7 D.R.E.A.M

7 D.R.E.A.M
Episode 14.



Episode Sebelumnya..


"Dimas, kenapa kamu malah membawaku ke sini?" tanya Riana saat dirinya sudah berada di rooftop saat laki-laki itu menariknya.


"Katakan padaku! Apakah aku ada salah sama kamu?" tanya Dimas to the poin.


"Maksudnya kamu apa Dim? Aku gak ngerti?"


"Aku tau kamu mengerti dengan apa yang aku maksudkan baru saja." balas Dimas dengan cepat mengabaikan pertanyaan sang kekasih.


Dimas memegang kedua pundak sang kekasih. Dan kedua mata mereka saling bertatapan dengan tatapan Dimas yang begitu lekat. "Katakan padaku Riana, apakah aku ada salah kepadamu sampai-sampai kamu harus mengabaikan pesan serta panggilan ku?"


Riana terdiam saat mendengar perkataan panjang lebar yang keluar dari mulut sang kekasih yang masih menatapnya dengan pandangan lekat ke arahnya. "Dim."


"Katakan!" ucap Dimas memotong ucapan Riana. Namun, kali ini suaranya berubah menjadi pelan. Dan hampir tidak terdengar di telinga gadis itu.


"Kenapa kamu mencoba menghindari ku Riana? Kamu, tau kan aku sangat mengkhawatirkan mu. Beberapa minggu ini aku mencoba untuk terlihat biasa saja saat kamu terus menghindari ku. Karena aku berfikir, kamu mungkin mau sendiri dan tidak mau di ganggu. Tapi semakin aku terlihat biasa saja, kamu semakin bersemangat menjauhiku. Itu sebabnya aku berpikir apakah aku ada berbuat salah kepadamu atau perkataan ku yang melukai hatimu, itu yang terus terlintas di benak ku Riana."


Laki-laki itu mencoba lebih mendekatkan wajahnya pada wajah sang kekasih. "Apakah perkataan ku benar?"


Riana menggelengkan kepalanya sembari mengepalkan tangannya. "Dimas."


"Hm?"


"Ayo kita akhiri hubungan ini."


DEG!!!!


****


"A-apa yang kamu maksudkan sayang?" ucap Dimas dengan gugup. Laki-laki itu tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh sang kekasih. Saat ia ingin meraih tangan sang kekasih, Riana dengan cepat meletakkan tangannya di belakang punggungnya.


Dimas yang tidak tau apa yang terjadi, menatap wajah Riana dengan gelengan kepala. Seolah mengisyaratkan bahwa apa yang dikatakan oleh kekasihnya itu adalah hanya untuk menjahilinya.


"Kita akhiri hubungan ini Dimas!"


"ENGGAK!!!" bentak Dimas dengan gelengan kepala. Ia meletakkan kembali tangannya di pundak gadis itu.


"Sayang, kamu sedang bercanda, kan? Kamu cuma pengen aku kaget aja, kan. Itu semua gak benar kan?" ucap Dimas dengan pertanyaan yang bertubi-tubi.


Riana yang berada di depannya, mencoba menahan air matanya yang sudah terlihat ingin jatuh. Ia pun memalingkan wajahnya dari pandangan laki-laki yang kini sudah berlutut di hadapannya.


"Sayang, bilang sama aku. Kamu hanya sedang bercanda kan sama aku. Karena aku terus mempertahankan tentang panggilan telepon tadi, aku janji! Aku gak akan mempertanyakannya lagi aku janji Rin." ucap Dimas dengan mata yang berkaca-kaca. Ia menundukkan kepalanya saat dirinya sudah berjongkok di depan sang kekasih.


"Itu semua benar adanya Dim. Apa yang kamu dengar baru saja itu adanya. Aku sudah gak mau lagi sama kamu."


"Kenapa?"


Riana terdiam saat mendengar balasan cepat yang di lontarkan Dimas kepadanya. "Kenapa? Kenapa kamu ingin mengakhiri hubungan ini?"


Lagi-lagi ucapan Dimas membungkam mulut gadis itu. Ia tidak tau harus mengatakan apa, ia juga tidak tau harus memberikan penjelasan seperti apa kepada laki-laki yang berada di hadapannya itu.


