
Episode Sebelumnya..
"Perasaannya tidak dapat kita paksakan hanya karena kita mencintainya atau takut kehilangannya. Kita juga harus memberinya luang dengan siapa dia akan memilih. Karena sekeras apapun kita menahannya, jika memang pasangan kita menyukai orang itu. Tentu saja dia akan memilih orang itu dengan pergi meninggalkan kita. Tentunya dengan perpisahan yang baik-baik juga." ucap Alfian memberikan penjelasan kepada pertanyaan Riana.
Riana pun hanya terdiam saat mendengarkan perkataan laki-laki di sampingnya itu. Dan memang benar, apa yang diucapkannya itu. Bahwa sekeras apapun orang itu menahan seseorang yang sangat di cintainya agar tidak pergi. Apakah orang yang dicintainya itu akan bahagia?
Riana menyenderkan kepalanya di bahu Alfian. Saat laki-laki itu kini sudah membenarkan posisinya agar Riana yang berada di bahu dapat lebih nyaman. Alfian pun yang melihat ke arah Riana yang kini sudah menangis di sandaran nya, hanya mengusap lembut rambut gadis itu. Mencoba agar gadis itu dapat lebih tenang.
Sedangkan disisi lain Mira sedang mengepalkan tangannya dengan kuat. Gadis itu nampak menahan air matanya yang hendak jatuh.
'Sebenarnya siapa yang kamu sukai Alfian? Kenapa kamu selalu bersikap demikian kepada semua orang!' lirih Mira dalam hatinya saat melihat laki-laki itu masih dengan posisinya yang membelai rambut Riana yang berada di sandaran bahunya.
"Hatiku sakit Alfian! Entah kenapa, tapi yang jelas aku baru menyadari bahwa aku menyukaimu. Aku menyukaimu, Alfian. Hiks!" lirih Mira dengan tatapannya yang mulai turun menatap jalan. Diiringi air mata yang coba ia tahan agar tidak keluar akhirnya jatuh ke tanah mengalir tanpa seizin nya.
****
Emily berjalan menyusuri lorong universitasnya menuju ke arah kelasnya, sembari membawa buku tebal yang ada di himpitan tangannya. Dan saat menaiki tangga menuju kelasnya ia berpapasan dengan Mira yang terlihat menangis, melewatinya tanpa menyapanya.
Melihat itu Emily langsung menahan lengan sahabatnya itu yang terlihat menunduk. "Mira, kamu kenapa? Kamu nangis?"
Mira pun menggeleng. "Enggak kok Mil. Aku tidak apa-apa."
"Bohong!" ucap Emily dengan cepat. Ia tahu bahwa sang sahabat menyembunyikan sesuatu darinya.
Mira hanya menundukkan kepalanya dan ia pun kembali menangis dalam diamnya. Emily yang masih memegang tangannya segera memeluk tubuh Mira yang terlihat lemah itu.
"Susah tidak apa-apa Mira, ada aku di sini." ucap Emily sembari mengusap lembut punggung sang sahabat.
...
"Sudah lebih baik sekarang?" tanya Alfian saat Riana sudah terlihat lebih baik daripada tadi.
Riana pun hanya mengangguk dan tersenyum kecil ke arah laki-laki yang kini berada di sampingnya. "Iya, makasih ya Fin. Kamu udah menghiburku."
"Gak usah bilang makasih! Aku juga gak bantu apa-apa kok, kebetulan aja aku juga ada di sini dan melihat kamu begitu tadi. Jadi yaudah aku bantu menenangkan mu saja." ujar Alfian panjang lebar.
"Riana?" panggil laki-laki itu dengan pandangan yang lurus ke depan.
Riana yang memang sudah tampak terdiam memiringkan kepalanya melihat ke arah Alfian yang menatap lurus dengan wajah tanpa ekspresi. "Hm?"
"Kamu ada masalah sama Dimas?" tanya Alfian to the poin.
"Dimas menyakitimu ya? Sampai-sampai kamu harus meluahkan tangisan kamu di tempat ini." tebak laki-laki itu lagi.
Pertanyaan itu membuat Riana mengangguk kecil. Namun, dapat diketahui oleh laki-laki di sampingnya itu. Riana yang baru saja sudah lebih baik dan sudah melupakan kejadian itu, harus kembali mengingat kejadian yang membuatnya sesak dan berujung berada di tempat itu bersama Alfian.
