
Di sekolah aku hanya melamun dan selalu terpikirkan perkataan menyakitkan Rashya, aku merasa aku tak tau aku ada dimana, aku merasa aku ini seseorang yang bodoh, gampangan, bahkan saat Rashya bilang “Belajarlah dengan benar jangan menyusahkan orangtuamu dan ingat jadi anda jangan berharap lebih dari saya”. Itu perkataan menyakitkan bagiku, Aku tak sangka Rashya yang terlalu sempurna bagiku berubah menjadi monster.
“Anak-anak saat minggu lalu ibu memberikan tugas kan pada kalian mengenai ekosistem kan, Apa kalian sudah mengerjakan?” Guru ku yang sedang menagih tugas yang lalu.
“Sudah bu” Sahut teman-teman kelas dengan kompak.
“Yang sudah mengerjakan tolong kumpulkan dan yang belum mengerjakan tolong tunjuk tangan.” Perintah Ibu guru.
“Sttt Man lu udah ngisi tugas belum? Amanda hei, Amanda?!” Bisik Stefani yang menggoyangkan badanku.
“Tidak ada? Baiklah berarti sudah mengumpulkan karna tugas ini merupakan nilai akhir rapor kalian saat lulus.” Ujar Ibu Guru.
Stefani menggoyangkan badanku, “Hei Man lu kenapa sihh?” Heran Stefani berusaha menyadarkan ku yang sedang melamun. Lalu Ibu guru mulai menilai tugas dan menyadari bahwa aku belum mengerjakan tugas tersebut. Dan ibu guru memanggil ku.
“Sebentar ini ada 1 orang yang belum mengerjakan bukannya tadi semuanya mengacung? Ibu akan periksa siapa yang belum mengerjakan. Ahh Amanda kamu belum mengerjakan?” Tanya Ibu Guru saat aku melamun.
“Man lu dipanggil ama ibu Man?” Ucap Stefani.
“Ibu Amanda daritadi melamun aja bu, aku berusaha menyadarkan nya tapi tetep aja bu.” Ungkap Stefani dengan posisi tangan mengacung.
“AMANDA!! KAMU BELUM MENGERJAKAN TUGAS IBU!!” Teriak Ibu Guru yang membuatku tersadar.
“Ibu mohon maaf aku belum mengerjakan tugas karna aku masuk rumah sakit beberapa hari yang lalu jadi aku tak sempat mengerjakan nya.” Penjelasanku dengan gelisah.
“Amanda kamu bisa mengandalkan teman-teman kamu, jangan karna alasan sakit, ibu paham itu ibu maklumi tapi kamu bisa tinggal ngomong dengan teman-teman kamu, dan penyebab kamu masuk rumah sakit karna ulah kamu sendiri dan jangan menyusahkan orangtuamu belajarlah dengan rajin kasihan orangtuamu banting tulang demi kamu sekolah.” Tutur Ibu Guru yang mengingatkan ku dengan perkataan Rashya.
Perkataan menyakitkan itu terulang lagi kali ini perkataan ini muncul di orang lain juga selain Rashya, Down yang aku rasakan saat itu aku merasa tidak bisa bangkit di situasi itu aku merasa di permalukan di depan semua orang aku seperti pecundang yang malang.
•
•
Bel istirahat berbunyi Stefani, Rina dan Deddy mengajak ku ke kantin, aku yang sedang duduk dipojokkan kelas tidak semangat karena semua kebahagiaan ku telah berakhir.
"Man ayo kita ke kantin, lu harus makan Amanda nanti lu sakit lagi?” Ajak Rina memegang tanganku.
“Amanda cintahh kawanua harus makan yaa, akika tau yang tadi Amanda rasain dimarahi oleh ibu guru tapi jangan terlalu dimasukin ke hati.” Ucap Deddy menenangkanku.
