AMANDA & RASHYA Falling In Love

AMANDA & RASHYA Falling In Love
Kebaikan Rashya



“Mungkin, saat ayah ibu dipanggil kesini karna kamu masuk rumah sakit, Pria itu langsung bertanya pada ayah ibu tadi, “Apakah kalian orangtua dari Amanda”. Lalu kami jawab iya, seterusnya dia pergi dan kami tidak menanyakan nama si pria itu.” Penjelasan ibu.


Aku yakin Rashya waktu itu menungguku saat Ayah Ibu belum datang. Tapi aku khawatir apa yang akan dipikirkan Rashya nantinya, aku takut merepotkan Rashya dan itu akan buat dia jadi gak nyaman gimana ini.


Ayah memegang tanganku, “Sayang apa yang kamu khawatirkan? Kamu harus banyak istirahat sekarang.” Gumam Ayah yang terlihat khawatir padaku. Aku tau Ayah akan khawatir tapi apakah yang aku lakukan ini merepotkan semua orang. Mulai dari Rashya rela mengantarkan ku kerumah sakit dan membuat Ayah Ibu khawatir.


“Ayah Ibu maafin Amanda yaa, Amanda tau ini penyebab Amanda sendiri sehingga jadi gini, Amanda gaakan mengulangi kesalahan Amanda lagi, Amanda janji akan nurut pada Ayah Ibu.” Ucapku dengan perasaan bersalah kepalaku tertunduk.


Ayah dan Ibu memeluk ku, disaat ini yang aku rasakan hanya senang dan sekaligus sedih. Disisi lain aku masih memikirkan tentang Rahsya bagaimana perasaannya terhadapku, Apa aku harus minta maaf pada Rashya karena membuatnya repot.




Saat pagi ini aku masih dirawat dirumah sakit ini karna kondisiku masih belum stabil. Ibu yang sedang keluar beli sarapan untuk ku, Ayah harus kerja demi biaya uang pengobatan ku di rumah sakit ini. Perjuangan Ayah Ibu ku memang buat aku jadi sedih karna aku anggap aku hanya beban bagi mereka. Pintu kamar terbuka aku pikir itu ibu ternyata,


“AMANDAAAA!!” Teriakan yang keras.


Ternyata mereka, Stefani, Rina dan Deddy, “Amanda kawanua gak papa?” Tanya Deddy. “Gua gapapa kok tenang aja.” Sahutku dengan tersenyum. “Syukur deh kita khawatir ama lu Amanda.” Lega Stefani. “Kamu tau Man? Kita selama sekolah kalo gaada lu tuh rasanya kelas sepi gitu?”. Sedih Rina dengan dramatis. “Huh lebay deh, baru beberapa hari aja Amanda gak masuk sekolah, bilang itu juga bilang akika lebay sendiri nya juga lebay najiss dechh!” Ledek Deddy pada Rina. “Sini maju lohh banci!!” Geram Rina ekpresi muka merah. “Udah dongg jangan berantem ini tuh rumah sakit, ganggu orang yang sakit aja lu berdua tuh bisa gak sih jaga sikap dulu. Tangkas Stefani dengan kepala dingin. Tiba-tiba juga suara pintu kamar terbuka, ternyata itu?.


“Hai Amanda gimana keadaan kamu sekarang?”.


Ternyata itu Kak Alfian, Aku tak menyangka kalo Kak Alfian jenguk aku ini pertama kali Kak Alfian mengunjungi ku. Apa Kak Alfian menganggap aku sudah jadi temannya.


“Tuk-tuk Hei Amanda siapa lekong tuh, kawanua kenari?” Bisik Deddy.


“Sttt lu ngomong apa si Ded? Gua gak ngerti yang lu omongin?” Imbuhku pada Deddy.


“EHEMM.” Suara batuk Kak Alfian (tanda biar di respon)


“OH-iya Kak Alfian maaf gak ngerespon, Aku baik-baik aja kok sekarang hehe.” Sahutku dengan nada tertawa.