Melihat Riana hanya menganggukkan kepalanya, Alfian menoleh ke arah gadis itu. Terlihat Riana sedang menahan air matanya yang mulai mengalir ke pipi lembutnya. Membuat Alfian menarik nafasnya panjang. Ia pun segera mengambil tas selempang nya dan mencari sesuatu di dalam tasnya itu.
"Nih." Alfian menyodorkan tissue yang ia ambil dari dalam tasnya kepada Riana.
"Em."
"Jika kamu butuh teman cerita. Panggil saja aku! Tenang, aku laki-laki yang bisa menjaga rahasia kok. Tapi... jika memang kamu mempercayai aku, kamu bisa panggil aku kapan saja jika kamu memang membutuhkan teman cerita." ucap Alfian menawarkan diri untuk gadis yang kini masih menghapus air matanya yang hampir jatuh.
Riana tampak kembali tersenyum. Meskipun senyuman itu terlihat sangat samar. Namun, Alfian dapat melihat raut wajah gadis itu dengan pandangannya.
'Entah apa yang terjadi sama kalian berdua, aku hanya bisa mendukung apapun yang menjadi keputusan kalian berdua nantinya. Karena aku tau, bagaimana rasanya menahan sakit saat melihat orang yang kita cintai, mencintai orang lain.' gumam Alfian dalam hati sembari tersenyum kecil melihat ke arah Riana yang menatap lurus ke depan.
Entah apa yang ada di pikiran keduanya. Namun, keduanya memilih untuk diam sembari melihat pemandangan awan yang terlihat masih sangat menyengat kulit keduanya.
"Minumlah." Emily menyodorkan minuman kaleng saat ia dan Mira sudah berada di kantin kampus mereka.
Mira meraihnya sembari tersenyum. "Makasih ya Mil."
Mira pun membuka tutup kaleng minuman itu. Saat sudah terbuka, ia langsung meneguknya bersamaan dengan kepalanya yang terasa sakit. Mira pun memegangi kepalanya yang mulai terasa berdenyut-denyut.
"Mira, kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Emily yang terlihat khawatir melihat sahabatnya yang terlihat kesakitan.
Mira mengangguk kecil. "Aku nggak apa-apa kok. Sekali lagi makasih ya Emily kamu udah ngasih aku minuman ini."
"Beneran? Tapi kamu terus memegangi kepalamu? Apa kita ke dokter aja, yaudah yuk kita pergi sekarang ju-" ucapan Emily terpotong saat Mira lebih dulu memotongnya.
"Nggak usah Emily. Aku baik-baik saja, aku cuma sedikit pusing aja kok. bentar lagi juga sembuh. Mungkin karena aku kecapean karena pelajaran yang dosen Akbar kasih tadi." ucap Mira bohong. Sembari meyakinkan Emily yang terlihat khawatir kepadanya.
"Beneran gak apa-apa?"
Mira pun mengangguk. "Iya, gak apa-apa."
"Yaudah! Kalau gitu, aku antar kamu pulang saja ya?"
"Yaudah, ayo!"
Keduanya pun keluar dari kantin dengan Emily yang membantu Mira memegangi lengannya. Takut-takut gadis itu tiba-tiba kembali pusing. Sehingga Emily dapat dengan mudah menahannya. Sehingga keduanya pun masuk ke dalam taksi yang Emily sudah pesan saat perjalanan keluar menuju gedung universitasnya.
Dan saat Emily dan Mira masuk ke dalam taksi. Dimas yang juga ingin pulang karena mata pelajarannya juga sudah selesai tidak sengaja melihat keduanya masuk ke dalam taksi.
"Mereka mau kemana?" gumam Dimas pada dirinya sendiri.
.
.
.
...Terimakasih buat kalian semua atas sempatnya sudah mampir ke novel aku yang amburadul ini. Maaf, Jika novel ini masih gak jelas ya! Mohon Dimaafkan, karena saya juga masih pemula untuk belajar membuat novel. Meskipun novelku sangatlah membosankan! Sekali lagi mohon dimaafkan ya....
...Untuk itu jangan lupa untuk tinggalkan like ya, bagi yang berbaik hati. Sekali lagi terimakasih banyak sudah mampir. 🙏...