AFTER AKAD

AFTER AKAD
SEKOLAH



Anaya dan Gempa sedang sarapan bersama sebelum mereka berangkat sekolah.


"Nay, pulang sekolah gue izin nongkrong bentar yaa," ucap Gempa di sela sela makan roti selai coklatnya.


"Iya, tapi pulang nya jangan malem malem takut gue ketiduran nanti gak ada yang bukain pintu," jawab Anaya santai.


"Siap," ucap Gempa mengangkat tangannya hormat.


Selesai sarapan Anaya dan Gempa bersiap siap untuk berangkat sekolah.


"Dasi lo mana?" tanya Anaya, karena Gempa tidak memakai dasinya.


"Ada, nih," jawab Gempa sambil melirik saku celananya.


Anaya menggeleng gelengkan kepalanya tak habis fikir lalu mengambil dasi dari saku celana Gempa "Dasi itu dipakenya dileher bukan di saku" ucap Anaya sambil memasangkan dasi di leher Gempa.


"Tapi nanti aura bad boy gue berkurang, Nay. Gue gak mau pake dasi," ucap Gempa cemberut. Anaya hanya menatap Gempa sambil tersenyum.


"Anaya gue gak mau pake dasi, nanti gue gak ganteng lagi," rengek Gempa kesal.


"Kata siapa lo gak ganteng kalo pake dasi? Buktinya sekarang lo malah tambah ganteng," ucap Anaya sambil merapihkan pakaian Gempa.


"Udah, lo tambah ganteng, ganteng banget malah," ucap Anaya tersenyum.


Cup


Gempa mengecup dahi Anaya sekilas.


"Makasih Anaya," ucap Gempa tersenyum.


Mereka berangkat sekolah dengan mengendarai motor ninja hitam milik Gempa.


Beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di parkiran SMA Mandala. Semua pasang mata langsung tertuju pada Gempa dan Anaya yang berboncengan.


Mereka sangat aneh dengan dua makhluk yang tiba tiba akur ini. Biasanya Gempa akan ngamuk dan marah marah pada Anaya apalagi saat Anaya menghukum Gempa dengan sangat tidak manusiawi. Tapi sekarang mereka berangkat bareng bahkan sangat mesra.


Gempa memarkirkan motornya di tempat parkir khusus inti WARRIOR. yang langsung disebut oleh Amir, Jeno, Galang, Dimas, Gaga, dan Niko.


"Wwooooo ketua sama ibu negara datanggg..." teriak Amir heboh.


"Kemarin abis ngen- ya bos, sampe gak masuk sekolah," teriak Galang tanpa dosa sedikitpun.


"Hati hati," ucap Gempa saat Anaya turun dari motornya.


"Kemarin kok gak sekolah Nay?" tanya Gaga santai.


"Iya, kita telat makanya gak masuk," jawab Anaya sambil mencopot helm yang ia pakai.


Gempa hanya menatap datar Anaya yang mengobrol dengan Gaga. Rasanya dia ingin sekali merengek seperti biasanya, tapi dia harus bisa menahan itu semua di depan teman temannya. Bisa jatuh reputasi sebagai ketua gang yang sangat ditakuti oleh seluruh anak SMA jika dia merengek di depan mereka.


"Mana helm lo, masuk kelas sana," ucap Gempa datar.


"Iya, nih" jawab Anaya memberikan helmnya pada Gempa.


"Gue ke kelas duluan yaa, daah" pamit Anaya pada semuanya.


"Daah," jawab mereka bersamaan kecuali Gempa tentunya.


"Gak usah di jawab." tegas Gempa dengan wajah datarnya.


Mereka hanya mengangkat bahunya acuh dan berjalan mengikuti Gempa dari belakang.


"Hii, kak Gempa" sapa salah satu adik kelas berkerudung putih.


"Hii, Gem, baru datang yaa?" sapa Siska basa basi. Namun Gempa tidak menghiraukan ucapannya, Gempa terus berjalan menuju kelasnya.


"Gem, Gempa," teriak Siska kesal karena Gempa mengacuhkan dirinya.


Semua adik kelas menahan tawa melihat Siska yang di acuhkan Gempa. Ini memang bukan pertama kalinya Siska seperti ini tapi tetap saya terasa lucu bagi adik adik kelasnya.


"Diem lo semua." teriak Siska emosi lalu pergi menuju kelasnya.


"Hii, Nay," sapa Dito yang dibalas senyuman oleh Anaya.


"Semalem kenapa gak bales chat gue?" tanya Dito.


