
...•.• HAPPY READING•.•...
Anaya dan Gempa baru saja sampai di kantor ayahnya Gempa. "Nanti harus senyum yaa, gak boleh cemberut kaya gini," ucap Anaya lembut.
Gempa tidak menjawab dia segera keluar dan membukakan pintu untuk Anaya. Semua pasang mata langsung tertuju pada mereka. Lebih tepatnya pada Gempa, wajar saja karena Gempa terlihat sangat tampan dan gagah, tak seperti murid SMA.
Gempa menggandeng tangan Anaya menuju ruangannya. "Gempa senyum gak boleh gitu," bisik Anaya karena Gempa memasang wajah datar plus dinginnya.
Gempa tidak menjawab dia terus berjalan menuju ruangan tanpa memperhatikan para karyawan wanita yang memandang nya dengan tatapan kagum.
"Pak Gempa?" tanya seorang wanita dengan penampilan yang sangat seksi. Memakai baju ketat dan rok yang sangat mini.
Gempa melirik wanita itu sekilas lalu beralih menatap wajah Anaya "Ayo masuk," ucap Gempa lembut.
"Gempa gak sopan." bisik Anaya.
"Iya, ini Gempa, kamu siapa yaa?" tanya Anaya ramah.
"Emm perkenlakan nama saja Angelin, saya disini sebagai sekretaris pak Gempa," ucapnya memperkenalkan diri.
Gempa menatap tak suka pada Angelin, dia memang lelaki tapi dia sangat tidak suka dengan wanita yang mengumbar auratnya kemana mana. "Gak usah, istri gue sendiri yang jadi sekretaris nya," ucap Gempa datar.
Angelin sangat terkejut saat Gempa berkata bahwa istrinya sendiri yang akan menjadi sekretaris. "Ba-bapak udah nikah?" tanya Angelin.
"Ya, gue udah nikah. Dan istri gue lebih cantik dan sopan daripada lo." sinis Gempa merangkul pinggang Anaya.
"Tapi ini sudah keputusan dari pak Magma," ucap Angelin.
"Gue gak peduli, kalaupun istri gue gak jadi sekretaris, gue juga gak akan jadiin lo sekretaris gue, ******." tegas Gempa.
"Gempa gak sopan," ucap Anaya tak enak pada Angelin. "Maaf bak, suami saya lagi bad mood, nanti kita bicarain masalah ini lagi," lanjut Anaya lalu menarik Gempa masuk kedalam ruangannya.
"Nanay gue gak mau kerja kalo sekretaris nya dia," kesal Gempa.
"Dia cuma kerja Gempa, kalo lo gak suka sama cara pakaiannya tinggal bilang, gak usah ngerendahin gitu. Gue gak suka," tegas Anaya.
"Tuh kan manggilnya lo lagi," ucap Gempa berkaca kaca.
"Bisa gak sih sehari ajah gak bikin gue kesel," ucap Anaya melipat tangan nya di dada.
Gempa hanya diam, dia memilih untuk duduk di kursi kerjanya.
"Bisi gik sih sihiri ijih gi bikin giwi kisil," gumam Gempa kesal sambil berpura pura memainkan laptop dihadapannya.
"Gak usah ngejek, kalo gak suka tinggal ngomong," ucap Anaya lalu duduk di sofa.
"Gi isih ngijik, kili gi siki tinggal ngiming," gumam Gempa lagi.
Anaya tidak menanggapi Gempa, dia memilih untuk memainkan ponselnya.
"Nikah doang, tapi main hp mulu," sindir Gempa kesal.
Anaya masih tidak menanggapi perkataan Gempa, dia masih fokus memainkan ponselnya.
"Anaya Gue banting yaa hp lo," kesal Gempa berkecak pinggang di hadapan Anaya.
"Oh," jawab Anaya acuh, yang membuat Gempa semakin kesal, bahkan sangat sangat kesal.
Gempa merampas ponsel Anaya paksa lalu melemparnya kesembarang arah, "Gue gak main main Anaya," bentak Gempa.
"Gempa!! Kalo hp gue rusak gimana?!" teriak Anaya kesal.
"Gue udah bilang, GUE GAK SUKA KALO LO LAGI SAMA GUE TAPI LO MALAH MAIN HP KAYA GINI!!!" tegas Gempa.
