AFTER AKAD

AFTER AKAD
DITO YANG SANGAT MENYEBALKAN



...•.• HAPPY READING •.•...


Gempa dan Anaya baru saja datang di apartemen nya.


"Nanay gue laper," ucap Gempa yang langsung merebahkan tubuhnya di sofa.


"Mau makan apa?" tanya Anaya sambil berjalan untuk menyimpan tasnya dan tas Gempa kedalam kamar.


"Mau susu," jawab Gempa dengan mata terpejam.


Anaya berjalan menuju dapur untuk membuatkan suami bayinya susu, "Tinggal rasa coklat, gakpapa kan?" teriak Anaya.


"Mau yang stroberi," jawab Gempa.


Anaya tidak menghiraukan ucapan Gempa, dia tetap membuatkan susu coklat untuk Gempa. Yang tersisa saja tinggal rasa itu, mau gimana lagi.


Anaya berjalan menuju sofa, "Nih," ucapnya menyodorkan gelas berisi susu coklat itu pada Gempa.


"Nanay... Ini susu coklat bukan stroberi." kesal Gempa.


Anaya masih acuh, dia malah asik menonton acara televisi di hadapannya.


"Gue gak mau," kesal Gempa menyimpan susu itu di meja dengan wajah cemberutnya.


Anaya masih tidak peduli. Mau gimana lagi? Susu yang tersisa hanya tinggal rasa coklat.


Gempa terus saja menggerutu tidak jelas sambil memukul mukul bantal love kesayangannya.


"Ihhh kesell..." gerutu Gempa.


"Mau susu stroberi..." gerutunya lagi sambil memukul mukul bantal love nya.


Awalnya memang Anaya masih bisa acuh tapi lama kelamaan telinganya terasa panas mendengar gerutuan dari suami bayinya ini.


"Susu stroberi nya abis. Yang ada cuma susu coklat." bentak Anaya kesal.


"Sisi sitribirinyi ibis ying idi cimi sisi ciklit," gumam Gempa kesal.


"Gue lagi cape loh Gem, gue juga lagi banyak masalah. Jangan sampe gue lampiasin ke lo." ucap Anaya kesal.


"Gue gak peduli," gumamnya sangat pelan, namun Anaya masih bisa mendengarnya "Oh gitu, Yaudah lo malam ini tidur di luar." ucapnya kesal.


Gempa langsung tersentak kaget mendengar ucapan Anaya barusan "Perasaan ngomong nya udah pelan, kok masih bisa denger" heran Gempa.


"Aaaaaa Nanay mahh... jangan gitu dong..." rengeknya seperti anak kecil.


Anaya masih acuh. Dia sudah terlanjur kesal dengan tingkah Gempa yang seperti bocah ini.


Gempa duduk menghadap Anaya "Nanay jangan marah," ucapnya lembut.


"Minum susunya," ucap Anaya datar.


"Tapi gue gak mau rasa coklat," jawab Gempa lirih.


Anaya mengambil gelas itu "Yaudah kalo gak mau biar gue yang minum," ucap nya sangat sangat kesal.


"Aaaaaaa... Jangan. I-iya gue minum," teriak Gempa dan langsung merebut gelas itu lalu meneguknya sampai habis.


"Nih udah abis, jangan marah lagi," ucapnya lalu merentangkan tangannya meminta Anaya memeluk tubuhnya, tapi Anaya masih diam tidak merespon.


"Nanay..." ucap Gempa sangat pelan.


"Sini," Anaya merentangkan tangannya, tanpa pikir panjang Gempa pun langsung berhambur dalam pelukan Anaya.


"Jangan marah, gue takut," ucap Gempa dalam pelukan Anaya.


"Gue gak bakal marah kalo lo nurut, lain kali kalo susu yang lo mau gak ada jangan kaya tadi, gue suka kesel kalo lo kaya gitu," ucap Anaya sambil mengelus rambut Gempa lembut.


"Gak marah lagi kan?" tanya Gempa mendongakna kepadanya menatap wajah cantik Anaya.


"Enggak," jawab Anaya tersenyum.


"Emmm... Eeee... Yang yang soal... Emm bobo diluar gimana?" tanya Gempa.


"Kalo lo mau ya silahkan," ucap Anaya tersenyum manis.


"Gak mau," jawab Gempa takut takut.


"Yaudah kalo gak mau, gue juga gak maksa," Anaya semakin mengeratkan pelukannya.


"Nanay," panggil Gempa, Anaya langsung menunduk menatap wajah suami bayinya itu.


"Mau cium," ucapnya sambil tercengir.


"Gak, lo belum mandi," jawab Anaya.


"Lo juga belum mandi," kesal Gempa cemberut.


Gempa melepaskan pelukannya, dia mengunci tubuh Anaya agar tidak bisa bergerak "Gempa lo mau ngapain," panik Anaya.