“Apapun itu kita tetep di pihak lu karna kita sahabat lu kita gamau satu sahabat kita susah sedangkan kita senang dan sekarang ini kita harus susah sama-sama dan nanti kita juga harus senang sama-sama.” Ujar Rina
“Amanda gua tau apa yang lu pikirin sekarang, lu ngerasa bahwa lu banyak nyusahin semua orang, jadi masalah ini yang buat lu down. Man inget kita semua itu hidup berdampingan jadi kita butuh satu sama lain, yaa kadang kalanya orang itu minta bantuan kita terlalu berlebihan jadi buat kita merepotkan.” Ungkapan Stefani yang benar-benar tergerakan.
“Dan yang penting kalo orangtua lu ngeliat lu lemah akan buat mereka khawatir ama lu, semakin itu akan buat lu makin menyusahkan mereka. Lu gamau kan menyusahkan mereka lagi??” Jelas Rina terhadapku.
Perkataan teman-teman ku semakin membuat ku sadar bahwa tak selamanya aku harus patah semangat benar Aku Harus Bangkit dari permasalahan yang aku alami. Jadi harus bertindak secara hati-hati mulai saat ini.
“Apa yang kalian omongin ke gua ada benarnya emang gua gabisa lemah terus gua harus bangkit apapun ituu.” Pungkas ku dengan semangat.
“Nah gitu dong ini baru sahabat akika, Fighting Babyyy!!” Kata semangat Deddy.
“Sahabat kita juga kali.” Sambung Rina dan Stefani secara kompak.
Kami berempat berpelukan dan menangis terharu aku bersyukur sekali punya sahabat yang peduli dan memberiku semangat walaupun kami punya kelemahan tapi kami tetap satu hati.
•
•
Sepulang sekolah biasanya aku selalu datang ke toko kue tapi kali ini rasanya aku tidak mau menginjakkan kaki ketempat itu. Saat sudah di depan gerbang aku terkejut melihat Kak Alfian yang sedang berdiri di gerbang, lalu aku bergegas lari pura-pura tidak melihat, dan Kak Alfian melihatku dan menarik tanganku.
“Amanda tunggu sebentar, ada yang mau kakak omongin.” Mohon Kak Alfian dengan menarik tanganku.
“Tolong lepasin tanganku kak, aku pengen nenangin diri kak, Aku mohon Kak.” Ucapku.
“Aku lebih mohon Amanda, ini memang buat aku ngulangin kejadian kemarin buat kamu syok, tapi tolong biar Kakak jelasin..” Harap Kak Alfian dengan memohon.
Aku yang tidak tega melihat Kak Alfian memohon seperti itu karna Kak Alfian lebih tua dariku aku harus mengalah ditambah banyak orang saat itu. “Baik kak aku kasih kesempatan.” Ucapku.
“Amanda maaf buat kamu sedih, kamu tau ga kalo bos Rashya itu sensitif terhadap kue yang gak enak buat dia, karna dia punya trauma saat sekolah khusus memasak dia pernah buat kue yang kamu buat itu, saat itu chef yang ngajarin dia keras saat itu bos Rashya buat kesalahan saat membuat kue sehingga dia dimaki dan diajari keras, dan karena itulah dia jadi begitu.” Ungkap Kak Alfian yang sebenarnya.
“Oh karena itu sifat dia jadi kurang ajar pantesan, dia itu pintar tapi percuma gaada attitude.” Sindirku dengan muka sinis.
“Bukan karena itu jadi penyebab utamanya dia dari kecil dididik keras oleh ayahnya, karna dia anak satu-satunya dia harus bisa di andalkan oleh ayahnya maka itu dia jadi seperti itu.” Sambung Kak Alfian.
“Aku juga ada cara bagaimana cara membalas bos Rashya saat kejadian kemarin yang lalu.” Saran Kak Alfian.
“Apa itu kak dengan cara apa?”
“Ada tiga cara pertama kamu harus membuat kue yang lebih enak dari buatan bos Rashya, kedua bersikap cuek dan dewasa terhadap bos Rashya dan yang ketiga kamu harus bisa di andalkan mulai sekarang dan aku akan membantu kamu.” Saran yang diberikan Kak Alfian.
“Baik Kak aku akan ikut cara kak, mulai sekarang aku akan bangkit...”