
Setelah melewati portal menuju alam semesta yang hilang, keempat penyihir itu tiba di planet pertama yang mereka kunjungi. Planet itu dipenuhi oleh hutan belantara yang tampaknya tak berujung. Mereka tahu bahwa salah satu serpihan kubus ajaib harus ada di sini, sehingga mereka memulai pencarian mereka dengan penuh semangat.
Namun, perjalanan mereka taklah mudah. Mereka harus berhadapan dengan makhluk-makhluk hutan yang aneh dan berbahaya. Saga menggunakan kemampuan elemen airnya untuk menghindari perangkap alam, sementara Kappa mencoba berkomunikasi dengan makhluk-makhluk itu menggunakan ilmu alkimianya. Setelah perjuangan yang melelahkan, mereka berhasil menemukan serpihan pertama dari kubus aneh.
Tetapi itu hanya awal dari petualangan mereka. Selama perjalanan mereka melalui berbagai planet yang berbeda, keempat penyihir menghadapi berbagai tantangan. Di salah satu planet, mereka berhadapan dengan sekelompok penjahat alam semesta yang berusaha merampok serpihan kubus. Dalam pertarungan sengit, Chaer, Saga, Aria, dan Kappa bersatu dan berhasil mengusir penjahat-penjahat itu.
Di planet lain, mereka menemui sekelompok bandit yang selalu berdiam di sana, mencuri harta dari pengunjung yang tidak beruntung. Dengan kecerdikan dan kekuatan sihir mereka, keempat penyihir berhasil mengalahkan bandit-bandit itu dan mendapatkan serpihan berikutnya dari kubus ajaib.
Selama perjalanan mereka, keempat penyihir semakin erat satu sama lain. Mereka belajar bekerja sama, mengatasi rintangan, dan menghargai kekuatan masing-masing. Setiap serpihan kubus yang mereka kumpulkan membawa mereka satu langkah lebih dekat ke pintu menuju paralel universe yang misterius.
Petualangan mereka masih panjang, dan mereka tahu bahwa di alam semesta yang hilang ini, segala sesuatu mungkin terjadi. Namun, dengan tekad yang kuat dan kekuatan sihir mereka, Chaer, Saga, Aria, dan Kappa siap menghadapi segala rintangan yang da di depan dan mengejar impian mereka untuk mengungkap misteri alam semesta yang hilang.
Keempat penyihir itu duduk melingkari api unggun di tengah hutan belantara di planet keempat yang mereka jelajahi. Mereka telah mencari serpihan kubus yang keempat sepanjang hari, dan kelelahan mulai terasa. Chaer, Saga, dan Aria melepaskan mantel mereka dan merapatkan diri ke api unggun, mencari kehangatan di malam yang dingin.
Kappa, yang selalu memiliki sifat ceria, tersenyum dan berkata, "Baiklah, teman-teman, sebelum kita tidur malam ini, bagaimana kalau saya menceritakan cerita seram buatanku? Siapa tahu, mungkin itu dapat membuat kita melupakan sejenak perjuangan kita."
Chaer mengangguk, "Kenapa tidak? Suasana ini memang cocok untuk cerita-cerita seru."
Kappa mulai menceritakan cerita seram yang penuh dengan hantu dan makhluk-makhluk gaib. Saga dan Aria tertawa, tahu betul bahwa Kappa hanya berusaha menghibur mereka. Namun, mereka menikmati momen itu dan melupakan sejenak perjalanan mereka yang berat.
Tiba-tiba, ketika Kappa mencapai puncak ketegangan ceritanya, sebuah bintang jatuh melintas di atas mereka. Cahaya bintang jatuh itu memancar begitu terang dan memukau, sehingga semua empat penyihir menatapnya dengan kagum.
Aria tersenyum dan berkata, "Lihat, bintang jatuh. Itu adalah pertanda baik, bukan?"
Chaer mengangguk, "Iya, Aria. Mungkin itu adalah tanda bahwa petualangan kita akan membawa kita ke tempat-tempat yang luar biasa."
