
...•.• HAPPY READING •.•...
Semua siswa siswi kelas XII sedang berkumpul di lapangan untuk persiapan dan pengarahan camping.
Anaya sedang sibuk mengabsen, takut ada siswa yang tidak hadir. "Loh Amir mana?" tanya Anaya pada teman sekelasnya.
"Gak tau, tadi pagi sih ada," jawabnya.
Anaya langsung mengabsen inti WARRIOR terlebih dahulu. "Dimas?" panggil Anaya.
"Gak ada Nay, semua gang nya Gempa gak ada di sini," ucap salah satu teman sekelasnya Gempa.
Sudah Anaya duga, mereka itu seperti satu paket. Jika satu orang tidak ada, sudah di pastikan yang enam juga gak ada.
Anaya berjalan menghampiri Dito yang sedang memberi arahan pada anggita OSIS. "Dit, tolong absenin anak anak dulu dong, gue kebelet," ucapnya berbohong.
"Emm oke, Siska tolong lo lanjutin absen anak anak," ucap Dito yang langsung dibalas anggukan oleh Siska.
"Nih tinggal 12 IPS 2," ucap Anaya lalu pergi meninggalkan lapangan. Anaya berjalan menuju kantin tempat WARRIOR biasanya nongkrong.
Dan benar saja, mereka sedang asik mengobrol sambil tertawa gak jelas. Anaya segera menghampiri mereka.
"Kalian lagi ngapain disini?!" teriak Anaya tegas.
Mereka semua langsung menatap Anaya terkejut sedangkan Gempa menatapnya datar.
"Kita lagi sarapan dulu Nay," ucap Amir.
"Yoi Nay, takut di sana gak di kasih makan," lanjut Galang.
"Gempa," Anaya menatap Gempa dengan penuh intimidasi.
"Kita lagi makan. Lo kan punya mata, ngapain juga harus nanya segala," jawabnya acuh.
"Kelapangan SEKARANG!!!" tegas Anaya.
"Nanti ajah lah Nay kalo udah mau berangkat," jawab Jeno santai.
"Panas Nay," ucap Dimas.
"Mending duduk sini Nay, deket babang Niko," ucap Niko sambil menepuk nepuk bangku disebelahnya.
"Kelapangan sekarang," bukan Anaya, melainkan Gempa. Karena dia sangat sangat kesal jika ada yang menggoda Anaya.
Gempa beranjak dari duduknya lalu menggandeng Anaya menuju lapangan. "Gue gak suka lo kaya tadi." ucap Gempa datar.
"Gue juga gak suka lo kaya tadi," jawab Anaya datar.
"Serah." final Gempa lalu melepaskan gandengannya pada tangan Anaya.
Sesampainya di lapangan Anaya langsung berjalan menghampiri Dito dan anak anak OSIS yang lain, sedangkan Gempa dia baris di barisan kelasnya.
"Udah?" tanya Dito yang di balas anggukan oleh Anaya.
"Dit, bisnya udah datang," ucap salah satu anggota OSIS.
"Oke lo sama Siska siapin anak anak, gue sama Anaya ngatur mobilnya dulu," ucap Dito lalu menggandeng Anaya keluar lapang.
Gempa menatap sinis kearah Anaya dan Dito yang saling bergandengan.
"Ikut gue," ucap Gempa pada keenam temannya.
"Kemana lagi, kita udah mau berangkat," jawab Gaga malas.
"Banyak bacot ya lo, tinggal ikut apa susahnya," kesal Gempa lalu berjalan meninggalkan lapangan di ikuti keenam temannya di belakang.
Gempa berjalan mengikuti Anaya dan Dito ke parkiran sekolah.
"Anaya," panggil Gempa. Anaya pun refleks langsung melepaskan gandengannya dari Dito.
"Kita mau ngecek bis," ucap Anaya. Jujur saja sekarang dia merasa takut. Takut Gempa salah paham. Takut Gempa marah. Takut Gempa ahh sudahlah. Intinya Anaya sangat takut sekarang.
Gempa menatap Dito sangat sinis, Anaya yang mengerti pun langsung menyuruh Dito untuk jalan duluan "Lo duluan ajah Dit, nanti gue nyusul," ucap Anaya.
"Gak! Kita kan mau ngecek bis, jadi lo harus bareng gue," jawab Dito tegas.
