Adventure In Lost Universe

Adventure In Lost Universe
Puncak Keabadian



Saat Priva memimpin keempat penyihir keluar dari kerajaan Aethera menuju Bukit Argathes, langit berubah menjadi warna merah muda yang mempesona, dan cahaya samar-samar dari bintang-bintang mulai muncul. Raja Gordham melambaikan tangan dengan hangat ke arah Priva dan memberikan nasihat terakhir, "Hati-hati di perjalanan, Priva, dan bawa mereka dengan selamat ke Bukit Argathes."


Priva tersenyum dan menjawab, "Terima kasih, Ayah. Aku akan sangat berhati-hati." Dia merasakan dukungan dan harapan dari ayahnya, yang menguatkan tekadnya.


Chaer, yang penasaran, tak bisa menahan diri dan bertanya kepada Priva, "Apakah Raja Gordham adalah ayahmu, Priva?."


Priva tersenyum lembut, "Iya, Chaer. Dia adalah ayahku, dan dia juga adalah Raja Negara Para Pencari Elang."


Di sisi lain, Kappa tak bisa menyembunyikan rasa kegembiraannya. "Aku benar-benar tidak sabar untuk melanjutkan perjalanan ini, Priva!, Ayo kita menuju Bukit Argathes!."


Priva tertawa kecil melihat semangat berlebihan Kappa. Kemudian, dia memimpin keempat penyihir itu, membawa mereka ke arah Bukit Argathes yang menjulang di kejauhan.


Mengikuti Priva yang berpengalaman, mereka melangkah dengan keyakinan ke arah puncak keabadian ini, siap untuk menghadapi semua rintangan dan mengumpulkan serpihan kubus yang ketiga. Di bawah langit merah muda yang mempesona, petualangan mereka terus berlanjut, menuju tujuan yang misterius dan penuh harapan.


Sinar bintang mulai memudar, dan langit yang tadinya merah muda kini berubah menjadi gelap. Di tengah perjalanan menuju Bukit Argathes, Kappa mulai merasa bosan. Mereka hanya melalui jalan setapak yang terlihat monoton, dan saat melihat jalan setapak mulai menanjak, Kappa berhenti berjalan dan mengeluh, "Hurrghh... Apakah tidak ada hal-hal yang menarik di sepanjang hutan belantara ini?!, Aku hampir bosan untuk melanjutkan langkahku."


Aria, yang melihat Kappa mengeluh, segera meraih kedua tangan Kappa dan dengan tegas berkata, "Kita akan sampai ke Bukit Argathes, Kappa. Tidak lama lagi."


Namun, Aria pun meragukan pernyataannya sendiri dan memutuskan untuk bertanya kepada Priva, "Benarkah Bukit Argathes sudah dekat, Priva?."


Priva, dengan lembut, menganggukkan kepala, "Ya, Aria. Kita hampir sampai. Teruskan saja perjalananmu." Aria kemudian kembali menatap Kappa "Kau dengar itu?. Sudah kubilang kita sudah dekat dengan Bukit Argathes."


Aria, dengan tekad, mencoba menarik Kappa agar melanjutkan berjalan "Ayolah Kappa!. Hanya tinggal beberapa langkah saja... dan kita akan sampai" ucapnya sambil berusaha sekuat tenaga menarik tubuh Kappa. Tetapi Kappa, meskipun merasa tubuhnya ditarik oleh Aria, masih enggan untuk melanjutkan perjalanan dan tetap diam, mengungkapkan ketidakpuasannya dengan perjalanan yang monoton ini.


Selama mereka terus melewati jalan setapak yang menanjak, Saga terus merasakan sakit di kepalanya, dan perasaannya semakin tegang karena rantai suci yang membelenggu Letha terus terputus satu persatu. Chaer merasa sangat khawatir akan kondisi Saga dan terus bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi. Tetapi Saga terus menjawab dengan jawaban yang berlawanan, mengatakan bahwa dia hanya merasa pusing.


Chaer yang merasa tidak yakin dengan jawaban Saga, terus mendorong untuk mendapatkan jawaban yang jujur, membuat Saga sedikit tegang. Namun, Priva memutuskan untuk mengalihkan perhatian mereka dengan mengatakan, "Di puncak jalan setapak ini, kita akan bisa melihat bukit Argathes dengan jelas, meskipun langit telah gelap."


