali yang ada di samping Gunawan dengan menahan kegugupan nya Ayra masih tetap mempertahankan senyuman di bibir nya.
"Baik lah Bapak Bapak didepan kita ini akan dibangun gedung..... " kata kata Ayra mengawali presentasi secara panjang lebar, dia menjelaskan dengan lugas dan teliti, menyampaikan apa apa saja yang telah terlaksana kan dan kendala apa saja yang ada dalam proses pengerjaannya.
Ayra seperti magnet yang menjadi daya tarik setiap mata, Orang-orang memperhatikan setiap penyampaian nya dengan seksama, Ayra sangat lihai dalam berkata-kata, mereka hanya tersenyum dan sesekali mengangguk kan kepalanya dengan antusias terkecuali Laki-laki yang satu itu yaitu Arkhan dia menatap Ayra dengan wajah datar, dan Ayra tidak terlalu menghiraukan tatapan Arkhan.
Presentasi nya telah usai dan Ayra tersenyum puas melihat wajah Gunawan yang terkesan kagum melihat penampilan Ayra tadi.
"Bagus Ayra.. bulan ini kamu mendapatkan bonus lebih dari Papa" ucap Gunawan sedikit berbisik, sambil menepuk ringan bahu Ayra dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya.
"Makasih Pa.. " Balas Ayra yang turut gembira dengan apa yang telah Gunawan ucapkan.
Ketika para klien hampir berjalan keluar tiba-tiba salah satu pekerja yang agak jauh dari mereka tertimpa bahan material dari atas, dan Ayra melihatnya, tampa pikir panjang Ayra berlari ke sana menolong perkerja tersebut.
Terlihat dari jauh Ayra menekan bahu pekerja itu dengan sapu tangan miliknya, ternyata bahu pekerja itu terluka dan banyak mengeluarkan darah.
Untung saja pekerja itu menggunakan helm kerja, jadi kepalanya selamat meskipun bahunya tetap terluka karena tertimpa bahan material.
"Siap kan mobil..." Perintah Ayra
"Irvan kamu tolong bilang ke Papa lanjutkan aja, aku anterin Bapak ini ke Rumah sakit. " Kata Ayra dengan memapah pekerja yang terluka dengan dibantu dengan kawan kawan pekerja yang lain.
Dengan tergesa-gesa Irvan bergegas ke rombongan yang terlihat masih menunggu Ayra. "Maaf Pak Gunawan kata Mbak Ayra silahkan lanjutin aja jalannya" kata Irvan menjelaskan
"Mbak Ayra pergi mengantarkan pekerja tadi ke Rumah sakit Pak" lanjut Irvan seperti mengerti akan pertanyaan yang ada di kepala Gunawan.
"Oh ya, biar nanti saya saja yang telpon dia. " ucap Gunawan singkat
"Baik nak Arkhan, maaf tadi ada insiden kecil, yang penting sekarang sudah ditangani. mm... berhubung udah waktunya makan siang gimana kalau kita lanjutkan di Restoran langganan saya, saya rasa kamu pasti suka. " kata Gunawan menawarkan sambil melirik jam tangan nya di depan Arkhan.
"Baik Pak" jawab Arkhan singkat.
Sebenarnya pikiran Arkhan sedang terbagi, diam diam dia mengamati Ayra sedari tadi, Arkhan melihat sosok Ayra yang berbeda dari gadis biasa yang dia temui, biasanya gadis seumuran nya pasti tidak akan peduli dengan orang lain apalagi pada seorang pekerja rendahan seperti tadi. Ayra rela bajunya kotor oleh darah karena menolong pekerja tadi, dan dilihat dari tatapan matanya Ayra, Arkhan dapat melihat Ayra memang ikhlas dalam menolong.