Aku bingung harus ngomong apa sekarang, “Hmm Kak Alfian ini kenalin temen temen Amanda, Ini Deddy, Rina dan Stefani.” Ucapku.


“Hai Kak Alfian salam kenal..” Sapa Deddy, Rina, dan Stefani.


“Hai juga, Aku Alfian Salam kenal juga..” Sapa balik Kak Alfian.


“Makasih banyak yaa Kak udah jenguk aku, ini pertama kali kakak datang kesini buat Amanda.”


Kak Alfian hanya tersenyum dan melihat ku, aku merasa ini terlalu canggung kenapa Kak Alfian membuat aku canggung. Tidakk, Hatiku sudah terpincut oleh Rashya aku gaboleh berpaling pada pria lain. Kenapa ibu lama banget sihh beli sarapan nya, ditambah aku malu sama teman-teman. Ayoo dong ibu kembali kesini,


KREEKKKKK (SUARA PINTU KAMAR)


“Amanda maaf yaa ibu agak lama belinya, soalnya rame banget tadi. Lohh ternyata udah banyak tamu aja yaa?” Ucap ibu.


“Iya tante kita niatnya mau jenguk Amanda mumpung lagi libur juga hehe.” Sahut Stefani.


“Makasih banyak yaa udah mau jenguk Amanda.”


Ibu melirik ke arah Kak Alfian, Aku pun langsung tersadar, “Ohiya ibu ini kenalin Kak Alfian pegawai toko kue milik pria yang nolong bawa aku ke rumah sakit itu loh, ibu masih ingat kan?” Ucapku pada ibu. “Ahh iya salam kenal yaa saya ibunya Amanda, tolong sampaikan terimakasih yaa pada bos kamu sudah menolong Amanda.” Pesan ibu pada Kak Alfian.


“Sama-sama bu, akan saya sampaikan pada bos saya dan saya tidak bisa lama-lama disini takutnya Amanda butuh istirahat, Amanda kakak pamit yaa dan semuanya saya pamit dulu permisi.” Pamit Kak Alfian.


“Hati-hati kak...”




Beberapa hari kemudian akhirnya aku sembuh dan pulang dari rumah sakit, sementara aku tidak di izinkan sekolah dulu. Saat kami pergi ke Administrasi pegawai rumah sakit memberitahu bahwa biaya rumah sakit sudah dibayar. Aku tak menyangka siapa yang membayar biaya ini, Apa mungkin ini dari..?


Saat itu aku memutuskan pergi ke toko, dan aku menanyakan langsung pada Kak Alfian. “Kak aku mau tanya apa kakak tahu soal biaya rumah sakit Amanda yang sudah bayar beberapa hari yang lalu?” Tanyaku dengan penasaran. Kak Alfian berikan ekpresi yang bingung sekaligus panik saat aku bertanya tentang itu.


“Hmm Amanda biar aku jelaskan sebenarnya saat Kakak jenguk kamu yang saat itu, Kakak memang berniat untuk membayar biaya rumah sakit kamu itu atas perintah bos Rashya, karna bos Rashya menyuruh rahasiakan dari kamu, tapi karna Kakak kasihan pada kamu kakak kasih tahu kamu biar kamu gak penasaran.” Ungkap Kak Alfian yang terlihat memegang bahuku.


Ternyata benar firasatku bahwa Rashya yang melakukan ini aku tidak bisa diam sekarang aku harus membalas kebaikan Rashya aku harus membalas kebaikannya apapun itu.


“Kak aku harus membalas kebaikan Pak Rahsya, Apa kakak tahu kesukaan Pak Rashya itu apa?” Tanyaku.


“Yang aku tau bos Rashya menyukai macam-macam kue sebenarnya selain ahli bisnis bos juga ahli dalam membuat kue, maka itu bos mendirikan toko kue.” Ungkap Kak Alfian.


“Nah itu dia aku akan buat kue demi membalas kebaikan Pak Rahsya..”