Adventure In Lost Universe

Adventure In Lost Universe
Hujan Hujan (End)



Begitu serpihan demi serpihan Kunci Prisma berhasil terkumpul kembali, cahaya prisma kembali bersinar, dan mereka merasa lega bahwa mereka telah berhasil. Namun, kebahagiaan mereka hanya berlangsung sebentar.


Tiba-tiba, tanah mulai gemetar di bawah kaki mereka. Eulalia, Chaer, Aria, Saga, dan Kappa melihat ke depan dan terkejut oleh pemandangan yang mengerikan. Tepat di depan mereka, sebuah gunung kristal yang besar mulai meletus dengan ganasnya. Kristal-kristal besar terlempar ke segala arah, menyebabkan gemuruh yang menakutkan.


Eulalia: "Gunung kristal itu akan meletus! Kita harus pergi dari sini sekarang!"


Tanpa berpikir dua kali, mereka berlari secepat mungkin. Pelemparan kristal-kristal besar semakin dekat, dan mereka harus berusaha sekuat tenaga untuk menjauh. Aria menggunakan kekuatan anginnya untuk melindungi mereka dari pecahan kristal yang terbang di udara.


Aria: "Jangan berhenti berlari!"


Mereka terus berlari melewati ladang bunga berlian yang telah menjadi lebih berbahaya oleh erupsi gunung kristal itu. Mereka dapat merasakan panas dari pecahan kristal yang mendarat di tanah di sekitar mereka.


Eulalia: "Cepat, ikuti aku!"


Eulalia memimpin mereka melewati lorong-lorong sempit antara bunga berlian. Gunung kristal masih terus meletus dengan marah, dan mereka merasa seperti waktu sedang berlari terhadap mereka.


Chaer: "Jangan lepaskan Kunci Prisma, ini mungkin yang kita perlukan nanti!"


Mereka terus berlari melewati rintangan yang semakin bertambah sulit. Eulalia merasa bersalah atas kejadian ini, dan Chaer dan teman-temannya berusaha memberinya semangat.


Kappa: "Ini bukan salahmu, Eulalia. Ini adalah kecelakaan."


Mereka akhirnya berhasil keluar dari ladang bunga berlian dan tiba di sebuah hutan yang cukup lebat. Namun, erupsi gunung kristal itu masih terus berlangsung di kejauhan. Mereka merasa lega karena telah selamat dari bahaya, tetapi mereka tahu bahwa mereka masih harus berhati-hati.


Eulalia: "Kita harus melanjutkan perjalanan menuju gerbang keluar. Itu mungkin satu-satunya jalan pulang kita."


Tanpa ragu, Eulalia memimpin Chaer, Aria, Saga, dan Kappa masuk ke dalam hutan rindang yang di depan mereka. Eulalia tahu bahwa mereka harus mencari gerbang keluar dari Hujan Hujan secepat mungkin. Suasana hutan begitu gelap karena pepohonan yang rapat, tetapi ada sedikit sinar matahari yang lolos di antara daun-daun, memberikan sentuhan misteri di dalamnya.


Eulalia: "Kita harus segera menemukan jalan keluar. Semakin cepat kita keluar dari Hujan Hujan, semakin baik."


Mereka melanjutkan perjalanannya melalui hutan yang terasa semakin terpencil. Pepohonan raksasa dengan akar-akar yang menjulur menghiasi hutan tersebut. Suara hewan-hewan liar menggema, memberikan kesan alam yang liar dan tak terjamah.


Chaer: "Kita harus berhati-hati di sini. Siapa tahu ada makhluk atau tumbuhan ganas yang mengancam kita."


Mereka melanjutkan berjalan, menghindari akar-akar yang menjulur dan mengelilingi pohon-pohon besar yang tampak seperti tempat yang cocok bagi makhluk-makhluk misterius.


Aria: "Eulalia, apakah kau yakin kita sedang bergerak ke arah yang benar?"


Eulalia menghentikan langkahnya sejenak untuk memeriksa arah matahari dan memikirkan jalan yang mereka tempuh.


Eulalia: "Aku harap kita sedang bergerak menuju gerbang keluar. Aku hanya mengandalkan firasatku."


Mereka terus berjalan, dan semakin lama, hutan semakin lebat. Mereka merasa seperti terperangkap di dalam jaringan pohon-pohon raksasa yang begitu padat.


Kappa: "Apakah kita sedang tersesat? Bagaimana kita akan keluar dari sini?"


Eulalia mencoba untuk tetap tenang dan mencari solusi. Dalam hutan yang penuh dengan misteri ini, mereka merasa terisolasi dan rentan.


Eulalia: "Aku rasa kita harus mencoba berjalan terus ke depan. Jangan terlalu panik. Aku percaya kita akan menemukan jalan keluar."


