
Chaer, Saga, Aria, dan Kappa terus melanjutkan perjalanan mereka melalui gua kristal yang penuh dengan keindahan berkilauan, tetapi juga penuh bahaya. Mereka merasa keterkejutan ketika menyadari bahwa Letha masih mengejar mereka dengan tekad yang kuat. Kunci Prisma, yang menjadi tujuan utama mereka, semakin mendekat, tetapi rasa tegang dan ketidakpastian mulai merayap di dalam diri mereka.
Di sisi lain, Letha dan segelintir bandit alam semestanya telah berhasil melarikan diri dari kerajaan Aegleseeker yang mereka jajah. Mereka menyadari bahwa mereka tidak akan bisa bersaing dengan kekuatan Raja Gordham dan para pengawalnya. Namun, Letha juga dihadapkan dengan masalah baru, "Aku tidak tahu dimana keempat penyihir itu berada, aku merasa seperti dipermainkan oleh mereka."
Dalam perjalanan mereka, Chaer memimpin dengan penuh tekad. Setiap langkahnya hati-hati dipilih, dan dia terus memeriksa apakah sahabat-sahabatnya baik-baik saja. Saga, Aria, dan Kappa selalu mendukungnya, menguatkan semangatnya dengan kata-kata dan senyum-senyum kecil. Mereka adalah tim yang kuat, terikat oleh persahabatan dan tekad untuk menyelamatkan alam semesta. "Aku ingin kita tetap seperti ini sampai misi kita menyelamatkan dunia alam semesta selesai", ucap Chaer dengan rasa kekhawatiran yang terus membendungnya.
Mereka berjalan melewati lorong-lorong sempit yang dipenuhi oleh kristal-kristal berkilauan. Cahaya refleksi kristal membuat suasana semakin magis. Namun, di tengah perjalanan mereka, mereka mendapati diri mereka dihadapkan dengan sebuah ambang pintu besar yang menghalangi jalan mereka.
Ambang pintu tersebut dihiasi dengan ukiran-ukiran simbolik yang tidak dikenali oleh Chaer dan teman-temannya. Mereka bingung dan mencoba mencari cara untuk membuka pintu tersebut. Setelah beberapa saat, Chaer yang bijaksana mulai merasa bahwa pintu ini bukan sekadar hambatan fisik, tetapi juga sebuah ujian. Dia mencoba mengingat pelajaran-pelajaran yang dia terima dari Raja Gordham dan pelatihan yang diberikan oleh Priva.
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Saga, tatapan matanya penuh ketidakpastian.
Chaer menjawab, "Kita harus membuktikan bahwa kita layak melewati pintu ini. Kita harus menunjukkan kebijaksanaan, keberanian, dan persatuan kita."
Mereka mulai berdiskusi dan mencoba memahami makna dari simbol-simbol di pintu tersebut. Setelah berjam-jam berpikir dan merenung, mereka akhirnya menemukan jawaban. Mereka harus bersatu sebagai satu entitas yang sempurna dan mengaktifkan kekuatan kunci yang tersembunyi dalam diri mereka. "Kalian semua bersiap?", ucap Chaer sambil memastikan sahabatnya tetap baik-baik saja. Saga, Aria dan Kappa menganggukkan kepala mereka secara bersamaan.
Dengan tekad yang bulat, Chaer, Saga, Aria, dan Kappa meletakkan tangan mereka di atas pintu dan merentangkan kekuatan alam semesta mereka. Energi mereka bersatu, menciptakan cahaya yang memenuhi seluruh ruangan. Pintu itu mulai terbuka perlahan-lahan, membiarkan mereka melanjutkan perjalanan. Mereka akhirnya dapat bernafas lega, "Akhirnya, kita dapat melakukannya!. Kerja bagus semuanya!", ucap Chaer. "Kau adalah pemimpin yang terbaik, Chaer!. Aku menyukai seluruh kerja kerasmu untuk kita", ucap Aria karena saking senangnya ia sampai memeluk Chaer.
Kappa pun kebingungan melihat Aria tiba-tiba memeluk Chaer dan sedikit jahil dengan mengatakan "Kau suka dengan Chaer, Aria?. Katakan saja tidak usah malu-malu, hehehe." Aria menjawab dengan lantang dan sedikit kesal, "Hei!, kau jangan menuduhku seperti itu, Kappa!. Kau sebenarnya jika Chaer menjadi yang terbaik disini, iya kan?." Chaer pun menjawab pertanyaan Aria dengan polos, "Tidak seperti itu, Kappa sebenarnya adalah temanku dan dia memang selalu pintar dalam membuat rencana, jadi terkadang aku bergantung padanya." Aria pun terdiam sejenak dengan pipi memerah seakan tak percaya dengan pernyataan Chaer.
Sementara itu, Letha dan para banditnya terus mencari jejak Chaer dan teman-temannya. Mereka bingung dan tertekan oleh ketidakpastian. Keberhasilan dalam menghadapi Aegleseeker telah memicu keinginan Letha untuk menemukan mereka, tetapi tanpa petunjuk yang jelas, dia merasa seperti mencari jarum di tumpukan jerami yang sangat besar.
