
...•.• HAPPY READING •.•...
Inti WARRIOR dan yang lainnya hanya bisa diam saat Gempa menanyakan keberadaan Anaya.
"Anaya dimana. ANJING!!!" teriak Gempa saat semua orang bahkan Ambra pun hanya diam, tidak menjawab.
"Bajingan!!! Jawab babi!!!" umpat Gempa kesal sendiri.
"A-an Anaya hilang," ucap Galang yang langsung menunduk takut.
"Bajingan!!!" umpat Gempa lalu menghajar Galang habis habisan.
Bughh
Bughh
Bughh
"Lo gue tugasin buat jagain dia. Bangsat!!!" umpat Gempa disela sela menghajar Galang.
Bughh
Bughh
"Udah Gem, gak guna lo kaya gini," ucap Jeno yang langsung menarik Gempa agar menjauh dari tubuh Galang yang sudah terkapar lemas.
Gempa beralih menatap Dito dan langsung menghajarnya habis habisan, seperti yang ia lakukan pada Galang.
Bughh
Bughh
Bughh
"Bajingan!!" umpatnya.
Bughhhh
Bughh
"Udah, udah. Mending kita cari Anaya. Bukan malah saling pukul kaya gini." teriak Vanta pada mereka.
Gempa pun menjauh dari tubuh Dito yang sudah lemas seperti Galang. Dia langsung berlari menuju hutan untuk mencari Anaya.
"Nay, sayang, lo dimana..." teriak Gempa dengan suara khawatir.
"Sayang jawab..." teriaknya lagi.
"Anaya, jangan bikin gue khawatir. Jawab lo sekarang ada di mana?!" teriak Gempa mulai frustasi.
"Sayang...."
"Anaya..."
"Lo dimana, Anaya jawab, lo dimana..." teriaknya dengan suara terisak.
Disisi lain, Anaya sedang berusaha untuk menghindar dari ngauman harimau itu.
"Gempa tolongin gue," isak Anaya.
Dia terus berlari entah kemana, dan sepertinya dia sudah jauh dari tempat mereka camping. Buktinya saja disini sangat gelap dan udaranya pun mulai tidak enak.
"Gempa tolongin gue," isak Anaya.
Dia memutuskan untuk duduk di bawah pohon, kakinya pun tambah sakit, "Gempa, hiks hiks hiks..." isak Anaya dengan air mata yang terus mengalir dari kedua bola matanya.
"Gempa tolongin gue, gu-gue takut," ucapnya semakin lirih.
"Hiks hiks hiks..." Anaya terus terisak. Menahan takut. Menahan sakit. Lengkap lah sudah penderitaannya dimalam ini.
"Hiks hiks hiks... Gempa tolongin gue," isaknya semakin lirih.
Di tempat yang tak jauh dari sana, Gempa terus berusaha untuk mencari Anaya.
"Nay..."
"Sayang, lo dimana?" teriak Gempa sangat menggema keseluruh hutan.
Samar samar Gempa mendengar teriakan Anaya. Dia langsung melihat kesekelilingnya.
"Gempa...." teriaknya sangat melengking.
"Gempa, tolongin gue..." teriaknya lagi.
"Lo dimana, Nay?" teriak Gempa dan terus berjalan menuju sumber suara.
"Gempa....." teriak Anaya yang melihat suaminya dari arah kanan.
Gempa langsung berlari menuju Anaya, "Nay," ucap Gempa dalam pelukan Anaya.
"Gu-gue takut," isak Anaya.
"Gue udah di sini. Lo jangan takut." jawab Gempa sangat lembut.
Gempa melepaskan pelukannya, dia meraih kedua pipi Anaya lalu mencium keningnya cukup lama.
"Jangan pernah buat gue khawatir kaya gini lagi." ucap Gempa lalu menggendong tubuh Anaya ala bridal style untuk kembali menuju tempat Camping.
Disepanjang perjalanan Anaya terus saja menatap wajah tampan suami bayinya itu.
Cup
"Ganteng," jawab Anaya polos.
Gempa pun terus berjalan menuju tempat Camping. Dengan Anaya dalam gendongannya.
Beberapa menit kemudian mereka pun sampai di tempat Camping. Cici segera membawakan tandu untuk Anaya, namun Gempa menolaknya. Dia terus membawa Anaya menuju tendanya.
"Gempa," ucap Anaya. Namun Gempa hanya diam dengan wajah dingin dan datarnya.
Gempa menidurkan Anaya di dalam tenda, dia juga ikut masuk kesana lalu menutup tenda itu dengan rapat.
"Gempa." teriak Anaya terkejut.
Gempa tidak menjawab, dia terus menatap wajah cantik istrinya.
"Apaan sih lo," kesal Anaya salting sendiri.
