7 D.R.E.A.M

7 D.R.E.A.M
Episode 7.



"Kamu ngapain sih berdiri terus di situ? Pusing deh aku liat kamu cuma mondar-mandir ke gitu. Nungguin siapa sih?" Mira yang sedang duduk di bawah pohon dengan buku yang dipegangnya menjadi tidak konsentrasi karena melihat Alfian yang terus mondar-mandir di depannya sembari melihat ke arah pintu gerbang kampus.


Alfian pun yang terus mendapatkan omelan Mira langsung menghentikan langkahnya dan menghadap Mira yang tengah mendongak menatapnya.


"Kira-kira Emily masuk kampus nggak ya?" tanya Alfian yang menghadap Mira.


Mira yang duduk dengan mendongakkan kepalanya menatap Alfian. Hanya terdiam sejenak.


'Jadi... Alfian mondar-mandir ke gitu karena lagi nungguin Emily? Jadi, gitu ya.' batin Mira sembari tersenyum kecut. Entah kenapa hatinya begitu sakit saat mendengar Alfian menyebutkan nama Emily.


Gadis itu pun langsung memalingkan wajahnya ke arah lain, mencoba untuk tidak saling bertatapan dengan wajah laki-laki yang ada di depannya itu.


"Mungkin.. Coba di tunggu aja." balas Mira tanpa mengalihkan pandangannya. Setelah itu ia kembali membuka buku yang tadi sempat ditutupnya.


Setelah itu Alfian pun langsung duduk di dekatnya Mira sembari melirik sejenak ke arah gadis di sebelahnya yang tiba-tiba terdiam dengan pandangannya yang mengarah ke buku yang dibacanya. Karena penasaran dengan apa yang di baca oleh gadis itu, Alfian pun bertanya.


"Kamu baca buku tentang apa sih Mir, kok fokus banget." ucap Alfian yang sudah mendekat dengan wajahnya yang ia majukan agar dapat melihat buku yang gadis itu baca.


Mira pun mengabaikan pertanyaan sahabatnya itu. Ia lebih memilih untuk terus menatap ke arah bukunya, meskipun ia tidak membacanya. Namun, hal itu ia lakukan agar dapat menghindar dari tatapan laki-laki itu. Mira sendiri bingung kenapa dirinya seperti itu.


Entah setiap laki-laki yang kini sudah mulai ikut membaca buku yang di pegangnya, menyebut nama Emily moodnya menjadi turun. Mira pun melihat rambut Alfian yang terkena tiupan angin, rambut yang dominan warna hitam itu sangat membuatnya bahagia setiap kali melihatnya.


Rasanya, gadis itu ingin sekali mengelus rambut laki-laki itu. Namun, hal itu tidak mungkin ia lakukan. Mengingat bahwa dirinya hanyalah seorang sahabat dari Alfian Syah yang telah ia kenal sejak tujuh tahun lalu.


Alfian yang memajukan wajahnya agar dapat melihat buku yang di pegang oleh Mira, mengangkat kembali tubuhnya ke posisi semula. Dan mendapati Mira tengah tersenyum kecil.


Alfian pun langsung mengibaskan tangannya ke wajah gadis itu. Namun, tak ada respon dari sang pemilik wajah. Gadis itu masih dengan wajahnya yang tersenyum kecil membuat Alfian mengernyitkan dahinya dan segera menepuk pundak gadis itu sehingga membuatnya tersadar.


"Mir, kamu kenapa? Kok melamun gitu, mana senyum-senyum lagi." ujar Alfian saat laki-laki itu berhasil menyadarkan gadis di sampingnya itu.


Tentu saja Mira yang tersadar dari lamunannya pun segera langsung mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Lalu menatap ke arah Alfian dengan menggelengkan kepalanya.


"Enggak, apa-apa kok." ucap Mira sembari menutup buku yang di pegangnya. Lalu memasukkan benda itu ke dalam tasnya.


"Yakin, nggak apa-apa? Atau kita masuk aja ke kelas?" tanya Alfian kembali. Menawarkan ajakan untuk masuk ke kelasnya saja.


'Asal kamu tau, Alfian. Sikap kamu yang seperti inilah yang membuat aku jadi salah faham. Sikap kamu yang seperti inilah yang membuat aku bingung.'


Mira pun menggeleng cepat. "Enggak! Enggak usah. Kita tunggu Emily sama yang lain aja dulu disini. Lagian kamu juga pengen ketemu sama Emily, kan?"


