adriel

adriel
bab 10



setelah selesai makan malam el kembali kekamar, ia membuka laptop dan membuat laporan keuangan kafe yang sudah ia kacau kan, nia sudah melarang tapi el tetap besikeras ingin membuat laporan bentuk tanggung jawab atas apa yang telah ia perbuat.


jam sudah pukul 1malam el mulai mengantuk, ia kedapur membuat kopi untuk menghilangkan kantuk, dengan tidak sengaja el menjatuhkan gelas kopi.nia terbangun mendengar ada sesuatu yang pecahan , ia langsung kedapur untuk melihat.


"nia kamu ngagetin saja" ucap el melihat nia sudah dihadapan nya


"el apa yang kamu lakukan didapur tengah malam seprti ini ? tanya nia yang melihat el membersihkan pecahan gelas


"aku mengantuk, maka nya aku kedapur untuk membuat kopi,,,saat menuang air panas kegelas, tidak sengaja aku menumpahkan nya dan mengenai tangan ku" jelas el


"apa tangan mu terluka? dan kenapa kamu belum tidur sudah malam seperti ini? tanya nia sambil memegang tangan el


"tangan ku tidak apa-apa,aku tidak akan tidur sebelum aku menyelesaikan laporan mu" ucap el sambil menyendokan kopi kegelas untuk membuat kopi kembali


"astaga el,, laporan itu gak akan selesai dalam satu malam, kamu gak usah memaksa kan diri deh, dan kamu gak usah lagi melanjutkan laporan ku,biar aku sendiri saja yang membuat laporan besok,lagian besok aku juga gak ada kerjaan" ucap nia sambil menghentikan tangan el membuat kopi


"besok kamu kan kerja, dan malam ini kamu gak ada istirahat gimana kalau kamu jatuh sakit siapa yang akan mengurus perusahaan? aku minta sekarang kamu tidur, dan balikin catatan laporan ku" pinta nia


"no no,,, kamu kira aku ini pria lemah dan tidak bertanggung jawab,,laporan seperti itu kecil dalam dua hari aku akan menyelesaikan nya, dan kamu akan memujikan" el menyombongkan diri


"astaga sombong sekali pri ini,ya sudah terserah kamu saja" el tersenyum melihat nia merasa kesal mendengar ucapan nya.


"bikinin aku kopi" perintah el


"bisa gak diawali dengan kata tolong" ucap nia sambil memasukan gula kegelas kopi


"kalau aku gak mau gimana?" bantah el


"ya sudah bikin saja sendiri" nia kembali menarok air panas dikompor


"iya iya...nia cantik tolong dong" ucap el membuat nia tersenyum karena malu


"nih kopi nya" nia memberikan kopi kepada el, tapi el tidak mengambil kopi nya


"nia yang baik hati tolong dong kopi nya dibawa kekamar sekalian" pinta el yang sengaja mengerjai nia


"ogah, bawa saja sendiri" tolak nia sambil menarok kopi dimeja dapur


"ya sudah kalau gak mau" el mengambil kopi.


"aduh"el pura-pura kesakitan dan kembali menarok kopi


"sudah tau tangan ku sakit,masih disuruh bawa kopi" ucap el sambil meniup niup tangan dengan sedikit senyum licik


"ya sudah aku bantu bawa kekamar kamu" ucap nia membawa kopi kekamar el


"el kopi nya tarok dimana? tanya nia


"tarok dimeja sofa"jawab el dari kamar mandi


"waaw, ternyata kerja nya cepat juga, aku kira dia cuma bisa mengganggu ku,menyebalkan dan mengajak ku ribut"gumam nia melihat laptop


"kenapa kamu masih disini? apa kamu mau ku mangsa ditengah malam seperti ini? ucap el menakuti nia


"dasar otak mesum" nia beranjak dari sofa dan ingin kembali kekamar nya,


"apa kamu bilang"el mencekal tangan nia


"el lepaskan tangan ku,aku mau tidur aku sangat ngantuk..huam" nia pura-pura menguap


"aku tidak akan melepaskan mu,sebelum aku memangsa mu" el menarik tangan nia hingga jatuh kepelukan nya


"el kamu apa-apaan sih, lepas gak atau___" nia menghentikan ucapan nya


"atau apa?" ucap el mendekatkan bibir nya kebibir nia


"aku...aku akan membunuh mu" el terkekeh mendengar ucapan nia


"hahaha... apa kamu yakin bisa membunuh ku? tanya el


nia menggelengkan kepala,el menggedong nia ketempat tidur


"el kamu jangan bercanda"ucap nia ketakutan


"aku minta kamu tidur disini malam ini,temani aku kerja"ucap el kembali kesofa membuat nia merasa lega


"iya aku akan tidur disini tapi aku mau kamu janji jangan apa-apain aku" tegas nia


"iya aku janji, lagian mana mungkin aku melakukan itu sama kamu bisa-bisa mona marah kepada ku" ucap el yang membuat nia merasa sakit hati mendengar ucapan nya.


"cinta el begitu besar untu mona,bahkan ia takut mona marah kepada nya, ia begitu menjaga perasaan mona, mana mungkin el bisa mencintai ku apa lagi menganggap ku sebagai istri" batin nia,sehingga ia meneteskan air mata