"Ketiduran, maaf ya Dit gue lagi buru buru," ucap Anaya berjalan meninggalkan Dito begitu saja.


Gempa hanya menatap datar Anaya yang ketakutan karena dia melihat Anaya sedang mengobrol dengan Dito barusan.


"Gem, woyy" teriak Niko.


"Lo mau kemana Anjing," teriak Amir saat melihat Gempa terus berjalan padahal sudah di depan kelasnya.


"Ke kelas lah, kemana lagi," jawab Gempa datar.


"Btw ini kelas kita kalo lo lupa," ucap Jeno sambil menyender pada tiang.


Gempa berbalik badan, menatap satu persatu wajah teman temannya "Emang bener?" tanya Gempa polos.


"Unfaedah, masuk." perintah Gaga. Mereka semua masuk kedalam kelas tanpa ada yang menjawab pertanyaan dari Gempa.


"Sialan. Dikacangin gue." kesal Gempa lalu berjalan memasuki kelas.


Seperti hari hari sebelumnya Anaya dan anak osis lainnya akan mengecek sekeliling sekolah memastikan bahwa tidak ada murid yang bolos.


"Tumben gang nya si Gempa gak bolos," gumam Dito.


"Seharusnya lo bersyukur, jadi kita gak usah cape cape ceramahin mereka," ucap Anaya santai.


"Hmm baguslah." ucap Dito "Semuanya silahkan kembali ke kelas masing masing" perintah Dito.


"Ayo Nay gue anter ke kelas," ucap Dito menggandeng tangan Anaya menuju kelasnya.


"Sorry Dit, gak usah pegang tangan gue, gak enak sama yang lain" ucap Anaya melepaskan tangannya dari Dito.


Dito terkekeh "Gakpapa kali Nay, sekali kali" ucap Dito santai.


Anaya tidak menjawab dia masih terus berjalan menuju kelasnya.


"Tumben cepet, emang gak ada yang bolos?" tanya Vanta heran. Karena biasanya Anaya akan menghabiskan satu jam pelajaran hanya untuk mengurus anak anak yang membolos.


"Enggak," jawab Anaya lalu duduk ditempat nya.


"Si Gempa?" tanya Mawar.


"Gue udah nasehatin dia supaya gak bolos mapel lagi," jawab Anaya santai.


"Seharusnya kalian bersyukur, berarti sekolah kita gak akan di cap nakal lagi," ucap Nada santai.


Bell pelajaran pertama pun sudah berbunyi. Semua siswa duduk rapih ditempat nya masing masing.


Ditengah tengah pelajaran kelas 12 MIPA 1 dikejutkan dengan dobrakan pintu yang cukup keras.


"Amir, ngapain kamu lari lari sampai salah masuk kelas," ucap pak Andi. Amir tidak menjawab dia berjalan menghampiri Anaya dengan napas yang tersenga senga.


"Gempa, Nay" ucap Amir ngos ngosan.


Deg


Anaya mulai khawatir dengan kondisi Gempa.


"Gempa kenapa?" tanya Anaya khawatir.


"Di-dia berantem sama Dito," jawab Amir.


"Dimana?" tanya Anaya lagi.


"Di gudang" jawab Amir.


Tanpa fikir panjang Anaya segera berlari keluar kelas. Bahkan dia belum sempat meminta izin pada pak Andi. Anaya terus mempercepat larinya agar bisa sampai ke gudang dengan cepat.


"Udah Gem, ini masih pagi" teriak teman temannya yang berusaha memisahkan Gempa dan Dito.


"Gempa. Dito." teriak Anaya yang berhasil menghentikan keributan dari mereka berdua.


Anaya berjalan mendekat kearah Gempa dan Dito yang masih terkejut dengan kedatangan Anaya.


"Kenapa kalian berantem?! Kalo mau berantem bukan di sini tempatnya!!" tegas Anaya.


Gempa hanya menatap Anaya datar sedangkan Dito menatap Anaya takut, takut Anaya berfikir bahwa dia laki laki yang gak bener seperti Gempa.


"Nay ini gak seperti yang lo liat, gue cuma ladenin dia" ucap Dito perasaan nya sudah tidak karuan.


"Lo itu ketua osis. Ketua dari semua siswa. Seharusnya lo itu memberi contoh yang baik, bukan malah kaya gini." ucap Anaya kesal.


"Dan lo," Anaya menunjuk wajah Gempa. "Lo udah janji sama gue kalo lo gak bakal bikin ulah lagi." lanjut Anaya.


