AMANDA & RASHYA Falling In Love

AMANDA & RASHYA Falling In Love
Halo Pak Rashya



Lanjut, aku terpikirkan jika aku ingin selalu bertemu dengan Rashya, Aku harus punya nomornya karena komunikasi itu lebih berpengaruh dalam hubungan aku dan Rashya, tapi aku harus minta nomor Rashya itu ke siapa? Dan aku tahu jawabannya pasti Kak Alfian tau karna secara dia itu pegawai toko kue milik Rasyha pasti dia punya nomor bosnya masa tidak mungkin punya sih. Lalu aku memutuskan besok untuk pergi ke toko kue.




Sampai akhirnya aku sampai Kak Alfian sedang bersih-bersih toko, aku berniat mengagetkan nya. “HAYOOO LAGI APAAA??!!” Kataku sambil dengan menepuk punggung Kak Alfian. Kak Alfian kaget setengah mati saat aku mengagetkannya. “Amanda kamu ini bikin kakak kaget tau ga!?” Kak Alfian dengan tangan menepak dahinya.


“HEHE maaf kak aku cuman mau bercanda doang kok.” Ucapku.


“Kamu mau ngapain kesini, ada apa?” Tanya Kak Alfian.


“Aku cuman mau minta nomor Pak Rashya ke Kakak, siapa tau kakak tau gitu, secara Kakak kan pegawainya.” Penjelasanku.


“Sebenarnya aku punya, tapi buat apa Amanda minta nomor bos Rashya?” Heran Kak Alfian.


“Hmm gini Kak aku pengen banget bisa kenal lebih akrab ama Pak Rashya itu aja kok kan komunikasi itu lebih berpengaruh, semakin berkomunikasi semakin juga juga akrabnya. Imbuhku dengan panjang lebar.


“Hmm gimana yaa, kalo aku bagikan nomor bos Rashya bisa-bisa aku dipecat oleh bos, karna bos tidak suka ada nomor yang tidak dikenal, apalagi tentang privasinya.” Ucap Kak Alfian dengan ekspresi takut.


“Plizzs, Aku janji Kak akan aku rahasiain.” Bujuk ku dengan wajah sedih.


Kak Alfian menghela nafas dan terpaksa lalu dia meminjam ponselku dengan membagikan nomor Rashya, dan hampir saja itu selesai karna tiba-tiba Rashya datang (dia seperti jalangkung, datang tak diundang, pulang tak dijemput, yaa emang toko ini milik dia sihh kapan aja dia mau datang terserah, karna aku gak punya hak:) lanjut, lalu Kak Alfian menyambut Rashya. “Selamat sore bos,” Ucap Kak Alfian. Lalu dilanjutkan dengan aku menyapa Rashya.


“Halo Pak Rashya.” Ucapku dengan wajah tersenyum.


“Ah iya halo kamu yang waktu itu kan, ada apa kesini?” Tanya Rashya.


“Iya pak saya hanya mengunjungi toko ini kok Pak hehe..” Jawabku dengan senyuman.


Rashya pergi menuju keruang kerjanya, aku yang hanya bisa tersenyum tidak bisa menahannya karena aku pikir Rashya mulai tertarik bicara denganku. “Gapapa Amanda ini baru tahap pertama masih butuh banyak proses.” Ucapku dalam hati.


“Kak Alfian nanti saat aku lulus SMA boleh gak aku ingin kerja disini, biar setiap hari aku bisa melihat Pak Rashya?” Bujukku dengan wajah memohon.


Aku pikir tidak ada salahnya bekerja disini, bekerja itu dimana saja sementara biasanya Anak SMA sehabis lulus terjun ke dunia kuliah, tapi karena keluarga ku tak mampu membiayainya jadi mending kerja aja dapet duit plus ketemu Rashya hehe.


“Amanda kamu boleh kok kerja disini tapi proses recruitment disini agak susah tau.” Gumam Kak Alfian.


“Loh buktinya Kakak bisa kerja disini, kalo Kakak bisa Amanda juga pasti bisa dongg.” Ucapku.


“Karna Kakak itu punya pengalaman dalam Bakery, Kakak sekolah di jurusan khusus masak dan kuliah juga jurusan Baking and Pastry Arts.” Jelas Kak Alfian.


“Kakak bekerja disini sebenernya tetap harusnya yang jaga toko ini dan membuat kue harus bergantian shift, karna Kakak bisa diandalkan dan ahli dalam Bakery oleh bos Rashya, Jadi aku ditempatkan disini sendiri.” Lanjut Kak Alfian.


Yang awalnya aku pikir gampang ternyata gak semudah itu yaa, ternyata Kak Alfian juga butuh proses buat ngejar cita-citanya, Apalagi dalam memasak pun aku tidak bisa apalagi buat kue. Satu-satunya cara yaitu dengan cara Membujuk Rashya si pemilik toko kue.




Keesokan harinya aku mulai rajin mendatangin toko kue milik Rashya. Kebetulan juga ada Rashya disitu.


“Halo Pak Rashya.” Sapaku dengan wajah tersenyum.


“Hai.” Balas Rashya.


Keesokan harinya lagi, karna Pak Rashya tidak ada, aku rela menunggu nya untuk menyapanya. Dan akhirnya dia datang juga.


“Halo Pak Rashya.” Sapaku seperti biasa.


“Hai.” Balas Rashya.


Seperti biasa sebelumnya aku selalu datang dan pergi ke tempat itu, karna tau Rahsya akan datang ketempat itu sore hari pada jam yang sama.


“Halo Pak Rashya, semoga hari anda menyenangkan hehe.” Sapaku dengan tersenyum.


“(Rashya hanya terdiam lalu pergi).


Dan kembali lagi ditempat itu dan kebetulan saat hampir sampai ke toko mobil Rashya menuju tempat itu, Aku langsung lari terburu-buru dan aku sapa seperti biasa.


“Hai Amanda, Apa kau ingin menyapaku?” Sapa Rashya yang tidak diduga-duga.


Apa ini tidak mungkin darimana Rashya tahu namaku, ini tidak mungkin apa ini mimpi atau nyata? Aku sungguh gak percaya banget. Apa Kak Alfian yang ngasih tau namaku sehingga Rashya tau namaku.


”Halo Pak Rashya.” (GEDUBRAKKK)


Aku pingsan saat itu aku gak main-main ampun, dari situ Rashya mulai menggendong ku dan membawa ku kerumah sakit, saat itu kesadaran ku buram-buram yang hanya kulihat ada Rashya yang memegang tanganku dengan wajah yang panik, dia sambil menyetir mobil.


“Bertahan yaa Amanda kita akan segera sampai kerumah sakit.” Ucap Rashya.


Momen ini tak bisa aku abadikan dimana Rashya begitu perhatian terhadapku, aku ingin momen ini begitu panjang, sampai akhirnya aku tersadar dari pingsan. Ayah dan ibu ada dihadapanku. “Sayang kamu gapapa kan?” Tanya Ayah dengan ekspresi panik. Aku mencari-cari Rashya aku pikir Rashya ada disini, “Ah iya ayah aku gapapa kok hehe.” Ucapku. Ibu mengusap kepala, “Syukur kamu gapapa sayang, kamu emang gak enak badan semalam kamu tetep maksa pengen sekolah lah, ini kan akibatnya.” Gumam ibu.


“Untung aja ada pria yang tadi nolong kamu.” Kata ibu


Apa mungkin itu Rashya aku ingat Rahsya menolongku saat itu, jika memang benar, berarti misiku bertambah level. Sepertinya ini mulai masuk tahap ke 3.


“Ibu apakah pria itu bernama Rashya?”