AFTER AKAD

AFTER AKAD
CAMPING 2



...•.• HAPPY READING •.•...


"Nay, Nay bangun udah sampe" ucap Gempa menepuk nepuk pipi Anaya pelan.


"Nay, sayang, bangun" ucapnya lagi, karena Anaya masih tetap nyaman dengan posisinya.


"Hmmm," gumam Anaya terusik.


"Bangun udah sampe," ucap Gempa lagi.


Anaya langsung membuka matanya "Hah? Udah sampe?" tanya Anaya tak percaya. Dia melihat keluar jendela untuk memastikan.


"Udah yu turun, barang barang lo udah di bawa sama Amir," ucap Gempa yang langsung beranjak dari duduknya.


Mereka berduapun turun dari bis, "Kalo pasutri mh beda yaa bro, yang lain udah bangun tenda dia mah baru turun dari bis," sindir Dimas.


"Abis ngen- dulu kali," celetuk Amir, yang langsung mendapat tendangan dari Gempa dan tatapan sinis dari Anaya.


"Jangan kenceng kenceng nanti mereka tau," kesal Anaya.


Mereka semua saling menatap satu sama lain "Hah!!! Berarti kalian..." ucap mereka dan menatap Anaya sambil tercengir mengejek.


"Ihhhhh ngeselin yaaa..." teriak Anaya kesal, dia berusaha memukul mereka tapi mereka semua langsung ngibrit kesegala arah.


"Gempa temen lo nyebelin banget sih." kesal Anaya mengerucutkan bibirnya.


"Ya lagian lo ngomongnya mengarah ke sana, udah tau temen temen gue pada kotor pake acara ngomong begituan segala kan jadi ambigu," ucap Gempa datar lalu meninggalkan Anaya sendirian.


"Ihh tengil banget sih," gumam nya lalu berjalan menghampiri keempat temannya.


"Dari mana ajah lo?!" tanya Vanta yang sedang sibuk mendirikan tenda.


"Gue tadi ketiduran," jawab Anaya masih kesal.


"Tarik yang itu dong Nay, Nada... Nada lo tarik yang sebelah sana," heboh Andin


"Mawar, mawar lo pegangin talinya," lanjutnya lagi.


Mereka semuanya menuruti apa perintah Andin, "Terus gimana nih?" tanya Mawar.


"Lo patokin biar tendanya bisa berdiri," jawab Andin.


Mawar, Anaya, Nada dan Vanta pun menurut. Mereka mematok tali yang mereka pegang.


"Selesai." ucap mereka secara bersamaan.


"Fyuhhh... akhirnya." ucap Mawar mengelap keringat di dahinya.


Beberapa menit kemudian tenda yang mereka buat kembali roboh dan mengundang gelak tawa dari inti WARRIOR.


"Yah yah yahhh..." teriak mereka berlima.


"Ihhh kok roboh sihhh..." teriak Andin kecewa.


"Bwahahahhaha...." inti WARRIOR tertawa terbahak bahak. Terkecuali Gaga tentunya. Mana mungkin si dingin dan datar tertawa terbahak bahak seperti itu.


"Diem lo dakjal." teriak Vanta kesal.


Gempa DKK berjalan menghampiri mereka. "Mau di bantuin gak?" tanya Jeno menawarkan diri.


"Gak usah. Kita bisa sendiri." jawab Mawar ketus.


"Yaudah. Kita juga cuma nawarin," jawab Jeno acuh.


Anaya menatap Gempa dengan tatapan kesal. Kenapa dia gak nawarin untuk bangun tenda? Kenapa dia malah diam saja sambil cengar cengir tidak jelas?! Dasar suami taknat. Fikir Anaya.


"Buatin tenda buat istri gue," ucap Gempa pada teman temannya.


"Gak usah kaya gitu, jalan jalan yu," Gempa menggandeng tangan Anaya menuju pinggiran sungai.


