
Planet Eulianis, planet keempat yang mereka jelajahi penuh dengan pesona alamnya yang tak terduga. Mereka tiba di tengah-tengah hutan yang memancarkan keajaiban, di mana bunga berlian berkilauan berbunga-bunga mekar di setiap sudutnya. Hutan itu tampak seperti khayalan yang menjadi nyata.
Aria menatap gemerlap bunga berlian dan berkomentar, "Ini adalah tempat yang benar-benar indah. Aku tidak pernah melihat sesuatu seindah ini sebelumnya."
Chaer, yang selalu bertindak sebagai pemimpin, menjawab dengan serius dan sedikit kekhawatiran, "Kita harus tetap waspada, meskipun tempat ini indah. Kita tak tahu apa yang mungkin menunggu di balik kecantikan ini."
Mereka berjalan dengan hati-hati melalui hutan bunga berlian, menyadari bahwa alam semesta selalu memiliki cara untuk menguji mereka. Dan ujian itu datang dalam bentuk monster yang tak terduga.
Monster itu tiba-tiba muncul dari semak-semak, berkepala dua dengan mata merah yang memancarkan niat jahat. Monster itu terbuat dari batu permata yang mengkilap, dan dengan cepat mengelilingi mereka.
Kappa menarik tongkat alkimianya sambil berkata, "Kita tak punya pilihan selain melawannya. Bersiaplah, teman-teman!"
Pertarungan pun dimulai, dan atmosfer hutan bunga berlian berubah menjadi medan pertempuran yang mendebarkan. Monster itu menerjang mereka dengan cepat, melepaskan serangan-serangan berlian yang mematikan.
Saga yang terus merasakan ketidaknyamanan di kepalanya karena suara sebuah belenggu patah menghantui pikirannya, tetapi ia tak ambil pusing, ia langsung mengeluarkan kekuatannya dan menciptakan sebuah pedang kristal untuknya. Aria dan Chaer berusaha menjaga jarak dari monster sambil menyerang dari kejauhan, menciptakan lingkaran api dan Aria dengan serangan badainya, mencoba mengalihkan perhatian monster tersebut.
Chaer, langsung melesat berdiri di garis depan, menyerang monster itu dengan gemerlap bola api yang mengkilap. Dia tahu bahwa ini adalah tanggung jawabnya sebagai pemimpin kelompok.
Pertarungan itu berlangsung sengit, dengan serangan dan pertahanan yang terus berubah. Namun, keempat penyihir itu berjuang bersama, saling melindungi satu sama lain, dan merencanakan serangan yang efektif.
Kappa mengirimkan serangan api alkimianya yang meluluhlantakkan bagian tubuh monster itu. Saga menggunakan sihir esnya untuk membekukan satu dari dua kepala monster itu, Saga kemudian mengeluarkan serangan kristal air, seketika menghancurkan kepala monster tersebut menjadi butiran-butiran es.
Chaer berdiri di antara Saga dan Aria, menjaga monster agar tidak mendekati sahabat-sahabatnya. Saga, dengan gerakan yang cepat dan mematikan, menghunuskan pedang kristalnya ke arah batu permata yang menjadi tubuh monster itu. Monster itu mulai bersatu dengan bunga berlian di sekitarnya dan melepaskan serangan terakhirnya yang mematikan.
Namun, Chaer yang sigap berhasil menyelamatkan dirinya dan Saga dari serangan itu. Dalam serangan balasan, Saga dengan bantuan kekuatan alkimia Kappa berhasil menumpas kepala monster yang terakhir berkat gabungan kekuatan asam korosif dari Kappa, mengakhiri pertarungan itu dengan kemenangan.
Mereka berempat berdiri di tengah hutan yang kini tenang lagi. Hutan bunga berlian yang tadi memancarkan keajaiban sekarang menjadi saksi pertarungan sengit yang mereka alami.
Saga mengelus pedangnya dengan perasaan puas dan berkata, "Kita berhasil, teman-teman. Dan kita terus maju."
Chaer tersenyum dan menjawab, "Kita akan terus maju sampai kita menemukan semua serpihan kubus. Tidak ada yang bisa menghentikan kita."
Aria tertawa kecil dan menambahkan, "Termasuk monster-monster misterius di planet ini."
Kappa yang masih penuh semangat berkomentar dengan ceria, "Tapi pertarungan ini pasti akan menjadi kenangan yang tak terlupakan dalam petualangan kita!"
Mereka berempat melanjutkan perjalanan mereka, melepaskan diri dari monster dan hutan bunga berlian yang menyimpan misteri alam semesta. Mereka tahu bahwa masih banyak petualangan yang menunggu di depan, tetapi mereka bersama-sama, bersatu dalam tekad mereka untuk menemukan serpihan kubus yang keempat.
Gua itu terbentang di depan mereka, seolah mengundang mereka untuk menjelajah ke dalam keajaiban alam semesta. Dinding-dinding gua dipenuhi dengan berbagai jenis kristal yang berkilauan dalam berbagai warna, menciptakan pemandangan yang begitu memukau.
