
...•.• HAPPY READING •.•...
"Aaaaaa... Harimau, mamah tolong Nada..." teriak Nada sambil berlari secepat mungkin.
"Ya allah Nada gak mau mati muda, Nada masih mau nikah walaupun gak sama Jeno juga gakpapa, asalkan Nada selamat." teriaknya tak karuan.
Nada berhenti saat dia sadar bahwa dia dan ketiga temannya terpisah, "Aduh... Ini kemana lagi," ucapnya pada diri sendiri.
"Hiks ini gue di mana yaaa?!" gumam Nada terisak.
Sekarang dia seperti sudah jatuh, tertimpa tangga. Sudah di kejar harimau, terpisah dengan ketiga temannya pula.
Nada sangat bingung sekarang. "Jeno tolongin gue," isak Nada. Dia duduk di bawah pohon dengan memeluk kedua kakinya.
"Jenoo gue takut," isak Nada semakin lirih.
"Hiks... Hiks... Hiks..." Nada terus terisak dengan memeluk lututnya ketakutan.
"Jeno, tolongin Nada..." isaknya semakin lirih.
Disisi lain, kelompoknya Jeno sudah di berangkatkan oleh Cici. "Hati hati Jen," ucap Cici pada Jeno. Cici memang menyukai Jeno dari mulai dia bergabung di WARRIOR.
"Hem," jawab Jeno santai lalu berjalan menuju hutan.
"Kemana lagi nih?" tanya Mawar pada Jeno yang bertugas memegang peta.
"Kalo menurut peta ini sih kita lurus terus belok kiri," jawab Jeno sambil melihat peta yang ia pegang.
"Oke gass ngeng," jawab Amir semangat.
"Amir, Nadia takut," rengeknya sangat manja.
"Sini, sini peluk yayang Amir," ucap Amir merendahkan tangannya. Nadiapun memeluk tubuh Amir dengan sangat erat.
Mawar melirik sinis kearah Nadia, "Ganjen banget, NAJIS." ucap Mawar.
Nadia mendongak menatap Amir dengan tatapan sendu, "Gak usah di dengerin, dia itu syirik sama kita," ucap Amir mengelus rambut Nadia lembut.
"Hiks...hiks...hiks..." terdengar suara tangisan perempuan yang entah berasal dari mana.
"Tolong..." lagi lagi mereka mendengar isakan meminta tolong yang membuat bulu kuduk Mawar dan Nadia tiba tiba berdiri. Berbeda dengan Amir dan Jeno yang saling menatap, dan mempertahankan itu semua.
"Gue kaya gak asing sama nii suara," ucap Jeno. Memang suara itu tak asing terdengar di telingannya.
"Aaaaaa anjing... Tolongin gue woyy...." teriak Galang berlari terbirit birit menuju Jeno dan kawan kawan.
Bukk
Galang memeluk tubuh Mawar dengan sangat kasar, sampai sampai Mawar akan terjungkal kebelakang.
"Gue takut Ros, ta-tadi ada harimau," ucap Galang di dalam pelukan Mawar.
"Ros, Ros, lo kira gue kakaknya Masha and the bear." kesal Mawar berusah maelepaskan pelukan Galang.
"Upin ipin bego. Lo jangan nistain kartun favorit gue dong." teriak Galang kesal, dan semakin mengeratkan pelukannya.
Mawar memutar bola matanya malas. "Lo sekelompok sama Nada kan?" tanya Jeno yang langsung mendapat anggukan dari Galang.
"Terus si Nada mana? Anaya juga kemana? Kok mereka gak bareng sama lo?" tanya Jeno berturut turut.
"Gu-gue gak tau, tadi gue langsung ngibrit," jawab Galang seadanya. Memang benar, setelah dia melihat harimau itu dia langsung ngibrit meninggalkan ketiga temannya, dan melupakan tugasnya untuk menjaga Anaya.
"Astoge. Anaya bro. Gu-gue beneran lupa." ucap Galang melepaskan pelukannya. Raut wajah dia berubah menjadi takut plus khawatir.
Khawatir Anaya kenapa kenapa dan takut dia di hajar habis habisan oleh Gempa.
"Hiks... hiks... tolong..." suara tangisan itu kembali terdengar.
Tanpa pikir panjang Jeno segera berlari mencari sumber suara tangisan itu, dia sangat yakin bahwa itu adalah Nada. Dia sangat hapal dengan suara Nada yang selalu ia rindukan.
