
"Awssssshhhh... pelan pelan," ringis Anaya.
"Ini udah pelan pelan, sayang" jawab Gempa lembut.
"Tapi sakit banget Gempa. Gue gak kuat," ucap Anaya menahan rasa sakit.
"Keset banget Nay, harus pake pelicin dulu," jawab Gempa lalu membalurkan cairan yang Anaya sendiri pun tak tau itu cairan apa.
"Gempa sakit," ringis Anaya.
"Bentar ya sayang," jawab Gempa lalu membalurkan cairan itu sampai merata.
"Aku gerakin ya Nay, tahan." lanjut Gempa lembut.
"Awwsssshhhhhhh Gem-pa sak-it bang-ettt," ringis Anaya.
"Awalnya sakit tapi lama lama enak kok," ucap Gempa.
"Gempa sumpah kaki gue sakit banget, awwshhhh gue gak kuat" ringis Anaya saat Gempa memijat kakinya yang keseleo waktu di sekolah tadi siang.
"Bentar Nay, dikit lagi, biar kaki lo gak bengkak," jawab Gempa yang terus memijat kaki Anaya.
"Udah, gue udah gak kuat nahan sakitnya," ringis Anaya sudah benar benar tidak kuat.
"Iyaa udah kok, jangan banyak gerak dulu biar gak bengkak," ucap Gempa sambil menutup botol minyak yang dia gunakan untuk mengurut kaki Anaya.
"Gegem gue mau pipis," ucap Anaya pelan, bahkan hampir seperti berbisik.
Gempa terkekeh "Lo mau gue temenin? Iya," tanya Gempa.
"Ehh e-enggak maksud gue lo anter gue sampe depan pintu ajah gak usah ikut masuk," jawab Anaya sedikit gugup.
"Yaudah sini," ucap Gempa lalu membopong tubuh Anaya menuju kamar mandi.
"Nanti kalo udah teriak ajah jangan di paksain jalan," ucap Gempa lalu keluar dari dalam kamar mandi dengan santainya.
"Tumben gak tengil," batin Anaya.
Anaya tidak mau ambil pusing dengan kewarasan Gempa, dia segera melanjutkan acara buang air kecilnya dengan santai.
Setelah selesai Anaya segera berteriak "Gempa, Gem," teriak Anaya.
"Udah," ucap Gempa yang baru saja masuk dan langsung membopong tubuh Anaya kembali ke tempat tidur.
"Lo ganti baju dulu, risih gue liat lo pake seragam sekolah," perintah Gempa dan menyodorkan pakaian yang telah dia siapkan tadi.
"Yaudah lo keluar dulu gue mau ganti," ucap Anaya mengambil baju yang di berikan Gempa.
"Gak, males, gue mau rebahan di sini," jawab Gempa santai sambil bermain ponsel di samping Anaya
"Gempa gue mau ganti baju, cuma bentar deh janji gak bakal lama," ucap Anaya.
"Udahlah Nay, gue juga kan suami lo bukan pacar lo," jawab Gempa santai.
"Tapi gue malu," ucap Anaya menekuk wajahnya kesal.
"Gue juga lagi main hp Nay, gak bakal merhatiin lo juga," jawab Gempa yang masih setia menatap layar ponselnya.
Anaya menghela nafasnya kasar lalu mulai bersiap siap untuk berganti pakaian.
"Jangan ngintip," peringat Anaya, lalu mulai membuka pakaian nya.
Malu, sudah di pastikan Anaya sangat malu berganti pakaian di depan Gempa.
Gempa melirik kearah Anaya dengan ekor matanya, dilihat Anaya yang hanya menggunakan tanktop berwarna hitam yang 'ahh sudahlah"
Karena merasa di perhatikan Anaya menarik selimut untuk menutupi tubuhnya "Gempa lo ngintip," teriak Anaya kesal.
Gempa hanya terkekeh tanpa dosa "Pemandangan bagus masa gak di liat," jawabnya sangat menyebalkan.
"Keluar lo Gem, dasar mesum," kesal Anaya.
"Nay, lo inget gak ini malam apa?" tanya Gempa mendekatkan tubuhnya dengan Anaya.
Anaya berfikir sejenak, hah apa apaan ini? Maksudnya apa?
"Gak, gue gak inget hari," jawab Anaya berbohong.
"Yaudah gue ingetin, ini itu malam jumat, ehemmm waktunya..."
"Stttt diemmmm, gue gak mau denger kata kata lo yang gak faedah itu," teriak Anaya sambil membekap mulut Gempa.
Gempa hanya terkekeh melihat Anaya yang sudah sangat sangat khawatir.