Chaer memimpin dengan penuh semangat, langkahnya mantap dan penuh keyakinan. Ia mengeluarkan kekuatan api di tangannya, menyinari lorong-lorong gelap gua. Saat mereka berjalan, Saga terus merasa ketidaknyamanan di kepalanya, dan gelisahnya meningkat seiring dengan mendekatnya mereka pada tujuan ekspedisi ini.
Aria terpesona oleh kecantikan gua kristal itu. "Ini luar biasa," ucapnya dengan suara halus. "Aku belum pernah melihat sesuatu yang seindah ini sebelumnya."
Kappa, yang selalu memiliki sifat yang bersemangat, melompat-lompat di sekitar mereka, menciptakan percikan cahaya dengan tiap gerakannya. "Ayo cepat!. Tetapi tunggu dulu, apa yang akan kita cari di dalam gua ini?, kita tidak tahu apa yang kita cari, bukan?."
Chaer menjawab, "Kita mencari Kunci Prisma. Ini adalah artefak khusus yang akan membantu kita membuka pintu ke dimensi lain." Aria berkata dengan sedikit meledek, "Apakah kau yakin, Chaer?. Kau juga belum tahu bentuk kunci itu seperti apa, iya kan?." Chaer langsung membalas dengan gaya angkuh, "Huh!, apakah kau meragukan kepemimpinan ku, Aria?. Aku sudah berpengalaman menjadi seorang petualang, tidak perlu ada yang dikhawatirkan."
Mereka terus menjelajahi gua, mengikuti lorong-lorong yang terbentang di depan mereka. Bebatuan kristal berkilauan menciptakan bayangan aneh yang bergerak di sekitar mereka, menciptakan nuansa misteri.
Aria tiba-tiba berhenti dan menunjuk ke arah salah satu dinding gua. "Lihatlah ini!" katanya dengan kagum. "Ini seperti lukisan bergerak. Mereka menggambarkan legenda kuno."
Chaer, Saga, dan Kappa mendekat untuk melihat lukisan yang ada di dinding gua. Lukisan tersebut menggambarkan perjalanan seorang pahlawan yang memegang artefak yang terlihat seperti Kunci Prisma. Mereka bisa melihat bagaimana pahlawan itu menghadapi berbagai macam rintangan dan menghadapi bahaya yang datang darinya.
Chaer berkomentar, "Legenda ini pasti memiliki arti yang mendalam. Mungkin Kunci Prisma adalah petunjuk kita untuk serpihan kubus yang keempat."
Mereka melanjutkan perjalanan mereka, mengikuti petunjuk dari lukisan dinding gua. Setiap langkah mereka membawa mereka lebih dalam ke dalam keajaiban gua kristal ini.
Tiba-tiba, mereka mendengar suara gemuruh. Sesuatu yang besar dan berat sedang mendekat. Mereka berempat bergegas mencari tempat berlindung. Dari balik tikungan lorong, muncul monster raksasa yang terbuat dari kristal yang bersinar-sinar.
Kappa dengan cepat mengambil posisi pertahanan sementara Chaer bersiap untuk bertarung. Saga memusatkan pikirannya untuk mencari tahu cara mengalahkan monster ini, sementara Aria bersiap-siap mengeluarkan sihir anginnya.
Pertarungan dengan monster kristal itu berlangsung dengan sengit. Monster itu melepaskan serangan-serangan berbentuk proyektil kristal yang mengancam, sementara Chaer dan Kappa berusaha mendekatinya untuk memberikan serangan balasan.
Saga dengan cepat menemukan kelemahan monster itu. "Aria, fokuskan sihir anginmu ke titik tertentu pada dinding gua!" teriaknya.
Aria mengikuti instruksi Saga dan dengan tepat mengeluarkan serangan badai yang menjatuhkan sebagian dinding gua untuk menjebak monster kristal itu, membuatnya tidak bisa bergerak. Chaer dan Kappa segera memanfaatkan peluang ini untuk memberikan serangan terakhir. "Baiklah, Kappa, ciptakan sebuah gas masif dan gabungkan dengan kekuatan apiku", ucap Chaer sambil berfokus untuk melancarkan serangan akhir. "Baiklah!, akan kubuat monster itu hancur berkeping-keping!." Chaer dan Kappa langsung menggabungkan kedua kekuatan mereka menciptakan sebuah gas api yang sangat masif.
Serangan gas api tersebut mulai memanaskan gua dan pada akhirnya membekukan monster itu. Monster kristal itu hancur berkeping-keping, dan gua kristal yang indah ini kembali tenang. "Yey!, kita berhasil!", ucap Kappa dengan penuh semangat dan kegembiraan sambil memeluk Chaer. "Aku tahu, Kappa. Ini berkat kita semua", Chaer tersenyum lebar kearah Kappa sambil memeluk Kappa dengan erat. "Kerja bagus, Saga" ucap Aria. "Kita melakukannya dengan baik, Aria" ucap Saga. Akhirnya mereka berdua berpelukan bersama juga dan merasa lega.
Mereka berempat melanjutkan perjalanan mereka, memahami bahwa bahaya bisa mengintai di setiap tikungan, tetapi mereka akan terus maju, karena tugas mereka tidak akan pernah berakhir hingga mereka menemukan semua serpihan kubus yang hilang dan menjaga keseimbangan alam semesta.