
Episode Sebelumnya..
"Aku tau kalau dia memiliki perasaan suka sama kamu."
"Lalu, kamu?"
Dimas terdiam saat mendengar ucapan gadis itu. Emily membalikkan badannya menatap ke arah laki-laki yang berada di belakangnya itu dengan wajah datarnya.
"Lalu, kamu? Apakah kamu masih menyukaiku?" ucap Emily lagi tanpa ekspresi seperti biasa.
"Kenapa diam? Tidak bisa menjawabnya?" sambungnya lagi. Emily nampak mengepalkan tangannya dengan kuat sehingga tangannya terlihat memerah.
Karena tidak mendapatkan respon dari laki-laki itu. Emily pun langsung membalikkan badannya dan pergi meninggalkan Dimas yang masih berdiri di tempatnya tanpa mengatakan sepatah kata pun, meskipun gadis itu telah menghilang dari pandangannya.
Setelah itu Dimas pun pergi dari taman itu dengan perasaan yang frustasi. Sedangkan di balik pohon besar yang keduanya duduki tadi. Terlihat Riana berada di sana dengan mata yang berkaca-kaca.
****
Di Teriknya sinar matahari yang cukup menyengat. Seorang gadis tengah berlari kencang dengan air mana yang membanjiri pipinya yang lembut. Gadis itu terus saja berlari hingga tiba di rooftop kampusnya.
Dengan nafas yang terengah-engah akibat berlari. Ia pun berdiri di pembatas rooftop dengan air mata yang masih saja terus mengalir. Gadis itu menenggelamkan wajahnya pada kedua tangannya yang berada di pembatas rooftop tersebut.
"Hiks! Kenapa rasanya begitu sesak." ujar Riana. Gadis yang baru saja sampai di rooftop tersebut sembari memukul dadanya yang terasa sesak.
Ia terus menenggelamkan wajahnya di balik tangan yang menjadi penopang kepalanya. Sehingga, sebuah tangan menyentuh pundak gadis itu. Riana yang merasakan sentuhan itu, langsung mengelap air matanya dan langsung membalikkan badannya.
Dan saat Riana membalikkan badannya, ia melihat Alfian sedang menatapnya dengan tatapan bingung. "Riana, kamu ngapain di sini?"
Karena tidak ingin Alfian mengetahui tentang dirinya. Riana pun segera menggelengkan kepalanya. "Aku cuma lagi cari udara segar, Em udara segar."
Alfian pun langsung mengernyitkan dahinya dan menatap awan yang tampak menyengat kulitnya, lalu ia pun kembali menatap Riana dengan heran. "Cari udara segar? Tapi ini sangat panas! Dimana ya udara segar itu Rin?"
mendengar perkataan laki-laki di hadapannya itu. Tentu saja membuat Riana menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia juga tidak tau harus berkata apa, secara memang benar bahwa hari ini dengan panas.
Alfian yang memang sejak setengah jam yang lalu berada di rooftop tersebut karena memang laki-laki berkulit putih itu selalu menyempatkan diri untuk pergi kesana. Entah untuk apa, tapi bagi Alfian hanya di rooftop kampusnya itu bisa membuatnya sedikit lebih tenang. Sehingga ia mendengar suara pintu terbuka dan melihat sahabatnya sedang menangis.
Itulah sebabnya Alfian menghampiri Riana di saat gadis itu menenggelamkan kepalanya. Dan berpura-pura tidak tahu apa-apa tentang apa yang ia lihat.
Melihat tingkah Riana yang hanya diam. Alfian pun dapat tau kalau gadis itu sedang tidak baik-baik saja. Alfian pun dengan segera mencari tempat berteduh untuk keduanya agar terhindar dari teriknya sinar matahari yang terasa membakar kulit mereka.
"Duduklah," ucap Alfian sembari menepuk kursi di sebelahnya agar Riana dapat duduk di sampingnya.
Riana pun hanya mengangguk dan duduk di samping Alfian sesuai dengan arahan laki-laki itu. "Kamu kenapa?"
Mendengar perkataan Alfian, Riana yang berada di sebelahnya pun menoleh dan melihat ke arah sahabatnya dengan heran. "Maksudnya?"
"Kamu tadi lagi nangis, kan?" tanya Alfian to the poin. Tadinya laki-laki itu tidak ingin mempertahankan hal tersebut. Tapi melihat sahabatnya itu diam saja. Akhirnya Alfian mencoba memberanikan dirinya untuk bertanya.
Riana masih diam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Gadis itu kembali memikirkan perihal kejadian Emily dan kekasihnya itu saat di taman tadi.
