
...selamat membaca...
Gilang membulatkan mata ketika melihatku membawa dirinya menuju rumahku. Selama ini ketika ia menghampiriku ia tidak pernah datang ke rumahku dengan alasan canggung untuk bertemu orang tua ku. Ck! Alasan yang tidak bisa di terima sebenarnya.
"Ngapain kita kesini?"tanya gilang
"Kamu gamau ketemu orang tua aku?"tanyaku yang membuat gilang sedikit mengernyitkan dahi
"Kamu yakin gamau ketemu orang tua aku? Orang yang sedari kecil ngerawat kamu dan ngebiayain kamu? Aneh kalau alasan kamu canggung"sambungku
"Aku gak pernah kesini karena tau mamah kamu akan marah ke aku"ucap gilang
"Gak akan. Ayo turun"ucapku sembari melepas seatbealt dan turun dari mobil diikuti oleh gilang
Kami berjalan memasuki rumah menuju ruang keluarga karena papah dan mamah biasanya ada di ruang keluarga saat siang hari.
"Mah pah"ucapku yang membuat mamah dan papah menoleh.
Tatapan mamah tertuju pada gilang yang berada di sampingku
"Siang, om tante"ucap gilang dengan sedikit canggung lalu menghampiri mereka untuk salim
"Udah lama ya gilang gak pernah kesini"ucap papah basa basi
"Hehehe iya om, saya sedikit sibuk di bandung"ucap gilang
Mamah menatap papah tajam karena ia berpikir bahwa papah yang memberitau keberadaan gilang padaku.
"Lanjut kuliah apa gilang?"tanya papah sembari mempersilahkan gilang duduk
"Saya ngambil kedokteran, om"jawab gilang
"Kerenn kan pah, pacar cindy"ucapku lugas yang membuat mamah dan gilang menoleh ke arahku
"Iyaa keren ya"ucap papah sembari tertawa kecil melihat tingkah mamah yang tidak bisa menerima gilang
"Memang seharusnya dia masuk kedokteran, selama ini kan dia dapat pendidikan yang bagus juga tambahan tutor masa iya gak jadi apa-apa"ucap mamah sedikit ketus
Aku melihat gilang yang sudah merasa tidak nyaman.
"Gilang akan nginep disini mah pah, boleh kan?"tanyaku
"Iya boleh"jawab papah cepat sebelum mamah menjawab tidak
"Memangnya dia gak sibuk di bandung? Kenapa harus nginep disini?"tanya mamah
"Dia kan lagi libur mah, ya sekalian aja liburan disini"jawabku yang tiba-tiba memunculkan sebuah ide usil.
"Lagian anaknya udah kangen sama papahnya" sambungku yang membuat papah, mamah, dan gilang sontak terkejut dan menatapku
Aku hanya terkekeh melihat mereka yang benar-benar lucu.
"Bercanda kali"ucapku sembari tertawa
Papah melirik sekilas pada cincin pemberian gilang yang masih melekat di jari manisku.
"Gilang, ada yang mau om tanyakan ke kamu"ucap papah dengan lebih serius
"Iya om ada apa?"tanya gilang
"Kamu serius dengan cindy?"tanya papah langsung ke intinya
"Saya serius, om"ucap gilang
"Saya bertanya seperti ini karena ada alasannya. Pendidikan dokter kamu butuh waktu 7 tahun untuk dapat gelar dokter umum yang berarti cindy mau gak mau menunggu kamu selama 7 tahun. Syukur-syukur setelah kamu lulus kamu akan menikahi cindy tapi kalau ternyata enggak ya saya gak mau lihat cindy membuang waktunya sia-sia untuk kamu"ucap papah
"Bagus papah ngomong soal ini. Karena mamah tau betul rasanya di tinggal ketika sudah berhubungan bahkan hingga 10 tahun. Saat itu papah tiba-tiba menikah dengan orang lain"ucap mamah menimpali
"Saya gak masalah kok om tante, jika dari sekarang saya dan cindy bertunangan"ucap gilang serius
"Yakin mau sama cindy?"tanya papah yang membuatku mengernyitkan dahi
"Ihhh! Maksud papah apa?"tanyaku kesal
"Memang harus gitu cindy, kamu harus pastiin lagi apa iya gilang tulus mau sama kamu atau terpaksa"ucap papah
"Saya tau betul cindy seperti apa karena dari kecil kan kita memang udah bersama. Saya serius dengan cindy"ucap gilang
"Kalau kamu serius, papah pasti mendukung kalian"ucap papah yang membuatku tersenyum begitupun dengan gilang
Mamah mengehela nafas lalu menatapku yang tengah tersenyum padanya
"Mamah ikut aja"ucap mamah
"Makasih om tante"ucap gilang
"Yayy! Makasih mamah papah"ucapku dengan antusias
*****
23:12 WIB
Aku membuka pintu kamar gilang dengan pelan dan lalu menutupnya. Aku lalu berjalan menuju gilang dan mendudukan diriku di kasur.
