7 D.R.E.A.M

7 D.R.E.A.M
Episode 12.



Episode Sebelumnya..


"Mira, kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Emily yang terlihat khawatir melihat sahabatnya yang terlihat kesakitan.


Mira mengangguk kecil. "Aku nggak apa-apa kok. Sekali lagi makasih ya Emily kamu udah ngasih aku minuman ini."


"Beneran? Tapi kamu terus memegangi kepalamu? Apa kita ke dokter aja, yaudah yuk kita pergi sekarang ju-" ucapan Emily terpotong saat Mira lebih dulu memotongnya.


"Nggak usah Emily. Aku baik-baik saja, aku cuma sedikit pusing aja kok. bentar lagi juga sembuh. Mungkin karena aku kecapean karena pelajaran yang dosen Akbar kasih tadi." ucap Mira bohong. Sembari meyakinkan Emily yang terlihat khawatir kepadanya.


"Beneran gak apa-apa?"


Mira pun mengangguk. "Iya, gak apa-apa."


"Yaudah! Kalau gitu, aku antar kamu pulang saja ya?"


"Yaudah, ayo!"


Keduanya pun keluar dari kantin dengan Emily yang membantu Mira memegangi lengannya. Takut-takut gadis itu tiba-tiba kembali pusing. Sehingga Emily dapat dengan mudah menahannya. Sehingga keduanya pun masuk ke dalam taksi yang Emily sudah pesan saat perjalanan keluar menuju gedung universitasnya.


Dan saat Emily dan Mira masuk ke dalam taksi. Dimas yang juga ingin pulang karena mata pelajarannya juga sudah selesai tidak sengaja melihat keduanya masuk ke dalam taksi.


"Mereka mau kemana?" gumam Dimas pada dirinya sendiri.


****


Emily dan Mira pun sampai di kediaman sahabatnya itu. Emily pun mengetuk pintu rumah itu dan beberapa saat kemudian. Muncullah seorang wanita paruh baya yang Emily yakini adalah ART-nya keluarga Mira.


Sejak tujuh tahun bersahabat dengan Mira. Emily baru pertama kalinya ke rumah Mira. Lantaran setiap kali Mira mengajaknya ke rumahnya, ia selalu menolaknya. Bukan karena apa, Emily terlalu segan untuk masuk ke dalam rumah megah milik keluarga Mira itu. Meskipun dirinya juga dari keluarga berada. Namun, Emily masih memegang teguh prinsip bahwa ia juga sama seperti yang lain.


"Loh! Nona Mira! Nona Mira, kenapa?" tanya wanita paruh baya itu yang terlihat khawatir melihat anak majikannya yang terlihat pucat.


Mira tersenyum kecil sembari menggelengkan kepalanya. "Aku gak apa-apa kok bibi. Oh iya, papa sama mama sudah pulang belum bik?


"Tuan sama nyonya belum pulang non." ucap wanita paruh baya itu sembari membungkukkan tubuhnya di hadapan Mira dan juga Emily yang masih memegang lengan sahabatnya itu.


Mira pun mengangguk faham. Dan gadis itu kemudian menoleh ke arah Emily yang sudah menatapnya. " Masuk yuk!"


Emily yang mendengar perkataan Mira hanya mengangguk kecil. Dan berjalan masuk ke dalam rumahnya itu, saat wanita paruh baya itu mempersilahkan kedua gadis itu.


"Bibi Ijah, tolong buatkan sesuatu untuk kami berdua dan tolong juga antarkan ke atas ya!" ucap Mira pada wanita paruh baya yang di sebut dengan sebutan bibi Ijah itu.


"Baik non akan saya antarkan setelah sudah siap." ucap bibi Ijah sembari membungkukkan badannya.


"Terimakasih bibi Ijah."


"Sama-sama nona."


Mira pun tersenyum dan menoleh ke arah sang sahabat yang masih menatap wanita paruh baya itu yang sudah menghilang dari pandangannya. Mira yang melihat itu mengernyitkan keningnya.


"Emily, kamu kenapa? Kenapa terus menatap ke arah bibi Ijah?" tanya Mira penasaran.


Emily pun menggelengkan kepalanya. "Enggak apa-apa kok. Aku cuma kasian aja karena seharusnya di usia seperti bibi Ijah menikmati masa-masanya."


Mira pun mengangguk faham maksud dari perkataan Emily. Ia pun menepuk pundak sang sahabat. "Aku mengerti dengan apa yang kamu katakan! Karena aku juga sependapat denganmu Emily. Mama sama papa juga sudah memberikan ajuan untuk bibi Ijah sudah menikmati masa-masanya. Tapi beliau menolak! Kata beliau dirinya akan terus mengabdi di rumah ini. Jadi... kami tidak bisa memaksakan kehendak bibi Ijah."


Emily hanya mengangguk kecil saat mendengarkan penjelasan dari sahabatnya itu. Kemudian, Mira pun mengajak Emily untuk ke kamarnya yang berada di lantai satu. Dan Emily pun mengangguk. Lalu, menuntun Mira ke atas dengan terus memegangi tangan sang sahabat.