Mereka berkelana di antara berbagai planet, berusaha mencari tahu keberadaan Chaer dan teman-temannya. Setiap langkah yang mereka ambil adalah langkah demi langkah yang mempercepat pertemuan mereka dengan alam semesta yang tak terduga. Kekuatan dan keteguhan Letha, yang selalu mengendalikan dirinya, adalah satu-satunya yang menjaga mereka tetap bergerak maju.
Chaer memimpin perjalanan mereka melewati pintu misterius itu dan mendapati mereka berada di sebuah mata air dengan formasi batu kristal besar di seberang mata air itu yang di dalamnya adalah Kunci Prisma. Kappa dengan ceroboh langsung melangkah di mata air tersebut dan mendapati dirinya terjebak dan membeku seperti kristal.
Chaer, Saga, dan Aria yang terkejut melihat Kappa terjebak dalam bentuk kristal di dalam mata air dengan formasi batu kristal besar di seberangnya. Mereka berdiri di tepi mata air, panik dan khawatir.
"Kappa! Apa yang terjadi?!" teriak Chaer, mencoba menjangkau teman mereka yang terperangkap.
Aria memandangi mata air tersebut dan mulai berpikir. "Ini pasti perangkap, dan Kappa terjebak di dalamnya. Kita harus menemukan cara untuk memecahkannya!"
Chaer merasa putus asa, tetapi dia tahu mereka tidak bisa menyerah. Kunci Prisma, yang mereka cari begitu lama, terpampang begitu jelas di seberang mata air. Mereka hanya perlu menemukan cara untuk mendekatinya tanpa mengalami nasib yang sama seperti Kappa.
Mereka berempat memulai pencarian, mencari petunjuk atau cara untuk mengatasi perangkap ini. Batu kristal di sekitar mata air terlihat seperti perangkap yang sempurna. Saga mendekati salah satu batu kristal dan mencoba memegangnya, tetapi tangan Saga hanya meluncur di permukaannya.
Aria menutup matanya sejenak, mencoba terhubung dengan energi alam semesta untuk mencari solusi. Setelah beberapa saat, matanya terbuka, dan dia berkata, "Aku merasa ada aliran energi yang mengalir menuju mata air ini. Mungkin kita bisa membalikkannya?"
Chaer mengangguk setuju. Mereka mulai mencari aliran energi yang dimaksud oleh Aria. Mereka berjalan sepanjang tepi mata air, mencoba mencari cara untuk memutus atau membalikkan aliran tersebut. Tetapi tampaknya semakin banyak yang mereka coba, semakin terjerat dalam perangkap ini.
Kappa yang terjebak dalam bentuk kristal mencoba berkomunikasi dengan pikirannya kepada mereka. Mereka bisa merasakan kecemasan dan keinginan Kappa untuk membantu.
"Kappa mencoba memberi tahu kita sesuatu," kata Saga. "Dia mungkin memiliki wawasan atau ide untuk mengatasi perangkap ini."
Aria mengangguk paham, Saga mencoba meresapi pesan yang disampaikan oleh Kappa. Beberapa saat kemudian, dia berkata, "Kappa mengatakan bahwa kita harus mengarahkan energi kita ke dalam air ini, tetapi dengan hati yang tenang dan terkoordinasi. Kita harus berpikir tentang Kappa, tentang persahabatan kita, dan memproyeksikan rasa cinta dan kebersamaan."
Chaer mengerti. Mereka tiga duduk di tepi mata air dan menutup mata. Mereka merenungkan tentang Kappa dan semua pengalaman yang mereka lewati bersama-sama. Mereka mengumpulkan energi mereka, mencoba mengarahkannya ke arah mata air dengan perasaan positif dan kebersamaan.
Seiring dengan peningkatan energi yang mereka pancarkan, mata air mulai berkilau dengan cahaya yang lembut. Perlahan tapi pasti, Kappa yang terjebak dalam bentuk kristal mulai meleleh dan kembali menjadi dirinya yang sejati. Mereka semua membuka mata mereka dan melihat Kappa tersenyum pada mereka.
Kappa mengucapkan terima kasih pada teman-temannya dan merasa terharu oleh upaya bersama mereka untuk menyelamatkannya, "Terimakasih semuanya, maafkan aku karena telah bertindak ceroboh." Chaer langsung memeluk sahabatnya dengan penuh rasa peduli dan berkata, "Tidak apa-apa, kami bersyukur kau bisa selamat. Ini semua juga karena rencanamu, Kappa." Chaer tahu bahwa ini hanya satu dari banyak rintangan yang mereka akan hadapi dalam perjalanan mereka untuk menyelamatkan alam semesta.
Setelah Kappa aman dan bebas, mereka akhirnya bisa mendekati Kunci Prisma yang ada di seberang mata air. Saat Chaer mengambilnya, Kunci itu bersinar dengan cahaya yang mempesona. Mereka tahu bahwa mereka telah mengatasi ujian yang sulit ini bersama-sama, dan semangat persahabatan mereka lebih kuat dari sebelumnya.
Chaer mengerti bahwa perjalanan bersama sahabatnya belum berakhir, dan lebih banyak tantangan menantikan. Tetapi dengan tekad yang bulat dan persahabatan yang kokoh, Chaer dan sahabatnya siap menghadapi segala rintangan yang akan datang dalam misi mereka untuk menyelamatkan alam semesta.