
"Ayra meja 4 ada pelanggan. cepat kamu layani." kevin manager cafe menghampiri Ayra yang masih sibuk membersihkan meja.
"Ya pak" jawab Ayra ke Manager cafe nya dan berjalan menghampiri meja tersebut.
"Permisi pak, maaf mau pesan apa? " tanya Ayra sembari memberikan senyum terbaiknya kearah pelanggan tersebut. dengan memegang bolpoin bersiap untuk menulis pesanan.
Sementara Ayra sedang sibuk menulis pesanan, seorang laki-laki yang duduk di depan kursi sebelah kiri Ayra sedang menatapnya dengan tatapan yang dingin. dan Ayra tau akan hal itu. Karena di meja tersebut hanya ada dua orang pria ditambah lagi dengan jarak yang agak dekat jadi bagaimanapun Ayra bisa merasakan arah pandangan laki laki disamping kiri yang sedang menatapnya
"Apa ada tambahan lagi pak" Ayra bertanya sembari menoleh ke kirinya, dengan maksud agar laki-laki itu sadar akan tatapannya yang telah membuatnya risih.
"samakan saja sama punya saya" sambar laki-laki sebelah kanan Ayra yang sudah Ayra catat pesanannya.
" Baik kalau begitu saya permisi. Mohon tunggu sebentar pesanannya akan segera kita antar. " Ayra langsung berbalik, senyuman yang ada diwajahnya langsung sirna berganti dengan kerutan di jidatnya dengan bibir yang di katubkan karena menahan kesal.
"Apaan sih. ganteng ganteng muka kok datar, itu orang apa malaikat maut. " Ayra berjalan kebelakang dengan bibir yang masih menggerutu
"Kamu kenal sama cewek tadi" tanya Antoni penasaran karena dia melihat sendiri Arkhan selalu memperhatikan pelayan cafe sedari tadi dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Nggak!! " jawab Arkhan cuek
"Nggak.. kok lihatinnya sampai kayak gitu" tanya Antoni dengan memicingkan sedikit matanya mencari ekspresi sahabat yang sedang duduk didepanya, karena dia tahu sahabat nya ini sangat cuek akan sekitarnya, sikap nya yang dingin dan terkesan pendiam, membuat banyak wanita sulit untuk mendekatinya. Dia akan terbuka hanya kepada teman dan keluarganya saja. Lebih dari itu dia tidak akan peduli. Jadi Antoni merasa penasaran dengan sikap Arkhan tadi yang tiba-tiba memperhatikan seorang cewek.
"Nit, tolong antarin ya ke meja nomor 4 dong." Ayra menyodorkan nampan yang sudah berisikan menu pesanan tadi kearah Nitha.
"Aduh.. Ay, aku baru sampai loh. belum juga ambil nafas lo dah nyuruh-nyuruh" keluh Nitha yang sedari tadi sibuk bolak-balik meladeni pelanggan cafe yang memang sedang ramai
"Tolong ya pelase... eh coba kamu lihat deh pelanggan yang dimeja nomor 4 itu ganteng loh." Ucap Ayra menggoda dan langsung dilik oleh Nitha
"Wah kalau itu aku mau. " Ucap Nitha dan lansung menyambut nampan yang disodorkan Ayra
"Ngapain kamu nggak mau anterin ini Ayra, ganteng banget loh, kalau dilihat lihat tajir lagi, mana tau kecantol kan lumayan" Nitha menaik turunkan alisnya sambil tersenyum menggoda Ayra.
"Sorry aku nggak napsu" Jawab Ayra sambil mendorong pelan punggung Nitha agar segera mengantarkan pesanan.
"Kecantol apaan dilihatin nya aja aku dah merinding, berasa didunia lain, hiii... ngeri aku" Gumam Ayra setelah nitha pergi, Ayra bergidik ngeri sambil menggosok-gosok lengannya mengingat tatapan Arkhan tadi terhadap nya.
"Loh kok kamu yang anterin, yang tadi mana? " ucap Antoni memperhatikan Nitha yang sedang menata pesanannya diatas meja.
"Mm...Yang Bapak maksud Ayra ya? tanya Nitha dengan tersenyum
"Ohh..iya itu Ayra namanya.?"
