
Episode Sebelumnya..
"Apa?" tanya Emily bingung.
"Hm? Apa apanya?" tanya Dimas balik.
"Tadi kamu menyuruhku untuk jangan membuka helm itu. Tapi kenapa kamu malah membukanya?"
"Oh, itu karena aku pengen membukakan helmnya." ucap Dimas dengan santainya.
"Hah?" Emily mengernyitkan keningnya bingung.
Dimas pun tersenyum saat melihat wajah bingung sang kekasih. "Sudah! Ayo kita ke kelas."
Keduanya pun berjalan menuju ke arah kelas mereka. Dengan Dimas yang merangkul pundak sang kekasih yang terus mengoceh mempertanyakan perihal baru saja.
****
Kelas pun dimulai. Para siswa dan siswi menjadi hening saat pelajaran pertama mereka telah dimulai. Dan guru pun telah selesai menyelesaikan tulisan yang ia tulis di papan tulis.
Setelah beberapa saat kemudian. Terdengar suara bel menandakan istirahat telah tiba. Para siswa dan siswi pun bergegas membereskan semua buku-buku yang ada di atas ke dalam tas mereka masing-masing. Termasuk Emily yang sudah mengemas semua buku pelajarannya ke dalam tasnya. Dan gadis itu pun bergegas keluar saat Dimas telah berada di depan pintu.
Ya, dirinya dan juga sang kekasih berbeda kelas. Meskipun mereka berbeda kelas, tapi mereka berada di tingkat yang sama. Dimas tampak tersenyum ke arahnya dan meraih tangan Emily, saat gadis itu telah ada di hadapannya.
"Mau kemana?" tanya Emily saat laki-laki itu telah membawanya jauh dari kelasnya.
"Mau membawamu ke gudang." ucap Dimas dengan terus menggenggam tangan sang kekasih.
"Ke gudang? Mau ngapain?" tanya gadis itu bingung.
Dimas menghentikan langkahnya dan gadis itu pun juga menghentikan langkahnya. Dimas melepaskan genggamannya dan membalikkan badannya menatap sang kekasih dengan senyuman smirknya. Lalu, membisikkan sesuatu ke telinga gadis itu.
"Mau menculik mu dan kita akan bersenang-senang di sana." ucap Dimas dengan suara sensualnya. Membuat Emily yang mendengarnya membulatkan mata.
Gadis itu langsung memundurkan tubuhnya menjauh dari hadapan Dimas yang sudah mulai tersenyum menyeringai. Gadis itu menggelengkan kepalanya dan menangkupkan kedua tangannya memohon kepada laki-laki agar tak membawanya.
"Jangan lakukan itu Dimas. Aku gak mau! Aku mohon jangan lakukan itu." ucap Emily memohon sembari menutup matanya dengan tangan yang sudah menangkup di wajahnya.
Dimas yang melihat sang kekasih ketakutan. Ia pun langsung tertawa terbahak-bahak sembari memegang perutnya yang rata itu. Emily yang mulanya menutup kedua matanya mulai membukanya dan menatap wajah kekasihnya itu dengan menyipitkan matanya.
"Ha ha ha... Sayang, aku hanya bercanda. Ha ha ha," ucap Dimas dengan tawanya yang masih terdengar di telinga keduanya.
"Sayang maaf, aku hanya bercanda. Sayang... tungguin dong! Kamu ngambek ya?"
"Apaan sih! Lepas!"
"Maaf sayangku, aku hanya bercanda tadi. Aku tuh mau bawa kamu ke kantin buat makan siang." ucap Dimas saat laki-laki itu sudah menahan kedua pundak gadis itu.
Emily pun menatap wajah kekasihnya dengan tatapan menyipit. "Beneran? Bukannya mau mengajakku ke...,"
"Tentu saja tidak! Untuk apa aku harus melakukan hal itu. Aku akan melakukannya jika kita sudah menikah nanti." ucap laki-laki itu dengan senyuman yang terlihat manis itu.
Mendengar perkataan sang kekasih membuat wajah Emily bersemu merah. Dan dengan cepat gadis itu melepaskan tangan Dimas yang masih bertengger di puncaknya, agar laki-laki itu tidak mengetahui tentang wajahnya yang mulai merona.
Emily pun langsung melangkahkan kakinya dengan cepat meninggalkan Dimas yang sudah mengikutinya dari belakang. Hingga keduanya pun sudah sampai di kantin sekolahnya. Dimas pun mempersilahkan gadis itu untuk duduk di kursi yang sudah laki-laki itu siapkan.
"Kamu mau makan apa sayang? Biar aku yang pesankan." tanya Dimas saat Emily sudah duduk di kursinya.
"Aku bakso dan es teh manis aja." ucap Emily.
"Baiklah! Kamu tunggu di sini dulu." Setelah mengatakan hal itu. Dimas pun langsung berlari ke arah tempat jual bakso dan memesan makanan yang di pesan oleh kekasihnya itu.
Setelah beberapa menit. Laki-laki itu pun datang dengan membawa nampan yang berisi dua mangkuk bakso dan dua es teh manis itu di atas meja.
"Kamu pesan bakso juga?" tanya Emily saat melihat pesanan mereka sama.
Dimas pun mengangguk. "Hooh. Biar samaan aja sama kamu."
"Dih!"
"Yaudah ayo makan. Nanti keburu dingin."
.
.
.
...Terimakasih buat kalian semua atas sempatnya sudah mampir ke novel aku yang amburadul ini. Maaf, Jika novel ini masih gak jelas ya! Mohon Dimaafkan, karena saya juga masih pemula untuk belajar membuat novel. Meskipun novelku sangatlah membosankan! Sekali lagi mohon dimaafkan ya....
...Untuk itu jangan lupa untuk tinggalkan like ya, bagi yang berbaik hati. Sekali lagi terimakasih banyak sudah mampir. 🙏...