7 D.R.E.A.M

7 D.R.E.A.M
Episode 13.



Episode Sebelumnya..


"Sejak kita pertama kali bertemu. Aku sudah mempunyai perasaan padanya."


"Benarkah? Wah! Itu bagus dong! Itu artinya di persahabatan kita tidak hanya Riana dan Dimas tapi kamu dan Alfian juga." ucap Emily dengan senyuman yang terpampang di bibirnya.


Mira tersenyum kecut. "Tapi itu tidak akan terjadi Mil."


Senyuman Emily sedikit pudar saat mendengar perkataan Mira. "Kenapa begitu?"


Mira tidak menjawab pertanyaan Emily dan hanya menundukkan kepalanya sembari mengepalkan tangannya dengan erat. Seakan rasa sakit yang di kepalanya rasakan hilang tiba-tiba. Melihat itu, Emily meraih tangan sang sahabat dan mengelusnya dengan lembut.


"Mira...,"


"Itu tidak mungkin terjadi Emily. Alfian tidak memiliki perasaan terhadapku." ucapnya dengan suara mengecil.


"Darimana kamu tau kalau Alfian tidak memiliki perasaan yang sama denganmu? Sedangkan, kamu sendiri belum mengatakan perasaanmu padanya."


Mira menggeleng. "Hatinya sudah dimiliki oleh seseorang Emily."


Emily mengernyitkan keningnya. "Sudah dimiliki seseorang?"


Mira pun mengangguk sambil berusaha tersenyum walaupun hati gadis itu terasa sesak. "Em."


"Siapa? Kok aku tidak tau, jika Alfian sudah memiliki seseorang." ucap Emily masih dengan rasanya penasarannya.


"Mira, siapa orang itu? Apakah aku mengenalnya atau apakah kita mengenal gadis itu?"


'Tentu saja kamu mengenalnya Emily. Tentu saja! Karena orang yang disukai oleh Alfian itu adalah kamu. Alfian menyukaimu.' gumam Mira dalam hatinya. Ia rasanya ingin menangis saat ini juga mengingat bahwa dirinya juga menyukai Alfian. Namun, laki-laki itu justru menyukai gadis yang kin berada di depannya.


****


Dimas dengan raut wajah mengernyit, sedang mencoba menghubungi seseorang yang sudah beberapa minggu ini sedang mencoba menjauhinya. Dirinya terus mencoba menghubungi orang itu dengan perasaan yang khawatir.


"Riana, kenapa kamu gak pernah mengangkat telepon ku? Kamu sebenarnya kenapa?" gumam Dimas dengan perasaannya yang kacau. Kemudian, ia meletakkan ponselnya di atas meja saat sudah ratusan kali laki-laki itu menghubungi kekasihnya yang tak pernah mengangkatnya.


"Bro!" sapa Alfian saat laki-laki itu melihat Dimas sedang sedang mengusap wajahnya dengan gusar. Ia pun menghampirinya dan menepuk pundak laki-laki itu dan duduk di samping laki-laki itu.


Dimas yang mendapat sapaan serta tepukan tangan dari sahabatnya hanya tersenyum kecil dan kembali meraih ponselnya untuk melihat apakah ada balasan dari kekasihnya yang sedang tadi di tunggunya itu.


"Kamu kenapa? Kok kelihatan gelisah gitu," tanya Alfian saat melihat sahabatnya yang memang terlihat gelisah itu.


"Kamu lihat Riana nggak, Al?" tanya Dimas mengabaikan pertanyaan sahabatnya itu.


"Riana?"


Dimas mengangguk kecil saat laki-laki di sampingnya itu menyebutkan nama kekasihnya. "Em, kamu lihat dia sudah datang nggak?"


"Nggak tuh! Aku belum liat dia datang. Memangnya, kalian gak berangkat bersama tadi?"


Dimas menggeleng. "Tadi aku sudah kesana, tapi kata mamanya dia sudah berangkat."


