
Episode Sebelumnya..
"Maaf ya, tadi kita berangkatnya memang agak lewat dari jam berangkat. Soalnya tadi mama sama papa ngobrol dulu sama Alfian. Jadinya telat maaf ya." ucap Riana menerangkan sembari meminta maaf kepada ketiganya.
Dimas yang sejak sampai di depan ketiga sahabatnya hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah kata. Apalagi saat melihat Alfian yang berada di samping Emily membuatnya bertambah diam. Entah apa yang ada di dalam pikiran Dimas saat itu.
Sedangkan Emily yang sejak awal melihat kedatangan keduanya juga diam saja dan hanya tersenyum kecil. Apalagi saat gadis itu melihat tangan Riana yang menggenggam tangan Dimas.
"Yaudah, yuk! Kita ke kelas aja." sahut Riana kemudian.
Mereka semua akhirnya menuju ke arah kelas mereka bersama-sama. Dengan Dimas yang masih terus melihat ke arah Alfian yang berada di samping Emily. Rasanya ingin sekali laki-laki itu menyeret Alfian agar jangan dekat-dekat dengan Emily. Namun, dirinya tidak bisa melakukannya karena tangannya yang terus di gandeng oleh sang kekasih.
Sedangkan, Mira yang berada tepat di samping kirinya Alfian hanya menoleh ke arah laki-laki itu yang sedang asyik mengobrol dengan Emily. Meskipun Emily hanya sesekali membalas ucapan Alfian, tapi rasanya sangat sesak di hati Mira.
****
Setelah beberapa saat kemudian. Dosen mereka pun masuk dan memulai pelajaran yang akan dosen itu berikan. Semua mahasiswa yang ada di kelas itu nampak fokus pada pelajaran yang dosen sampaikan.
Emily yang tengah fokus akan penerangan yang diberikan oleh dosen. Tiba-tiba ponselnya berbunyi menandakan bahwa ada pesan masuk. Emily pun segera mengambil benda pipih itu dan melihat nama pengirim pesan itu dari layar ponselnya. 'Dimas'
Saat melihat nama Dimas di layar ponselnya. Emily tampak terdiam sejenak, dan setelah itu ia segera membuka pesan yang dikirimkan oleh Dimas kepadanya.
'Aku tunggu di taman depan setelah ini.' isi pesan itu.
Emily nampak mengerutkan keningnya saat membaca pesan tersebut. Setelah itu ia pun langsung meletakkan ponselnya di atas meja dan kembali menatap ke arah depan di mana dosennya sedang menerangkan pelajarannya.
Setelah beberapa jam kemudian. Pelajaran yang diberikan oleh dosen itu pun selesai. Para mahasiswa berhamburan keluar ruangan menuju ke arah masing-masing. Ada yang menuju kantin ada juga yang duduk di taman untuk sekedar menghirup udara segar akibat pelajaran yang membuat otak terkuras dan ada juga yang memilih untuk tiduran di kelas dll.
Sedang ke-enam sahabat Emily telah keluar mengikuti para siswa lain keluar lebih dulu. Dan hanya menyisakan Emily dan beberapa siswa yang masih stay di sana. Emily yang sedang berkemas melihat ke arah pintu. Dan beralih menatap ponselnya yang masih berada di atas mejanya.
Diraihnya ponsel tersebut dan kembali melihat chat yang Dimas kirimkan tadi kepadanya. Tanpa menunggu lama gadis itu pun keluar dari ruangan itu dan menuju ke tempat laki-laki itu berada.
Dan benar saja, Emily dapat melihat Dimas yang terduduk di bawah pohon dengan topi hitam yang menjadi pelindung sekaligus terlihatnya begitu tampan. Emily mendekatinya dan tepat saat gadis itu sudah berada di belakangnya, laki-laki itu membalikkan badannya.
Dimas tersenyum saat kehadiran Emily. "Sudah selesai?"
"Ada apa?" tanya Emily to the poin.
"Duduklah!" ujar Dimas sembari memberi ruang untuk gadis itu duduk.
