
Akupun menceritakan pada sahabat-sahabat ku kejadian kemarin dan yaa respon mereka berbeda-beda.
“Bisa-bisanya lu Man nolak yang kakak kemarin yang sempet jenguk lu dirumah sakit waktu itu padahal dia juga ganteng loh baik lagi.” Heran Rina.
“Yah namanya bukan jodoh kali yaa dan kenapa lu nolak Kakak itu Man apa alesannya?” Tanya Stefani.
“Yah kan lu tau dari awal gua udah suka ama pemilik toko kue itu lagian juga dia udah menyatakan perasaannya pada gua dan akhirnya dia salah paham dan ngira gua udah jadian ama Kak Alfian sebenarnya Kak Alfian meluk gua juga sih maka itu dia jadi salah paham.” Jelasku.
“Lagian yaa perjalanan cinta kanunu ribet banget yaa, mendjnv jadi akika walaupun akika banci tapi akika gak pernah ngerasain namanya sedih huhu..” Tutur Deddy yang alay.
“Heh itu namanya belok walaupun lu banci juga tapi lu tuh aslinya cowok Deddy!!” Tegur Rina dengan mencitak kepala Deddy.
“Hih apaan sih kanunu citak-citak kepala akika hih gasuka dehh jijik.” Gerutu Deddy.
“Udah ahh lagian kalian malah debat mulu jadi gak mood gua ditambah jamkos juga makin bosen.” Kesalku dengan menutupi kepalaku di atas meja.
“Hmm iya nihh akika juga bosen hih jijik dehh.” Gerutu Deddy.
“Kalian ada request gak permainan yang seru gitu biar gak bosen-bosen amat?” Tanya Dina temanku kelasku yang meminta saran permainan.
“Din gimana kalo permainan yang trend itu loh Charlie Challenge gimana?” Saran Adi pada Dina.
Permainan ini sih saat itu sedang trend banget sihh pada zaman kami sekolah dulu, karna banyak yang nyoba tapi gak berhasil dan ada juga yang parno banget sampe gamau nyobain challenge ini. Ohiya yang belum tau permainan Charlie Challenge ini itu seperti mirip seperti jalangkung tapi ini versi Amerikanya.
“Eh gila loh yaa lu mau didatengin arwah-arwah yang udah mati?” Tegas Rina menolak.
“Gapapa kali daripada suasananya bosen yang lain setuju gak kita main permainan Charlie Challenge gak?” Ajak Adi pada teman-teman kelas yang lain.
“SETUJU..” Seru teman-teman kelas.
“Setuju banget hihi.” Seru Deddy dengan girang
“Woyy Deddy banci lu ikut juga, gua kira tuh hantu udah kaget ngeliat wajah lu yang udah sebelas duabelas ama mereka.” Ledek Adi pada Deddy.
“Eh lekong mulutnya tuh dijaga kek cabe banget kanunu ini, akika juga pengen ngeliat wajah kanunu dicabik-cabik ama tuh hantu.” Balas Deddy.
“Udahlah capek gua ngeliat lu berdua tuh debat mulu.” Tegur Aziza yang terlihat pusing dengan sikap kedua laki-laki itu.
“Ayoo dong mulai permainannya nihh pake pensil gua aja, Adi lu yang nulis di kertasnya.” Ujar Dina yang membagi-bagi tugas.
“Guys mending jangan deh gua takut mata batin Stefani kebuka, dan Stefani bakal gabisa tenang lohh.” Hentiku demi kebaikan Stefani.
Aku tau hal ini bakal membuat ketenangan Stefani bakal terganggu lagi karna Stefani punya kemampuan yang kami tidak miliki, dan yang aku takutkan lagi jika Stefani gak bisa mengontrolnya maka itu akan buat dia jadi trauma dan membuat dia bisa menyakitkan dirinya sendiri.
“Yaelah cuman permainan doang gaakan terjadi apa-apa ini.” Tepis Adi.
“Dan Fan lu kok diem aja sih ini demi kebaikan lu fan?” Bujukku pada Stefani.
“Gapapa Man lagian mata batin gua juga udah lama ketutup kok.” Ucap Stefani yang mencoba menenangkan suasana.
“Tuh denger Stefani aja gak keberatan kok, lagian juga gapapa kok gaakan terjadi apa-apa.” Tegas Adi yang bersikeras.
Sungguh aku kecewa pada teman-teman kelas yang tidak peduli soal Stefani tapi Stefani juga menganggap ini cuman dasar permainan saja. Permainan Charlie Challenge pun dimulai dengan kebetulan juga ditambah turun hujan dengan gemuruh petir dan lampu kelas kami pun padam. Adi mulai melakukan nya dengan membaca mantra.
“Charlie Charlie Apakah kau berada disini?”
Putaran pertama tidak berhasil pensil tidak berputar sama sekali lalu kami mencoba putaran yang kedua.
“Charlie Charlie Apakah kau berada disini?”
Putaran kedua lalu pensil berputar dan menunjukkan kearah tulisan NO di situasi itu kami terkejut dan kami melakukan percobaan ketiga, dan begitu percobaan ketiga.
“Charlie Charlie Apakah kau berada disini?”
Apa yang terjadi di percobaan ketiga membuat kami sekelas terkejut setengah mati, Pensil menunjukkan kearah tulisan YES. Dan itu artinya mereka ada di sekitar kami!!.
“Kalian apa yang harus kita lakukan sekarang?!!” Imbuh Adi yang terlihat gemetaran merinding.
“Sebaiknya kita keluar satu-satu lalu jangan sampai kalian terlihat tegang oke!!” Perintah Aziza mencoba memperingati kami.
Dimulai Adi yang hendak keluar kelas dengan jalan perlahan-lahan saat Adi hampir di depan pintu dan suara pintu tertutup dengan keras. (BRAKKKKKKK)....
“ARGGGHHHHHHHHH” (Suara teriakan)
Benar saja apa yang aku khawatir itu terjadi yaa apa yang kami lakukan semuanya sudah terlambat kami semua berteriak histeris saat itu dan anehnya suara kami tidak terdengar oleh kelasan lain. Dan yang membuat ku lebih ku takutkan Stefani dia mulai bertingkah aneh.
“Fan lu gapapa kan??!! Tanyaku memegang pundak Stefani dengan badanku yang gemetaran.
“RARRRRWWWWRRRRRR” (Suara Stefani yang kerasukan)
“GUYSSS STEFANI KERASUKAN!!!! TERIAKKU YANG HISTERIS.
“SEMUANYAAA KELUARR!!!!”
Suasana keras yang ricuh dengan teriak-teriakan ditambah pintu yang tidak mau dibuka dan orang-orang yang di luar tidak mendengarkan suara kami yang histeris ada yang sebagian berdoa dan ada yang sebagian mencoba mendobrak pintu kelas.
“Percuma saja kalian teriak-teriak kalian sudah masuk ke dunia ku hihihihi!!” (Stefani yang kerasukan).