"Ada apa pengen ketemu sama aku?" ucap Emily yang tiba-tiba muncul di depan keduanya.


Sontak membuat Alfian dan Mira menoleh ke arah sumber suara yang tidak lain adalah Emily yang baru saja di bicarakan oleh mereka. Alfian pun langsung meneguk ludah sendiri saat melihat gadis yang di tunggunya berada di hadapannya.


"Kenapa Al, ada sesuatu yang ingin kamu tanyakan?" tanya Emily lagi saat melihat laki-laki di sampingnya itu hanya terdiam.


Mira yang masih terduduk memperhatikan tingkah Alfian yang terlihat gugup saat berada di samping Emily. Hanya tersenyum pahit. Ternyata benar dugaannya. Bahwa, laki-laki yang selama ini membuatnya bingung rupanya memiliki rasa terhadap Emily.


"Em, enggak ada sih. Aku sama Mira cuma pengen barengan aja masuk ke dalam kelasnya biar rame gitu. Iya, kan Mira?" ucap Alfian sembari menepuk pundak Mira. Berharap gadis itu dapat membantunya.


Mira pun mengangguk dengan tersenyum. "Iya, Emily. Kita berdua memang lagi nungguin kalian buat masuk barengan."


Emily pun mengangguk faham. Dan melihat sekeliling mencari seseorang. Mira yang faham melihat Emily langsung berucap kembali. "Dimas sama Riana belum datang."


Mendengar perkataan Mira, Emily kembali mengangguk dan duduk di sebelah Mira dan diikuti oleh Alfian yang duduk di samping gadis itu. Mira yang lagi-lagi melihat Alfian yang seperti itu hanya kembali menunduk.


Setelah beberapa saat kemudian, datanglah Dimas dan Riana yang muncul dari arah gerbang kampus. Dan langsung menghampiri ketiga sahabatnya itu dengan saling bergandengan.


Tentu hal itu dapat dilihat oleh Emily. Namun, gadis itu tampak terlihat tenang dan menyambut kedatangan mereka dengan senyuman tipis seperti biasa.


"Hai guys." sapa Riana saat keduanya sudah berada di depan mereka.


"Kalian kemana saja sih, kok datangnya lama banget?" tanya Alfian yang sudah terlihat kesal yang dibuat-buat.


"Maaf ya, tadi kita berangkatnya memang agak lewat dari jam berangkat. Soalnya tadi mama sama papa ngobrol dulu sama Alfian. Jadinya telat maaf ya." ucap Riana menerangkan sembari meminta maaf kepada ketiganya.


Dimas yang sejak sampai di depan ketiga sahabatnya hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah kata. Apalagi saat melihat Alfian yang berada di samping Emily membuatnya bertambah diam. Entah apa yang ada di dalam pikiran Dimas saat itu.


Sedangkan Emily yang sejak awal melihat kedatangan keduanya juga diam saja dan hanya tersenyum kecil. Apalagi saat gadis itu melihat tangan Riana yang menggenggam tangan Dimas.


"Yaudah, yuk! Kita ke kelas aja." sahut Riana kemudian.


Mereka semua akhirnya menuju ke arah kelas mereka bersama-sama. Dengan Dimas yang masih terus melihat ke arah Alfian yang berada di samping Emily. Rasanya ingin sekali laki-laki itu menyeret Alfian agar jangan dekat-dekat dengan Emily. Namun, dirinya tidak bisa melakukannya karena tangannya yang terus di gandeng oleh sang kekasih.


Sedangkan, Mira yang berada tepat di samping kirinya Alfian hanya menoleh ke arah laki-laki itu yang sedang asyik mengobrol dengan Emily. Meskipun Emily hanya sesekali membalas ucapan Alfian, tapi rasanya sangat sesak di hati Mira.


.


.


.


...Terimakasih buat kalian semua atas sempatnya sudah mampir ke novel aku yang amburadul ini. Maaf, Jika novel ini masih gak jelas ya! Mohon Dimaafkan, karena saya juga masih pemula untuk belajar membuat novel. Meskipun novelku sangatlah membosankan! Sekali lagi mohon dimaafkan ya....


...Untuk itu jangan lupa untuk tinggalkan like ya, bagi yang berbaik hati. Sekali lagi terimakasih banyak sudah mampir. 🙏...