Mereka melanjutkan perjalanannya, mengabaikan rasa lelah dan rasa ketakutan. Namun, semakin jauh mereka berjalan, semakin dalam pula mereka terperangkap dalam hutan ini.


Saga: "Eulalia, apakah kau yakin kita bergerak ke arah yang benar? Kita sudah berjalan cukup lama dan tidak ada tanda-tanda gerbang keluar."


Eulalia merasa tertekan oleh pertanyaan Saga, tetapi ia tahu bahwa dia harus tetap kuat dan yakin.


Eulalia: "Kita harus terus mencoba. Jangan menyerah. Percayalah, kita akan menemukan jalan keluar."


Mereka terus berjalan, tetapi waktu terasa semakin berat. Mereka merasa seperti terjebak dalam hutan yang tak berujung. Namun, mereka tidak tahu bahwa kejutan besar menanti mereka di ujung perjalanan mereka di dalam hutan yang misterius ini.


Tiba-tiba sebuah cahaya bersinar di depan mereka. Eulalia menyadari cahaya misterius itu dan kegirangan menganggap jika itu adalah jalan keluar dari hutan ini.


Eulalia dan keempat penyihir itu berjalan dengan semangat yang membara menuju cahaya yang bersinar di depan mereka. Mereka berharap cahaya tersebut akan mengantarkan mereka pada gerbang keluar dari Hujan Hujan. Namun, ketika mereka semakin mendekat, cahaya tersebut terlihat semakin ganjil. Itu bukanlah sinar matahari yang hangat, melainkan lebih mirip cahaya berwarna ungu yang menyilaukan.


Kappa: "Apa itu, Eulalia? Apa yang ada di depan sana?"


Eulalia: "Aku tidak yakin, tetapi aku harap ini adalah gerbang keluar."


Mereka terus berjalan, semakin dekat, cahaya ungu tersebut semakin terang. Mereka merasa hampir mencapainya, tetapi ketika mereka masuk ke dalam cahaya itu, semuanya berubah. Mereka tiba-tiba terjebak di dalam bengkok waktu dan ruang yang aneh.


Semua sekitar mereka mulai memutar dengan cepat, dan mereka merasa seperti berada di dalam pusaran yang tak terkendali. Mereka berteriak, berusaha untuk keluar dari efek ini, tetapi semakin mereka bergerak, semakin terjebak mereka di dalam bengkok waktu ini.


Eulalia: "Apa yang terjadi? Kita terperangkap!"


Kappa: "Aku tidak tahu bagaimana cara keluar dari sini!"


Mereka mencoba berlari ke arah berlawanan dengan putaran bengkok ini, tetapi tanpa hasil. Mereka merasa seperti terperangkap dalam waktu yang tidak beraturan.


Aria: "Ini adalah ilusi! Hati-hati, jangan biarkan ilusi ini memakan pikiran kita!"


Mereka mencoba untuk tetap fokus, tetapi bengkok waktu ini semakin mengacaukan persepsi mereka. Mereka mulai melihat bayangan masa lalu dan masa depan mereka sendiri. Mereka merasa seperti sedang mengalami semua peristiwa dalam hidup mereka dalam satu saat.


Saga: "Kita harus tetap bersama dan saling menjaga agar tidak terjebak dalam ilusi ini!"


Mereka berpegangan tangan, mencoba untuk tidak terpisah satu sama lain saat bengkok waktu ini terus memutar mereka. Mereka tahu bahwa mereka harus bersatu dan tetap fokus untuk menaklukkan ilusi ini.


Kappa: "Eulalia, bisakah kamu menggunakan kekuatanmu untuk memandu kita keluar dari sini?"


Eulalia: "Aku akan mencoba!"


Eulalia mencoba untuk menggunakan kekuatannya, tetapi dalam kekacauan ini, kekuatannya sepertinya tidak berfungsi. Semuanya terasa sia-sia.


Eulalia: "Aku tidak bisa... kami harus mencari cara yang lain."


Mereka terus berusaha untuk tetap tenang dan mencari jalan keluar. Tapi seolah-olah waktu sendiri sedang mengejek mereka, menghadirkan kenangan dan impian yang tidak mereka pahami.


Aria: "Jangan biarkan ilusi menghentikan kita! Kita harus tetap fokus!"


Mereka terus berjuang, mencoba untuk melawan efek bengkok waktu ini. Mereka merasa seperti terjebak dalam hantaman waktu yang tidak beraturan.


Saga: "Kita harus menemukan titik pusat. Kita harus menemukan jalan keluar dari sini!"


Mereka berusaha mencari titik pusat di dalam pusaran bengkok waktu ini. Dan akhirnya, mereka melihat sinar yang bersinar sangat terang di tengah-tengah pusaran ini.


Kappa: "Sana! Di tengah sana! Itu adalah jalan keluar!"


