adriel

adriel
bab 8



"pagi non" sapa bik ina


"pagi juga bik" ucap nia


"mau kemana kamu? teriak el dari tangga


nia tidak mejawab ia tetap berjalan sambil memincang kan kaki nya yang masih sakit. el berlari menuruni anak tangga


"apa kamu sudah tuli sehingga kamu mengabaikan ku" el menarik tangan nia


"ada apa" nia menepiskan tangan el dengan kasar


"mau kemana kamu" bentak el


"kamu pikir saja sendiri,aku mau kemana"tegas nia


"kamu mau kerja?"tanya el


"itu tau" jawab nia singkat, nia masih sakit hati dengan perkataan el semalam


"gak gak gak, kamu gak boleh kerja, tunggu kaki mu sembuh baru aku izin kan kamu kerja" larang el


"apa hak mu melarang ku" bantah nia


"aku berhak melarang mu,karna kamu___" ucapan terpotong


"karna aku apa" bentak nia


"sudah lah, kamu kembali saja kekamar mu dan istirahat,aku tidak mau kamu sakit" ucap el


"apa peduli mu kalau aku sakit... ooh ya aku tau,kamu takut aku akan merepotkan kamu" bentak nia menatap kearah el dengan mata bekaca-kaca


"ada apa dengan mu,apa yang membuat mu berani membentak ku"el meninggikan nada bicara


el merasa heran,tidak biasa nya nia semarah ini, keseharian mereka memang selalu bertengkar bagai tom and jeri tapi el belum pernah melihat nia semarah dan seberani ini


tanpa menjawab nia kembali melanjut kan langkah nya, ia berjalan dengan tertatih karena luka nya masih basah. el kembali menarik tangan nia dan menutup pintu mobil nia dengan kasar,sampai-sampai mang ujang security terkejut mendengar dentuman dari pintu mobil


"apa kamu sudah tidak waras.. dengan kaki pincang seperti ini kamu mau mengendarai mobil dengan sendiri..kamu benar-benar sudah gila,apa kamu mau mati" teriak el sambil menatap nia dengan kemarahan


"iya aku sudah gila, aku sudah tidak waras, dan aku mau mati,, biar tidak ada lagi yang mengganggu mu,biar tidak ada lagi yang menyusahkan mu" bentak nia sambil mendorong tubuh el


el memeluk nia,ia tidak tega melihat nia menangis sampai sesegukan seperti ini, menenggelamkan tangisan nya didada bidang el,ia merasa hidup nya hanya menjadi benalu buat el, setelah puas menangis nia melepaskan pelukan el


"biar kan aku untuk bekerja" ucap nia gemetar karena menangis


"izinkan aku mengantar mu,aku tidak mau kamu menyetir mobil sendiri"pinta el


"kalau kamu tidak mengizinkan ku untuk mengantar maka aku tidak mengizinkan mu untuk bekerja"tegas el


"masuk kemobil atau aku akan menyeret mu kerumah" el membuka pintu mobil


nia bejalan dengan kaki pincang kearah mobil el, el kesal melihat nia berjalan seperti siput,


"merepotkan ku saja" el menggendong nia kemobil


disepanjang perjalanan mereka hanya berdiaman,mereka sibuk dengan pikiran mereka sendiri- sendiri, el sesekali menatap wajah nia dari pantulan kaca, el masih merasa heran dengan sifat nia pagi ini.


"kenapa dia,tidak biasa nya dia seperti ini,apa aku melakukan kesalahan,tapi apa?"batin el


"jangan-jangan dia lagi datang bulan, maka nya emosi nya tidak stabil" pikir el


el menghentikan mobil nya didepan kafe nia, nia turun dari mobil tanpa mengucapkan sepatah kata, el pun ikut turun,ia kembali menggendong nia, nia sontak kaget ia merasa malu melihat karyawan nya pada tertawa melihat nia digendong el


"el kamu jangan buat aku malu,turunin gak" ucap nia


el terus menggendong sampai keruangan nia, dan menurunkan nia dikursi kebesaran milik nia.


"kamu sudah gila ya" wajah nia merah menahan malu


"kalau aku gila.. kamu juga gila" el menyunggingkan senyuman


"sudah pergi sana"usir nia


"iis iis dasar tidak tau terima kasih" kesal el


"iya terima kasih" ucap nia dengan nada cuek


"terima kasih itu jangan hanya omong doang, kasih ciuman kek, disini, disini dan disini" el menunjuk kening pipi dan bibir


nia tersenyum malu-malu tapi mau😀


"sudah pergi sana" nia beranjak dari kursi kebesaran nya ia mau mengusir el tetapi kaki nya tersandung dan jatuh kepelukan el


nia mendongakan kepala, el tidak bisa menahan nafsu melihat wajah cantik dan juga bibir sexy nia dengan polesan makeup tipis, el menundukan kepala nya dan mencium bibir sexy nia dengan lembut,nia berusaha mengunci bibir nya,el memainkan lidah nya untuk membuka bibir nia dan memasukan lidah nya kedalam mulut nia, nia hanya bisa pasrah. el melepaskan ciuman nya, karena nia kehabisan napas


"lain kali hati-hati" bisik el ketelinga nia membantu nia kembali duduk dikursi


"aku pergi" el melihat jam ditangan nya


"hati-hati" ucap nia


sepanjang perjalanan el masih membayangkan ciuman nya dengan nia sehingga membuat intim nya menegang, ia merasa nyaman saat berdekatan dengan nia meskipun pertenggaran selalu melanda mereka.