AFTER AKAD

AFTER AKAD
MAU PULANG



...•.• HAPPY READING •.•...


Perlahan Gempa membuka matanya, "Nanay..." teriak Gempa saat Anaya tidak ada di sampingnya.


"Sttttt, gue lagi di urut sama Nada," ucap Anaya.


Mendengar itu Gempa langsung duduk di samping Anaya, "Lo kenapa?" tanya nya panik.


"Gak usah pegang pegang," Anaya menyingkirkan tangan Gempa yang akan menyentuh kakinya.


"Lo kenapa?" tanya Gempa sekali lagi.


"Keseleo," jawab Anaya singkat.


"Kapan? Dimana? Kok gue gak di bangunin sih." ucapnya kesal sendiri.


"Sttttt, gak boleh berisik," Anaya meletakan jari gelunjuknya pada bibir cerewet suaminya.


"Udah selesai, gak boleh terlalu banyak gerak dulu biar gak tambah bengkak," ucap Nada yang langsung di angguki Anaya, "Makasih, Nad," ucapnya.


Nada mengangguk, "Yaudah gue kesana dulu yaa," pamit Nada menunjuk kearah anak anak yang sedang melakukan senam pagi.


"Hmm," jawab Anaya. Nada pun berjalan meninggalkan Gempa dan Anaya di dalam tenda.


"Kenapa lo bisa keseleo? Pasti lo tadi pagi mau selingkuh sama si Dito kan, makanya keseleo," ucap Gempa kesal sendiri. Masih sempat sempat nya dia menuduh Anaya yang tidak tidak.


Anaya menghela nafasnya pelan, "Gue gak mau ribut," ucap Anaya lalu duduk di pintu tenda.


Ehh apaan sih namanya? pintu kan yang bolong bolong itu. Yaaa itulah pokonya, maaf kalo salah.


"Nanay mah," Gempa mulai merengek.


"Ihhhh... Kesell..." rengeknya lagi karena Anaya mengacuhkannya.


"Ihhh gak malu apa, lagi camping malah ngerengek gini?!" ucap Anaya.


"Yaa peluk dulu," jawabnya kesal.


Anaya memutar bola matanya malas, "Sini," ucapnya merentangkan tangan.


Dengan cepat Gempa pun berhambur dalam pelukan Anaya, "Aaaaaa mau pulang," rengeknya dalam pelukan Anaya.


"Dibilangin gak boleh ngerengek." ucap Anaya kesal. Gempa pun langsung terdiam dari rengekannya.


"Nay," ucap Seseorang. Gempa langsung melepaskan pelukannya dari Anaya.


"Ehh muka lo kenapa? Kok lebam lebam kaya gitu?" tanya Anaya karena wajah Galang penuh dengan lebam.


"Gakpapa," jawab Galang tersenyum. "Gue minta maaf ya, Nay." lanjutnya.


Anaya mengrutkan dahinya, "Minta maaf? Emang lo ada salah apa sama gue?" tanya Anaya heran.


"Soal semalem, gue gak ada niatan untuk tinggalin lo kok, cuma waktu itu gue panik dan ketakutan jadi lupa sama semuanya," jelas Galang menunduk takut karena Gempa menatapnya tajam.


"Astaga, Lang. Gue kira apaan," jawab Anaya santai.


"Lo maafin gue kan?" tanya Galang yang di balas anggukan dan senyuman oleh Anaya.


"Muka lo kenapa?" tanya Anaya.


Galang hanya melirik Gempa sabagai jawaban. "Gempa," ucap Anaya merubah raut wajahnya menjadi marah.


"Pergi lo Galang!!!" bentak Gempa kesal campur takut karena Anaya menatapnya sinis.


"Gue pergi dulu, bye" pamit Galang lalu pergi meninggalkan mereka.


Gempa segera masuk kedalam tenda dan merebahkan tubuhnya dengan mata yang tertutup sempurna.


"Gak usah pura pura tidur. Jelasin sama gue." tegas Anaya.


Gempa masih setia menutup matanya, bahkan semakin merapatkannya.


"Buka mata lo atau gue pergi." tegasnya. Dengan cepat Gempa pun membuka matanya, "Jangan,"


Anaya menutup tendanya lalu duduk di hadapan Gempa "Jelasin sama gue, kenapa lo pukulin Galang sampe kaya gitu?"


"Jangan melotot, takut," ucap Gempa menunduk.


"Jelasin!" bentak Anaya yang sudah kesal sendiri dengan tingkah suami bayinya itu.


"Aaaaaaa... Nanay jahat!!! Huaaa...." teriak Gempa histeris.


"Nanay jahat!! Huaaa..." teriaknya lagi.


Anaya segera memeluk tubuh suaminya agar tidak semakin berterima kencang, "Sttttt diem. Gak inget kalo ini masih di tempat camping?!"


Anaya terus mengelus punggung Gempa dengan lembut, "Ma-mau pulang," ucap Gempa terisak.


"Besok. Besok kita pulang," jawab Anaya lembut.


