AFTER AKAD

AFTER AKAD
PERJALANAN MALAM



...•.• HAPPY READING •.•...


Setelah solat isya tadi, anak anak peserta camping sudah berada di lapangan untuk melakukan perjalanan malam.


"Kok gak pake jaket?" tanya Anaya pada Gempa.


"Males," jawab Gempa santai. Anaya hanya mengangguk anggukan kepalanya.


"Pemberangkatan pertama itu Dito, Anaya, Nada dan Galang" ucap Ambra di depan sana.


"Disusul dengan pemberangkatan kedua Amir, Jeno, Mawar, dan Nadia" lanjutnya.


"Yes, gue sama Amir," heboh Nadia. Vanta melirik Nadia dengan tatapan sinisnya.


"Dilanjut dengan pemberangkatan ketiga yaitu Gaga, Niko, Andin, dan Ameral" lanjut Ambra.


"Dan pemberangkatan kelima itu Gempa, Dimas, Siska dan Vanta" ucap Ambra yang membuat Anaya dan Gempa terkejut.


"What?!! Lo sama Siska?!" kesal Anaya.


Gempa juga kaget, tapi dia berusaha untuk tetap cool, "Lo juga sama Dito," jawabnya acuh.


"Gempa nanti jagain gue yaaa," ucap Siska yang langsung merangkul tangan Gempa manja.


"Pasti dong," jawab Gempa mengelus puncak kepala Siska lembut.


Gak usah ditanya lagi gimana perasaan Anaya sekarang. Panas. Kesal. Emosi. Semuanya bercampur di dalam tubuh Anaya.


"Gempa lo nyebelin." kesal Anaya menginjak kaki Gempa lalu pergi meninggalkan Gempa dan Siska begitu saja.


"Anj-" ucapan Gempa terhenti saat Anaya berbalik dan menetapnya sangat sinis.


"Astogee istri gue baperan banget anjir. Minggir minggir Sis, istri gue ngamuk." Gempa berusaha melepaskan tangannya dari Siska dan mengejar Anaya.


"Nay, Nay sumpah gue tadi cuma becanda. Gu-gue gak beneran kok," jelas Gempa gelagapan sendiri.


Anaya masih acuh. Dia terus berjalan entah kemana.


Gempa menarik tangan Anaya agar dia berhenti berjalan "Naayyy... Gue, gue gak beneran gitu. Gu-gue cuma godain lo doang. Plisss jangan marah," rengek Gempa.


Kenapa dia berani merengek seperti ini?!


Karena itu di tempat sepi dan anak anak sedang berada di lapangan.


"Anaya mahhh... maafin gue," rengeknya lagi.


"Diem deh, mending lo elus elus rambut Siska ajah sana," kesal Anaya melipat tangannya di dada.


"Nanay mah... Gue kan cuma becanda," rengek Gempa seperti anak kecil.


"Becandaan lo gak lucu. Lo kira gue gak cemburu liat lo kaya gitu," ceplos Anaya.


Gempa menatap Anaya intens "Coba ulang," perintah Gempa memastikan jika pendengarannya masih normal.


"Gue cem..." Anaya menggantungkan ucapannya, dia baru sadar jika dia keceplosan.


"Ehh i-itu apa tadi gue, ehh iya kita harus kelapangan takut dimarahin kak Ambra," Anaya mengalihkan pembicaraan.


Dia berjalan cepat meninggalkan Gempa. Namun tangannya lebih dulu di cekal oleh Gempa "Gue gak salah denger kan?" bisik Gempa.


"Mampus!!!" batin Anaya.


"Anaya," teriak Dito yang berjalan menghampiri Anaya dan Gempa.


"Dito anjing. Ganggu ajah." kesal Gempa melepaskan cengkramannya.


"Ehh kenapa Dit?" teriak Anaya.


"Bentar lagi acaranya dimulai, tadi kak Ambra juga nyariin lo," jawab Dito.


"Oh gitu yaa, yaudah ayo kita ke lapangan" ucap Anaya lalu berjalan menuju lapangan dengan menggandeng tangan Dito.


"Anaya an- eh Astagfirullah itu kan istri gue," ucap Gempa tersadar.


"Anaya cantik." kesalnya lalu berjalan menyusul Dito dan Anaya ke lapangan.


"Abis dari mana bor?" tanya Niko.


"Ngen dulu bentar," jawab Gempa asal.


"Ciri ciri anak biadab," ucap Jeno santai.


