Adventure In Lost Universe

Adventure In Lost Universe
Peradaban yang Hilang



Priva, dengan langkah yang anggun, menjadi pemandu bagi keempat penyihir, mengajak mereka berkeliling Negara Para Pencari Elang. Saat mereka berjalan, Priva mulai menceritakan tentang asal usul peradaban yang hilang yang membentuk dasar negara ini.


"Selamat datang di Negara Para Pencari Elang," kata Priva, suaranya penuh dengan kehangatan. "Ini adalah tempat yang khusus, tempat di mana kami Aegleseeker tinggal dan menjalankan tugas kami untuk menjaga alam semesta. Namun, negara ini tidak selalu seperti yang kalian lihat sekarang."


Sambil berjalan menuju kerajaan Aethera yang megah, Priva melanjutkan ceritanya, "Berabad-abad yang lalu, ini adalah tanah yang terlupakan, sebuah peradaban yang hilang. Ini semua berubah ketika ayahku, Raja Gordham, sedang dalam perjalanan. Dia menemukan seekor elang yang terluka dan merawatnya dengan penuh kasih sayang."


Priva tersenyum saat dia teringat cerita ini. "Elang itu menjadi teman ayahku, dan dalam mimpinya, elang itu membawa dia ke negara ini yang tersembunyi. Melihat potensi luar biasa tempat ini, Raja Gordham memutuskan untuk membangun peradaban baru di sini. Dia memilih nama 'Aegleseeker' untuk diri mereka, untuk menghormati elang yang membawanya ke sini."


Keempat penyihir mendengarkan dengan penuh perhatian, merasa terinspirasi oleh cerita tentang asal usul Negara Para Pencari Elang ini. Mereka semakin yakin bahwa misi mereka adalah sesuatu yang benar-benar istimewa.


Priva akhirnya membawa mereka ke gerbang megah kerajaan Aethera. "Dan sekarang, kami adalah keluarga besar yang siap menjalankan tugas kami untuk menjaga air terjun suci dan menjaga alam semesta. Kami sangat senang bisa memiliki kalian sebagai tamu dan berharap bahwa kalian bisa mencapai tujuan mulia kalian di sini."


Keempat penyihir itu merasa terhormat dan bersyukur atas sambutan hangat dari Priva dan Negara Para Pencari Elang. Dalam kerajaan yang megah ini, petualangan mereka akan terus berlanjut, semakin mendekati penemuan kubus ajaib yang mereka cari.


Saat mereka berjalan menuju pintu masuk kerajaan Aethera, Saga tiba-tiba merasakan sakit di kepalanya yang semakin memburuk. Belenggu yang mengikat Letha mulai terasa bergetar, dan Saga mulai merasakan kehadiran sihir gelap yang menyerangnya. Dia merasakan ketakutan yang mendalam, namun mencoba menyembunyikan rasa takutnya.


Chaer yang berjalan di sebelahnya, mengamati ekspresi Saga yang pucat. "Apa yang terjadi, Saga? Kenapa kamu terlihat begitu pucat? Apa yang kamu rasakan?."


Saga mencoba tersenyum, meskipun dengan susah payah. "Aku hanya merasakan pusing saja, Chaer. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan."


Tapi dalam hatinya, Saga merasa takut bahwa belenggu yang mengikat Letha mulai lemah, dan penyihir jahat itu bisa saja bebas. Namun, dia tidak ingin mengganggu rekan-rekannya yang begitu bersemangat untuk melanjutkan petualangan mereka.


Sementara itu, Priva mencapai pintu gerbang megah kerajaan Aethera dan dengan anggun membuka pintunya. Cahaya gemerlap dan arsitektur yang megah dari kerajaan ini membuat Chaer, Saga, Aria, dan Kappa terkagum-kagum.


Kappa tidak bisa menahan diri untuk berkomentar, "Wow!, ini seperti istana dari surga, betul-betul luar biasa!"


Priva tersenyum dan mengangguk, "Selamat datang di kerajaan Aethera, tempat yang luar biasa di Negara Para Pencari Elang. Kami senang kalian suka, dan kami ingin kalian merasa seperti di rumah sendiri di sini."