Alfian yang menatap wajah sahabatnya hanya mengernyitkan dahi. "Dim, kamu gak lagi bertengkar sama Riana, kan?"


"Kita gak berantem kok. Hanya saja, aku bingung. Dia sepertinya sedang mencoba menjauhiku." ujar Dimas dengan suara kecil. Laki-laki itu terlihat menghela nafasnya dengan gusar. Tampak bahwa laki-laki itu sedang gelisah dengan terus mengotak-atik layar ponsel miliknya.


Alfian pun menepuk pundak Dimas. "Kita coba tunggu saja di sini. Siapa tau sebentar lagi dia datang."


Dimas hanya mengangguk dan tersenyum kecil saat lawan bicaranya itu menepuk-nepuk punggungnya. Dimas pun kembali menghembuskan nafasnya panjang sembari menatap gerbang kampus universitasnya.


"Dimas." panggil Alfian.


"Em." sahut Dimas singkat tanpa menoleh ke arahnya.


"Itu Riana datang." ucap Alfian menunjuk ke arah gerbang masuk. Dan benar saja, orang yang di tunggu sejak tadi akhirnya datang juga.


Dimas pun dengan cepat bangkit dari tempatnya saat kekasihnya itu sudah hampir mencapai tempat dirinya dan juga Alfian duduk. Riana yang baru datang bersama dengan Emily dan juga Mira menghampiri kedua laki-laki yang sudah berdiri menyambut kedatangan mereka.


Dimas yang memang sedang menunggu kekasihnya, menatap fokus pada gadis yang telah menjadi kekasihnya selama lebih tujuh tahun itu tanpa mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Saat ketiga gadis itu sudah berada di hadapan kedua laki-laki itu. Dengan cepat. Dimas meraih tangan sang kekasih dan menariknya menjauh dari ketiga temannya yang sudah menatapnya dengan tatapan heran. Termasuk Emily yang terus menatap kepergian keduanya hingga pandangannya kembali saat sebuah tepukan tangan menyadarkan pandangannya.


"Ah, Alfian. Kamu membuatku terkejut!" ucap Emily dengan suara pelannya.


"Enggak kok. Yaudah! Kita masuk saja ke kelas." ajak Emily yang kemudian berjalan mendahului keduanya yang masih mematung.


"Eh, kok malah di tinggal sih Mil! Tungguin dong! Mil." teriak Alfian saat gadis itu sudah menjauh dari hadapan mereka. Alfian pun hendak mengejar langkah Emily. Namun, laki-laki itu kemudian menghentikan langkahnya saat ia melihat ke arah belakang. Ternyata Mira masih berdiri di tempatnya dengan tatapannya yang tertuju pada laki-laki itu.


"Mira, kenapa kamu masih berdiri di situ? Ayo kita ke kelas!" ucap laki-laki itu saat sahabatnya itu masih terdiam tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


"Mira?" panggil Alfian saat gadis itu masih terus terdiam di tempatnya. Ia pun kembali menghampiri sang sahabat yang masih setia di tempatnya itu dan menatap wajah sang lawan bicaranya.


"Mira? Kamu gak apa-apa kan?" tanya laki-laki itu dengan menyentuh pundak gadis itu.


Mira pun mengangguk dan melepaskan tangan Alfian yang masih menyentuh pundaknya. Lantas Alfian yang melihat tangannya di lepas dari pundak gadis itu mengernyitkan keningnya.


"Mir." Alfian kembali memanggil namanya.


"Kamu duluan saja Fin. Aku gak apa-apa kok, lagian kamu mau bicara lama kan sama Emily? Jadi aku kasih kamu peluang untuk ngobrol sama dia. Cepat sana susul dia!" ucap Mira sembari mendorong punggung laki-laki itu.


"Tapi kan-"


"Udah sana! Aku gak apa-apa kok. Lagian aku juga mau ketemuan sama temanku di sini."


"Oh, iya, siapa?" tanya Alfian tiba-tiba.


"Ada." sahut Mira singkat.