"Nanti gue nyusul. Gue mau ngomong sama Gempa dulu." ucap Anaya sedikit kesal.
"Yaudah kalo dia gak mau pergi. Kita ajah yang pergi." ucap Gempa menggandeng tangan Anaya. "Kalian bantuin dia ngecek bis," ucap Gempa pada keenam temannya.
"Gempa mau kemana sih?" tanya Anaya di sela sela mereka berjalan.
Di tempat yang lumayan sepi, Gempa melepaskan tangan Anaya "Harus bilang berapa kali KALO GUE GAK SUKA LO DEKET DEKET SAMA COWOK LAIN!!!" bentak Gempa.
"Gempa gue cuma mau ngecek bis ajah, gak lebih." jawab Anaya dengan nada tak kalah tinggi.
Gempa berdecih "Ngecek bis? NGECEK BIS EMANG HARUS GANDENGAN?!"
"Ngomong ajah kalo lo gatel," lanjutnya.
"Cukup ya Gem. Gue cape. Terserah lo mau katain gue apa, toh kenyataannya gue gak se gatel yang lo kira." ucap Anaya lalu berjalan meninggalkan Gempa. Namun baru dua langkah tangan Anaya sudah di pegang oleh Gempa.
"Kenapa lagi?" tanya Anaya malas.
"Gue jalan duluan," ucapnya lalu berjalan mendahului Anaya.
Disepanjang perjalanan Anaya terus saja mengumpati suami dakjalnya itu.
"Lama banget," ucap Dito pada Anaya.
"Hem, udah di cek semua kan?" tanya Anaya malas.
"Udah kok, udah gue cek semua" jawab Dito.
"Lo duduk sama gue," lanjutnya.
"Ehemm," dehem Gempa bersedekap dada.
"Emm Dit kayanya gue duduk sana Vanta ajah deh," ucap Anaya.
"Vanta udah sama Nada," jawabnya.
"Ohh gitu yaa," ucap Anaya.
Gempa berjalan memasuki bis tanpa memperdulikan Anaya dan Dito.
"Brooo" teriak Amir sangat kencang.
"Sini bro kita udah siapin kursi buat lo dan ibu negara," lanjutnya.
Gempa berjalan menuju bangku yang sudah teman temannya siapkan.
"Di gondol anjing," jawab Gempa kesal. Dia memakai earphone nya dan mendengarkan lagu dengan volume yang cukup keras.
Bis pun sudah mau berangkat, "Ehh ibu negara, silahkan duduk bu, kita sudah menyiapkan kursi khusus untuk ibu negaranya WARRIOR," ucap Dimas mempersilahkan Anaya duduk di sebelah Gempa.
Sedangkan Gempa, dia masih asik mendengarkan musik dan sepertinya dia tidak sadar dengan kedatangan Anaya di sampingnya. Buktinya saja dia masih asik memejamkan mata.
Anaya mencabut sebelah earphone yang digunakan Gempa "Baby," bisik Anaya.
Gempa membuka matanya "Ngapain lo disini?" tanya Gempa terkejut.
"Duduk lah," jawab Anaya acuh.
Gempa memalingkan wajahnya memandang keluar jendela.
"Gempa lo masih marah?" tanya Anaya, namun Gempa masih setia memandang keluar jendela.
"Ini tempat gue," ucap Siska yang baru saja datang.
"Oh yaa," jawab Anaya acuh.
"Iya lah, lo juga ngapain sih disini, bukanya lo duduk sama Dito" ucap Siska bersedekap dada.
Anaya melirik Gempa sekilas, ternyata dia masih asik memandang keluar jendela dan tidak memperdulikan Anaya sama sekali.
"Oke, silahkan. Gue juga mau pindah kok," ucap Anaya bersiap siap untuk pindah tempat duduk, namun tangannya lagi lagi di cekal oleh Gempa.
"Kenapa gak lo ajah yang duduk sama Dito," ucap Gempa sangat datar.
"Tapi gue kan mau duduk sama lo," jawab Siska manja.
"Ribet banget sih lo jadi cewek," sinis Gempa lalu menarik tubuh Anaya kedalam pelukannya.
"Pergi lo sana, bis udah mau jalan, lo mau kaya gitu terus sampe tempat camping?!" lanjut Gempa.
Dengan kesal Siska pun berjalan dengan kaki yang di hentak hentakan.