Melihat Riana yang tak kunjung bersuara, membuat Alfian mengangguk faham. "Apakah sesulit itu untuk dikatakan?"
Riana menoleh ke arah Alfian. Dan tersenyum kecil saat keduanya saling bertatapan. "Alfian, aku.. aku.."
"Sudah, tidak perlu dipaksakan jika memang kamu belum mau menceritakannya." potong Alfian saat gadis di sebelahnya itu nampak ragu-ragu.
"Aku hanya menawarkan diri, takutnya kamu butuh teman cerita. Tapi bukan berarti aku harus memaksakan dirimu untuk bercerita, bukan." ucap Alfian sembari terkekeh kecil sembari menatap lurus ke depan tanpa memedulikan Riana yang kini terus menatap ke arahnya.
"Alfian," panggil Riana.
Alfian yang menatap lurus ke depan pun menoleh. "Em?"
"Bagaimana perasaanmu saat pasangan kita, rupanya juga menyukai orang lain selain kita?" ujar Riana sembari tersenyum pahit.
Alfian yang melihat senyuman Riana yang terlihat begitu memilukan. Seakan gadis itu sedang menahan beban berat yang ditahannya. Dan dari logat bicara pun, Alfian dapat tau bahwa apa yang baru saja di ucapkan gadis itu.
'Apakah, yang diucapkannya itu bersangkutan dengan dirinya sendiri? Apakah Dimas, menyukai gadis lain?' gumam Alfian dalam hati.
Tapi, Alfian mencoba untuk menghapus pikiran negatif tentang kedua sahabatnya itu. Lalu, ia kembali menatap lurus dengan hembusan nafas yang panjang. "Aku juga tidak tau, bagaimana menangani hal seperti itu. Tapi... kalau memang pasangan kita menyukai orang lain selain diri kita. Kita hanya perlu siap dengan apa yang akan terjadi selanjutnya."
"Maksudmu?" tanya Riana tidak memahami maksud dari perkataan sahabatnya itu.
"Perasaannya tidak dapat kita paksakan hanya karena kita mencintainya atau takut kehilangannya. Kita juga harus memberinya luang dengan siapa dia akan memilih. Karena sekeras apapun kita menahannya, jika memang pasangan kita menyukai orang itu. Tentu saja dia akan memilih orang itu dengan pergi meninggalkan kita. Tentunya dengan perpisahan yang baik-baik juga." ucap Alfian memberikan penjelasan kepada pertanyaan Riana.
Riana pun hanya terdiam saat mendengarkan perkataan laki-laki di sampingnya itu. Dan memang benar, apa yang diucapkannya itu. Bahwa sekeras apapun orang itu menahan seseorang yang sangat di cintainya agar tidak pergi. Apakah orang yang dicintainya itu akan bahagia?
Riana menyenderkan kepalanya di bahu Alfian. Saat laki-laki itu kini sudah membenarkan posisinya agar Riana yang berada di bahu dapat lebih nyaman. Alfian pun yang melihat ke arah Riana yang kini sudah menangis di sandaran nya, hanya mengusap lembut rambut gadis itu. Mencoba agar gadis itu dapat lebih tenang.
Sedangkan disisi lain Mira sedang mengepalkan tangannya dengan kuat. Gadis itu nampak menahan air matanya yang hendak jatuh.
'Sebenarnya siapa yang kamu sukai Alfian? Kenapa kamu selalu bersikap demikian kepada semua orang!' lirih Mira dalam hatinya saat melihat laki-laki itu masih dengan posisinya yang membelai rambut Riana yang berada di sandaran bahunya.
"Hatiku sakit Alfian! Entah kenapa, tapi yang jelas aku baru menyadari bahwa aku menyukaimu. Aku menyukaimu, Alfian. Hiks!" lirih Mira dengan tatapannya yang mulai turun menatap jalan. Diiringi air mata yang coba ia tahan agar tidak keluar akhirnya jatuh ke tanah mengalir tanpa seizin nya.
.
.
.
...Terimakasih buat kalian semua atas sempatnya sudah mampir ke novel aku yang amburadul ini. Maaf, Jika novel ini masih gak jelas ya! Mohon Dimaafkan, karena saya juga masih pemula untuk belajar membuat novel. Meskipun novelku sangatlah membosankan! Sekali lagi mohon dimaafkan ya....
...Untuk itu jangan lupa untuk tinggalkan like ya, bagi yang berbaik hati. Sekali lagi terimakasih banyak sudah mampir. 🙏...