
Episode Sebelumnya..
Kata-kata itulah yang terlintas di benaknya saat laki-laki di sampingnya itu mengajaknya ke sebuah Kafe hanya berdua. Emily juga sempat melihat Alfian yang terus menunggu jawabannya sembari terus menyunggingkan senyuman.
Emily pun dengan cepat menggelengkan kepalanya dan membuang pikiran negatifnya. "Em."
"Iya?" Alfian mengangguk kecil seakan berharap ajakannya di terima oleh Emily.
"Maaf ya Alfian. Bukannya aku gak mau. Tapi, karena tugas-tugas kuliah ku belum ku kerjakan. Jadi... maaf ya. Kamu ajak saja Mira atau yang lainnya agar bisa menemani kamu ke Kafe itu." ucap Emily bohong. Sebenarnya tugas-tugas yang diberikan oleh dosennya hampir selesai dikerjakan.
Mendengar penolakan dari Emily. Alfian yang awalnya full senyum tiba-tiba langsung luntur. Oh, begitu ya?" ucapnya. Ada rasa kecewa saat gadis itu menolak ajakannya.
"Maaf ya, Fin." ucap Emily dengan suara kecil.
Alfian pun mengangguk sembari mengambil tasnya. "Gak apa-apa kok. Em, yaudah! Aku mau jemput Mira dulu ya."
Emily pun mengangguk. "Iya."
****
Emily celingak-celinguk mencari sosok keempat sahabatnya yang juga belum masuk saat jam kelasnya akan segera di mulai. Ia mencoba menghubungi Riana. Namun, gadis itu tidak mengangkat telponnya. Emily pun kembali mencoba menghubungi Mira, tapi lagi-lagi tidak ada yang mengangkat telponnya.
Emily pun risau. Hingga, ia mencoba menghubungi Dimas. Dan saat panggilan teleponnya tersambung terdengar suara sambungan itu di terima. Dan dengan cepat Emily langsung berucap. "Halo."
"Em, kenapa Emily?" tanya Dimas di seberang sana.
"Kamu ada dimana, Riana ada sama kamu, kan?" tanya Emily balik.
"Aku ada diluar. Dan sepertinya aku gak mau ikut kelas hari ini."
"Terus Riana?"
"Aku juga tidak tau Emily. Yasudah ya aku tutup dulu."
"Tunggu dulu dim."
Tut! Tut! Tut!
Setelah mengucapkan hal itu. Dimas pun langsung mematikan panggilan Emily secara sepihak. Sehingga membuat gadis itu mengernyitkan dahinya.
"Dia kenapa?" gumam Emily sembari menatap pintu kelasnya. Tanpa menunggu lama, gadis itu segera bangkit dari tempatnya dan keluar dari kelas tersebut.
"Ck! Dia kemana sih kok hpnya gak bisa dihubungi?" ujar Alfian saat ia berada di lobi kampusnya. Ia terus menghubungi gadis itu yang tidak mengangkat panggilan teleponnya.
"Kemana sih dia."
"Hiks!"
Saat laki-laki itu hendak melangkahkan kakinya. Terdengar suara tangisan dari balik dinding di sampingnya. Dimas pun dengan segera menghentikan langkahnya. Dan memastikan suara tangisan itu dengan mencoba menghampiri suara tersebut dengan hati-hati.
Dan saat laki-laki itu mengintip ke arah sumber suara dengan mengendap-endap. Ia pun langsung terkejut saat melihat siapa orang yang menangis di depan matanya itu.
"Mira."
....
"Riana." panggil Emily saat gadis itu menemukan sahabatnya yang ia cari-cari sejak tadi. Emily menemukan sahabatnya itu di sebuah Kafe yang tadi di maksudkan oleh Alfian. Kafe dengan nuansa putih abu-abu itu nampak sangat cantik saat di lihat secara langsung.
Emily pun duduk di depan Riana yang kini menatapnya dengan wajah tanpa ekspresi. Emily pun tak ambil pusing, mungkin sahabatnya itu lagi tidak mood.
"Kenapa kamu gak ikut kelas dosen Doni Rin?" tanya Emily memulai percakapan.
"Kamu sendiri, kenapa juga gak ikut pelajarannya?" sahut Riana balik bertanya.
"Aku mencari kamu. Aku coba buat hubungi kamu tapi kamu gak angkat."
"Kenapa kamu peduli!?" ucap Riana ketus.
