AYRANI

AYRANI
Emosi Ayra



Acara masih berlangsung, sesekali para Laki-laki datang mendekati Mereka satu persatu, mulai hanya untuk sekedar bertegur sapa mengajak kenalan sampai ada yang meminta nomor kepada mereka.


Ayra tidak meladeni nya, dia hanya menanggapi nya dengan tersenyum tampa mengeluarkan suara.


Berbeda dengan Merry, dia terlihat senang dan antusias mengobrol dan menanggapi setiap apa yang para laki-laki itu ucapkan.


Sampai tiba-tiba " Ay, kita kesana yuk. " ajak Merry


Ayra yang sedari tadi cuek, terpaksa melirik kearah tempat yang ditunjukin Merry.


"Nggak ah Mer. " jawab Ayra singkat.


Karena dia tadi sempat melihat, bahwa para laki-laki dari arah sana menatapnya dengan tatapan yang tidak enak, tatapan yang selalu membuat Ayra risih


"Ayolah Ay.. Dewa manggil aku" desak Merry melihat sosok laki-laki yang sedang melambaikan tangannya agar Merry mendekat.


"Kamu aja ya Mer, aku tungguin kamu disini aja. " jawab Ayra yang kekeh tetap pada pendirian nya.


"Kamu jangan kemana-mana ya, aku kesana dulu. " ucap Merry bergegas pergi kearah Dewa yang memanggilnya sedari tadi.


Ayra hanya menatap kepergian Merry. Dia terlihat canggung ditinggal kan Merry, sesekali dia menarik keatas gaun yang ada di dadanya agar tertutupi.


Sementara ditempat lain Arkhan selalu memperhatikan gerak gerik Ayra.


"Hay.. Kamu teman Merry kan, saya Dion temannya. " ucap laki-laki itu dan mengulurkan tangannya ke Ayra.


"Ayra.. " Jawab Ayra singkat dan menyambut tangan laki-laki itu dengan terpaksa.


Dion menjabat tangan Ayra lama,, padahal Ayra sudah berusaha menarik tangan nya, tapi tetap di tahan oleh Dion.


Tatapan Dion seolah-olah menelanjangi Ayra, mulai dari atas sampai kebawah, semua sisi tubuh Ayra tak luput dari tatapannya.


Ayra mengepal tangan kirinya dengan kuat, muka nya memerah menahan emosi.


" Sudah selesai.. " Tiba-tiba ada suara Bariton yang mengagetkan Ayra.


Ayra merasa ada yang hangat menutupi pundaknya, dia langsung menoleh dan mendapati Arkhan sudah berdiri di samping nya. Dan memberikan Jas yang dia pakai tadi untuk menutupi tubuh Ayra.


Melihat Arkhan, Dion langsung melepaskan tangan Ayra, dengan senyum kikuk dia undur diri dari hadapan Arkhan tanpa suara.


Di acara tersebut siapa yang tak mengenali Arkhan. Seorang Pengusaha Muda sukses, dan kaya raya, bukan hanya itu, dia tidak akan segan segan menjatuhkan lawannya tanpa ampun, siapa yang berani menyinggung nya akan berakhir sengsara.


Ayra menyambut Jas Arkhan dan semakin merapat kan nya di dada tanpa memasukkan tangan nya.


"Kamu mau ke sana?" tanya Arkhan dengan menunjukkan kearah ruangan yang lebih nyaman, karena hanya tamu tamu VVIP saja yang berada di sana.


"Tidak terimakasih. " jawab Ayra singkat sambil mencari sosok Merry yang tiba-tiba menghilang dari tempat terakhir Ayra lihat.


Ayra tetap tidak memperdulikan Arkhan yang ada di sampingnya.


"Kamu mau kemana?" ucap Arkhan sembari menyambar tangan Ayra yang hendak pergi.


"lepas.. aku mau lihat teman ku, tadi dia duduk di sana.... " jawab Ayra menggerakkan pergelangan tangan nya yang di genggam Arkhan agar terlepas.


"Dengan pakaian seperti itu.. " tunjuk Arkhan dengan tatapan matanya mengarahkan ke sesuatu yang sedari tadi ditutupi Ayra, dan melepaskan genggam nya.


Tenggorokan Ayra tercekat, dia bingung harus menjawab apa, Arkhan benar dia tidak mungkin berjalan ke sana kemari untuk mencari Merry, dengan mengenakan gaun seperti ini.


Ayra menggeleng geleng pelan kelapanya karena frustasi.


"Cepat kamu cari teman Wanita tadi!!" Perintah Arkhan ditelpon dengan tegas.


Ayra kaget bukan kepalang, bukan kepada siapa Arkhan bicara, tapi kata "Wanita tadi" berarti dari tadi Arkhan memperhatikannya.