"Masuk saja bibi Ijah." ucap Mira saat mendengar sebuah ketukan pintu kamarnya.


Terlihat bibi Ijah memasuki kamar Mira dengan membawa jus buah yang di suruh oleh Mira dan beberapa cookies yang ada di dalam nampan tersebut.


"Terimakasih bibi Ijah." ucap Mira dan Emily serempak. Lalu bibi Ijah pun keluar dari kamar sang majikan dan menutup kembali pintu tersebut.


"Mira," panggil Emily saat bibi Ijah sudah keluar dari kamar sahabatnya itu.


"Em, kenapa Mil?" sahut Mira yang berada di atas tempat tidurnya dengan memegangi kepalanya yang masih terasa sakit.


"Kenapa kamu menyimpan banyak sekali foto Alfian?" tanya Emily to the poin saat dirinya tidak sengaja membuka laci meja belajarnya Mira. Saat gadis itu mencari Bolpoin di laci tersebut dan tidak sengaja melihat foto Alfian tergelak di laci meja belajarnya itu.


Mira yang mendengar perkataan Emily sontak membuka matanya dan menoleh ke arah meja belajarnya yang ternyata Emily sudah mengambil foto-foto itu dan melihat semuanya. Otomatis gadis itu pun bangkit dari tidurnya dan segera merampas foto tersebut dari tangan Emily dan menyembunyikannya di belakang punggungnya.


"Emily ini..."


Emily yang terkejut dengan tindakan Mira yang tiba-tiba terdiam sejenak. Sehingga keduanya pun nampak canggung satu sama lain. Sehingga Emily pun lebih dulu memilih bersuara.


"Mira, kamu suka ya sama Alfian?" tanya Emily dengan suara kecil. Ia takut jika pertanyaannya akan menyinggung perasaan sang sahabat.


Mira masih terdiam dan menundukkan kepalanya sembari memegangi foto Alfian yang ia ambil dari tangan Emily. Lalu, gadis itu terdengar menghembuskan nafasnya panjang dan tersenyum kecil yang terukir di bibirnya. "Iya, Mil. Aku menyukai Alfian."


"Sejak kapan, kamu menyukainya Mira? Kok aku gak tau?" tanya Emily saat mendapat balasan dari Mira.


"Sejak kita pertama kali bertemu. Aku sudah mempunyai perasaan padanya."


"Benarkah? Wah! Itu bagus dong! Itu artinya di persahabatan kita tidak hanya Riana dan Dimas tapi kamu dan Alfian juga." ucap Emily dengan senyuman yang terpampang di bibirnya.


Mira tersenyum kecut. "Tapi itu tidak akan terjadi Mil."


Senyuman Emily sedikit pudar saat mendengar perkataan Mira. "Kenapa begitu?"


Mira tidak menjawab pertanyaan Emily dan hanya menundukkan kepalanya sembari mengepalkan tangannya dengan erat. Seakan rasa sakit yang di kepalanya rasakan hilang tiba-tiba. Melihat itu, Emily meraih tangan sang sahabat dan mengelusnya dengan lembut.


"Mira...,"


"Itu tidak mungkin terjadi Emily. Alfian tidak memiliki perasaan terhadapku." ucapnya dengan suara mengecil.


"Darimana kamu tau kalau Alfian tidak memiliki perasaan yang sama denganmu? Sedangkan, kamu sendiri belum mengatakan perasaanmu padanya."


Mira menggeleng. "Hatinya sudah dimiliki oleh seseorang Emily."


Emily mengernyitkan keningnya. "Sudah dimiliki seseorang?"


Mira pun mengangguk sambil berusaha tersenyum walaupun hati gadis itu terasa sesak. "Em."


"Siapa? Kok aku tidak tau, jika Alfian sudah memiliki seseorang." ucap Emily masih dengan rasanya penasarannya.


"Mira, siapa orang itu? Apakah aku mengenalnya atau apakah kita mengenal gadis itu?"


'Tentu saja kamu mengenalnya Emily. Tentu saja! Karena orang yang disukai oleh Alfian itu adalah kamu. Alfian menyukaimu.' gumam Mira dalam hatinya. Ia rasanya ingin menangis saat ini juga mengingat bahwa dirinya juga menyukai Alfian. Namun, laki-laki itu justru menyukai gadis yang kin berada di depannya.


.


.


.


...Terimakasih buat kalian semua atas sempatnya sudah mampir ke novel aku yang amburadul ini. Maaf, Jika novel ini masih gak jelas ya! Mohon Dimaafkan, karena saya juga masih pemula untuk belajar membuat novel. Meskipun novelku sangatlah membosankan! Sekali lagi mohon dimaafkan ya....


...Untuk itu jangan lupa untuk tinggalkan like ya, bagi yang berbaik hati. Sekali lagi terimakasih banyak sudah mampir. 🙏...