
Pertarungan sengit antara Chaer dan master di Lembah Airys terus berlanjut. Serangan demi serangan dari master itu berhasil memojokkan Chaer hingga ke pinggir arena. Walaupun baru kalah satu poin, Chaer tetap optimis dan yakin bahwa ia memiliki potensi untuk mengalahkan master tersebut.
Pertarungan berlangsung hingga fajar mulai menyingsing, dan skor antara Chaer dan master itu menjadi imbang dua sama. Semua mata tertuju pada pertarungan ini, karena saat itulah penentuan pemenang akan ditentukan. Priva, yang menyaksikan pertarungan dengan penuh kekhawatiran, tidak bisa menahan diri dan meneriaki Chaer, "Chaer!, kau pasti bisa!" meminta agar ia tetap semangat dan tidak menyerah.
Dalam kondisi kelelahan dan napas tersengal-sengal, Chaer terus berjuang dengan segenap kekuatannya. Hingga akhirnya, Chaer memanfaatkan momen yang tepat untuk menggunakan kekuatan apinya dengan maksimal, mendorong master itu hingga keluar dari arena, dan Chaer keluar sebagai pemenang pertarungan ini.
Aria dan Kappa melompat bahagia melihat Chaer menang, sementara Priva dan Saga tersenyum bangga dan merasa lega karena Chaer berhasil mengatasi tantangan ini. Pertarungan ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan mereka untuk mengumpulkan serpihan kubus yang ketiga, dan Chaer telah membuktikan keberaniannya.
"Kau telah menunjukkan keberanianmu, anak muda, kau layak mendapatkan kemenangan ini" kata master itu dengan bangga melihat Chaer petarung muda yang berhasil mengalahkan dirinya. "Kalian ku persilahkan untuk memasuki kuil ini, kalian adalah yang terpilih" sang master mulai membuka jalan untuk mereka masuk kedalam kuil. "Kami berjanji akan memanfaatkan kunci ini dengan baik" kata Priva yang berjanji kepada sang master. "Putri Priva, sebuah kehormatan dapat bertemu denganmu lagi, titipkan salamku kepada Yang Mulia Raja Gordham" sang master menjawabnya dengan lembut dan sedikit canda tawa. "Baiklah, beliau akan sangat senang mendengar salam anda", Priva dengan hati lembut berhasil meluluhkan hati sang master.
Priva, penuh dengan rasa terima kasih, mengucapkan "Terimakasih atas kemurahan hati anda" kepada master yang telah bersikap murah hati kepada mereka. Ia berjanji akan menyampaikan salam dan penghargaan dari master tersebut kepada Raja Gordham sebagai tanda penghargaan atas bantuan yang diberikan.
Chaer, dengan sikap hormat, juga mengucapkan terima kasih kepada master tersebut. Master itu memuji keberanian dan kepandaiannya dalam pertarungan. Sebagai penghargaan, master itu menghadiahkan sebuah batu kramat yang indah dan memasangkannya ke leher Chaer sebagai simbol keberhasilan dalam pertarungan tersebut.
Setelah pertarungan di Lembah Airys selesai, Priva dan keempat penyihir kembali ke kerajaan Aethera untuk menghadap Raja Gordham dan memberitahu tentang perkembangan terbaru dalam pencarian mereka. Kembali ke kerajaan, mereka membawa semangat kemenangan dan harapan bahwa mereka semakin mendekati tujuan mereka untuk mengumpulkan semua serpihan kubus yang diperlukan.
"Oh putriku tercinta, Ayah bangga mendengar perjalananmu membuahkan hasil" Raja Gordham sangat gembira mendengar kabar bahwa Priva dan keempat penyihir telah berhasil menemukan kunci dari kuil di Lembah Airys. "Ya Ayah, kami berhasil menaklukkan master itu dan mendapatkan kunci yang Ayah maksud" Priva dengan bangga menyampaikan salam dari master itu kepada ayahnya "Oh!, dan master itu berpesan kepadaku untuk menyampaikan salam untuk Ayah", dan Raja Gordham merasa terkesan dengan prestasi anaknya. Ia ingin tahu siapa yang berhasil mengalahkan master yang dianggap tak terkalahkan tersebut, dan Priva dengan bangga menyebut nama Chaer sebagai pemenangnya.
Raja Gordham merasa sangat bangga dan terharu melihat keberanian Chaer. Ia memutuskan untuk menghadapkan diri kepada Chaer secara langsung dan mengeluarkan perintah kepada Priva. Chaer kemudian dipanggil oleh Raja Gordham untuk menghadapnya.
Ketika Chaer tiba di depan Raja Gordham, Raja Gordham dengan bangga memeluknya, merasa terharu dan kagum akan keberanian dan semangat Chaer yang membara. Kemudian, Raja Gordham memanggil dua pelayannya, Etia dan Reya, untuk membawa kotak peti yang ada di ruang bawah tanah kerajaan. Ini menjadi momen yang penting dalam perjalanan mereka, dan Raja Gordham bersiap untuk mengungkapkan lebih banyak rahasia dan petunjuk yang ada di dalam kotak peti tersebut. "Baik Yang Mulia" kedua pelayan itu menjawabnya dengan penuh hormat dan bergegas meninggalkan ruang Raja Gordham untuk mengambil kotak peti yang berisikan serpihan kubus yang ketiga.
Etia dan Reya akhirnya kembali menghadap Raja Gordham dan membawakan kotak peti yang beliau maksudkan. Raja Gordham dengan lembut berterimakasih kepada kedua pelayan setianya. "Baiklah, putriku, berikan kunci yang telah kau dapatkan dari Lembah Airys."