Dengan tekad yang kuat, mereka bergerak menuju sinar tersebut. Mereka merasa dorongan fisik yang sangat kuat saat mereka bergerak, tetapi mereka tidak membiarkan hal itu menghentikan mereka. Mereka mencapai pusat pusaran bengkok ini dan melompat keluar dari sana.


Mereka tiba-tiba muncul di luar cahaya ungu yang menyilaukan. Mereka terpental ke tanah, merasa lelah dan bingung oleh apa yang baru saja mereka alami. Tetapi mereka tahu bahwa mereka telah melalui ujian yang sulit, dan masih ada perjalanan yang harus mereka lanjutkan.


Geiva dan Reghelias kebingungan tiba-tiba Eulalia dan keempat penyihir itu muncul di hadapan mereka. Melihat kedua penjaga itu lagi, Eulalia dan keempat penyihir itu langsung tertawa terbahak-bahak. Geiva langsung kebingungan lagi melihat mereka tertawa dan bertanya,


Geiva: "Sebenarnya apa yang terjadi?. Mengapa kalian tiba-tiba tertawa?."


Eulalia berdiri dan menjawab, "Bukan apa-apa, kami hanya bersenang-senang saja di Hujan Hujan."


Geiva dan Reghelias terlihat semakin bingung dengan reaksi Eulalia dan keempat penyihir itu. Mereka saling bertatapan, mencoba untuk memahami apa yang baru saja terjadi.


Eulalia: "Maaf, kami tiba-tiba teringat lelucon yang lucu. Tidak apa-apa, kami baik-baik saja."


Geiva: "Lelucon? Kami khawatir sesuatu yang buruk telah terjadi pada kalian."


Kappa: "Tidak, kami hanya mengalami peristiwa aneh di dalam cahaya ungu itu, tetapi sekarang kami baik-baik saja."


Reghelias: "Cahaya ungu? Apa itu?"


Chaer: "Kami tidak yakin, tetapi itu adalah bagian dari ujian yang harus kami lalui."


Saga: "Kami telah mengambil Kunci Prisma dari Hujan Hujan. Apa kalian menemukan apapun di sini?"


Geiva: "Sayangnya, belum. Kami hanya menemukan kebingungan."


Eulalia: "Jadi, ini kalian menjaga gerbang keluar Hujan Hujan juga?"


Reghelias: "Ya, kami berdua penjaga abadi tempat suci ini. Kami tidak ingin tempat ini ternodai begitu saja."


Eulalia: "Kami merasa bingung di dalam sana. Namun, kami tahu bahwa kami harus melanjutkan perjalanan."


Chaer: "Kami juga harus melanjutkan perjalanan kami untuk menggabungkan Kunci Prisma. Semoga kami semua berhasil."


Mereka berdua mengangguk, dan kemudian Geiva dan Reghelias melanjutkan penjagaan mereka, membukakan gerbang keluar untuk Eulalia dan keempat penyihir itu.


Eulalia: "Jadi, apa rencana selanjutnya?"


Kappa: "Kita harus mencari... Aduh aku tidak tahu apa namanya."


Aria: "Kita sudah mengambil Kunci Prisma, sekarang kita harus menggabungkannya kembali."


Saga: "Aku juga ingin tahu lebih banyak tentang dirimu, Eulalia. Apa yang terjadi padamu?"


Eulalia: "Itu adalah cerita panjang. Aku adalah seorang putri yang hilang dari planet ini."


Chaer: "Kami ingin mendengar ceritamu, Eulalia."


Eulalia pun menceritakan kisahnya kepada Chaer, Saga, Aria, dan Kappa. Dia menceritakan bagaimana dia tumbuh dewasa di Hujan Hujan, menghadapi berbagai ujian, dan akhirnya terperangkap di dalam ladang bunga lavender. Dia juga menceritakan tentang bagaimana dia tahu tentang Kunci Prisma dan bahwa mereka harus menggabungkannya kembali.


Eulalia: "Aku berharap bahwa dengan bantuan kalian, saya bisa menemukan jalan untuk kembali ke istana dan mengembalikan kedamaian ke planet Eulianis."


Saga: "Kami akan membantumu, Eulalia. Bersama-sama, kita akan menghadapi segala rintangan yang ada."


Eulalia tersenyum, merasa bersyukur memiliki teman-teman seperti Chaer, Saga, Aria, dan Kappa. Mereka memiliki tugas besar yang harus mereka selesaikan, dan mereka tahu bahwa mereka harus bersatu dan mengatasi semua ujian yang ada di depan mereka.


Eulalia: "Terimakasih, teman-teman. Ayo kita lanjutkan perjalanan."


Mereka pun bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan mereka, tidak menyadari bahwa setiap langkah yang mereka ambil membawa mereka lebih dekat pada kebenaran tentang Kunci Prisma dan bagaimana menggabungkannya kembali.