Belum hilang rasa keterkejutan nya, tiba-tiba suara dering handphone Arkhan berbunyi lagi.


"Mmm.... "


"Cepat kalian kesana "


Kata Arkhan berbicara entah dengan siapa, Ayra hanya dapat mendengar suara Arkhan saja, tapi tidak untuk pihak si Penelepon.


"Ada apa?" tanya Ayra langsung ketika Arkhan baru menutup telpon nya.


"Dia dilantai 10 dengan temannya. " ucap Arkhan santai.


"Mau kemana kamu?" Arkhan mengulangi pertanyaannya, melihat Ayra kembali berjalan tergesa-gesa dan belum sempat dia cegah.


"Kamu tenang aja, Anggota ku sudah menuju ke sana untuk memeriksanya. " Kata Arkhan sembari mengimbangi langkah Ayra yang cepat.


"Aku nggak bisa tenang, sebelum melihat nya dengan mata kepala ku sendiri. " jawab Ayra dan segera masuk di Lift yang sudah dibuka oleh pengawal Arkhan.


Di dalam Lift Ayra mencopot sepatu High heels yang dia kenakan dan menenteng nya.


Arkhan diam tak bersuara, dia hanya memperhatikan setiap pergerakan Ayra.


Saat lift terbuka Ayra melihat ada tiga orang yang sedang membuka salah satu pintu kamar Hotel.


Di lorong Hotel itu tampak sepi karena baru saja Peresmian jadi pihak Hotel belum menerima Tamu untuk menginap dan orang bertiga tadi jika dilihat dari kostum nya Ayra tau mereka adalah Pengawal nya Arkhan.


Tanpa pikir panjang Ayra berlari ketika melihat orang orang itu sudah berhasil membukanya. Ayra langsung menyerobot masuk.


Alangkah kagetnya Ayra melihat Merry sedang ditindih seorang laki-laki dengan tubuh yang hampir telanjang, di atas ranjang di dalam kamar Hotel itu.


"Brenseeeek.... " teriak Ayra.


Dewa terkejut dengan kehadiran orang lain di dalam kamar itu.


Ayra memukul Dewa hingga menjauh dari tubuh Merry.


"hey.. Apa yang kau lakukan. Kami pasangan" kilah Dewa sambil tegak berdiri kembali, karena pukulan Ayra tadi sempat membuat dia tersungkur.


"Kuraaang.....ajaaaar..... !" Teriak Ayra lagi, Arya langsung menerjang Dewa sehingga terbentur ke dinding. Bukan hanya kakinya saja, tangan Ayra pun ikut menghajar Dewa.


Jas Arkhan yang dikenakan Ayra tadi sudah tergeletak di lantai, Ayra tak peduli tiba-tiba rasa malunya sudah tergantikan dengan emosi.


Empat orang laki-laki di sana hanya menjadi penonton. Termasuk Arkhan, dia terlalu terpukau melihat Ayra bergerak lincah menerjang Dewa dengan masih mengenakan Gaun seksi itu.


Dewa tergeletak jatuh tak berdaya ke lantai, wajahnya bersimbah darah, Ayra masih belum juga puas, dengan cepat dia menduduki tubuh Dewa dan meninju wajah Dewa secara bertubi-tubi.


Tiba-tiba badan Ayra terasa melayang, Sepasang lengan sudah ada di perut Ayra tanpa dia sadari dan menarik nya kebelakang.


Arkhan tidak mungkin membiarkan Ayra bertindak lebih jauh, dilihat nya Dewa sudah tak berdaya, jadi dia harus melerainya.


"Lepaaas... biarkan kuhajar dia.. " teriak Ayra meronta ronta dalam pelukan Arkhan.


"Ayra kamu bisa membunuhnya... " kata Arkhan yang masih mengeratkan pelukan nya agar Ayra tidak lepas.


"Lihat, kamu sudah menghajarnya sampai begitu.. " timpa Arkhan menenangkan Ayra


Ayra menatap Dewa, wajahnya sudah tak berbentuk dengan luka lebam dimana-mana. darah segar menutupi mukanya, Dewa tergeletak tak sadar kan diri.


Beralih Ayra melihat Merry, Tubuhnya hampir polos yang hanya menyisakan celana dalam yang menutupi benda berharga milik Merry.


"Jangan sentuh dia.. " Perintah Ayra melihat salah satu pengawal Arkhan bergerak hendak mendekati tubuh Merry.


Mereka terdiam, Ayra memungut baju Merry yang teronggok di lantai, dan segera memasangkannya.


Merry masih belum sadarkan diri ntah apa yang telah dia minum sampai membuat dia seperti ini.


Saat mengenakan pakaian Merry, Ayra dapat mencium bau alkohol dari mulut Merry.