Emily yang mendengar perkataan sahabatnya yang terdengar ketus itu mengernyitkan keningnya. "Rin. Kamu kenapa tiba-tiba gitu ngomongnya?"
Riana tersenyum remeh dan mengalihkan pandangannya ke arah keluar. "Sekarang kamu puas kan, dengan keadaan ini?"
"Maksud kamu apa Rin?" tanya Emily penasaran.
"Sudahlah Emily. Jangan kamu sok pura-pura tidak tahu apa-apa tentang aku sama Dimas."
"Apa maksud kamu sih Rin? Aku benar-benar tidak tahu dan gak sok pura-pura seperti yang kamu katakan itu!" sahut Emily.
"Kamu senang kan. Aku sama Dimas putus?"
Emily membulatkan matanya saat mendengar penuturan Riana yang menatapnya dengan ekspresi kesalnya. Gadis itu seakan marah pada sahabatnya yang kini juga menatapnya dengan tatapan bingung.
"Putus?"
"Iya, aku sama Dimas sudah putus!"
"Kenapa?"
"Emily kamu benar-benar yakin bahwa kamu tidak tahu?" ucap Riana menatap Emily dengan mata berkaca-kaca.
Emily pun menggeleng-gelengkan kepalanya. "Riana, aku benar-benar tidak tahu!"
"Ada hubungan apa kamu sama Dimas?"
DEG!!!
Emily tampak terdiam saat mendengar perkataan yang keluar dari mulut sang sahabat. Emily pun kali ini mengerti dari maksud gadis itu katakan akan mengarah kemana.
"Kenapa? Tidak bisa jawabnya?" tanya Riana yang kali ini terlihat datar.
"Jadi benar! Kalau selama ini kamu sama Dimas punya hubungan? Hubungan yang lebih dari kata sahabat iya, kan?"
"..."
Lagi-lagi Emily tidak menjawab pertanyaan Riana yang sudah mengepalkan tangannya yang ia sembunyikan di atas pahanya. Ia pun mencoba untuk terlihat tenang saat Emily masih menundukkan kepalanya tidak menjawab pertanyaannya.
Riana pun menghembuskan nafasnya mengatur deru nafasnya yang kian memburu. Ia pun bangkit dari tempatnya dan ingin segera pergi dari tempat itu. Namun, tangan Emily menahan tangan gadis itu.
"Tunggu!!!" ucap Emily yang masih menundukkan kepalanya.
Riana menolehkan kepalanya saat tangan Emily terlihat bergetar. Gadis itu dapat merasakan sentuhan tangan Emily yang menggenggam tangannya terlihat bergetar. Apakah gadis itu takut karena telah ketahuan?
Riana terus menatap sang sahabat yang masih di tempatnya. Ia masih menunggu jawaban yang akan Emily katakan padanya seperti apa.
"Itu semua tidak benar!" ucap Emily dengan wajahnya yang masih menunduk.
"Hah?"
Emily pun kemudian mendongakkan kepalanya menatap wajah sang sahabat yang juga menatapnya dengan keningnya yang berkerut.
"Semua itu tidak benar! Apa yang kamu katakan itu tidak semuanya benar."
"Kalau begitu, jelaskan padaku!" ucap Riana dengan tatapannya yang tertuju pada Emily.
Emily pun mengangguk. "Duduklah, aku akan menceritakan apa yang terjadi tentang ku dan Dimas."
Riana pun terlihat diam sejenak. Lalu, tanpa menunggu lama, gadis itu pun langsung duduk kembali di depan Emily. Emily pun melepaskan tangan Riana saat gadis itu sudah kembali duduk ke tempatnya.
"Cepat katakan!" ucap Riana penuh penekanan saat kalimat itu dilontarkan olehnya. Dan Emily pun mengangguk. Gadis itu mencoba mengatur deru nafasnya sebelum mengatakan penjelasan.
"Aku dan Dimas. Kita...,"
.
.
.
...Terimakasih buat kalian semua atas sempatnya sudah mampir ke novel aku yang amburadul ini. Maaf, Jika novel ini masih gak jelas ya! Mohon Dimaafkan, karena saya juga masih pemula untuk belajar membuat novel. Meskipun novelku sangatlah membosankan! Sekali lagi mohon dimaafkan ya....
...Untuk itu jangan lupa untuk tinggalkan like ya, bagi yang berbaik hati. Sekali lagi terimakasih banyak sudah mampir. 🙏...