
...•.• HAPPY READING•.•...
Hari ini adalah hari sabtu. Waktunya Anaya dan baby Gegem bersatuy dan bermesra mesraan.
"Nanay peluk," rengek Gempa manja.
"Ini udah siang Gempa, apa lo gak cape tiduran terus dari tadi," ucap Anaya. Jujur saja badannya sudah sangat pegal karena Gempa terus saja minta di temenin tidur.
"Aaaa gak mau, gue mau di peluk... Nanay ayo peluk gue iiiihhhh..." rengek Gempa mulai kesal.
"Gak!! Gue gak mau. Gue mau mandi terus ke rumah bunda." jawab Anaya lalu beranjak dari tidurnya.
"Huaaaaaaaaa... Nanay jahat!! Lo gak sayang gue, huaaaaaaa Lo jahat..." teriak Gempa sangat kencang.
"Astaga, mimpi apa gue bisa punya sumi kaya lo Gem, Gem. Diluar ajah so sangar tapi dalem nya pingky." ucap Anaya kesal. Dia lalu memeluk Gempa agar tidak terus terusan berteriak seperti bocah.
"Lo jahat. Lo gak sayang gue. Lo jahat." ucap Gempa dalam pelukan Anaya.
"Lo bilang gitu lagi gue tinggal ya Gem. Gak baik bilang istri sendiri jahat." ancam Anaya sambil terus menenangkan Gempa dengan mengelus elus rambutnya.
"Mau cium," ucap Gempa sangat manja.
"Gak. Lo belum mandi," jawab Anaya ketus.
"Tuhh kan jahat lagi. Udah deh sana gue mau bobo ajah. Gue mau bobo sendiri gak mau sama lo lagi." Gempa melepaskan pelukannya dengan wajah cembelutnya dia berbaring membelakangi Anaya.
"Manja banget Masyaallah bayi gue," ucap Anaya sambil mengelus elus rambut Gempa lembut.
Cup
Anaya mengecup pipi Gempa cukup lama "Gak boleh marah nanti gue tinggal beneran gimana?!" ucap Anaya lembut.
"Jangan..." dengan cepat Gempa memeluk tubuh Anaya dengan erat.
"Nanay gak boleh ninggalin baby Gegem, nanti baby Gegem nangis." ucapnya seperti anak kecil.
"Yaudah jangan suka ngambek kalo gak mau di tinggal." jawab Anaya lembut.
"Nanay, baby mau ini," ucap Gempa sambil ndusel ndusel di dada Anaya.
Anaya mengerutkan dahinya masih belum mengerti dengan permintaan suami bayinya itu.
"Mau ini," lanjut Gempa menunjuk apa yang dia mau dengan lirikan matanya.
"Anaya sudah mengerti apa yang Gempa inginkan, dia langsung mendorong tubuh Gempa menjauh dari tubuhnya "Gempa mesum lo, anj..." teriakan Anaya terhenti saat Gempa lebih dulu berteriak sambil menangis.
"Huaaaaaaaa Anaya jahat huaaaaaaaa bundaaa Nanay jahat..." teriak Gempa menghentak cetakan tangan dan kakinya pada tempat tidur.
Anaya menepuk jidatnya sangat frustasi "Sttttt jangan teriak teriak," ucap Anaya kesal.
"Lo jahat huaaaaa bundaaa Nanay jahat bunda..." teriak Gempa semakin keras.
"Gue banjur ya Gem." ancam Anaya geram. Tapi bukannya takut Gempa malah semakin berteriak.
Anaya menghela nafasnya panjang "Baby Gegem mau apa?" tanya Anaya lembut.
"Ma-mau i-itu," jawab Gempa sesegukan sambil menunjuk pada 'ehem lah pokonya'
"Yang lain yaa, baby Gegem gak boleh nakal," ucap Anaya sangat sangat lembut.
"Ma-mau min-um di gel-gelas ajah," jawab Gempa terisak.
Anaya menghembuskan nafasnya lega, untung saja suami bayinya tidak begitu pemaksa.
"Bentar yaa, gue bikinin dulu," ucap Anaya lalu beranjak untuk membuatkan susu untuk Gempa.
"Ya allah kuatkan lah hati dan mental hamba untuk menghadapi suami bayi seperti Gempa," gumam Anaya sambil membuatkan susu untuk suami bayinya itu.
"Nanay cepetan," teriak Gempa dari dalam kamar.
"Iya sebentar," jawab Anaya.
"Udah mah nyuruh, gak sabaran lagi," gumam Anaya sambil berjalan memasuki kamar.
"Pokonya gue gak mau. Ayah apa apaan sih." ucap Gempa lalu mematikan sambungan telepon nya sepihak.
"Kenapa?" tanya Anaya lembut.
"Nanti, minum susu dulu," ucap Gempa lalu meneguk susu itu sampai habis tak tersisa.
"Ahhhhhh... Udah," ucap Gempa sambil mengelap mulu nya dengan tangan.
"Ayoo sekarang tinggal cerita, kenapa lo sampe marah marah sama ayah," tanya Anaya penasaran.
"Baby Gegem, Nanay. Bukan lo," koreksi Gempa menekuk wajahnya kesal.
"Iya baby Gegem kenapa marah marah sama ayah?" ucap Anaya berusaha sabar menghadapi suami bayinya itu.
"Tadi ayah nyuruh gue kerja di perusahaan nya," jawab Gempa kesal.
"Yaa bagus dong, mulai kapan?" tanya Anaya semangat.
"Ihhhh kok bagus sih," kesal Gempa "Nanti kan kita gak bisa jalan jalan, kita juga gak bisa deket deket kaya gini terus," lanjutnya.