"Apa lo? Berani lo sama gue?" marah Gempa menarik kerah baju yang dipakai Jeno.


"Apa? Lo kira gue berani?! Ya nggak lah," jawab Jeno dengan nada menantang.


Disisi lain, Anaya sedang mengobrol dengan Dito dan Ambra datang menghampiri mereka. "Nay, lo mau pindah kelompok gak?" tanya Ambek sambil terkekeh.


Dia itu mantan ketua WARRIOR jadi sudah di pastikan bahwa dia tau jika Anaya dan Gempa sudah menikah.


"Ahh enggak kak gak usah," jawab Anaya.


"Yaa siapa tau lo mau sekelompok sama..." ucapan Ambra terpotong karena Anaya langsung memotong ucapannya.


"Enggak kok, Anaya gak mau pindah kelompok," ucap Anaya sedikit berteriak agar Dito tidak bisa mendengar jelas apa yang Ambra bilang.


Ambra terkekeh melihat Anaya yang ketakutan seperti ini, "Don't worry, I can keep a secret" ucap Ambra.


Anaya hanya menatap Ambra dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.


"Pemberangkatan pertama silahkan siap siap," teriak seseorang dari depan sana.


Anaya dan Dito segera berjalan kedepan "Duluan kak," pamit Dito sopan, sedangkan Anaya masih menekuk wajahnya kesal.


"Jagain istri gue." ucap Gempa pada Galang.


"Siap bapak negara. Pasti saya akan menjaga ibu negara dengan baik dan benar." jawab Galang mengangkat tangannya hormat.


"Galang sini," panggil Anaya.


"Duluan bor," pamit Galang lalu berjalan menghampiri Anaya yang sudah bersama dengan Dito dan Nada.


"Nanti kalo takut lo peluk gue ajah Nad," goda Galang pada Nada.


Nada tersenyum "Iya, kalo gak lupa," jawabnya santai.


"Silahkan untuk pemberangkatan pertama, hati hati dijalan. Ikuti petunjuk jalan yang ada si peta ini," ucap Cici memberikan sebuah peta pada Anaya.


"Iya kak," jawab Anaya sopan lalu berangkat untuk melakukan perjalanan malam.


"Kalo lo cape bilang gue ajah, Nay" ucap Dito perhatian.


"Ehhh mon maaf nih bang, Anaya udah di titipin sama gue, jadi lo gak usah sok perhatian kaya gitu," jawab Galang cepat.


"Udah udah, ini di hutan gak baik berisik berisik kaya gitu," lerai Anaya.


Nada dan Anaya saling menggandeng satu sama lain, "Kok gue merinding ya, Nay," bisik Nada dan semakin mengeratkan gandengannya pada Anaya.


"Sama, gue juga," jawab Anaya jujur.


Memang udara di malam hari dengan angin semilir ditambah dengan pepohonan yang menjulang tinggi menambah kesan horor dan mencekam.


"Lurus apa belok nih?" tanya Galang pada Anaya.


"Galang gue merinding," ucap Anaya. Dia benar benar sudah merinding sekarang. Apalagi semak semak yang selalu berbunyi seperti ada yang mengikuti mereka berempat.


"Tenang Nay, kita kan berempat gak bakal ada apa apa," jawab Galang.


"Sini deket gue," ucap Dito mencari kesempatan dalam kesempitan.


"Eh gak usah, gue juga udah gandengan sama Nada," jawab Anaya.


"Udah bor, mending lo liat nii peta kita lanjut lurus apa belok," ucap Galang lalu memberikan peta yang di pegang Anaya pada Dito.


Ketika Dito sedang melihat peta yang diberikan Galang, tiba tiba dari arah semak semak terdengar ngauman yang sangat jelas terdengar di telinga mereka berempat.


Aummmm


"Galang, itu suara apa?" tanya Anaya dan Nada yang ketakutan.


"I-itu kaya su-suara harimau," jawab Galang ikut takut.


"Dit ini gimana?!" tanya Anaya yang sudah keringat dingin.


Srekkkk srekkkk srekkkk


Aummmmm


Dan ternyata benar dugaan Galang tadi, itu harimau. Harimau itu keluar dari semak semak. Dan berada tepat di depan mereka.


"Ha-harimau..." teriak mereka berempat.


"Lari... Lari..." teriak Galang pada ketiga temannya.


Merekapun lari kesegala Arah. Anaya dan Nada yang dari tadi gandengan pun terpisah begitu saja.


...•.• BERSAMBUNG •.•...