"Lo mau pahala kan, Nay?" tanya Gempa, menarik tubuh Anaya kedalam pelukan nya.
Cup
Gempa mengecup kening Anaya sekilas.
"Kenapa?" tanya Gempa sedikit berbisik di telinga Anaya.
"Y-ya pokonya gue gak mau, Gempa lo tau kan kaki gue lagi sakit," jawab Anaya melas.
"Ya terus?" tanya Gempa mengerutkan dahinya heran.
"Y-ya gue gak bisa lah," jawab Anaya gugup.
"Lo kalo ngaji pake kaki? Yang sakit kan kaki lo, sedangkan yang digunain ngaji itu mulut lo," ucap Gempa heran.
"M-maksud lo?" tanya Anaya terkejut.
"Lo mikir apaan sih Nay? Orang gue cuma ngajak lo yasinan. Atau..." Gempa menggantungkan ucapannya.
"Stttt gue gak mau denger," kesal Anaya menutup telinga dan matanya rapat rapat.
"Bhahahaha lo pasti mikir kotor kan," ucap Gempa sambil tertawa.
"E-enggak, apa apaan lo gue gak gitu yaa," elak Anaya.
"Yaudah kalo lo mau yang itu, gue turutin," ucap Gempa lalu menindih tubuh Anaya dengan cepat.
"Ge-gempa, sumpah gu-gue gak maksud gitu," ucap Anaya gugup.
"Lo mau ini kan?" tanya Gempa menggoda Anaya.
"Ge-gem gue belum siap," cicit Anaya menatap Gempa melas.
"Sekali ajah, gak sakit kok," ucap Gempa semakin mendekatkan wajahnya dengan wajah Anaya.
"Gempa gue beneran belum siap," teriak Anaya mendorong tubuh Gempa menjauh darinya.
"Nay," ucap Gempa sedikit membentak.
"Sorry Gem, tapi gue beneran belum siap," jawab Anaya lalu menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
"Orang gue cuma mau cium doang, gini nih kalo korban perjodohan, gak pro." gumam Gempa lalu berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu.
Selesai solat Gempa berjalan menuju tempat tidur untuk membangunkan Anaya dan menyuruhnya solat maghrib.
"Nay, sayang," panggil Gempa lembut.
"Sayang, bangun solat dulu," ucap Gempa sambil mengelus elus pipi Anaya lembut.
"Hemmm, gue lagi dapet," jawab Anaya dengan mata yang masih tertutup rapat.
"Yaudah bangun ajah, pamali tidur waktu maghrib," ucap Gempa lembut.
Perlahan Anaya membuka matanya dan menyesuaikan pandangannya sebelum ia duduk dan memakai baju.
Oiyaa, Anaya belum pake baju ya gays, dia masih pake tanktop warna hitam.
Anaya duduk menyender pada senderan tempat tidur sambil terus memperhatikan Gempa yang sedang khusu mengaji, tak disangka ternyata suara Gempa sangat merdu dan menenangkan hati.
Anaya terus memperhatikan Gempa sampai dia tidak sadar jika Gempa juga sedang menatap kearahnya. Dan alhasil Anaya gelagapan sendiri.
"Em eee hp gue di mana ya, Gem?" tanya Anaya mencoba mengalihkan fikiran Gempa.
Gempa berjalan menghampiri Anaya "Gak usah malu kali, Nay. Gue juga sering merhatiin lo," ucap Gempa santai lalu duduk di samping Anaya.
"Apasih gue gak liatin lo kok, pede banget," jawab Anaya masih mencari keberadaan ponselnya.
"Hp lo ada di ruang tv," ucap Gempa.
"Ambilin dong Gem," ucap Anaya yang dibalas gelengan kepala oleh Gempa.
"Gue gak mau, gue mau malam ini lo cuma sama gue. Gak ada yang ganggu." tegas Gempa lalu berbaring sambil memeluk pinggang Anaya.
"Tapi Gem,"
"Gue gak bakal apa apain lo, gue juga mikir seribu kali kalo mau unboxing lo sekarang, lo ajah masih sekolah," ucap Gempa sambil memeluk pinggang Anaya erat.
"Sorry ya Gem, tapi gue bener bener belum siap," ucap Anaya merasa bersalah.
"Hmm gue ngerti kok, tapi nanti kalo udah lulus gue mau 50 ronde ya Nay, kan gue mau debay kembar," ucap Gempa sambil ndusel ndusel di pinggang Anaya.
Sudah Anaya duga pasti kewarasan Gempa tidak bertahan lama. Buktinya dia sudah kembali tengil seperti biasanya.