"Ma-mau ***** ajah,"


"Gempa lo kalo minta tuh yang bener dikit napa. Dirumah juga gak pernah gini. Jangan jangan lo ketempelan hantu penunggu hutan tadi malem lagi."


"Tuhh kan gak boleh. Padahal cuma minta ***** doang," Gempa mengerucutkan bibirnya kesal.


"Bukan gak boleh, tapi gue nya gak mau." jawab Anaya jujur.


"Kenapa gak mau? Kan itu udah jadi tugas lo," tanya Gempa tanpa dosa.


Dengan mata berbinar dan wajah berserinya Gempa merebahkan tubuhnya menghadap Anaya.


"Nanya cepetan." kesal Gempa karena Anaya masih mematung di tempat.


Anaya merebahkan tubuhnya menghadap Gempa. Tangannya perlahan membuka satu persatu kancing baju yang ia pakai, "Gempa, tapi gue belum siap," Anaya menghentikan gerakan tangannya.


"Cuma ***** doang," ucapnya Kesal. "Mana sinih gue yang buka," Gempa mengambil alih untuk membuka kancing baju yang digunakan Anaya.


Satu kancing sudah terlepas. "Tapi ini masih di tempat camping, Gem." ucap Anaya takut. Takut mereka di ciduk oleh guru dan teman temannya.


"Gakpapa." jawab Gempa santai. Dia terus membuka kancing baju Anaya yang ketiga.


"Nanay kok lo pake daleman sih." kesal Gempa saat melihat Anaya menggunakan tank top berwarna putih polos.


"***** nya dari luar ajah," ucap Anaya terkekeh.


"Mana ada ***** begitu. Nanti gue isep apaan?!" jawabnya kesal.


"Isep tangan lo sendiri. Udah ahh gue gak mau, takut ketahuan guru," ucap Anaya lalu mengancingkan kembali kancing bajunya yang terlepas.


"Nanay mah gitu, padahal cuma minta *****. Apalagi kalo minta jatah," jawabnya cemberut.


"Sini peluk, peluk ajah yaaa jangan *****," Anaya memeluk tubuh Gempa dengan erat, sesekali mencium dahinya sekilas.


"Kalo udah pulang gue mau *****, pokonya mau. Gak ada penolakan." ucap Gempa dalam pelukan Anaya.


"Iyaaa," jawab Anaya asal. Yaa sudah di pastikan jawabannya tidak. Karena dia belum siap jika harus menyusui bayi dugong seperti suaminya ini.


Drtttt


Drtttt


Drttttt


Ponsel Anaya bergetar, menandakan ada sebuah panggilan masuk di ponselnya.


"Lepas dulu, gue mau angkat telpon," ucap Anaya. Bukannya melepaskan, Gempa malah semakin mengeratkan pelukannya.


"Gak mau." jawabnya manja.


Dengan susah payah Anaya mengambil ponsel dari saku celananya, "Kak Ambra," gumam Anaya heran. Dia pun segera mengangkat panggilannya.


"Hallo kak," ucap Anaya sopan.


"Hallo Nay, lo masih di dalem tenda?" tanya Ambra dari sebrang sana.


"Iya, kenapa yaa kak?" tanya balik Anaya.


"Coba lo speaker biar Gempa juga tau," ucap Ambra. Anaya pun menspeakerkan panggilannya.


"Jam 10 guru akan ngobrol kesini, jadi kalian jangan berduaan di dalam tenda, gue takut kalian di ciduk." ucap Ambra.


"Sekarang jam berapa?" tanya Gempa yang masih dalam pelukan Anaya.


"Jam 9," jawab Anaya. "30 menit lagi, bang." ucap Gempa pada Ambra.


Terdengar helaan nafas yang begitu cape dari sebrang sana, "Yaudah dilanjut, tapi jangan lupa jam 10 harus udah keluar dari tenda," ucapnya memperingati.


"Siap," jawab Gempa, lalu mematikan sambungan telponnya sepihak.


"***** dulu, baru keluar," ucap Gempa pada Anaya.


"Apaan sih, Gem. Gak ada yahhh. Inget tempat napa sih, ngeselin banget." kesal Anaya.


Gempa melepaskan pelukannya dan,


Cup


Cup


Dia mencium kedua baby girl Anaya, "Udah sana keluar," usirnya tanpa dosa.


"Dihh gak bertanggung jawab banget. Udah nyium malah ngusir," ucap Anaya sinis lalu beranjak dari tidurnya.


"Bentar," Gempa menarik tangan Anaya yang ingin membuka resleting tenda.


"Apa lagi??" tanya Anaya sangat malas.


Cup


Cup


Cup


Cup


Empat kecupan Gempa daratkan di dahi kedua pipi dan terakhir di bibir ranum istrinya.


Anaya tersenyum. Entah kenapa akhir akhir ini dia sangat bahagian jika Gempa menciumnya secara tiba tiba seperti ini.


Cup


Anaya mengecup bibir Gempa sekilas, "Good bye, my baby husband," ucap Anaya sebelum pergi meninggalkan tenda.


...•.• BERSAMBUNG •.•...