"Nada...." teriak Jeno.
"Nada lo dimana, Nad?" teriak Jeno lagi dan berusaha mencari sumber tangisan itu.
"Hiks... Hiks... Hiks... Takut," isaknya lagi.
"Nada jawab gue. Lo dimana, Nad?" teriak Jeno semakin khawatir.
"Nada, jawab gue. Jangan bikin gue khawatir, Nad." teriak Jeno lagi.
"Nada lo dimana, Nad? Jangan bikin gue khawatir kaya gini, Nada." ucap Jeno mulai frustasi.
"Hiks... Hiks... Jeno tolongin Nada," isak Nada lirih di bawah pohon.
"Nada." teriak Jeno yang sudah menemukan titik keberadaan Nada.
Jeno langsung berlari dan memeluk tubuh Nada dengan sangat erat, "Gue takut, hiks.. Hiks.. Hiks.." isak Nada dalam pelukan Jeno.
"Gue udah di sini, lo gak usah takut lagi," ucap Jeno berusaha menenangkan Nada dengan mengelus punggungnya lembut.
"Hiks... Hiks..." isak Nada, tapi tidak sehisteris sebelumnya. "Ta-tadi ada harimau, gue takut Jen," adu Nada pada Jeno.
"Tenang yaa, gue udah ada di sini, lo gak usah takut," ucap Jeno sangat lembut.
Nadapun sudah mulai tenang sekarang, "Kita balik ke tempat camping ajah yaa," ucap Jeno lalu menuntun Nada menuju tempat camping.
"Lo gak usah takut lagi," ucap Jeno saat tangan Nada masih gemetar kuat. Dia menarik tubuh Nada kedalam pelukannya, "Jangan takut," Nada hanya tersenyum kearah Jeno.
Di lain tempat, Gempa, Siska, Dimas dan Vanta bersiap siap untuk melakukan perjalanan.
"Hati hati Gem," peringat Cici. Selain menyukai Jeno, Cici juga menyukai Gempa dan Gaga. Yaaa wajarlah mereka bertiga itu memiliki sikap yang dingin, yang membuat para cewek klepek klepek dibuatnya.
Gempa tidak menjawab dia, langsung berjalan meninggalkan Cici dan kelompoknya.
"Gempa tungguin gue dong," rengek Siska dan langsung merangkul tangan Gempa manja.
"Lepas Sis, gue risih" kesalnya dan melepaskan tangannya dari rangkulan Siska.
"Ihh... Gue takut," ucapnya sangat manja.
"Lo takut?" tanya Vanta dengan senyum liciknya. Dia meraih tangan Siska lalu memelukannya pada sebuah pohon yang ada di sampingnya, "Rangkul tu pohon sampe mampus." ucap Vanta dengan segala kekesalannya.
"Vanta!!! Lo nyebelin banget sih?!!!" teriak Siska kesal. "Aaaa... Gempa baju gue jadi kotor," rengek Siska pada Gempa.
Gempa hanya menatap Siska dengan tatapan datarnya. "Gempa, marahin Vanta. Dia jahat sama gue," rengek Siska lagi. Namun Gempa masih acuh.
"Mending lo sama gue ajah sini," ucap Dimas lalu menarik tangan Siska.
"Ihh maunya sama Gempa," kesal Siska menepis tangan Dimas kasar.
Sedangkan di tempat yang lain, Anaya sedang berlari terbirit birit, "Gempa tolong gue...." teriak Anaya ketakutan.
Sudah cukup lama dan jauh Anaya berlari. Dan mungkin sekarang dia sudah berada jauh dari tempat camping mereka. Karena disini sangat gelap dan sepi.
Bukkk
"Aduhh..." ringis Anaya saat dia tersandung sebuah akar pohon.
Anaya jatuh tersungkur di tanah, "Ada ada ajah sih, lagi di kejar harimau pake kesandung segala," gumam Anaya lalu beranjak untuk melanjutkan larinya.
"Oh ****... Kenapa kaki gue sakit banget," ringisnya. Anaya pun memutuskan untuk duduk, untuk meredakan sakit di bagian lututnya.
Aummmm...
Ngauman itu terdengar kembali yang membuat Anaya kembali ketakutan. Dengan sekuat tenaga dia berlari entah kemana, asalkan dia bisa selamat. Fikirnya.
...•.• BERSAMBUNG •.•...