A LOVE SO FREE

A LOVE SO FREE
31



...selamat membaca...


Aku berjalan sumringah memasuki kontrakan milik gilang ini. Sebentar lagi aku akan menikah dengannya.


"Cin"ucap gilang yang membuatku menoleh padanya


"Ada apa?"tanyaku masih dengan senyum mengembang


"Aku belum siap"ucap gilang yang membuat senyumku seketika luntur


"Maksud kamu apa?"tanyaku


"Aku belum siap untuk semua ini, aku memang cinta sama kamu tapi mengenai hal ini. Benar benar di luar dugaan aku"ucap gilang


"Jangan bilang kamu gak akan tanggung jawab?"tanya sembari menatapnya tajam


"Aku gak punya uang untuk membiayai hidup kamu"ucap gilang


"Tapi kamu bisa kerja gilang, kamu bisa kerja di perusahaan cabng milih orang tua radit biar aku yang bilang ke dia"ucapku


Gilang terdiam dan mengehela nafasnya


"Kamu pikir aku kuat? 5 hari full aku harus kuliah, lalu kamu meminta aku untuk kerja? Di sebuah perusahaan? Cin! Inilah kenapa aku minta jangan berbuat macam-macam ketika bersama aku!"ucap gilang


"Gilang! Ini anak kamu!"ucapku mencoba mengingatkan gilang


"Aku gak akan bisa menjadi orang tua yang baik untuk dia"ucap gilang


"Stop! Jangan bicara macam-macam! Aku butuh kamu dan anak ini butuh kamu!"ucapku tegas


"Apa kamu gak mengerti juga? Cindy tolong pahami aku juga! Sedari kecil aku terus memahami kamu dan selalu mengalah. Terus kenapa sampai saat ini aku harus terus seperti itu? Aku mau seperti orang-orang lain, bisa fokus dengan kuliahnya lalu berkarir dan setelah itu memikirkan hal ini"ucap gilang


"Kamu selalu sengaja menempatkan aku ke hal seperti ini, bukan aku gak cinta sama kamu tapi aku gatau harus seperti apa nantinya"sambung gilang


"Gak ada alasan kamu harus nolak anak ini gilang"ucapku


"Aku gamau anak ini lahir tanpa seorang ayah"sambungku


Nafasku terasa berat, aku tidak tau harus seperti apa. Radit ada benarnya juga. Jika seperti ini lantas aku harus apa?


Semua sudah terjadi! Bahkan sudah terbentuk janin di perutku.


Aku menatap gilang kesal bukan main! Aku tak percaya bahwa dia tidak ingin bertanggung jawab!


"Ok fine"ucapku yang membuat gilang menatapku lekat. Ia mendekat ke arahku dan mencoba memelukku namun kutahan


•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


4 Tahun kemudian


BSD, Tangerang.


"Naufal!!"ucap radit sembari berlari memanggil naufal


Naufal yang tengah memainkan robotnya lantas menoleh dan tersenyum sumringah melihat kedatangan radit.


"Unclee!!"ucap radit berlari menuju radit


Dengan sigap radit lantas menggendongnya


"Tebak, uncle bawa apa"ucap radit


"Cookies!"ucap naufal


"Salah"ucap radit


"apa?"tanya naufal yang membuatku pun menghampiri mereka


Radit mengambil sebuah kotak kecil di dalam jaketnya dan mulai memberikannya pada naufal.


"Titipan dari papah"ucap radit yang membuatku mengernyitkan dahi


"Bokap lo ngasih ginian? Tumben banget"ucapku


"Papahnya naufal maksud gue"jawab radit yang membuatku membulatkan mata


Aku terdiam memandangi kotak tersebut lalu meletakannya di meja. Cukup sudah! Aku tidak ingin berhubungan dengan dia lagi.


"Dari papah?"tanya naufal yang membuatnya membulatkan mata dengan senang. Ia merengek mencoba mengambil kotak tersebut


"Uncle bercanda, naufal"ucapku


"Benerrr!!!"ucap naufal memaksa lalu membuat radit membuka kotak tersebut.


Disana berisi gelang kecil berwarna hitam yang sudah pasti ditujukan untuk naufal.


Aku menghela nafas.