"Cantik," ucap Gempa lalu menarik Anaya dalam pelukannya.
"Bobo bareng," lanjutnya lalu berbaring dengan memeluk tubuh Anaya.
"Gempa, tapi...." ucapan Anaya terpotong saat Gempa mendaratkan kecupan tepat di bibir ranumnya. Anaya membelalakan matanya terkejut. Sedangkan Gempa, dia menatapnya sambil tersenyum.
Hanya ciuman. Karena Gempa sadar kalo ini masih di tempat campung, jadi dia tidak mungkin melakukan hal yang lebih dari itu.
"Bobo, Nay" ucap Gempa lalu meletakan wajahnya pada cekukan leher Anaya.
"Gak usah bengong. Atau lo mau lagi?" tanya Gempa tanpa rasa malu atau dosa sedikitpun.
"Apaan sih lo, udah deh tidur," jawab Anaya kesal.
Beberapa menit kemudian, Gempa membuka matanya, memastikan Anaya sudah benar benar tertidur atau tidak. Setelah dia rasa Anaya benar benar sudah tertidur. Perlahan Gempa melepaskan pelukannya dengan sangat hati hati.
"Tunggu bentar yaa, sayang" ucap Gempa lalu mengecup bibir Anaya sekilas sebelum dia keluar dari tenda untuk menemui Ambra.
"Gimana keadaan Anaya?" tanya Ambra pada Gempa yang baru saja datang.
"Gak usah banyak bacot, bang. Gue lagi gak mau basa basi," jawab Gempa.
Ambra terkekeh, dia sudah hafal dengan segala sifat baik maupun buruk dari seorang Gempa Rafathar Al-Malik.
"Gue atas nama ketua penanggung jawab, meminta maaf yang sebesar besarnya sama lo dan Anaya," ucap Ambra tulus.
Gempa menatap Ambra dengan sinis, "Gue mau hajar lo bang," ucapnya.
Ambra mengangguk sebagai tanda bahwa ia mengijinkan Gempa memukulnya.
Tanpa aba aba Gempa pun langsung mendaratkan satu pukulan tepat pada rahang Ambra.
"Sekali lagi gue minta maaf," ucap Ambra sambil memegang sudut bibirnya yang terluka.
"Hmm," hanya itu jawaban dari Gempa. Dia segera berjalan kembali menuju tendanya.
"Abis dari mana?" tanya Anaya yang ternyata sedang asyik duduk sambil memainkan ponselnya.
Gempa merebut ponsel Anaya dengan kasar lalu menarik Anaya kembali berbaring. "Bobo lagi, ini masih malem," ucapnya sangat lembut.
"Tap..."
Gempa kembali mendaratkan kecupan pada bibir ranum Anaya, berbeda dengan yang tadi, sekarang dia bergerak lebih jauh.
Anaya masih diam. Dia sangat terkejut mendapat perlakuan yang seperti ini dari Gempa. Ini memang bukan first kiss nya, tapi ini pertama kalinya mereka berciuman dengan Gempa yang ******* bibirnya lembut.
"Hmmttt..." Anaya mencoba mendorong Gempa agar menjauh darinya, namun tenaga Anaya kalah kuat sehingga dia hanya bisa diam dan pasrah.
Gempa melepaskan ciumannya "Gak di bales," ucapnya lalu menyembunyikan wajahnya di cekukan leher Anaya.
Anaya masih diam. Dia cukup shock dengan kejadian beberapa detik yang lalu.
"Gem-Gempa lo..."
"Apa? Mau lagi?" tanya Gempa sedikit menggoda.
"Enggak," jawab Anaya cepat.
Gempa hanya tersenyum dalam cekukan leher Anaya.
"Leher lo wangi, Nay," ucapnya tiba tiba.
"Padahal gue belum mandi loh, Gem" jawab Anaya. Tangannya bergerak untuk mengelus punggung suaminya dengan lembut.
"Tapi kok lo tetep wangi sih?" tanya Gempa heran, dia terus mengendus endus leher Anaya dengan lembut.
"Akhhhh... Gempa." kesal Anaya karena Gempa mengecup lehernya dengan gemas.
"Kalo berbekas gimana?!" ucap Anaya dengan nada kesalnya.
"Yaa gak gimana gimana," jawab Gempa acuh dan terus meluncurkan aksinya.
"Gempa udah." ucap Anaya sambil memukul mukul punggung Gempa dengan keras.
"Galak banget sih," kesal Gempa. Diapun menyudahi aksinya dan memilih untuk tertidur di dalam pelukan Anaya.
Beberapa menit kemudian Gempa kembali membuka matanya, "Nanay, baby mau *****," ucap Gempa seperti anak kecil.
Bughh
...•.• BERSAMBUNG •.•...