Saga menambahkan, "Kita akan menemukan serpihan kubus yang keempat besok dan terus melanjutkan perjalanan kita menuju pintu menuju paralel universe."
Keesokan harinya, keempat penyihir melanjutkan petualangan mereka di hutan belantara planet yang sama. Mereka menyusuri jalan yang terbentuk alami oleh pepohonan dan semak belukar yang lebat. Akhirnya, mereka sampai di sebuah air terjun yang begitu indah, dengan air yang jernih mengalir dengan tenang.
Tapi di atas air terjun itu, mereka melihat sekelompok orang yang berdiri di tepi tebing. Mereka tampak seperti para penjaga yang menjaga air terjun tersebut. Priva, seorang perempuan dengan jubah putih yang bersinar, berdiri di depan mereka. Rambutnya berkilauan seperti sutra, dan wajahnya menunjukkan kedamaian.
Chaer, sebagai pemimpin kelompok, mendekati Priva dengan ramah. "Halo, kami adalah para penyihir yang sedang dalam perjalanan mencari serpihan kubus ajaib. Kami ingin melewati air terjun ini. Bisakah kami melakukannya?."
Priva tersenyum lembut, "Kalian adalah para penyihir yang berani. Kami adalah para Aegleseeker, penjaga air terjun ini. Kami memastikan bahwa air ini tetap murni dan tak tersentuh oleh tangan-tangan jahat. Sebelum kalian melanjutkan, kami harus memastikan niat kalian adalah baik."
Aria, dengan tulus, menjelaskan tujuan mereka untuk menemukan kubus ajaib yang hilang. Dia berbicara tentang harapan mereka untuk menjaga alam semesta dari kekuatan jahat Letha.
Priva mendengarkan dengan penuh perhatian. Setelah beberapa saat, dia berkata, "Kalian terlihat memiliki niat yang tulus. Kami akan memperbolehkan kalian melewati air terjun ini. Namun, ingatlah, air ini adalah sumber kehidupan di planet ini. Lindungi alam semesta dengan bijaksana."
Keempat penyihir itu bersyukur atas izin Priva dan kelompok Aegleseeker. Mereka bersiap-siap untuk melewati air terjun tersebut, dengan hati penuh harapan karena mereka telah mendapat dukungan dari penjaga air terjun yang bijaksana ini.
Saat Priva memberikan izin kepada keempat penyihir untuk memasuki air terjun suci, dia memerintahkan beberapa pasukannya untuk mengawasi mereka dengan cermat. Kappa mulai merasa heran mengapa mereka masih diawasi dengan ketat, sementara Chaer, Saga, dan Aria tampak tenang dan sabar.
Mereka melanjutkan perjalanan mereka melalui air terjun, merasa seolah sedang melewati portal magis. Suara gemuruh air dan kilauan cahaya di sekitar mereka membuat perjalanan ini semakin menakjubkan. Tetapi keempat penyihir itu tahu bahwa mereka harus tetap berhati-hati dan menjaga niat baik mereka.
Setelah melewati air terjun, mereka sampai di pintu gerbang yang megah, yang tampak seperti portal ke dunia yang berbeda. Itu adalah "Negara Para Pencari Elang," tempat di mana kelompok Aegleseeker tinggal dan menjalankan tugas mereka.
Priva muncul di depan pintu gerbang masuk, menyambut hangat kedatangan keempat penyihir tersebut. "Selamat datang di Negara Para Pencari Elang," ucapnya dengan senyuman. "Kalian adalah tamu yang istimewa. Kami merasa bahwa tujuan kalian adalah mulia, dan kami ingin membantu kalian dalam pencarian kubus ajaib tersebut."
Chaer, dengan rasa terima kasih, menjawab, "Terima kasih, Priva. Kami sangat berterima kasih atas bantuan dan sambutan hangatmu. Kami siap bekerja sama dengan kalian untuk mencapai tujuan kami."
Dengan Priva sebagai panduan mereka, keempat penyihir itu memasuki Negara Para Pencari Elang, siap untuk menghadapi petualangan baru yang menunggu mereka di tempat yang misterius ini.