Aku meninggalkan gilang semenjak kejadian di bandung saat itu, aku lantas kembali ke jakarta dan membeli sebuah rumah di BSD tangerang. Aku ingin punya ruang untukku sendiri.


Selama aku sendiri, radit yang sering datang menemaniku sembari membawa pacarnya yang selalu bergonta ganti setiap tahunnya, hm dasar playboy!


Lagipula untuk apa dia bertemu denganku? Apalagi bertemu naufal yang jelas jelas dia tidak inginkan kehadirannya.


"Jangan deket deket gilang lagi, dit"ucapku


"Gak sengaja ketemu dan dia maksa ngasih ini ke gue"ucap radit


"Dia baru aja sumpah dokter cin, dia kerja di jakarta"sambung radit


"Terserah"ucapku


"Kalau lo gamau sama gilang paling enggak cari cowo yang bisa lo jadikan suami. Kasian naufal yang selalu nanyain kemana papahnya"ucap radit


"Gue males dit! Gue udah gak minat"ucapku


"Ya semua terserah lo sih, gue ngikut lo aja yang penting lo seneng"ucap radit


"Dia sok peduli tentang anak ini padahal dia sendiri yang mau naufal gak dilahirkan"ucapku


"Semua bisa berubah, dia pasti udah menyadari kesalahannya"ucap radit


"Udahlah gausah di omongin! Gue gak minta ngomongin dia"ucapku sembari terus memandangi naufal yang bermain main dengan gelang pemberian gilang


*****


Rumah sakit


Aku ditemani mamah sekarang berada di sebuah rumah sakit di daerah jakarta selatan. Aku memang ada jadwal kontrol untuk naufal yang baru saja sembuh dari sakitnya.


Aku dan mamah tengah menunggu untuk obat milik naufal. Aku membiarkan naufal bermain di area tempat bermain khusus poli anak ini.


"Naufal tuh dari semenjak bisa jalan kerjannya lari-larian terus"ucap mamah yang membuatku terkekeh


"Iya dia gak bisa diem mah"ucapku


"Radit masih sering main ke rumah kamu?"tanya mamah


"Iya"jawabku


"Apa kalian punya hubungan?"tanya mamah yang membuatku mengernyitkan dahi


"Gak ada mah, dia cuma sahabat cindy"jawabku


"Kalian terlalu dekat untuk dibilang sahabat lagipula radit selalu gagal di kisah percintaannya"ucap mamah yang membuatku paham kemana arah pembicaraannya


"Udahlah mah"ucapku


"Lupain gilang, ada radit yang selalu bantu kamu dari smp"ucap mamah


"Apa kamu lupa? Dulu mamah sama papah mengira kalian pacaran? Ya karena kalian cocok. Mamah sedari dulu gak pernah merestui hubungan kamu dengan gilang karena yakin akan berakhir buruk dan ternyata benar. Dia sama seperti mamahnya"sambung mamah


Mamah memang masih membenci gilang semenjak kejadian itu.


"AWWW!!!!"teriak naufal yang membuatku menoleh


Aku melihat naufal yang sudah berada di gendongan seorang dokter laki-laki dan didampingi oleh seorang dokter perempuan. Aku melihat wajah naufal yang sudah memerah dan sebentar lagi akan menangis.


Dengan cepat aku berjalan menuju naufal untuk mengambilnya


"Mamah!!!"panggil naufal padaku dimana hal tersebut membuat kedua dokter tersebut menoleh padaku.


Deg!


Gilang?


"Cindy"ucapnya dengan wajah terkejut


Aku pun sama terkejut melihat keberadaannya. Mamah lalu menghampiriku.


Tatapan matak kemudian terfokus pada lengan gilang yang sedang digandeng oleh dokter perempuan di sebelahnya.


Ada rasa sakit menjalar di hatiku.


Aku lantas mengambil daffa paksa dari gendongan gilang


"Tante alin"ucap gilang pada mamah


Mamah tak menatapnya dan mengacuhkan gilang


Gilang melepaskan paksa gandengan dari dokter perempuan tersebut dan beralih mendekatiku


"Ini anak kita?"tanya gilang yang hendak meraih naufal


Mamah lebih dahulu menghalangi tangan gilang untuk tidak menyentuh naufal


"Ayo cindy kita pergi"ucap mamah menarikku pergi


bersambung