Emily tampak terdiam sesaat kemudian terdengar helaan nafas panjang yang keluar dari mulut gadis itu. Dan tentu saja Dimas yang berada duduk di depan gadis itu mendengar helaan nafas gadis itu.
Emily pun duduk di samping kanan Dimas dengan pandangannya yang menatap lurus ke depan. "Cepat katakan! Apa yang ingin kamu sampaikan kepada ku?"
Dimas menundukkan kepalanya sembari mengusap wajahnya dengan gusar. Lalu menoleh ke Emily. "Jangan terlalu dekat dengan Alfian."
Dimas menghembuskan nafasnya sembari memejamkan matanya dengan mendongakkan kepalanya. Emily yang melihat itu hanya diam sembari menunggu kelanjutan perkataan laki-laki di sampingnya itu dengan heran.
Setelah mengatur deru nafasnya kembali normal. Dimas membalikkan badannya menghadap gadis itu agar dapat leluasa untuk mengutarakannya. "Aku tidak suka, jika kamu terlalu dekat dengan Alfian Mil."
Emily hanya menggelengkan kepalanya pelan. "Apa sih maksud kamu, aku gak ngerti? Kenapa kamu malah melarang aku dekat-dekat dengan Alfian?"
"Karena aku tidak suka!"
"Lalu, apa hubungannya dengan kamu yang melarang aku dekat-dekat sama Alfian? Alfian itu sahabatku! Sahabat kamu dan yang lainnya juga. Lalu, kenap-" ucapan Emily terpotong oleh laki-laki yang berada di sampingnya itu.
"Karena dia suka sama kamu Mil." potong Dimas dengan cepat.
"Suka?" ucap Emily. Dan Dimas pun mengangguk.
Emily tampak tertawa kecil saat mendengar perkataan laki-laki itu. "Dimas, Dimas. Kenapa kamu berkesimpulan bahwa Alfian menyukaiku? Apa karena dia dekat denganku? Atau karena dia sahabat kita, sehingga kamu merasa dia menyukaiku? Lucu sekali."
Emily pun langsung bangkit dari tempatnya hendak pergi meninggalkan laki-laki itu. Namun, suara Dimas kembali terdengar sehingga langkah gadis itu terhenti.
"Aku seorang laki-laki Emily. Jadi aku tau, mana yang suka sama mama yang tidak suka sama seseorang orang. Alfian itu suka sama kamu." ucap Dimas yang sudah ikut bangkit dari tempatnya.
"Aku tau kalau dia memiliki perasaan suka sama kamu."
"Lalu, kamu?"
Dimas terdiam saat mendengar ucapan gadis itu. Emily membalikkan badannya menatap ke arah laki-laki yang berada di belakangnya itu dengan wajah datarnya.
"Lalu, kamu? Apakah kamu masih menyukaiku?" ucap Emily lagi tanpa ekspresi seperti biasa.
"Kenapa diam? Tidak bisa menjawabnya?" sambungnya lagi. Emily nampak mengepalkan tangannya dengan kuat sehingga tangannya terlihat memerah.
Karena tidak mendapatkan respon dari laki-laki itu. Emily pun langsung membalikkan badannya dan pergi meninggalkan Dimas yang masih berdiri di tempatnya tanpa mengatakan sepatah kata pun, meskipun gadis itu telah menghilang dari pandangannya.
Setelah itu Dimas pun pergi dari taman itu dengan perasaan yang frustasi. Sedangkan di balik pohon besar yang keduanya duduki tadi. Terlihat Riana berada di sana dengan mata yang berkaca-kaca.
.
.
.
...Terimakasih buat kalian semua atas sempatnya sudah mampir ke novel aku yang amburadul ini. Maaf, Jika novel ini masih gak jelas ya! Mohon Dimaafkan, karena saya juga masih pemula untuk belajar membuat novel. Meskipun novelku sangatlah membosankan! Sekali lagi mohon dimaafkan ya....
...Untuk itu jangan lupa untuk tinggalkan like ya, bagi yang berbaik hati. Sekali lagi terimakasih banyak sudah mampir. 🙏...