
sore ini el pulang terlebih dahulu,biasa nya el selalu menemui mona keapartemen kalau mereka bertengkar, entah mengapa hari ini el seolah tidak peduli kepada mona,dari tadi pagi ia selalu memikirkan keadaan nia.
nia menatap mobil el yang sudah terparkir dihalaman, rasa nya nia berat sekali untuk masuk kedalam rumah dan melihat dua orang itu,entah mengapa nia merasa begitu sakit melihat kemesraan el dan juga mona, ingin rasa nya ia kembali kekafe dan bermalam disana,
"aku harus kuat untuk mengahadapi kedua manusia yang menjijikan itu, ini rumah el dan aku istri el,meskipun aku cuma istri terpaksa tapi aku lebih berhak dari pada mona"gumam nia sambil menarik napas lalu membuang nya. nia.
nia berjalan perlahan untuk masuk kerumah supaya tidak bertemu dengan el maupun mona, nia membuka pintu rumah.
"kamu sudah pulang" ucap el,
nia sontak kaget melihat el duduk diruang tamu. el beranjak dari sofa dan berjalan kearah nia.
"gimana keadaan mu,,apa luka mu sudah sembuh" ucap el memegang pipi nia, nia menepiskan tangan el
"lepas, jangan sentuh aku"tegas nia
"nia aku hanya ingin melihat luka mu saja"ucap el
"untuk apa kamu melihat luka, apa kamu peduli dengan keadaan ku" bentak nia denga mata berkaca-kaca
"iya..aku peduli dan aku khawatir dengan keadaan mu" ucap el meninggikan suara nya,
"kalau kamu peduli mengapa kamu memukul ku el" bentak nia sambil mendorong el dari hadapan nya.
nia tidak kuat menahan tangis nya ia pergi meninggalkan el, lagi-lagi el mencekal tangan nia
"lepaskan tangan ku el" ucap nia berusaha melepaskan tangan el
"gak..aku gak akan melepaskan mu sebelum aku melihat luka diwajah mu"ucap el menatap nia dengan penuh penyesalan
"kenapa kamu mau melihat wajah ku,, dan mengapa kamu berani menghampiri ku kemana wanita pelacur mu itu"bentak nia sambil menatap el, biasa nya el akan marah jika nia menyebut mona seperti itu tapi kali ini el sama sekali tidak marah.
"nia bisa kah kamu bicara sedikit lembut kepada ku? iya aku tau aku salah telah menyakiti mu,dan aku sangat teramat menyesal dengan apa yang telah ku perbuat terhadap mu,,aku minta maaf,sekali lagi maaf kan aku ni"ucap el dengan tulus dengan mata berkaca-kaca melihat memar diwajah nia, ia sungguh menyesali perbuatan nya.
"setelah kamu menyakiti ku,kamu berani meminta ku untuk bicara lembut kepada mu, dan meminta ku untuk memaafkan mu" ucap nia sambil menatap mata el
"nia aku tau aku salah, tapi biarkan aku untuk mengobati luka mu aku mohon 🙏" ucap el
"apa aku berikan saja obat ini kepada nia, kalu dia gak mau aku obatin biar lah dia sendiri yang mengobati memar diwajah nya pakai obat ini" gumam el menatap obat ditangan nya
el mengetuk pintu kamar nia
"tunggu bentar"ucap nia dari dalam kamar,
"kamu,mau ngapain lagi kamu kesini"ucap nia melihat el berada didepan kamar nya
"aku cuma mau memberikan obat ini kepada mu, biar memar diwajah mu tidak sakit tidak memar lagi" ucap el sambil memberikan obat kepada nia
"tidak perlu, kamu simpan saja obat mu,aku tidak butuh" ucap nia sambil menutup pintu
"nia aku tau aku salah, aku benar-benar menyesal,,, sebelum kamu menerima obat dari ku,aku gak akan pergi dari sini"ucap el dari belakang pintu
" terserah kamu saja el,laku kan sesuka hati mu" jawab nia dalam kamar.
el menyender dibalik pintu sambil mengetuk-ngetuk pintu,, nia merasa terganggu ia kembali membuka pintu dengan kasar
"ada apa la___" ucapan nia terhenti
gubrak
tubuh el terjatuh kelantai dan kepala nya ikut terbentur
"aaaw"ucap el, ia langsung memegang kepala nya yang sakit akibat benturan keras
"el kamu gak papa" tanya nia, ia cemas melihat el merintih kesakitan.
"el buka mata mu... kamu jangan bercanda el" ucap nia ketakutan melihat el tidak sadarkan diri
"el bangun,aku mohon bangun,el buka mata mu, kamu jangan membuat ku khawatir "ucap nia sambil menangis,
ia mencoba mengoyang-goyang tubuh el, tetapi el tetap tidak bangun,, nia berteriak minta tolong,bik nani langsung keluar dari kamar nya saat mendengar teriakan minta tolong. nia melihat bik nani dilantai bawah ia meminta bik nani memanggil mang ujang untuk membantu nia menggotong el kedalam mobil dan membawa el kerumah sakit.