"Yaudah, aku kesana duluan deh! Kamu... good luck ya. Semoga berhasil." ucap Mira dengan suara pelan diakhir kalimatnya. Setelah itu ia pergi meninggalkan Alfian yang kali ini berdiri di tempatnya.


"Dia mau ketemuan sama siapa? Baru tau kalau Mira punya teman selain aku dan juga sahabat yang lain." gumam Alfian seraya menatap ke arah di mana gadis itu sudah menghilang dari pandangannya.


"Ya sudahlah! Toh itu artinya dia sudah bisa terbuka sama yang lain. Dan nggak harus terus menempel bersama ku." ucapnya dengan mengabaikan pemikirannya yang terbesit di kepalanya. Ia pun pergi menyusul Emily yang mungkin sudah sampai ke dalam kelasnya.


Sedangkan di balik dinding yang menghalangi jalan tempat laki-laki itu lewati. Mira berdiri dan tersenyum pahit saat menatap punggung Alfian yang melenggang pergi menuju ke arah kelas mereka.


"Semoga, keputusan ini tepat." ucap Mira sembari menghapus air matanya yang keluar tiba-tiba membasahi pipinya. Biar bagaimanapun juga ia tidak bisa memaksakan kehendaknya untuk terus bersama dengan laki-laki yang kini sudah menghilang dari pandangannya. Setelah itu ia pun segera pergi meninggalkan tempat persembunyiannya yang baru saja ia tempati.


"Dimas, kenapa kamu membawaku ke sini?" tanya Riana saat dirinya sudah berada di rooftop saat laki-laki itu menariknya.


"Katakan padaku! Apakah aku ada salah sama kamu?" tanya Dimas to the poin.


"Maksudnya kamu apa Dim? Aku gak ngerti?"


"Aku tau kamu mengerti dengan apa yang aku maksudkan baru saja." balas Dimas dengan cepat mengabaikan pertanyaan sang kekasih.


Dimas memegang kedua pundak sang kekasih. Dan kedua mata mereka saling bertatapan dengan tatapan Dimas yang begitu lekat. "Katakan padaku Riana, apakah aku ada salah kepadamu sampai-sampai kamu harus mengabaikan pesan serta panggilan ku?"


Riana terdiam saat mendengar perkataan panjang lebar yang keluar dari mulut sang kekasih yang masih menatapnya dengan pandangan lekat ke arahnya. "Dim."


"Katakan!" ucap Dimas memotong ucapan Riana. Namun, kali ini suaranya berubah menjadi pelan. Dan hampir tidak terdengar di telinga gadis itu.


"Kenapa kamu mencoba menghindari ku Riana? Kamu, tau kan aku sangat mengkhawatirkan mu. Beberapa minggu ini aku mencoba untuk terlihat biasa saja saat kamu terus menghindari ku. Karena aku berfikir, kamu mungkin mau sendiri dan tidak mau di ganggu. Tapi semakin aku terlihat biasa saja, kamu semakin bersemangat menjauhiku. Itu sebabnya aku berpikir apakah aku ada berbuat salah kepadamu atau perkataan ku yang melukai hatimu, itu yang terus terlintas di benak ku Riana."


Laki-laki itu mencoba lebih mendekatkan wajahnya pada wajah sang kekasih. "Apakah perkataan ku benar?"


Riana menggelengkan kepalanya sembari mengepalkan tangannya. "Dimas."


"Hm?"


"Ayo, kita akhiri hubungan ini!"


DEG!!!!


.


.


.


...Terimakasih buat kalian semua atas sempatnya sudah mampir ke novel aku yang amburadul ini. Maaf, Jika novel ini masih gak jelas ya! Mohon Dimaafkan, karena saya juga masih pemula untuk belajar membuat novel. Meskipun novelku sangatlah membosankan! Sekali lagi mohon dimaafkan ya....


...Untuk itu jangan lupa untuk tinggalkan like ya, bagi yang berbaik hati. Sekali lagi terimakasih banyak sudah mampir. 🙏...