Gempa hanya menatap wajah Anaya datar dia benar benar sangat emosi saat ini.


"Kalian bawa Dito ke UKS," perintah Anaya pada teman teman Gempa.


"Lo ajah yang bawa gue ke UKS," ucap Dito menggandeng tangan Anaya keluar gudang.


Gempa hanya menatap datar kepergian Anaya dan Dito dengan emosi yang sudah menggebu gebu.


"Sorry Dit, gue gak bisa," jawab Anaya melepaskan genggaman nya lalu berlari masuk kembali kedalam gudang.


"Kalian bawa Dito ke UKS," perintah Anaya sekali lagi pada teman teman Gempa. Merekapun berjalan keluar gudang.


"Gem," ucap Anaya menghampiri Gempa yang sedang duduk di kursi dekat jendela.


"Gak usah sentuh gue," ucap Gempa datar.


"Gempa lo marah sama gue?" tanya Anaya lembut. Namun Gempa masih setia memandang keluar jendela tanpa menjawab pertanyaan dari Anaya.


"Gempa maafin Anaya yaaa, maaf Anaya udah bentak bentak, maaf juga tadi tangan Anaya di pegang sama Dito," ucap Anaya lembut.


Gempa beranjak dari duduknya "Gue gak suka lo deket deket sama cowok lain, gak cuma dito." ucap Gempa datar.


"Gempa maafin Anaya yaaa," ucap Anaya di dalam pelukan Gempa.


Gempa masih belum membalas pelukan Anaya dia masih sangat emosi. "Anaya janji gak bakal deket deket cowo lagi" ucap Anaya semakin mengeratkan pelukannya.


Gempa mulai membalas pelukan Anaya "Awas kalo gue liat lo deket deket cowo lagi, jangan harap dia bisa selama." ucap Gempa.


Anaya melepaskan pelukannya "Tadi di pukul sama Dito?" tanya Anaya.


Gempa menggeleng "Enggak," jawabnya lalu memeluk kembali tubuh Anaya dengan erat.


Mereka berpelukan cukup lama sampai...


"Anaya" teriak keempat sahabatnya.


Anaya dan Gempa terkejut dan menjauhkan tubuhnya satu sama lain.


"I-iya" jawab Anaya gugup.


"Lahh katanya berantem?! Kok sepi sih," heran Andin.


Gempa hanya menatap datar keempat sahabat Anaya.


"Ikut gue," ucap Gempa menarik tangan Anaya keluar gudang meninggalkan keempat sahabat Anaya yang menatap mereka aneh.


"Gempa pelan pelan," ringis Anaya karena Gempa menarik tangan nya sangat kencang.


"Duduk," perintah Gempa pada Anaya. Ternyata Gempa membawa Anaya menuju taman belakang yang jarang sekali di datangi orang.


Anaya duduk di samping Gempa yang masih berekspresi datar.


"Gempa senyum dong," ucap Anaya. Jujur saja jika ekspresi Gempa seperti ini Anaya sangat takut dan bingung harus berbuat apa.


Gempa memeluk tubuh Anaya erat "Gue kesell... Aaaaaa Anayaa...." rengek Gempa didalam pelukan Anaya.


Anaya menghembuskan nafasnya lega "Fyuhhh, akhirnya" batin Anaya.


"Kesel kenapa?" tanya Anaya lembut sambil mengelus elus rambut Gempa lembut.


"Kesel sama Dito, sama Gaga juga," rengek Gempa manja.


"Iyaa, keselnya kenapa? Masa kesel gak ada sebabnya sih," ucap Anaya.


"Tadi pagi Gaga nanya kenapa lo gak masuk sekolah, gue gak suka kalo ada cowok nanya sama lo, Iiihhh tambah kesel kan." rengek Gempa semakin keras.


Anaya hanya terkekeh mendengar ucapan Gempa barusan. "Terus kalo sama Dito? Kesel kenapa?" tanya Anaya lembut.


"Dia ngajak lo ngobrol, dia juga pegang tangan lo tadi," jawab Gempa kesal.


"Udah yaaa jangan kesel lagi, mereka kan cuma bisa ngobrol sama pegang tangan sedangkan lo bisa meluk gue kapan pun dan dimana pun," ucap Anaya tersenyum.


"Aaaaaaaa Anaya gue malu..." teriak Gempa semakin menenggelamkan wajahnya pada leher Anaya.


"Kalian sedang apa?!" ucap seseorang dari belakang.