"Lo nyebelin tapi gue sayang," ucap Anaya di sela sela mereka berjalan menuju sungai.


Gempa melirik Anaya dengan kening berkerut "Lo ngigau apa gimana? Tumben banget lo kaya gitu sama gue," ucap Gempa heran.


"Lupain. Tadi gue cuma becanda," jawabnya lalu duduk di atas batu dan bermain air dengan tangannya.


"Sejuk yaa," ucap Gempa sambil menghirup udara pegunungan yang sangat asri dan segar.


"Iyaa... Gue rasanya pengen bangun rumah di sini," jawab Anaya yang sangat terpesona dengan indahnya pemandangan di sana. Pepohonan yang masih asri, sungai yang bening bersih, saking bersihnya kita bisa melihat ikan ikan yang ada di dalamnya.


"Ayo." jawab Gempa semangat.


"Dihh, siapa juga yang mau bangun rumah sama lo," sinis Anaya.


"Yaa kan yang bangun rumah tukang bangunan. Baru yang tempatin kita berdua." ucap Gempa terkekeh.


"Ihhh nyebelin yaa..." kesal Anaya lalu mengibaskan air pada Gempa.


"Wahhh ngajak tawuran yaa lo." ucap Gempa lalu melakukan hal yang sama. Sampai mereka tak menyadari bahwa Dito dan Siska menatapnya dengan tatapan benci.


"Ahahahah... Basah kan lo," ucap Gempa sangat bahagia saat melihat baju Anaya basah.


"Gempa udah... Ihh nyebelin banget sihh..." teriak Anaya kesal.


"Ahahaha...." Gempa menghentikan acara main airnya. Dia tertawa melihat wajah Anaya yang basah dan kesal.


"Nyebelin banget sih." kesal Anaya lalu beranjak untuk mengganti pakaiannya yang sudah basah kuyup gara gara Gempa.


"Dihh marah" ucap Gempa terkekeh. "Lo yang mulai lo juga yang kabur," teriaknya sambil terkekeh.


"Lahh lo kenapa, Nay, basah kuyup kaya gitu? Kecebur sungai?" tanya Vanta.


"Tau deh kesel." jawab Anaya lalu mengambil pakaiannya di dalam tas.


"Minggir lo semua, gue mau ganti baju." lanjut Anaya dengan wajah kesalnya.


Mereka menatap Anaya dengan tatapan aneh "Dihh yang salah siapa, marah nya sama siapa," ucap Mawar aneh.


Anaya tidak menghiraukan ucapan teman temannya yang tidak mengerti dengan kekesalannya itu.


Beberapa menit kemudian Anaya keluar dari dalam tenda, "Udah?" tanya Nada yang dibalas anggukan dan senyuman oleh Anaya.


"Ehh nanti ada kegiatan apa ajah, Nay?" tanya Andin.


"Setau gue sih cuma game sama perjalanan malem ajah, tapi gak tau sih kan yang ngatur ini kak Ambra dan yang lainnya," jawab Anaya.


Ambra adalah alumni dari SMA Mandala. Dia di tugaskan untuk menanggung jawab semuanya dari mulai keselamatan anak anak, rute perjalanan malam, jadwal kegiatan dan lain lainnya.


"Jadi lo gak tau rute buat nanti malam kemana?" tanya Mawar.


"Yaa enggak lah, jangankan gue, Dito ajah gak di kasih tau " jawab Anaya.


Gempa DKK tiba tiba datang dan langsung duduk di dekat tenda mereka.


"Siap siap," ucap Gempa tiba tiba.


"Kemana?" tanya Anaya heran. Bukanya Anaya lemot atau gimana, tapi ini salah Gempa yang menggantungkan ucapannya.


"Solat ashar lah. Lo belum solat kan?!" jawab Gempa santai.


"Belum," jawab Anaya pelan.


"Yaudah siapa siap sekarang, kalian juga ikut solat gue imamin," ucapanya pada keempat teman Anaya.


