adriel

adriel
bab14



tiba dirumah sakit perawat membawa el kedalam ruang UGD, nia mondar mandir didepan ruangan UGD, ia sangat mengkhawatirkan keadaan el,seluruh tubuh nya gemetar,tapak tangan nya terasa dingin wajah nya memucat saat mengingat benturan keras dikepala el,ia sangat takut jika sesuatu tidak dinginkan terjadi kepada el.


"ya tuhan sadarkan lah suami ku,, aku tidak ingin terjadi sesuatu pada suami ku,aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika el sampai___" nia menghentikan ucapan nya, tangis nya langsung pecah membayangkan el pergi untuk selama nya, ia menangis sambil duduk dibangku depan UGD.


nia langsung berdiri mendengar suara pintu UGD terbuka


"dok gimana keadaan suami saya,dia baik-baik saja kan dok"ucap nia sambil memegang tangan dokter


"ibu yang tenang ya,suami ibu baik-baik saja, hanya saja dia belum sadarkan diri akibat benturan keras dikepala nya, sekarang suami ibu akan kami bawa keruang rawat inap" ucap dokter


"syukurlah, terima kasih banyak ya dok"ucap nia,nia merasa lega mendengar ucapan dokter,


diruangan rawat inap nia terus menatap wajah tampan suami nya,ia terus memegang tangan el sambil duduk dikursi samping tempat el tidut.


setelah 30menit akhir nya el sadar, ia menatap dari sudut kesudut ruangan,


"dimana aku,sepertinya ini bukan kamar ku,apa yang terjadi kepada ku,, aaaw,mengapa kepala ku satit sekali"gumam el sambil memegang kepala nya, ia mengerakan tubu nya,tapi ia merasa ada sesuatu diatas perut nya.


"nia,?kepana dia tidur disini,,apa sebenar nya terjadi pada ku"gumam el sambil menggingat sesuatu


"astaga,,apa tadi aku pingsan,dan nia membawa ku kerumah sakit ini" gumam el ingat akan kejadian beberapa jam lalu


perlahan el duduk ditempat tidur dan menatap wajah nia, ia menatap mata nia yang bengkak karena menangis, ia juga mengelus pipi nia yang memar


"pasti sakit sekali,maafkan aku nia,aku memang laki-laki brengsek" gumam el sambil meneteskan air mata


nia terbangun,ia merasa ada yang mengelus pipi nya.


"el kamu sudah sadar" ucap nia senang


"eem"ucap el sambil menghapus air mata


"el kamu kenapa?,apa kepala mu masih sakit" tanya nia dengan cemas, ia kira el menangis karena sakit


"aku tidak apa-apa" ucap el menyunggingkan senyum


"tapi kenapa kamu menangis" ucap nia menatap el


"aku tidak menangis" ucap el


"aku lihat tadi kamu menghapus air mata,, kamu pasti malu mengakui kalau kamu menangiskan,,aku akan panggil dokter" ucal nia


"aku tidak butuh dokter,aku cuma butuh kamu,, aku menangis bukan karena aku sakit tapi aku menangis karena aku merasa bersalah kepada mu nia" ucap el sambil sambil menangis dipelukan nia,nia pun ikut menangis mendengar ucapan el, ada rasa senang melihat el menangisi diri nya, ada rasa sedih saat mengingat el memampar nya.


"maaf kan aku nia,karena tangan ini pipi mu memar seperti ini" ucap el memegang pipi nia


"sudah lah el gak usah lagi mengingat kejadian itu,,, seharus nya aku yang minta maaf, karena aku kamu harus dirawat dirumah sakit" ucap nia melepaskan tangan el dari pipi nya


"ini bukan kesalahan mu nia,,ini kesalahan ku sendiri,tuhan sudah membalaskan apa yang telah ku perbuat terhadap mu" ucap el memegang tangan ni.


"hari sudah malam,sebaik nya kamu tidur, aku tidak ingin kamu sakit" ucap el


"ya aku akan tidur disofa" ucap nia, lagi-lagi el mencekal tangan nia


"kamu tidak boleh tidur disofa" ucap el


"kenapa?,, apa kamu menyuruh ku untuk pulang? dan kamu ingin mona menemani kamu,, ok baik lah sini ponsel mu biar aku hubungi mona"ucap nia dengan kesal


"bisa gak sehari saja kita tidak bertengkar, seharus nya kamu dengarkan dulu penjelasan orang,sebelum kamu ngoceh panjang lebar " ucap el tersenyum


"oooh maksud kamu aku ini masalah dalam pertengkaran kita gitu?"ketus nia sambil melipat tangan nya kedada


"aku tidak bilang begitu" ucap el menarik tubuh nia hingga duduk ditempat tidur


"el apa yang kamu lakukan" ucap nia melihat el melepas selang impus


"aku tidak butuh itu,, aku butuh kamu tidur disamping ku malam ini"ucap el merebahkan tubuh nia


"el kamu lagi sakit tapi otak mu tetap saja mesum,, lepaskan aku, aku mau tidur disofa" bentak nia,


"terus saja kamu panggil aku mesum"ucap el sambil mempererat pelukan nya ketubuh nia


"el pelukan mu menyakiti ku" ucap nia


"sudah diam,,aku mau tidur"ucap el sedikit melonggarkan pelukan nya


"dasar otak mesum" ucap nia,,


malam ini nia merasa bahagia, ia tidak pernah membayangkan bisa tidur dipelukan el seperti ini.