"Mau cium," jawabnya santai. Gempa semakin mendekatkan bibirnya pada bibir Anaya, sedikit lagi bibir mereka akan bersentukan namun bel lebih dulu berbunyi dan menggagalkan semuanya.


Ting tong


Ting tong


Anaya langsung mendorong tubuh Gempa menjauh darinya.


"Bangsat!!! Siapa sihh yang namu sore sore kaya gini," kesal Gempa mengepalkan tangannya.


Sedangkan Anaya, dia sudah berjalan untuk membuka pintu.


Ceklek


Anaya membuka pintu.


"DITO..." teriak Anaya terkejut saat melihat yang ada di depannya adalah Dito.


"Lo ngapain kesini?" tanya Anaya, tubuhnya seketika menjadi panas dingin. Gimana kalo Dito curiga dengan keberadaan Gempa di apartemen nya? Gimana kalo Dito mikir aneh aneh ? Gimana kalo Dito ember sama teman teman sekolahnya? Gimana? Gimana? Gimana? Itulah yang ada di fikiran Anaya saat ini.


"Gue di suruh rapatin acara buat besok," jawab Dito santai.


"Aduhhh... Gue kan udah bilang, GUE NGUNDURIM DIRI." ucap Anaya. Jujur saja dia sangat takut jika Gempa tau siapa yang datang dan Dito tau siapa yang berada di dalam.


"Tapi gue di suruh pembina, gue gak bisa nolak Nay, lo tau kan gimana lemesnya mulut pembina OSIS kita," jawab Dito.


"Siapa Nay?" teriak Gempa.


"Aduhhhh... Kenapa lo teriak segala sih Gem." batin Anaya.


"Loh di dalem ada Gempa? Lo..."


"Emm... Eee... Gempa lagi main tadi abis nganterin gue tapi dia kecapean jadi istirahat dulu," elak Anaya sebisa mungkin.


"Gue gak di suruh masuk nih?" tanya Dito.


"Emmm... Dit kayanya kita bahas lewat chat ajah deh, atau gak vc atau telpon gitu," ucap Anaya.


Gempa berjalan menghampiri Anaya yang masih setia berdiri di depan pintu "Sayang, kok lama bang...." ucapannya terpotong saat dia melihat siapa yang ada di hadapannya "Ngapain lo kesini?" tanya Gempa sinis.


"Lo sendiri ngapain di sini?" tanya balik Dito.


"Di tanya kok malah balik nanya," sinis Gempa.


Karena sudah terlanjur Anaya pun mempersilahkan Dito untuk masuk kedalam "Masuk Dit," ucapnya.


"Ngapain sih lo ajak dia kesini," kesal Gempa.


"Gue gak ngajak dia, kan lo tau tadi gue abis cek cok soal pengunduran diri..."


"Terus kenapa dia kesini." bentak Gempa.


"Dia di suruh pembina untuk rapatin acara camping buat besok," jawab Anaya.


"Kan lo sendiri yang bilang mau ngundurin diri. Kenapa lo masih ikut campur masalah OSIS." ucap Gempa emosi.


"Yaa gue juga gak tau," jawab Anaya. Memang dia benar benar tidak tahu menau soal ini.


"Gue gak mau tau. Lo usir dia atau gue yang pergi dan tidur di bascamp WARRIOR" ucap Gempa memberi pilihan.


"Gue gak bisa usir Dito gitu ajah, gu..."


"Yaudah kalo gitu, gue anggap lo pilih gue yang pergi dari apart" final Gempa lalu mengambil jaket hitamnya di dalam lemari.


"Gempa lo jangan gitu dong, kalo lo pergi berarti gue cuma berdua di sini, emang nya lo bisa jamin gue sama Dito gak bakal ngelakuin hal yang aneh aneh," ucap Anaya berdiri tepat di belakang Gempa.


"Kok lo gitu sih, berarti lo ada niatan buat selingkuh dari gue," ucap Gempa kesal.


"Yaaa kan nafsu gak ada yang tau, apa lagi kita cuma berdua," jawab Anaya, sebisa mungkin membuat Gempa luluh dengan ucapannya.


"Taudeh kesell." Gempa melemparkan jaketnya lesembarang tempat.


"Baby Gegem gak boleh marah, nanti ganteng nya ilang," ucap Anaya sangat lembut.


"Peluk," rengek Gempa kesal.


Anaya memeluk tubuh Gempa dengan sangat erat "Udah yaaa, jangan ngambek lagi," ucap Anaya sangat lembut.


"Nay, Anaya, lo gak di apa apain kan sama si Gempa?" teriak Dito dari balik pintu kamar.


"Dito anjing!!! Ganggu ajah." umpat Gempa kesal.