Dimas mengusap air mata gadis itu. Dan tersenyum hangat ke arahnya. "Aku mencintaimu Riana. Apakah selama tujuh tahun kita menjalani hubungan ini kamu merasa tidak bahagia bersama ku?"


"Lalu, bagaimana kamu yang mencintai Emily selama ini?" ucap Riana saat gadis itu sudah memberanikan dirinya untuk membalas ucapan sang kekasih.


DEG!!!


Dimas yang mendengar perkataan sang kekasih itu tiba-tiba memundurkan langkahnya. Ia menatap wajah gadis itu yang kini sudah kembali meneteskan air matanya.


"Kenapa? Terkejut? Saat pertanyaan itu tidak bisa kamu jawab, iya?" tanya Riana saat gadis itu menatap wajah laki-laki di hadapannya yang sudah menundukkan kepalanya.


'Bagaimana bisa dia tau bahwa aku...' batin Dimas. Ia mengepalkan tangannya mencoba agar terlihat baik-baik saja.


"Ck, jadi bener? Kamu memang memiliki perasaan terhadap Emily?" Riana yang masih menatap wajah Dimas yang masih tertunduk. Laki-laki itu seakan bungkam saat pertanyaan itu keluar dari mulut gadis itu.


Riana pun melangkahkan kakinya menghampiri Dimas. Lalu tangannya meraih kedua tangan laki-laki itu. "Dimas, aku harap perasaan kamu terbalaskan ya?"


"Sayang, itu semua gak-"


"Cukup!" potong Riana. Gadis itu kembali mengatur deru nafasnya yang memburu.


"Sudah cukup untuk terus membohongiku. Aku capek Dimas! Aku capek! Menahan rasa sakit ini. Aku capek terus menerus mempertahankan kamu untuk terus bersamaku, tapi itu malah membuatku merasa terasa sesak di dada ini. Apalagi saat...," Dimas menatap wajah Riana menunggu lanjutan dari ucapan sang kekasih yang kini menitikkan air matanya.


"Apalagi saat melihat kamu menarik Emily dan mencoba memaksanya untuk terus mengakui perasaannya kepadamu. Itu sakit asal kamu tau. Aku sakit Dimas. Sakit banget rasanya. Hiks!!" kali ini gadis itu sudah berada di pelukan Dimas.


"Maafkan aku sayang, maafkan aku. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi." ucap Dimas memohon sembari terus memeluk tubuh gadis itu dengan erat.


Riana pun lantas melepaskan pelukan tersebut dan berkata. "Sudah terlambat Dim! Aku sudah memutuskan untuk pergi saja."


"Tidak sayang! Aku tidak mau Riana! Aku gak mau kita putus! Aku mencintaimu Riana."


"Kamu mencintai Emily, bukan aku!" ucap Riana dengan air mata yang terus mengalir di wajah cantiknya.


Dimas menggelengkan kepalanya. "Aku mohon jangan lakukan ini Riana. Aku tidak mau hubungan ini berakhir seperti ini. Aku mohon maafkan aku."


"Kita memang lebih baik berteman seperti yang lainnya. Aku pergi." setelah mengucapkan perkataannya. Gadis itu melepaskan tangan Dimas dan pergi meninggalkan laki-laki itu yang kini sudah meneteskan air matanya.


"Maafkan aku Riana, maafkan aku! Aku salah!" ucapnya dengan sesenggukan.


Riana pun berlari sekencang-kencangnya keluar dari tempat itu. Dan terduduk di bawah yang ada di taman. Ia menopangkan tangannya di atas lututnya dan menenggelamkan wajahnya di sana agar orang yang berlalu lalang tidak melihatnya menangis.


.


.


.


...Terimakasih buat kalian semua atas sempatnya sudah mampir ke novel aku yang amburadul ini. Maaf, Jika novel ini masih gak jelas ya! Mohon Dimaafkan, karena saya juga masih pemula untuk belajar membuat novel. Meskipun novelku sangatlah membosankan! Sekali lagi mohon dimaafkan ya....


...Untuk itu jangan lupa untuk tinggalkan like ya, bagi yang berbaik hati. Sekali lagi terimakasih banyak sudah mampir. 🙏...