Kappa, dengan semangat yang berlebihan, masuk dengan cepat ke pintu gerbang kerajaan Aethera, tidak melihat jalan yang ada di depannya. Akibatnya, ia menabrak seorang penjaga pintu masuk yang bertubuh besar dan kekar. Kappa terdiam dan merasa gugup saat melihat penjaga itu berdiri di depannya.


"Mohon maaf," ucap Kappa dengan cepat, "Saya tidak sengaja..." Namun, sebelum dia bisa melanjutkan permintaan maafnya, penjaga itu membentaknya dengan tegas, membuat Kappa terkesiap.


Tapi Priva segera mengintervensi, dengan nada tegas, "Hentikan!" Dia mengambil langkah maju dan melihat penjaga itu dengan tegas. "Ini adalah tamu istimewa kita, hormati mereka!"


Penjaga itu patuh dan dengan hormat mengangguk kepada Priva. "Maaf, Putri." Kata-kata itu diucapkannya dengan penuh rasa hormat.


Kappa terkejut mendengar kata "Putri" yang diucapkan oleh penjaga. "Putri?" gumamnya pelan.


Namun, Priva segera merespons, berpura-pura dengan nada santai, "Oh, jangan permasalahkan itu. Aku bukanlah seorang putri, hanya seorang Aegleseeker seperti yang lainnya."


Keempat penyihir itu akhirnya diizinkan masuk ke dalam kerajaan Aethera setelah insiden itu. Saat memasuki bangunan megah kerajaan, Kappa dengan semangat berlebihan mulai berlarian ke sana kemari, terpukau oleh arsitektur dan keindahan bangunan ini. Priva tersenyum hangat melihatnya, sementara Chaer, Aria, dan Saga hanya bisa pasrah, menghadapi tingkah polah Kappa yang selalu penuh semangat.


Setelah memasuki bangunan kerajaan Aethera, seorang pelayan wanita memerintahkan Priva dan keempat penyihir untuk menghadap Raja Gordham. Pelayan wanita tersebut berkata "Putri-", Priva pun langsung memotong pembicaraan pelayan wanita tersebut "Sssst!... Jangan sebut namaku dengan kata "Putri", kau mengerti?", Pelayan wanita langsung mengiyakan perintah tersebut "Baik Putri... Ehmm, maksudku Priva." Mereka diarahkan menuju ruangan di mana Raja Gordham duduk di singgasananya.


Melihat putrinya Priva kembali, Raja Gordham menyambutnya dengan hangat dan mengapresiasi kedatangan keempat penyihir. Chaer, Saga, dan Aria tunduk hormat dengan sopan, mengucapkan kata-kata kehormatan "Sebuah kehormatan dapat bertemu denganmu, baginda." Kappa, yang agak kebingungan, diberi tahu oleh Aria untuk ikut tunduk hormat, "Hei!, Kappa!", Kappa langsung terkejut "Oh!, baiklah!", dan akhirnya dia mengikuti tindakan mereka.


Raja Gordham memberikan sambutan yang hangat kepada keempat penyihir itu dan bersiap mendengarkan rencana mereka untuk mencari serpihan-serpihan kubus ajaib. Chaer, sebagai pemimpin kelompok, menjelaskan dengan rinci tentang tujuan mereka untuk mengumpulkan serpihan-serpihan kubus tersebut dan membuka pintu ke parallel universe.


Raja Gordham terheran-heran dan terkagum-kagum oleh rencana luar biasa yang dia dengar. "Putriku, bimbinglah mereka ke bukit Argathes." Dia langsung memerintahkan putrinya, Priva, untuk membimbing keempat penyihir menuju Bukit Argathes sebagai kunci untuk mencari serpihan kubus yang ketiga.


"Baik, ayah", Priva dengan patuh melaksanakan perintah ayahnya. Dia mengarahkan keempat penyihir untuk meninggalkan ruangan dan kembali ke pintu keluar bangunan kerajaan. Mereka harus menunggu di depan pintu keluar tersebut sebelum perjalanan mereka ke Bukit Argathes dimulai. Dengan harapan yang tinggi, keempat penyihir itu mengikuti Priva, si pemimpin kelompok Aegleseeker, menuju pintu keluar untuk melanjutkan petualangan mereka.