7 D.R.E.A.M

7 D.R.E.A.M
Episode 17.



Episode Sebelumnya..


"Itu semua tidak benar!" ucap Emily dengan wajahnya yang masih menunduk.


"Hah?"


Emily pun kemudian mendongakkan kepalanya menatap wajah sang sahabat yang juga menatapnya dengan keningnya yang berkerut.


"Semua itu tidak benar! Apa yang kamu katakan itu tidak semuanya benar."


"Kalau begitu, jelaskan padaku!" ucap Riana dengan tatapannya yang tertuju pada Emily.


Emily pun mengangguk. "Duduklah, aku akan menceritakan apa yang terjadi tentang ku dan Dimas."


Riana pun terlihat diam sejenak. Lalu, tanpa menunggu lama, gadis itu pun langsung duduk kembali di depan Emily. Emily pun melepaskan tangan Riana saat gadis itu sudah kembali duduk ke tempatnya.


"Cepat katakan!" ucap Riana penuh penekanan saat kalimat itu dilontarkan olehnya. Dan Emily pun mengangguk. Gadis itu mencoba mengatur deru nafasnya sebelum mengatakan penjelasan.


"Aku dan Dimas. Kita...,"


****


"Emily sayang." teriak laki-laki yang kini sudah rapi dengan seragam sekolahnya saat sedang berada di depan rumah gadis yang laki-laki itu dengan sebutan 'Emily sayang.'


Terlihat gadis itu sudah membuka pintu rumahnya dan berlari kecil menuju ke arah laki-laki itu. Dan saat Emily sudah berada di depan laki-laki itu. Gadis itu dengan cepat membungkam mulut laki-laki itu dengan tangannya.


"Jangan teriak-teriak di depan rumah ku! Apalagi dengan embel-embel sayang!" ucap Emily saat tangannya sudah menutup mulut laki-laki itu.


"Eum! Eum!" laki-laki itu nampak menepuk-nepuk tangan Emily yang sudah membungkam mulutnya dengan kedua tangannya.


Emily pun melepaskan tangannya saat laki-laki itu memohon kepadanya sembari menunjuk dadanya yang terasa sesak. Dan laki-laki itu mengatur nafasnya yang terasa menipis itu.


"Sayang! Kalau aku kehabisan nafas bagaimana?" ucap laki-laki itu saat nafasnya sudah kembali normal.


"Biarin! Suruh siapa kamu teriak-teriak." balas Emily sembari melipat kedua tangannya.


"Iya, kenapa sih? Aku kan kamu menunjukkan bahwa kamu itu pacar aku! Dan aku itu pacar kamu!" ucap laki-laki itu.


"DIMAS SAPUTRA!" ucap Emily dengan menyebut nama lengkap laki-laki itu. Sehingga membuat laki-laki itu membulatkan matanya tak percaya dengan kekasihnya itu.


"Iyak!"


"Kenapa?" ucap Emily saat laki-laki itu sudah terlihat kesal karena panggilannya.


Laki-laki yang bernama Dimas itu lantas menggelengkan kepalanya. "E-enggak kok. Nggak apa-apa."


"Maafkan aku ya, sudah marah sama kamu." ucap Emily tiba-tiba.


Dimas yang mendengar perkataan kekasihnya itu hanya diam, di tambah lagi dengan elusan lembut di telinganya yang diberikan oleh kekasihnya itu membuatnya diam seribu bahasa.


"Dimas." panggil Emily saat mendapat kekasihnya hanya diam saja.


Tentu Dimas yang tersadar dari lamunannya pun langsung menganggukkan kepalanya. "Iya, kenapa sayang?"


Emily tersenyum. "Ayo, masuk!"


Dimas pun masuk mengikuti langkah Emily menuju ke meja makan. Di sana sudah terdapat kedua orang tua Emily, yang sudah menunggu keduanya di meja makan tersebut.


"Nak Dimas." sapa ibunda Emily yang tersenyum lembut ke arah Dimas yang sudah duduk di kursi di sana.


"Pagi Tante, pagi om." balas Dimas dengan ramah.


"Ayo nak! Nak Dimas sarapan yang banyak ya biar punya tenaga yang ekstra sudah belajarnya semangat!" ucap ibunda Emily dengan memberikan nasi goreng ke piring laki-laki itu.


"Makasih Tante." ucap Dimas saat wanita paruh baya itu meletakkan piring berisi nasi goreng di depannya.


Dimas melihat piring Emily yang masih kosong. Lalu, menatap wajah sang kekasih yang terdiam sembari menundukkan kepalanya. Laki-laki itu juga melihat Emily mengeratkan genggamannya pada rok seragam sekolahnya.


"Loh! Kok bengong nak Dimas? Ayo di makan nanti keburu dingin loh nasi gorengnya." ucap wanita paruh baya itu.


"Iya Tante. Tapi piring Emily masih kosong?" ucap laki-laki itu dan membuat Emily yang berada di sampingnya tersadar lalu menatapnya.


"Dia bisa ambil sendiri kok! Sudah besar juga, jangan manja!" ucap sang ibunda.


Emily yang tampak tersenyum itu berusaha untuk tetap tersenyum di hadapan sang kekasih. "Iya, Dim. Kamu makan saja sarapannya. Aku bentar lagi juga bakal ambil."


Dimas yang melihat mata kekasihnya yang berkaca-kaca hanya terdiam. 'Ada yang aneh?'


.


.


.


...Terimakasih buat kalian semua atas sempatnya sudah mampir ke novel aku yang amburadul ini. Maaf, Jika novel ini masih gak jelas ya! Mohon Dimaafkan, karena saya juga masih pemula untuk belajar membuat novel. Meskipun novelku sangatlah membosankan! Sekali lagi mohon dimaafkan ya....


...Untuk itu jangan lupa untuk tinggalkan like ya, bagi yang berbaik hati. Sekali lagi terimakasih banyak sudah mampir. 🙏...