Anaya hanya terkekeh lalu melepaskan pelukannya dan berjalan untuk membuka pintu "Enggak kok, gue gak di apa apain," jawab Anaya santai.


"Kita rapat di ruang tamu ajah," ucap Anaya lalu berjalan menuju ruang tamu.


"Jadi gimana?" tanya Anaya.


"Acara malam pertama itu perjalanan malam, nanti setiap regu terdiri dari empat orang dua anggota OSIS dan dua siswa," jawab Dito.


"Nanti lo seregu sama gue, Nada dan Galang" lanjut Dito.


"Mana ada. Anaya seregu sama gue," teriak Gempa yang langsung duduk di samping Anaya.


"Gempa," bisik Anaya.


"Gue mau seregu sama lo," ucap Gempa berbisik.


"Lanjut Dit, gak usah dengerin dia," ucap Anaya.


"Nanay," bisik Gempa kesal.


Anaya menggenggam tangan Gempa erat "Gak boleh nakal," bisiknya.


Gempa hanya bisa pasrah dan memainkan jari jemari Anaya yang sangat indah dan putih.


"Siangnya itu free, malam kedua api unggun, permainan dan pentas seni," lanjut Dito.


"Emmm oke, tapi gue rasa kalo siang free emang gak bosen?!" ucap Anaya.


"Gak tau juga sih, atau lo ada usulan acara?" tanya Dito.


Anaya berfikir sejenak "Gimana kalo permainan nya di ganti siang ajah, biar ada kegiatan gitu," usul nya.


"Emmm... Boleh juga, oke deh berarti siang itu game dan malemnya api unggun sama pentas seni" ucap Dito.


"Heemm," jawab Anaya.


"Udah kan? Lo bisa balik sekarang," ucap Gempa.


"Hah lo? Maksud lo kita mungkin bukan gue ajah," jawab Dito.


"Dih ngapain gue balik, orang gue udah ada di rumah gue sendiri," sinis Gempa.


"Kalo lo gak balik gue juga gak akan balik," jawab Dito acuh.


"Hah!! Lo mau ngapain?" teriak Anaya terkejut.


"Ya nemenin lo lah, gue takut lo di apa apain sama dia," jawab Dito melirik sinis pada Gempa.


"Enggak kok Gempa gak bakal macem macem sama gue," ucap Anaya yang tau saat ini Gempa sudah sangat kesal dengan keberadaan Dito di apartemen nya.


"Kalo dia balik gue juga balik, tapi kalo dia masih di sini gue juga di sini," ucap Dito acuh.


"Lo pura pura keluar ajah deh Gem," bisik Anaya.


"Gak. Males." jawabnya kesal.


"Lo mau Dito di sini sampe malem?" tanya Anaya berbisik.


"Bodo amat. Gue gak peduli." jawabnya kesal.


"Lo udah nyiapin peralatan buat camping, Dit?" tanya Anaya.


"Belum, guru kan baru mutusin tadi, jadi gue gak ada persiapan apapun," jawab Dito seadanya.


"Kalo lo nunggu Gempa bisa kemaleman, nanti lo kapan beres beresnya?!" ucap Anaya, lebih tepat nya mengusir secara aestetic.


"Dia sendiri, dia juga kan ikut camping," jawab Dito.


"Tapi baju baju Gempa udah ada di sini, jadi tinggal gue masuk masukin kedalam tas," jawab Anaya, sedangkan Gempa, dia malah asik bermain ponsel di samping Anaya.


"Gempa sering nginep di sini?" tanya Dito.


"Kepo banget sih lo jadi babi." kesal Gempa.


"Anaya tuh udah ngusir lo dari tadi. Peka napa Anjing. Udah di usir juga gak tau malu banget." kesal Gempa.


Dito menatap Anaya, "Gue mau beresin baju gue sama baju Gempa," ucap Anaya tersenyum.


"Lo ngusir gue?" tanya Dito sedikit kesal.


"Ehh enggak kok, gue cuma nyuruh lo pulang, bukan ngusir," jawab Anaya tersenyum kaku.


"Yaudah deh kalo gitu, gue balik. Nanti kalo lo di apa apain sama dia telpon gue ajah," ucap Dito sambil memakai jas OSIS nya.


"Dihh anak ngen- mau gue ehem juga dia istri gue kali," gumam Gempa kesal.


Anaya mengantarkan Dito sampai depan pintu "Gue pulang ya, Nay. Jaga diri baik baik," ucap Dito mengelus puncak kepala Anaya lembut.


"Hemm, gue pasti bisa jaga diri kok," jawab Anaya malas.


"Pergi napa, lama banget sih, udah gue usir juga masih ajah gak mikir," batin Anaya.


"Gue pulang yaa, Assalamualaikum" pamit Dito.


"Waalaikumsalam," jawab Anaya dan langsung menutup pintu dengan keras.


...•.• BERSAMBUNG •.•...