AMANDA & RASHYA Falling In Love

AMANDA & RASHYA Falling In Love
Pembalasan



Hari esoknya aku mulai belajar apa yang disarankan oleh Kak Alfian, Pertama aku mulai belajar membuat kue sesuai apa yang disukai Rashya, tapi aku tidak membuat kue sendirian....


“Amanda kamu sudah siap kan?” Tanya Kak Alfian ada disampingku.


Aku pun mengangguk karna Kak Alfian juga ahli membuat kue dengan itu rencana tersebut akan berhasil. Aku yakin Rashya tidak akan berkata-kata seenaknya padaku lagi. Dan untuk bersikap cuek terhadap Rashya itu rasanya berat sekali, aku harus berusaha terus.


“Kak soal cuekin Pak Rashya itu berat banget kak.” Lesuhku yang sangat berat.


“Amanda apa yang kamu rasakan sekarang, kamu sakit hati kan soal omongan bos Rashya?” Respon Kak Alfian dengan memegang pundak ku.


“Sejujurnya iya, tapi kalo soal sikap cuek terhadap orang yang aku sukai rasanya berat banget.”


“Begini Amanda ini demi kebaikan kamu seharusnya saat ini harus sikap kamu harus berkembang, mulai sekarang berpikirlah lebih dewasa oke.” Pesan Kak Alfian.


“Benar sih, tapi kenapa Kak Alfian lebih penting bantu Amanda secara kan Kakak itu pegawai Pak Rashya?” Tanyaku yang penasaran.


“Hmm sebetulnya aku bantu kamu karna aku kasihan aja sih, secara aku gak tega saat kamu digituin, aku juga ngebayangin jika adik perempuan ku diperlakukan sama seperti kamu Amanda, jika orang lain melakukan itu yang aku lakukan hanya membalasnya bahkan bos sendiri pun aku akan melakukan hal yang sama.” Jelas Kak Alfian.


“Tapi kenapa waktu itu Kakak gak ngebelain aku?” Tegurku memalingkan wajah.


“Karna kamu bukan adik kandungku hehe.” Jawab Kak Alfian yang menyakiti sambil tertawa.


“Ternyata cowok sama aja, yudah kak pulang aja dehh.” Usirku dengan emosional.


“Heh jangan gitu dong, sebenarnya Kakak bingung di situasi saat itu, jadi kakak gatau harus berbuat apa, aku merasa bersalah maka dari itu kakak sekarang bantu kamu Amanda buat nebus rasa sakit hati kamu ke bos Rashya.” Jelas Kak Alfian yang mencoba menenangkan ku.


Setelah Kak Alfian menjelaskan semuanya akupun tersadar sekaligus terharu karna Kak Alfian memang benar-benar tulus membantuku, walau kita belum lama kenal. Selanjutnya Kak Alfian mengajariku membuat kue yang benar.


“Amanda jika ingin membuat kue kita perlu telur seperlunya biar rasanya terlalu anyir.” Penjelasan Kak Alfian sambil mengaduk adonan.


“Ah masa sih kak, aku waktu itu buat kue telurnya 4 kak.” Ucapku.


“Pantesan bos Rashya marah itu namanya kebanyakan Amanda haduh kamu bikin liat tutorial dimana sih?” Ucap Kak Alfian yang terlihat menepuk kepalanya.


“Yaampun Amanda, yudah kamu liat yang Kakak buat yaa terus kamu praktekin nanti.” Tutur Kak Alfian dengan pasrah.


Setelah Kak Alfian selesai membuat kuenya, lalu tinggal aku yang mempraktekkan nya namun itu ada beberapa kegagalan-kegagalan, kak Alfian turut membantuku dengan sabar dan akhirnya aku bisa membuat apa yang diajari Kak Alfian kuncinya hanya satu berusahalah sampai bisa jangan menyerah.


“Akhirnya kak, Amanda bisa buat kue makasih banyak Kak Alfian udah banyak bantu Amanda, kalo rencana ini berhasil Amanda akan traktir kakak deh.” Ucapku yang terlalu senang sekaligus terharu.


“Iya sama-sama kakak juga seneng kok bantuin kamu, dan akhirnya kamu bisa bangkit juga dan kue yang kamu buat itu nanti berikan ke bos Rashya.” Ujar Kak Alfian terlihat ikut senang dari wajahnya.




Tiba saatnya untuk membalaskan perbuatannya lalu aku pergi ke toko kue itu dan kebetulan juga aku melihat Rashya yang sedang duduk santai dengan secangkir kopinya. Begitu aku masuk terlihat Rashya melihatku ke hadapanku. Aku mencoba memberanikan diri ke hadapannya dengan membawa kue yang kubuat, Kak Alfian menatapku memberikan tanda semangat dengan tangan jempolnya.


“Selamat sore Pak Rashya saya disini tidak lama kok saya hanya ingin memberikan kue saja yang saya buat rasa yang sebenarnya bapak inginkan, tidak seperti rasa kue yang bapak hina!!” Sindirku dengan keras.


“Tolong dicoba Pak Rashya.” Sambungku.


Rashya mencoba kue buatanku dari ekpresinya dia terkejut dan mencicipinya beberapa kali, sudah terlihat jelas dia begitu menikmatinya dan akhirnya aku berhasil membalas perbuatannya dan ini yang aku tunggu.


“EHEMMM (SUARA DEHAM KU)”


“Gimana Pak Rashya apakah enak dari sebelumnya? Atau mungkin tidak enak juga? Dari ekspresi dari yang saya amati bapak menikmatinya dan juga bapak terlihat mencicipinya beberapa kali.” Tuturku dengan maksud tujuan menyindir.


“Begini Pak sebelum bapak menghina orang lain yang belum terlalu bisa jangan terlalu menilai orang itu terlalu lemah mungkin saja suatu saat nanti orang yang dihina itu akan lebih berkembang dari orang yang dihinanya, tapi ada satu hal yang saya herankan kenapa orang yang berpendidikan itu attitudenya kurang? Apa karna mereka terlalu tinggi sehingga orang lain takut pada mereka hanya karna gelar yang dimiliki orang pintar sama seperti Pak Rashya?”. Sambungku dengan menyindir.


“Amanda saya minta maaf apa yang saya katakan kemarin itu membuat kamu sakit hati.” Permintaan maaf Rashya yang perasaan tidak enak.


“Apa cukup dengan meminta maaf pak saya sudah terlanjur sakit hati apa yang bapak lakukan terhadap saya maaf pak atas perkataan saya yang lancang ini, Permisi..” Pamitku dengan pergi.