Pernyataan itu langsung menarik perhatian Saga, yang melupakan pertanyaan Chaer dan bergegas melanjutkan perjalanan. Chaer tetap merasa penasaran dengan kondisi Saga, tetapi dia memutuskan untuk tidak mendorong lebih jauh saat ini.


Di sisi lain, Priva menjelaskan bahwa apa yang terlihat di depan mereka adalah Bukit Argathes, "Lihatlah, di depan kita adalah Bukit Argathes, yang disebut sebagai Puncak Keabadian. Namanya seperti itu karena cahaya abadi yang selalu menyinari bukit ini dan tidak akan pernah padam."


Chaer terus menatap Saga yang berjalan di depannya dengan kepala tertunduk, dan rasa khawatir terus menghantuinya. Kappa yang berada di sebelah Chaer akhirnya bertanya dengan rasa penasaran, "Kenapa kau terus saja memandangi Saga, Chaer?."


Chaer menjawab dengan jujur, "Aku khawatir dengan kondisi Saga. Dia terlihat tidak baik."


Priva yang mendengar percakapan mereka terus menjelaskan tentang Bukit Argathes kepada mereka seolah-olah ingin mencairkan suasana. Dia menjelaskan bahwa kali ini perjalanan mereka akan membawa mereka melintasi langit.


Kemudian, Priva mengambil langkah berikutnya yang mengejutkan keempat penyihir itu. Dengan menggunakan kekuatannya, Priva memberikan setiap penyihir sayap putih yang muncul di belakang tubuh mereka.


"Sayap ini akan membantu kita menyeberangi langit menuju puncak Bukit Argathes," jelas Priva. "Mereka akan memberikan kita kecepatan dan kemampuan untuk melintasi jarak yang jauh dengan lebih cepat."


Keempat penyihir itu tercengang oleh kekuatan baru yang diberikan oleh Priva. Dengan sayap putih ini, perjalanan mereka menuju puncak keabadian akan menjadi lebih cepat dan mungkin lebih efisien. Dengan penuh semangat, mereka bersiap untuk menuju puncak Bukit Argathes dan melanjutkan pencarian serpihan kubus yang ketiga di bukit tersebut.


Priva dan keempat penyihir itu terbang melintasi langit yang gelap, dihiasi oleh gemerlap bintang-bintang yang bertebaran di mana-mana. Chaer masih terus memikirkan kondisi Saga, dan gumamnya tidak berhenti. Ia masih belum bisa percaya apa yang terjadi pada rekan mereka, dan kekhawatirannya semakin dalam.


Sementara itu, Kappa benar-benar menikmati terbang di langit. Ia dengan antusias menciptakan debu ekor sayap menggunakan kekuatan alkimianya, menciptakan percikan debu bintang yang mempesona saat ia terbang dengan leluasa. Priva tak bisa menahan senyum saat melihat Kappa menggunakan kekuatannya dengan cerdas.


Namun, Priva juga memberikan pesan kepada Kappa "Tetapi jangan ciptakan limbah alkimiamu mencemari kehidupan di bawah sana, Kappa" ucapnya sambil tersenyum. Kappa menjawab dengan antusias "Aku mengerti Priva, aku akan lebih berhati-hati dalam menggunakan kekuatan alkimiaku."


Setelah melewati lingkaran awan yang seolah-olah merupakan portal, Priva dan keempat penyihir itu tiba di puncak Bukit Argathes. Priva memanggil para elang suci yang tiba-tiba muncul dan menyuruh mereka untuk bertengger di bahu Chaer, Saga, Aria, dan Kappa. Kappa terkejut saat merasa seekor elang tiba-tiba saja bertengger di bahunya. Dia bertanya "Apa yang akan dilakukan oleh para elang ini?."


Priva menjawab dengan lembut, "Para elang ini akan menjadi pemandu kita, Kappa. Mereka akan membantu kita mencari serpihan kubus yang ketiga."


"Serius?!." Kappa awalnya terkejut dan tidak percaya, tetapi segera ia merasa senang dengan pemikiran bahwa para elang ini akan mempermudah misi mereka untuk mencari serpihan kubus yang ketiga. Dengan bantuan para elang suci ini, perjalanan mereka menuju tujuan mereka di Bukit Argathes akan menjadi lebih mudah dan cepat.