"Baby Gegem gak boleh gitu, kan sekarang baby Gegem udah punya tanggung jawab buat nafkahin gue, jadi baby Gegem harus kerja," ucap Anaya lembut.
"Tapi gue gak mau." kesal Gempa melipat tangannya di dada.
"Lo kok makin nyebelin ya Gem," Anaya sudah tidak bisa sabar lagi menghadapi sikap Gempa yang seperti anak bocah.
"Kok lo bentak gue sih," kesal Gempa semakin memanyunkan bibirnya kesal.
"Bodo gue gak peduli. Kalo lo gak mau kerja biar gue yang kerja." ucap Anaya emosi.
"Yaudah lo yang kerja. Lo pikir kita beli makan pake apa? Pake daun?" Anaya sudah habis kesabaran untuk menghadapi sifat Gempa.
"Yaa kan ayah masih ngejatah gue, 1 miliar perbulan cukup lah buat kita berdua," jawab Gempa santai.
"Lo fikir gue mau selamanya bergantung sama uang bokap lo? Enggak Gem. Gue gak mau. Pokonya kalo lo gak kerja biar gue yang kerja." tegas Anaya.
"Gak boleh!! Lo gak boleh kerja." teriak Gempa sambil melotot.
"Yaudah lo yang kerja," ucap Anaya santai.
"Ya-yagak gitu juga," Anaya menatap Gempa tajam "I-iya gue kerja," final Gempa takut karena nanya memelototinya.
"Sip," ucap Anaya tersenyum.
"Peluk dulu," rengek Gempa cemberut.
Anaya merentangkan tangannya "Sini," Gempa langsung berhambur dalam pelukan Anaya, "Kerjanya yang bener yaa," ucap Anaya sambil mengelus rambut Gempa lembut.
"Tapi lo harus temenin gue," ucap Gempa cemberut.
"Kapan?"
"Sekarang, tapi nanti jam sebelas," jawab Gempa seperti anak kecil.
"Mau cium dulu," Gempa segera mendekatkan wajahnya dengan wajah Anaya.
"Mandi dulu baru cium," Anaya langsung berlari menuju kamar mandi. Gempa menatap kepergian Anaya dengan kesal.
Beberapa menit kemudian Anaya keluar dari kamar mandi sudah menggunakan pakaian lengkap. "Ihhh kok udah pake baju sih," kesal Gempa.
"Makanya gak usah mesum kalo jadi suami," jawab Anaya terkekeh.
"Sini cium dulu," Gempa menarik tubuh Anaya agar mendekat, "Lo mandi dulu, gue gak mau dicium kalo lo belum mandi," ucap Anaya menutup kedua pipinya dengan tangan.
"Jahat," kesal Gempa lalu berjalan menuju kamar mandi dengan wajah kesal bercampur emosi.
Selagi menunggu Gempa yang sedang mandi, Anaya memilih baju yang pas untuk di pakai Gempa ke kantor.
Mata Anaya langsung tertuju pada jas berwarna biru yang terasa sangat cocok jika di pakai oleh Gempa. Anaya segera mengambil dan menyiapkan perlengkapan yang lainnya.
Beberapa menit kemudian Gempa keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan dada bidang yang dibiarkan terekspose begitu saja di hadapan Anaya.
"Kering rambut gue," ucap Genap masih dengan wajah kesalnya.
Anaya tersenyum geli melihat wajah Gempa yang seperti bebek "Gak usah cemberut nanti jelek," ucap Anaya menggoda Gempa.
"Mau cium," rengek Gempa.
Cup
Cup
Cup
Anaya mengecup kedua pipi dan dahi Gempa sekilas, "Udah, gak boleh cemberut lagi nanti jelek," ucapnya.
Gempa tersenyum senang mendapat tiga kecupan dari istri jahatnya itu.
"Pake bajunya," Anaya menyodorkan baju yang tadi ia siapkan.
"Masa pake ini sih, gak mau. Mau pake jaket hitam sama celana jeans ajah," tolak Gempa melipat tangannya di dada.
"Sabar Anaya, Sabar." batin Anaya.
"Lo kan mau ke kantor bukan mau nongkrong. Ya harus pake jas lah biar rapih, biar tambah ganteng," ucap Anaya masih sabar.
"Yaudah pakein," kesal Gempa memalingkan wajahnya.
Dengan sabar dan telaten Anaya memakaikan kemeja dan jas pada tubuh atletis Gempa.
"Udah, tuhh kan tambah ganteng," ucap Anaya sambil merapihkan rambut Gempa yang berantakan.
"Senyum dongg kan udah ganteng," dengan terpaksa Gempa pun tersenyum manis kearah Anaya.
"Ihhh ganteng banget sih suami gue," ucap Anaya sambil merapihkan pakaian Gempa.
"Cium dulu yang banyak," kesal Gempa.
Anaya tersenyum lalu merangkul pinggang Gempa manja "Uhhhh sayangnya Nanay,"
Cup
Cup
Cup
Cup
Cup
Cup
Anaya terus menghujani wajah tampan suaminya dengan kecupan dari bibirnya. "Ini nya belum," Gempa menunjuk bibirnya sendiri.
"Kalo itu gak boleh," jawab Anaya terkekeh. Gempa menatap sebal kearah Anaya "Gue mau," ucapnya lalu mengecup bibir Anaya sekilas.
"Ihhh nakal," kesal Anaya. "Kan udah halal, jadi bebas mau ngapain ajah," jawab Gempa tanpa dosa.
"Iya deh terserah lo," final Anaya.
...•.•BERSAMBUNG•.•...