Aku mengelus lembut pucuk kepala gilang hingga ia mulai tersadar.
"CIN?!!!"ucap gilang lumayan keras yang membuatku refleks menutup mulutnya. Kiranya ia sudah diam baru kulepas tanganku dari mulutnya.
"Diem!"ucapku kesal
"Kamu ngapain disini?"tanya gilang panik
"Kamu lupa ya tujuan aku bawa kamu kesini, ya untuk buat dedek bayi. Yang tadi pagi di hotel itu loh"ucapku
"Jangan ngomong sembarangan, sana balik ke kamar kamu"ucap gilang
"Ihhh! Tadi pagi aja udah sok banget mau ngehamilin aku tapi sekarang ciut"ucapku
"Sana balik ke kamar kamu"ucap gilang
"Sekali aja"ucapku yang dihadiahi sentilan jidat oleh gilang
"Nakal pikirannya"ucap gilang
"CK! SAKIT!"teriakku yang lumayan keras
"Shusstt! Diem nanti ketauan"ucap gilang panik
Tokk tokk
Pintu kamar gilang terketuk yang membuat kami menoleh bersamaan dengan ekspresi wajah terkejut. Waduh bahaya kalau ketauan mamah papah. Aku lantas langsung berlari memasuki kamar mandi milik gilang untuk menyembunyikan diri sedangkan gilang membuka pintu kamarnya dimana terdapat papah disana.
"Saya tadi kaya denger suara teriakan"ucap papah
"Eh? Ehmm gak ada apa apa kok om"ucap gilang
"Cindy di kamar kamu?"tanya papah curiga yang membuat gilang sedikit panik namun berusaha terlihat tenang. Gilang membuka lebar pintunya untuk menunjukan pada papah bahwa diriku tidak ada di kamarnya
"Soalnya saya tadi ngetuk pintu kamarnya gak ada jawaban udah gitu kamarnya di kunci"sambung palah
"Mungkin cindy pules tidurnya om makanya gak kedengeran"ucap gilang
"Ohh iya juga ya. Yaudah sana kamu lanjut tidur, maaf ya jadi ganggu kamu tengah malem gini"ucap papah
"Gpp kok om"ucap gilang dengan sopan lalu menutup pintu.
Ia kemudian berjalan memasuki kamar mandi dimana aku sudah berdiri di bawah pancuran shower sembari menatapnya lekat.
Ia mendekat kearahku lalu ku tarik hingga badan kami berdekatan. Aku lantas mencium bibirnya dimana ia tidak menolak justru membalas ciumanku dengan lebih berhasrat.
Aku memutar kran shower ke arah air hangat hingga basah lah kami akibat shower yang berada di atas kami. Gilang melepaskan ciumannya lalu menatapku dan turun menatap badanku
Akibat guyuran air dari shower, piyamaku mulai tembus pandang dimana tercetak jelas payudaraku yang tidak kupakaikam bra. Gilang menelan ludahnya kasar ketika melihat payudaraku lalu kembali menatapku
"Aku gak kegoda"bisik gilang padaku
"Kenapa? Apa aku sama sekali gak menarik di mata kamu?"tanyaku
"Lagi pula kita akan pakai pengaman"sambungku
"Aku cuma akan ngelakuin hal itu ketika kamu jadi istri aku"ucap gilang
"Semua akan aman gilang, apalagi orang tuaku sudah setuju dengan hubungan kita"ucapku
"Udahlah cin, jangan gini"ucap gilang lalu hendak pergi menjauhiku namun kutahan
Aku membuka piyamaku sehingga bagian atasku benar benar tidak tertutup sehelai benang pun. Gilang membulatkan mata melihatnya
Gilang menggelengkan kepalanya lalu mengusap wajahnya. Ia berjalan menuju nakas untuk mengambil bathrobe dan di berikan padaku.
"Nih pakai"ucap gilang sembari memberikan bathrobe padaku. Aku mengambilnya kasar lantaran kesal
"Ck!"decakku
"Kamu orgasme gak?"tanya gilang yang membuatku mengernyitkan dahi
"Enggak"jawabkku sembari memakai bathrobe
"Yaudah sana keluar"ucap gilang
"Terus kamu ngapain disini?"tanya ku
"Urusan cowo"jawab gilang lalu mengusirku paksa. Mataku langsung tertuju pada bagian bawahnya dimana aku melihat celananya yng mulai sedikit menonjol
"Minta maaf sama adik kamu tuh karena gak dapet jatah"ucapku lalu pergi meninggalkan gilang
Dasar! Gagal sudah rencanaku!
bersambung