"Terserah," ucap Anaya lalu berjalan untuk mengambil ponselnya yang dilempar Gempa.
"Anjing," umpat Gempa kesal.
Anaya menoleh dengan sinis kearah Gempa "Lo ngatain gue anjing?!" tanya Anaya menghampiri Gempa.
"Jawab!!" bentak Anaya.
Gempa hanya diam sambil melipat tangannya di dada.
"Gak sopan banget ngatain istri sendiri kaya gitu," kesal Anaya lalu duduk di sofa yang diikuti Gempa dengan wajah paniknya.
"Aaaaaa gue gak sengaja..." teriak Gempa langsung berhambur dalam pelukan Anaya.
"Nanay maafin gue, gue gak sengaja, gue keceplosan" isak Gempa dalam pelukan Anaya.
Anaya masih diam, dia hanya membalas pelukan dari Gempa.
"Nanay maafin gue, gu-gue huaaaaaa" teriak Gempa semakin histeris.
"Stttt gak boleh teriak, ini di kantor. Malu sama yang lain" ucap Anaya lembut.
"Nanay jangan marahin baby Gegem," jawab Gempa seperti anak kecil.
"Iyaaa," Anaya mengelus rambut Gempa dengan lembut.
"Mau cium," rengek Gempa sangat manja.
"Nanti kalo udah di rumah," jawab Anaya lembut.
"Gak mau, baby maunya sekarang," rengek Gempa semakin kencang.
"Baby gak boleh nakal, baby haru..." ucapan Anaya terpotong saat ada yang masuk kedalam ruangan Gempa.
"Emmm maaf pak, bapak sekarang sudah di tunggu di ruang meeting sama pak Magma." ucap Angelin.
Gempa menatap sinis kearah Angelin "Berani banget lo masuk ke ruangan gue tanpa ngetok pintu dulu," bentak Gempa emosi.
"Maaf pak, tapi saya kan sekretaris bapak," jawab Angelin santai.
"Sekretaris? Kata siapa lo sekretaris gue? Gue udah bilang, YANG JADI SEKRETARIS GUE ITU ISTRI GUE SENDIRI." bentak Gempa.
"Tapi pak,"
Gempa menatap Angelin dari atas sampe bawah "Lo mau jadi sekretaris atau jadi penggoda?!" ucap Gempa sinis.
"Penggoda. Gue emang mau goda lo Gempa." batin Angelin.
"Jadi sekretaris pak, besok saya pake baju yang lebih sopan," ucap Angelin menunduk.
"Gak boleh marah marah," ucap Anaya lembut, tangannya pun mengelus pundak Gempa agar emosi sang suami tidak meluap luap.
"Keluar lo dari sini," usir Gempa pada Angelin.
"Tapi bapak sudah di tunggu sama pak Magma di ruang meeting," ucap Angelin.
"Gue gak peduli. Sekarang lo keluar." bentak Gempa kesal.
"Saya gak akan keluar kalo pak Gempa tidak menemui pak Magma," ucap Angelin sangat sangat membuat emosi Gempa semakin naik.
Anaya yang tau Gempa sangat emosi pun menggenggam tangannya dengan erat "Sayang gak boleh emosi," ucap Anaya sangat lembut.
Gempa menoleh pada Anaya "Gue gak emosi," jawab Gempa lembut.
Gempa menarik tubuh Anaya kedalam pelukannya "Gue gak bisa marah kalo ada lo Nay," ucap Gempa lembut lalu mengecup bibir Anaya cukup lama.
"Gempa malu," bisik Anaya lalu menjauhkan bibir nya dari Gempa.
Gempa menatap Angelin sinis "Lo masih mau disini? Emang lo mau liat gue sama istri gue mesra mesraan?" tanya Gempa sinis.
"Saya gak akan pergi kalo gak sama pak Gempa," jawab Angelin.
"Oke," jawab Gempa acuh lalu mencium bibir Anaya dengan lembut.
Cukup lama Gempa dan Anaya berciuman di depan Angelin. Sekretaris semok itu.
Gempa melepaskan ciumannya saat Anaya mulai kehabisan nafas "Cantik," ucap Gempa lembut. Anaya hanya tersenyum manis kearah Gempa.
Angelin menatap tak suka pada mereka. Lebih tepatnya pada Anaya.
"Gue akan rebut dia dari lo Anaya." batin Angelin.
...•.• BERSAMBUNG •.•...