"Gempa lo gak marah lagi?" tanya Anaya lembut.
"Gempa jawab," ucapnya sekali lagi, namun Gempa masih diam dan memejamkan matanya.
Anaya menghela nafasnya gusar, "Gempa aneh," gumam Anaya kesal.
Gempa semakin mengeratkan pelukannya. Begitupun dengan Anaya, dia terus mencari kenyamanan di dalam pelukan Gempa.
Mereka berdua saling berpelukan satu sama lain tanpa memperdulikan tatapan tatapan syirik dan dengki dari teman teman sekolahnya. Berbeda dengan teman teman Gempa yang malah musam mesem tidak jelas, apalagi Amir, dia terus saja mengambil momen kedua pasutri gemoy itu.
Karena perjalanan nya lumayan jauh, mereka memutuskan untuk menepi terlebih dahulu, hanya untuk jajan dan melepas penat sebelum melanjutkan perjalanan.
"Bos, istri lo mau jajan apa? Biar kita yang beliin," ucap Jeno.
"Nay, sayang," bisik Gempa di telinga Anaya.
"Sayang," bisiknya lagi.
"Emmm apa?" tanya Anaya yang masih memejamkan matanya.
"Lo laper gak? Mau jajan apa?" tanya Gempa lembut.
"Gak. Gue gak laper," jawab Anaya yang malah semakin menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Gempa.
Jeno mengangkat alisnya meminta kepastian, "Beliin susu kotak sama roti ajah," ucap Gempa yang langsung mendapat anggukan oleh Jeno.
"Ehem," dehem seseorang.
Dengan cepat Gempa pun menoleh pada sumber suara.
"Gak usah peluk pelukan kaya gitu, ini acara sekolah bukan acara lo berdua," ucap Dito sinis.
Gempa hanya menatapnya datar, sedangkan Anaya yang terusik dia perlahan membuka matanya.
"Kenapa Dit?" tanya Anaya bingung.
Dito tidak menjawab, dia hanya menatap Anaya yang sedang dalam pelukan Gempa.
"Ehh emm sorry, tadi gue ketiduran jadi Gempa peluk gue, takut jatoh." ucap Anaya melepaskan pelukannya.
"Oh," jawab Dito singkat lalu berjalan untuk mengecek yang lainnya.
"Tidur lagi," ucap Gempa, tidak, sepertinya itu perintah.
"Gue udah gak ngantuk," jawab Anaya lalu memainkan ponselnya.
"Ekhemm," dehem Gempa yang tak suka jika Anaya bermain ponsel ketika bersama nya.
Anaya masih acuh dan bermain ponselnya dengan santai.
"Mending lo pindah deh, kesel gue liat lo main hp mulu," ucap Gempa kesal.
"Apa sih Gem, baru juga gue main hp, tadi kan gue tidur" jawab Anaya.
"Tapi gue gak suka," kesal Gempa lalu merampas ponsel Anaya paksa.
"Apaan sih Gem, main rampas rampas ajah," kesal Anaya.
"Gue kan udah bilang GUE GAK SUKA KALO LO LAGI SAMA GUE MALAH MAIN HP," tegas Gempa.
"Sini peluk," lanjutnya datar.
Anaya menyender pada dada bidang Gempa, "Bobo, nanti kalo udah sampe gue bangunin," ucapnya sambil mengelus rambut Anaya dengan lembut.
"Nih bos, susunya tinggal rasa coklat ajah, gakpapa kan?" tanya Jeno menyodorkan sekantong plastik pada Gempa.
"Hemm, nanti gue ganti," jawab Gempa menerima plastik yang diberikan Jeno.
"Selow ajee," jawab Jeno lalu duduk di tempatnya.
"Makan dulu Nay, gue tadi nitip susu sama roti buat lo," ucap Gempa pada Anaya.
"Enggak deh, gue gak laper" jawab Anaya.
Cup
Gempa mengecup puncak kepala Anaya sekilas "Bobo nanti gue bangunin kalo udah sampe," ucap Gempa sangat lembut.
Anaya pun menurut, dia memejamkan matanya dan menikmati elusan lembut tangan Gempa di punggungnya.
"Good sleep my beautiful wife," ucap Gempa semakin mengeratkan pelukannya.
...•.• BERSAMBUNG •.•...