"Kenapa bukan dia yang antarkan? " Antoni memandangi Nitha yang masih belum menjawab pertanyaannya.
"Dia dibelakang pak. Mengerjakan pekerjaan yang lain, oleh karena itu saya yang mengantarkan, silahkan dinikmati pak, saya permisi dulu." jawab nitha membungkukkan badannya sebentar sembari tersenyum dan berlalu meninggalkan meja tersebut
"Gilak mu Ay, ganteng buanget, rugi kamu nggak anterin tadi padahal mereka tanyain kamu loh. " kata nitha antusias segera menghampiri Ayra.
"Nggak panaskan" Ayra menempelkan punggung tangan nya kekening Nitha dengan santai
"Nitha...Nitha...mereka cuma pelanggan, biasa aja kali kok heboh banget. " lanjut Ayra sambil merapikan kerjaan nya. karena waktu sudah menunjukan pukul 5 sore berarti jam kerja Ayra sudah berakhir, dan dia sedang bersiap siap untuk pulang
"Rugi banget kamu Ay, kalau aku jadi kamu kesempatan ini nggak akan aku lewatkan, kapan lagi bisa kenalan sama cowok ganteng kayak gitu, dengan sekali lihat aja aku tau pasti cowok itu kaya. " ucap Nitha dengan mata yang berbinar binar.
"Bodo.. emang aku pikirin. Pesan aku sama kamu nit mimpi tu jangan ketinggian karena kalau sekali jatuh Sakit. " kata Ayra sambil menepuk pelan bahu Nitha dan berlalu pergi untuk mengganti baju seragamnya.
"Aaahh.. nggak asik kamu Ay" balas Nitha dengan wajah yang merengut
Ayra memarkirkan motornya di taman yang ada ditepi jalan. Jika hatinya sedang gundah Ayra suka kesana bukan cuma sekedar untuk duduk, disana dia merasa bisa mencari hiburan tersendiri bagi nya, karena ditaman itu dia bisa melihat anak anak berlari, bermain yang didampingi oleh orang tua mereka, melihat keluarga yang bahagia, menurut orang mungkin itu hal yang biasa tapi kalau menurut Ayra keluarga bahagia itu adalah karunia Tuhan yang tiada tara nya, yang ntah sampai kapan dapat dia rasakan. Ayra melangkahkan kakinya dengan lesu, pandangannya kosong
"Kemana lagi Ayra mencari mu kak" Ayra menghapus air matanya yang mulai jatuh. Hatinya pedih hidup nya hampa dia seperti orang yang hilang arah tujuan hidup, karena sudah hampir 9 tahun dia belum juga bisa menemukan kakak kandung nya.
Ayra duduk termenung di taman kota dengan semua masalah yang ada, dia terhanyut dengan fikiran nya sendiri tampa menyadari langit gelab karena sudah berganti malam. Entah sudah berapa jam Ayra duduk disana sampai tiba tiba suara dering handphone mengagetkan nya.
"Astaga...ternyata sudah malam. Pantes Merry udah nelpon" Ayra langsung berdiri dan bergegas meninggalkan tempat tersebut untuk pulang tampa mengangkat panggilan Merry.
" Dari mana aja sih Ay, aku tungguin dari tadi. Biasanya jam 6 udah pulang, mama papa belum pulang juga, aku bosen sendiri. " rajuk Merry, dia menyilangkan tangan nya di dada melihat Ayra yang sedang berjalan menghampiri nya.
"Sorry Mer.. aku telat, bos tadi nyuruh aku lembur" bohong Ayra karena dia merasa kalau Merry tau, bahwa dia tadi termenung di taman sampai tak kenal waktu Merry akan marah dan mengomeli sepanjang malam, "bisa bisa aku nggak tidur malam ni" guman Ayra pelan berbicara pada dirinya sendiri.
"Kamu ngomong apa tadi Ayra? " sambar Merry karena tidak mendengar dengan jelas apa yang Ayra katakan.
" Nggak... aku bilang kekamar dulu mau mandi.. badan ku rasanya lengket banget, capek Mer, aku ke atas dulu ya. " jawab Ayra sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Ya udah gih sana mandi. " Usir Merry dan mengikuti langkah Ayra dari belakang.