Dibukalah kotak peti itu dan terlihat serpihan berbentuk elang yang indah nan bersinar. "Dan sekarang, mulailah berjalan kearah tirai yang ada disana dan buka lebar-lebar tirai tersebut" Raja Gordham mengarahkan Chaer untuk mengambil serpihan itu di genggamannya dan melangkah ke arah sebuah tirai yang tertutup. Chaer mengikuti perintah Raja Gordham dan melangkah ke arah tirai tersebut, ia sempat sedikit gugup saat ingin membuka tirai itu. Tetapi dengan penuh percaya diri ia membuka tirai di depannya yang mengarahkannya ke sebuah jendela terbuka dan pemandangan matahari terbit di Negeri Para Pencari Elang yang begitu indah dan menakjubkan.
Chaer dengan rasa bangga melangkah keluar jendela tersebut dan melihat banyak warga Negara Para Pencari Elang menantikan momentumnya. Chaer yang sempat merasa kebingungan diarahkan oleh Raja Gordham untuk menunjukkan serpihan itu kepada seluruh penduduk yang menyaksikan dari bawah. Semuanya bersorak-sorai dengan penuh gembira ketika Chaer menunjukkan serpihan itu kepada mereka. "Hidup Raja Gordham!" sorak-sorai para penduduk Negara Para Pencari Elang kepada Raja Gordham. "Terimakasih semuanya, tetapi bukan aku yang mendapatkan serpihan ini untuk kalian, tetapi seorang petarung pemberani ini, beri sorakan kepada Chaer wahai rakyatku!" ucap Raja Gordham. Para penduduk yang menyaksikan sempat terdiam kebingungan dan merasa tidak percaya tetapi akhirnya mereka bersorak-sorai untuk Chaer "Hidup Chaer!, pahlawan baru kita!." Chaer merasakan haru berbalut rasa bangga dan berterimakasih kepada Raja Gordham atas kedermawanan beliau.
Siang harinya, kerajaan Aethera dipenuhi dengan sukacita karena diadakan sebuah pesta persembahan yang sangat meriah. Para penduduk Negara Para Pencari Elang dengan antusias mengikuti pesta tersebut, dan suasana penuh dengan kegembiraan. Pesta ini penuh dengan berbagai acara dan tradisi unik yang merupakan ciri khas Negara Para Pencari Elang.
Pesta persembahan diisi dengan tarian, musik, dan kuliner lezat yang menggoda selera. Selain itu, ada pertunjukan seni dan pameran karya seni dari para seniman lokal yang menunjukkan kekreativitasan dan bakat mereka.
Acara pesta ini mencapai puncaknya dengan sebuah upacara kebatinan yang sangat sakral. Dalam upacara ini, Chaer dihormati dan diakui sebagai pahlawan baru Negara Para Pencari Elang atas keberaniannya dalam mengalahkan master di Lembah Airys. Upacara ini adalah penghargaan yang sangat tinggi, dan Chaer menjadi bagian dari sejarah dan budaya kerajaan Aethera. Chaer juga sempat menyampaikan uraian bangganya kepada para penduduk Negara Para Pencari Elang bahwa ia sangat berterimakasih atas kesenangan dan hiburan yang telah mereka tunjukkan. Ia juga berjanji akan menyelamatkan dunia alam semesta bersama teman-temannya dari kegelapan.
Semua penduduk merasa bangga dan bersyukur atas kemenangan Chaer, dan mereka merayakan pesta persembahan ini dengan penuh semangat dan kebahagiaan. Itu adalah hari yang bersejarah bagi Negara Para Pencari Elang, di mana mereka memperkuat ikatan dan semangat persatuan di antara mereka.
Setelah upacara kebatinan yang sakral selesai, Chaer dan rekan-rekannya, Aria, Saga, dan Kappa, memutuskan untuk menghadap Raja Gordham sekali lagi. Mereka ingin mengucapkan terima kasih dan selamat tinggal kepada beliau, karena mereka akan melanjutkan petualangan mereka untuk mencari serpihan kubus lainnya di planet selanjutnya. "Terimakasih atas semua kebaikan yang telah anda dan negeri ini tujukan kepada kami, kami sangat berhutang budi kepada negeri anda, Yang Mulia."
Raja Gordham merasa haru, tetapi dengan senyuman hangatnya, ia memberikan pesan kepada keempat penyihir tersebut. Ia berharap agar mereka sukses dalam misi mereka dan selalu menjaga semangat persatuan dan keberanian yang telah mereka tunjukkan. Priva kemudian mengarahkan keempat penyihir itu dengan bantuan anggota Aegleseeker ke air terjun tempat mereka pertama kali bertemu.
Saat berpisah, Raja Gordham melambaikan tangannya dengan penuh harapan dan mengucapkan selamat tinggal kepada keempat penyihir itu. Mereka meninggalkan kerajaan Aethera dengan hati penuh semangat, siap untuk melanjutkan petualangan mereka yang menantang menuju planet berikutnya.
Sesampainya di air terjun, Priva yang berusaha menahan air matanya, sekali lagi mengucapkan terimakasih atas perjuangan hebatnya bersama keempat penyihir itu. "Dan... Kita harus berpisah disini, terimakasih atas kisah-kasih yang kalian persembahkan kepadaku, itu akan menjadi pengalaman yang tak terlupakan untukku dan juga negeriku." Keempat penyihir itu mulai mendekati Priva dan memberikan pelukan hangat pertama sekaligus menjadi yang terakhir untuk Priva. "Jaga diri kalian baik-baik, misi kalian di negeri kami sudah berakhir, sampai jumpa!, semoga kita bisa bertemu lagi lain waktu..Sampai bertemu lagi dan selamat tinggal!." Priva mulai terbang kembali bersama para anggota Aegleseeker ke dalam air terjun, kembali ke negerinya.