Mereka semua menatap heran pada Gempa. Ternyata si pentolan sekolah ini mempunyai jiwa islami juga. Bahkan mereka saja sering pura pura lupa. Fikir mereka.


"Malah bengong, di ajak ibadah juga," ucap Jeno yang heran melihat Anaya dan keempat temannya malah melongo seperti orang bodoh.


"Ehh iya iya tunggu bentar gue ambil mukena dulu," ucap Anaya lalu mengambil mukena nya yang ada di dalam tenda. Diikuti dengan Andin, Mawar dan Vanta.


"Lo gak solat Nad?" tanya Jeno pada Nada yang malah diam di tempat.


"Gue lagi dapet," jawab Nada tersenyum. Jeno hanya mengangguk anggukan kepalanya mengerti.


"Ayoo," ucap Vanta yang sudah siap dengan perlengkapan solatnya.


Mereka semua pergi untuk berwudhu di dekat sungai. Meninggalkan Jeno dan Nada berdua di dekat tenda.


"Lo gak solat Jen?" tanya Nada heran.


Jeno mengeluarkan kalung yang dia sembunyikan di balik bajunya.


Nada sangat terkejut melihat tanda yang ada di kalung yang Jeno pakai "Lo..."


"Gue bukan islam," jawab Jeno santai.


Ada rasa sesak di hati Nada, entah kenapa dia merasa sangat jauh dan bahkan tak bisa menggapai sosok di sampingnya itu.


Nada tersenyum sendu "Kenapa lo baru kasih tau gue sekarang?" tanya Nada.


"Lo gak pernah nanya," jawab Jeno acuh. Sejujurnya dia juga merasakan hal yang sama dengan Nada. Merasakan sesak yang tak terhingga. Merasakan sakit yang teramat sangat. Ketika perbedaan menjadi halangan untuk hubungan yang belum sempat mereka bangun.


Di lain tempat Gempa dan yang lainnya sedang bersiap siap untuk solat. Gempa sudah siap berdiri di barisan paling depan dan para makmum juga sudah berjejer rapih.


"Eh eh eh kita ikut solat yuu, mumpung di imamin Gempa. Kapan lagi yee kan bisa solat di imamin sama calon imamnya langsung." teriak para siswi histeris.


"Gempa tunggu, kita mau ikut solat berjamaah," teriak salah satu siswi. Dan merekapun segera mengambil wudhu dan ikut berbaris di belakang Gempa.


Ada rasa tak suka di hati Anaya ketika suaminya bebas mengimami wanita wanita ganjen seperti mereka.


"Udah lah Gem, gak usah di tungguin." ucap Anaya kesal.


"Gak boleh gitu. Lo itu harusnya bersyukur mereka mau solat, jadi pahala kita juga nambah karena semakin banyak yang solat berjamaah bareng kita." jawab Gempa yang tau jika istrinya itu kesal.


"Serah lo ajah deh." final Anaya.


Para siswi pun sudah berbaris rapih dengan ekspresi yang sangat berseri seri.


Gempa mulai mengimami mereka. Para siswi yang sedang halangan pun merasa kecewa. "Kenapa gue pake dapet segala sih," kesalnya.


"Gue gak nyangka ternyata di balik bad boynya Gempa dia juga punya jiwa ustad yang sangat hemmm," lanjut siswi yang lain dengan memandangi Gempa yang sedang mengimami solat.


Beberapa menit kemudian, mereka sudah selesai solat. Para siswi pun sudah pergi ke tendanya masing masing.


Gempa berjalan menghampiri Anaya yang sedang cemberut kesal, "Gak usah kaya gitu," ucapanya.


"Apaan sih," jawab Anaya sinis.


"Salim dulu," gempa mengulurkan tangannya.


Dengan kesal Anaya pun menerima uluran tangan Gempa dan menciumnya.


Cup


"Istri solehah," ucap Gempa mengecup kening Anaya sekilas.


...•.• BERSAMBUNG •.•...